Hareem of Queen Alessa

Hareem of Queen Alessa
Debaran berbeda



Jika ada pemandangan epic yang paling mencuri perhatian para tamu, itu adalah ketika Kaisar Alessa berjalan anggun bak Dewi Venus, diikuti seorang pria gagah dengan sorot mata setajam elang.


Sang Kaisar diikuti panglima perangnya, itu hal biasa. Tapi jika panglima juga memakai baju yang sama dengan para selir, jagad Aegis sontak heboh dibuatnya.


"Itu Panglima Darius? Demi Dewa, apakah aku tidak salah lihat?" Laura mengucek-ucek matanya.


"Oh tidak! Jangan sampai hari bahagia ini dinobatkan sebagai hari patah hati di seantero negeri Aegis!" Kali ini Paula melongo tak percaya.


"Tuan Darius, teganya kau melakukan ini padaku! Lihatlah ibu dari calon anak-anakmu ini! Oh, rasanya aku mau pingsan!"


Suara-suara 'ohhh dan wow" dari kursi para tamu terdengar cukup panjang hingga Panglima Darius dan Kaisar Alessa berhenti di dekat api suci.


Pangeran Lucas memelotot melihat Darius berdiri di sisi Kaisar, bahkan mengenakan pakaian yang sama dengannya.


"Apa-apaan ini!" ucapnya sedikit keras. Pria itu seperti hendak maju menghampiri Kaisar. Namun, Helios yang berada di sampingnya langsung mencekal tangan pria itu.


"Tenanglah Pangeran Lucas," pintanya.


"Tapi, dia! Bagaimana bisa ada di sana? apa kau tidak melihatnya?"


Helios mengangguk dan tersenyum tipis. Saat itu juga Pangeran Lucas mengerti, ternyata hanya dirinya yang tidak tahu-menahu akan hal ini. Pangeran Lucas menghempas tangan Helios kasar.


"Ternyata kau bersekongkol!" hardiknya kesal.


"Tidak begitu Pangeran. Anda pasti tahu seberapa besar jasa Tuan Darius, dan juga ... perasaannya pada Kaisar." Helios masih tetap tenang, dia bahkan sangat menikmati pemandangan sejoli yang menurutnya sangat serasi itu.


"Aku juga mencintai kaisar, aku tidak masalah berbagi denganmu dan yang lain. Tapi, tidak dengannya." Pangeran Lucas masih tak terima.


Helios jadi merasa bersalah. Sebenarnya semua adalah keputusan kaisar. Pangeran Lucas pun tidak bisa membantahnya, hanya saja jika harus bersaing dengan Darius, dia tahu, dia akan kalah.


Pangeran Lucas adalah satu-satunya pria yang berwajah muram di acara pernikahan itu. Sedangkan yang lainnya hanya terkejut hingga acara selesai dilangsungkan.


Mereka tidak menyangka akan mendapat kejutan seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi. Ini negeri Kaisar Alessa dan Panglima Darius. Menentang berarti harus siap hengkang, atau nyawa akan melayang.


Setelah melalui ritual pernikahan yang cukup panjang, kini para pria itu telah sah menjadi suami dari Kaisar. Selir yang tadinya berjumlah empat, sekarang menjadi lima orang. Sungguh ini suatu hal yang di luar dugaan, tapi membuat rakyat Aegis berbahagia.


Setelah ritual kesetiaan berakhir, pesta pun dimulai selama tiga hari tiga malam. Ratusan sapi dan domba dipotong sebagai hidangan. Ribuan liter anggur didatangkan langsung dari Etruria di Romawi Utara dan Magna Gracia dari Romawi selatan. Mereka daerah penghasil anggur terbaik.


Pesta jamuan yang berjalan cukup lama itu benar-benar menguras tenaga. Kaisar tak henti-hentinya menerima tamu dari Kerajaan lain yang mendukung Aegis. Pengantin cantik itu tampak kelelahan, tidak seperti para selir yang ternyata sangat tegang menantikan malam pertama mereka.


"Kapan pesta ini akan berakhir? Aku sudah tak sabar ingin menikmati malam pertama dengan Kaisar," cetus Pangeran Evandor sambil meneguk temetum*


"Jangan terlalu percaya diri! Belum tentu Kaisar memilihmu Tuan Evandor," sanggah Pangeran Jerome.


"Kau tidak lihat Tuan Darius juga bergabung menjadi selir? Itu artinya jatah kita makin sedikit. Lima hari itu terlalu lama," sela Pangeran Lucas yang sejak melihat Darius langsung merasa insecure.


Helios hanya senyum-senyum. Pikiran itu juga sempat melintas di kepalanya.


Sejujurnya Helios tak pernah menganggap Darius sebagai saingan. Mungkin karena mereka sama-sama berasal dari Aegis, atau mungkin juga Helios sangat tahu diri tak mungkin bersaing dengan Darius. Bahkan awalnya, ide menjadi selir ini bukan datang darinya, melainkan ide ayahnya.


Saat yang paling ditunggu-tunggu pun tiba. Kaisar mendatangi mereka yang sedang berkumpul di ruangan khusus perjamuan para selir.


"Kalian menungguku?"


Semua selir tersipu malu.


