Hot Duda

Hot Duda
BERGIDIK



Hot Duda Bagian 62


Oleh Sept


Balok es itu benar-benar sudah mencair, sikapnya yang manis dan hangat cukup membuat Lisa kiku dan tenang. Bagaimana tidak, sebelum berangkat ke perusahaan tiba-tiba Anggara berbalik dan mengecupp tepat di bibir. Jelas wajah Lisa langsung bersemu, malu dan canggung.


"Aku berangkat," ucap Anggara setelah menarik diri. Tidak lupa ia usap lembut bibir Lisa dengan jempolnya.


'Aku harus berangkat sekarang, kalau tidak ... mungkin gak akan ngantor-ngantor,' batin Anggara kemudian mengumbar senyum penuh arti.


Sementara itu, jantung Lisa masih berdegup kencang. Ia lihat punggung Anggara yang pergi menjauh.


'Ada apa dengan hatiku?'


***


Setelah Anggara pergi, Lisa pun kembali ke dapur. Di sana ada bibi yang menunggu.


"Ini dimasukkan semua Non ke dalam wadah?"


Lisa kemudian melepaskan apron yang ia kenakan. Ternyata bibi sangat gesit, semuanya hampir siap. Ia bisa pergi ke rumah sakit sebentar lagi, biar nanti pulangnya tidak kesorean. Ditambah ia kasihan kalau ninggal Tiara lama-lama. Akhir-akhir ini waktunya lebih lama untuk ayah Tiara tersebut, sampai Lisa kangen sama bayi kecil yang mulai gembul itu.


"Ya udah, Bi. Masukin sini ya. Sebagian saja. Jangan semua. Aku ganti baju dulu," kata Lisa sambil mencicipi masakan yang cukup enak itu.


"Baik, Non."


Lisa lantas ganti pakaian, kemudinya bermain dengan Tiara sebentar.


'Kok rapi, mau ke mana dia?' batin babysitter yang memperhatikan penampilan Lisa hari itu.


"Mbak ... titip Tiara ya."


"Baik, kalau boleh tahu ... mau ke mana ya?" tanya babysitter kepo.


"Rumah sakit."


"Ooo."


"Titip Tiara, ya. Gak lama kok."


"Iya, baik."


Setelah itu Lisa pun mengambil barang bawaanya yang sudah tertata rapi di atas meja.


"Bik, Lisa berangkat ya."


"Iya, Non."


Diantar sopir pribadi Anggara, Lisa pergi ke rumah sakit.


***


"Lisaa," sapa ibu Siti yang terharu. Semalam ia mimpi Lisa, sekarang malah putrinya itu muncul.


"Buk ..." Lisa salim, mengecupp punggung tangan ibunya.


"Bagaimana kondisi ibu? Marwah juga?" tanya Lisa sambil menoleh ke ranjang sebelah.


"Alhamdulillah, semua membaik ... dokternya ramah. Luka kami cepet pulih. Pasti biayanya mahal ya, Lis?" tanya bu Siti.


Lisa menggeleng pelan, "Ibu gak usah mikirin biaya. Cepet sembuh ya, Bu."


Anak yang berbakti tersebut lantas tersebut, ia tidak mungkin jujur pada ibunya. Bahwa perawatan keduanya sangat mahal. Uang dari mana? Yang jelas uang dari Anggara, dari sebuah kontrak pernikahan yang kini entah bagaimana nasibnya.


Lisa masih dilema juga, memang Anggara sudah jauh lebih baik sifatnya, bahkan mereka sudah melakukan hubungan selayaknya suami istri betulan, tapi nasibnya masih Abu-abu. Anggara belum mengatakan cinta atau membatalkan kontrak, di sini tiba-tiba Lisa dilema. Apa hanya sebagai pemuas atau istri selamanya, entahlah.


Tidak ingin terlihat murung dan memberikan pengaruh negative, Lisa mencoba untuk tetap tersenyum. Agar terlihat bahwa ia sedang bahagia.


