Hareem of Queen Alessa

Hareem of Queen Alessa
Tuan Cicero



“Air… air….” Suara seorang pria tua dengan tubuh kurus kering merayap di atas tanah meminta belas kasih penjaga yang berada di sana. Sudah beberapa hari dia tidak diberikan makan dan minum. Pria yang dahulu begitu berwibawa dan bermartabat kini menjadi hina-dina diperlakukan layaknya binatang di dalam penjara bawah tanah.


“Air… air….” Lagi pria itu berkata dengan lirih menarik pita suaranya yang nyaris terputus karena uratnya pun mulai kaku.


BRAK


“BERISIK! KAISAR YUDAS SUDAH MEMERINTAHKAN AGAR MEMBIARKAN KAU MATI KELAPARAN DAN KEHAUSAN!”


“Air….”


“Hah, dasar pria tua. Kau mau air ya… baiklah, aku akan memberikanmu air,” penjaga itu terseyum licik sambil membuka celananya. Dia menjulurkan miliknya di sela jeruji besi dan mengeluarkan cairan dengan bau menyengat di sana. Dia memberikan pria tua itu air seni. Sungguh penjaga kurang ajar.


“Ayo minum! Buka mulutmu, jarang-jarang aku memberikanmu a-“


SRANG!


Air itu berubah warna menjadi merah pekat menyembur mengucur melebihi mata air di sebuah sungai.


Plok


Sesuatu terjatuh berbarengan dengan darah yang memuncrat begitu banyak.


“AAAAAAAAAAAAAAARRRRGG!” pengawal itu berteriak kesakitan ketika tahu jika alat reproduksinya telah terputus dari tempatnya. Teronggok di atas tanah.


“AAAAAAARRGG… SAKIIIIIITTTT!”


Pria tua itu membelalakkan mata hingga tubuhnya bergetar. Darah yang tadi keluar dari tubuh sang Penjaga mengenai wajahnya. Bau hanyir kini menyeruak menempel di indera penciumannya hingga pria itu merasa mual dan mengeluarkan isi perutnya yang sudah tidak ada apa-apa.


“Hoek! Hoek!”


Penjaga itu berguling kesakitan, sepertinya sudah diambang penderitaan, sumber kehidupannya ditebas begitu cepat higga dia tidak menyadarinya.


“Kau bersenang-senang dengan ini?” suara dingin membuat bulu kuduk siapa pun berdiri. Orang itu menginjak buah pisang sang penjaga yang sudah terputus hingga hancur.


“Aaaargg… haaa,” penjaga itu ketakutan hingga rasa sakitnya kini seolah menghilang ketika orang yang menginjak potongan miliknya mendekat.


“Kau lebih menjijikkan dari tikus yang ada di lubang pembuangan. Manusia busuk! Enyahlah dari tanahku!” saat itu juga suara kesakitan penjaga tidak terdengar lagi. Hanya sebuah tebasan yang membuat ngilu menggantikan keheninang di penjara tersebut.


JLEB! KREK!


Pria tua itu menelan ludah dengan susah payah. Dia merangkak hingga ke sudut ruang penjara yang awalnya dia ingin pergi dari sana. Untuk pertama kalinya dia merasa aman di sana. Berharap orang yang telah melenyapkan penjaga tersebut pergi dan mengabaikannya. Namun, ternyata itu hanya khayalannya saja. Karena dia bisa mendengar suara sebuah kunci yang bergerak membukan pintu jeruji besi.


“Ja-ngan… jangan membunuhku. Meski menderita… aku masih ingin hidup,” mohon pria tua itu. dia masih berharap dan bermimpi untuk hidup bebas seperti dahulu kala. Entah mengapa dia masih memiliki keyakinan jika aka nada orang yang akan menyelamatkannya.


“Tuan Cicero… bangunlah,” Pria tua itu langsung mendongak ketika namanya yang dulu dia sandang diucapkan. Sosok itu memang mengeluarkan suara yang familiar. Suara lembut yang tidak pernah dia bayangkan akan bisa menaklukkan sang Penjaga. Semakin dia ingat, pria tua itu semakin melebarkan matanya.


“Seorang yang mulai sepertimu tidak layak hidup seperti ini, aku menjemputmu,” bibir pria tua itu bergetar, matanya yang sudah kering karena sering menangis kini memerah. Sungguh do’anya kini terkabul bahkan dewanya sendiri yang menolongnya.


“Tuan Puteri… Alessa….”


Pria tua itu memeluk wanita berparas cantik itu. Memeluknya dengan tubuh bergetar, dirapalkannya ucapan terima kasih dan syukur akan do’anya yang terkabul. “Terima kasih Dewa… terima kasih….”