Puas ia berbincang dengan sang ibu, Marwah dan pak Harun, hingga Lisa sadar, kalau ia tidak boleh lama-lama, ada Tiara di rumah. Ia harus tahu waktu, meskipun ia masih sangat rinduk.


"Buk ... Yah, Lisa pamit dulu ya?"


"Loh, kok cepet banget? Apa nak Angga gak kasih ijin lama-lama di sini?" tanya pak Harun.


"Kasian Tiara, Yah. Di rumah cuma ada babysitter."


"Iya, gak apa-apa. Ibu sudah seneng kamu datang, Lis," sela bu Siti.


Meskipun berat, masih rindu akhirnya Lisa pamit. Memeluk mereka satu persatu.


"Cepet sembuh ya, Wa. Biar sekolah lagi."


Marwah mengangguk dan menyambut pelukan sang kakak.


Damai sekali rasanya pak Harun. Setelah badai menghujam keluarga kecilnya, sekarang semua mulai membaik. Bahkan rumah mereka juga hampir selesai dibangun kembali, berkat Lisa, semuanya mulai kembali membaik. Lebih tepatnya berkat orang yang ada di balik anaknya tersebut, suaminya Lisa. Karena tanpa uang dari Anggara, keluarga mereka mungkin akan masih terpuruk.


***


Di dalam mobil, ketika Lisa dalam perjalanan. Ponselnya berbunyi. Anggara tumben-tumbennya menghubungi Lisa siang-siang, siang menjelang sore karena sudah jam 2 lebih, hampir jam tiga sore.


"Hallo," sapa Lisa.


"Belum pulang? Aku sudah sampai rumah."


"Iya, iya ... Pak. Ini baru keluar dari parkir rumah sakit."


"Ya sudah."


"Hem."


Keduanya bingung mau ngomong apa, akhirnya Anggara memutuskan telponnya.


Tidak lebih dari satu jam, Lisa akhirnya tiba. Saat masuk rumah, Anggara tidak ada. Meskipun mobil pria itu sudah terparkir di halaman.


Lisa pun bertanya pada bibi. "Bik, Tiara dan ayahnya ke mana?"


"Ada Non, di kolam renang."


Lisa mengangguk, kemudian menyusul ke kolam renang yang ada di samping rumah. Lisa melihat Tiara duduk bersama babysitter, sedangkan di dalam kolam, ada pria yang sedang menyelam, siapa lagi kalau bukan Anggara.


Anggara yang baru muncul ke permukaan, senang melihat kedatangan Lisa.


"Sus, bawa Tiara masuk lagi. Nanti masuk angin lama-lama di luar."


"Baik, Tuan."


Babysitter Tiara itu pun menggendong Tiara, kemudian berjalan melewati Lisa. Lisa sempat mengusap wajah Tiara yang lembut.


"Mua ke mana?"


"Diminta Tuan besar masuk, nanti masuk angin."


Lisa hanya mengangguk, kemudian menoleh saat namanya dipanggil.


"Lisa."


"Permisi," ucap babysitter tersebut.


Lisa yang dipanggil pun menoleh, dan melewati babysitter. Ia berjalan ke tepi kolam, di sana Anggara sudah berdiri menunggunya di dalam kolam.


"Ambilkan handuk!" titah Anggara saat Lisa mendekat.


Lisa pun patuh, ia berbalik dan mengambil handuk untuk suaminya yang ada di atas kusri.


"Ini, Pak."


Anggara mengulurkan tangan, sambil nyeletuk. "Jangan panggil bapak, Lisaaa!"


Lisa terlihat bingung. "Iya."


Saat Lisa memberikan handuknya, wanita itu sangat terkejut. Tiba-tiba tangannya langsung ditarik, tubuh Lisa langsung oleng dan nyebur masuk kolam.


BYURRR


"Ya ampun."


Lisa yang kaget, langsung memeluk tubuhnya sendiri, kemudian hendak naik ke tepi kolam, ia malu bajunya langsung tembus pandang.


"Mau ke mana ... Ayo renang."


Lisa menggeleng.


"Kenapa?"


"Dingin, Pak."


"Ish!"


Anggara langsung meraih tubuh Lisa, kemudian memeluknya dari belakang, masih di dalam air.


"Kamu lupa ya ... kalau lupa terus-terusan ... akan dihukum."


Lisa menelan ludah. "Itu ... sudah terbiasa."


"Sekarang ubah kebiasaan itu. Aku tidak nyaman mendengarnya."


Lisa mengangguk paham. Kemudian Anggara melepaskan pelukannya.


"Ayo masuk ... bajumu tembus pandang," bisik Anggara yang naik terlebih dahulu. Ia kemudian mengambil handuk yang lain, kemudian ia selimutkan ke tubuh Lisa.


"Langsung ke kamarku," titah Anggara menegaskan.


Keduanya pun masuk ke kamar utama, di mana bibi harus mengepel jejak kaki basah mereka berdua.


Kamar utama, kamar yang penuh sejarah. Anggara langsung saja menarik lengan Lisa masuk ke kamar mandi.


'Apa lagi ini?'


Lisa sangat pasrah, sebab ia juga masih shock dengan apa yang tiba-tiba terjadi padanya. Sikap hangat Anggara, perhatian pria tersebut, cara bicaranya yang melembut, dan satu lagi ... pria itu selalu suka memancing Lisa untuk melakukan hal-hal yang membuat malu.


"Bantu gosok punggungku," Lisa yang kaget, malu, kikuk, canggung, akhirnya mengambil sabun cair. Dan ia sedikit kaget, melihat bekas goresan di punggung suaminya.


Anggara yang masih pakai celana pendek itu membelakangi Lisa, memperlihatkan punggung yang banyak cakaran.


"Ini ... apa karena saya, Pak?" tanya Lisa penasaran, hingga lupa larangan Anggara.


Pria itu berbalik, dan tersenyum jahat. "Sepertinya kamu memang suka dihukum."


Lisa panik, dia baru sadar kalau salah ucap. Sambil beringsut, ia memalingkan muka.


"Semalam kamu berani sekali, jangan malu-malu seperti sekarang ... aku suka kamu yang semalam," bisik Anggara sambil mendesak ke leher sang wanita.


Tambah merinding, Lisa mencoba menepis tapi Anggara seolah tidak membiarkan Lisa memberi jarak. Ia merangsek hingga keduanya tanpa cela. Apalagi tangan Anggara yang mulai masuk, mencari sesuatu yang hangat dan empuk.


Lisa jelas mengeliat, kaget campur enak mungkin, karena matanya langsung memejam. Melihat itu, meskipun jarinya bereaksi, bibirnya tidak mau mubazir. Anggara langsung saja melancarkan aksinya, bagai penyedot debu buatan Jepang. Ia menyesap Lisa sampai dalam.


Setelah sedotan yang berlangsung lama, hingga membuat keduanya kebas, Anggara kemudian melepaskan semuanya, apa yang ia pakai, ataupun apa yang dipakai Lisa. Seperti bayi, keduanya main air di dalam kamar mandi.


Melihat pemandangan yang menggoda Iman, Anggara sepertinya ingin langsung tancap gas, ia pun meminta Lisa berbalik menghadap tembok, Lisa sedikit takut, beda dengan semalam, ia sepertinya mengebu. Sore itu ia terlihat gelisah, khawatir karena Anggara terlihat seram. Mungkin takut melihat benda yang tegak berdiri bak menantang langit tersebut. Belum apa-apa Lisa sudah ketakutan melihat talas Bogor.


"Kenapa?" bisik Anggara yang melihat wajah Lisa.


Lisa menggeleng.


"Jangan takut, kita pelan-pelan," Anggara berbisik kemudian memegang pinggang istrinya dari belakang dan bersambung. Hehehehe