***


“Darius, pastikan semua kembali seperti dahulu. Sebelum aku pergi dari istana ini.”


“Yang mulia yakin? Karena tidak semua petinggi membela Kaisar terdahulu, sedangkan cendikiawan kita sudah menipis akibat banyak yang menjadi korban kekejaman Pangeran Yudas.”


Puteri Alessa dalam dilemma. Semua berawal dari Pangeran Yudas yang sudah mengacak-acak Istana seenak jidatnya. Orang-orang pintar yang terpilih yang diyakini sanggup mendampingin Kaisar sudah dia lenyapkan. Pangeran Yudas tidak mikirkan akan kelangsungan negerinya. Dia hanya memikirkan diri sendiri. Sedangkan mengatur sebuah kekaisaran di butuhkan orang-orang hebat yang bisa dipercaya. Orang pilihan Yudas hanyalah para koruptor yang akan membuat Aegis hancur dengan sendirinya.


“BRENGSEK!” Puteri Alessa mengumpat sambil mengepalkan tangan.


“Sebaiknya Yang Mulia beristirahat dulu, karena seminggu lagi penobatan Anda sebagai Kaisar yang baru akan di laksanakan. Untuk masalah penasehat dan petinggi lainnya. Serahkan pada hamba,” Darius memberikan alternated lain untuk menunda semuanya.


Puteri Alessa memandang Darius dengan lama lalu mengangguk. “Aku akan mengikuti saranmu, siapkan kamarku,” Puteri Alessa bangkit dari singasananya dan menjulurkan tangan pada Darius.


Di saat seperti ini lah Darius sangat menyukainya. Dia dapat bersama dengan sang Puteri lebih lama, dia akan mengabdi pada Puteri Alessa seumur hidupnya.


Sesampainya di kamar, Puteri Alessa membuka semua pakaiannya tanpa merasa risih dengan keberadaan Darius. Baginya Darius sudah seperti sebagian dari dirinya. Selain itu Darius lah yang menyelamatkannya dari ambang maut.


“Panggilkan dayang, aku ingin di pijat sebentar,” perintah Puteri Alessa setelah mengenakan gaun mandi.


“Jika tidak keberatan, biar saya saja yang memijit Anda Yang Mulia,” tawar Darius.


“Kau bisa?” Puteri Alessa hanya mengenakan sehelai kain sutra yang menutupi lekuk indah tubuhnya. Sungguh jelmaan dewi nirwana. Kecantikannya tiada tara. Matanya yang berwarna biru mampu membuat siapa saja hanyut akan pesonanya.


“Hamba bisa, Yang Mulia,” Darius menunduk memalingkan pandangan.


“Baiklah, pijat aku. Aku merasa sedikit pegal,” Puteri Alessa merenggangkan leher jenjangnya yang putih mulus seperti susu.


Puteri Alessa masuk kedalam kolam air dengan taburan bunga mawar merah, perpaduan warna itu dengan kulitnya menjadikan sosok Puteri Alessa kian menarik dan cantik. Dia menyenderkan tubuh di sisi kolam dan menunggu hingga Darius memijitnya. Tangan kuat dan kasar milik Darius memberikan sentuhan tersendiri bagi Puteri Alessa.


“Aku merasa sedikit geli,” ucapan Puteri Alessa benar-benar membuat Darius menahan napas. Beruntung Puteri Alessa tengah membelakanginya. Jika tidak, sang Puteri pasti akan melihat seberapa merah wajah Darius saat ini.


“Jika terlalu keras, Anda harus memberitahu hamba,” Darius mengingatkan. Pria itu berusaha menenangjan jantungnya yang berdegup kencang.


“Ini enak… hm…. Ya… di sana, oh… kau hebat!”


Darius tidak menjawab. Baru kali ini dia mendengar suara nan syahdu milik Puteri Alessa. Suara yang dapat mengundang sesuatu yang seharusnya tidak ada. Darius menegang dan segera menarik tangannya.


“Darius? Kenapa berhenti?” Puteri Alessa menoleh pada Darius yang sudah berdiri membelakanginya.


“Hamba… perut hamba sakit!”


“Kau sakit perut?”


“I-iya… hamba akan panggilkan dayang untuk ke sini!”


“Padahal aku menyukai pijitanmu. Baiklah, kau juga beristirahatlah!” Puteri Alessa sedikit kecewa. Tapi, mau bagaimana lagi? Jangan sampai Darius sakit. Itu akan membuatnya repot. Karena ia sangat bergantung pada Darius.


“Baik Yang Mulia. Maafkan hamba, dan terima kasih!”


Darius pun pergi meninggalkan Puteri Alessa yang masih di dalam kolam mandi.


Tbc.