"Kalian lihat sendiri, tamu-tamu masih terus berdatangan dari negeri jauh. Tenagaku terkuras habis untuk menyambut mereka."


Semua selir menahan napas.


Pernyataan Kaisar sontak membuat wajah-wajah penuh harap itu langsung berubah muram. Hanya Darius yang paling bisa menyembunyikan perasaannya. Wajahnya datar, seolah malam pertama adalah malam biasa baginya.


Dalam hati Kaisar Alessa ingin tertawa melihat ekspresi para selirnya.


"Aku akan menundanya, sambil melihat siapa yang paling layak di antara kalian untuk mendapat giliran pertama."


Wajah-wajah kecewa itu kembali cerah. Helios hampir terbahak karena mengakui kecerdikan Kaisar memainkan hati mereka.


"Aku akan menyeleksi mana yang paling pantas, jadi bersiaplah!"


Para selir berjalan beriringan mengikuti kaisar menuju kamarnya. Mereka semua berjejer di depan kamar masing-masing. Kaisar menatap mereka satu persatu.


Helios yang kamarnya berdekatan dengan kamar Kaisar memejamkan mata saat Kaisar mendekatinya. Hatinya ingin melompat. Berhadapan sedekat ini, bahkan dia bisa merasakan napas wangi Kaisar.


Cup!


Satu kecupan manis mendarat di pipinya. Pantas saja dia bisa merasakan napas hangat Kaisar, karena mereka memang tak berjarak. Helios membuka mata, melongo tak percaya. Tangan kanannya mengepal tanda kemenangan. Di antara semua selir, dia mendapat kecupan di pipi pertama kali.


Beralih ke Pangeran Lucas, pria itu menyambut tatapan Kaisar dengan penuh percaya diri. Saat bibir Kaisar mendekat, Pangeran Lucas bersiap menyambut dengan bibirnya yang langsung merekah.


Cup!


Tapi kecupan itu mendarat di pipinya, seperti halnya kepada Helios. Sorot kecewa tak bisa disembunyikan dari wajah Pangeran Lucas.


Ternyata kecupan di pipi sebagai ucapan selamat malam itu diterima semua selir tanpa terkecuali. Pangeran Evandor merutuki dirinya karena berharap lebih. Lagi-lagi mereka hanya bisa menerima, karena Kaisar yang punya aturan.


Saat Kaisar masuk ke dalam kamarnya, secara serentak para selir menghela napas. Mereka semua seperti usai mendapatkan hadiah yang tak terkira nilainya. Wajah kelima pria itu merona.


Mereka saling berpandangan dan hendak mengejek satu sama lain. Tapi urung, karena masing-masing merasakan hal yang sama. Rona itu juga pasti jelas terlihat pada wajah masing-masing. Itu sama saja menertawakan diri sendiri.


Bukan hanya wajah yang merona, hati mereka juga dipenuhi bongkahan rasa yang sulit dijelaskan. Bahagia, tegang, penuh teka-teki, juga debaran yang indah. Kombinasi rasa yang sulit untuk tidak disebut sensasi mendebarkan. Para pria ini penyuka tantangan. Hormon adrenalin mereka sedang berpacu di dalam sana.


"Gila! Bercinta dengan ratusan wanita sudah kulakukan. Tapi mendapat kecupan di pipi seperti anak kecil begini, kenapa rasanya berbeda?" batin Pangeran Evandor.


"Jika hidangan pembuka saja sudah senikmat ini, gimana dengan menu utama?" Pangeran Evandor meneguk saliva membayangkan sesuatu yang sulit dibayangkan tapi bisa dirasakan.


"Kalau cuma ciuman begini, Ibuku biasa melakukannya dulu sebelum aku tidur," protes Pangeran Lucas dalam hati.


"Tapi kenapa kecupan ini seperti ada manis-manisnya. Hmm, bukan cuma manis, tapi juga ada geli-gelinya."


Pangeran Lucas memasuki kamar sambil tersenyum simpul.


"Kaisar, kenapa Anda tidak menyadari tindakan Anda ini sungguh berbahaya," keluh Pangeran Jerome dalam benaknya.


"Lihatlah, Anda sudah membangkitkan macan tidur," ujarnya pelan sambil memegang sesuatu di bawah sana yang mulai memberontak.


Pangeran Jerome baru kali ini merasakan sensasi yang begitu memantik birahinya. Meskipun terlihat kaku, dia memiliki sisi sentimentil yang mudah terpicu. Mendapat kecupan manis dari Kaisar meskipun sekilas, Pangeran Jerome merasa diperlakukan bak seorang raja yang diundang masuk ke dalam bilik kenikmatan surgawi. Dia memasuki kamarnya dengan senyuman tenang tapi butuh pelampiasan.


Berbeda dengan Darius yang juga kelelahan. Pesta tiga hari tiga malam sangat menguras tenaganya. Hampir tiga malam ini dia tidak tidur karena harus memastikan semua tamu mendapatkan perlindungan dan keamanan maksimal.


Otak Darius tak seperti keempat selir lainnya. Tubuhnya seperti mesin yang sudah tahu fungsi dan tugasnya. Selama bertugas, mesin itu tidak mengenal kata kenikmatan. Jadi kecupan di pipi tadi, baginya tak terasa apa-apa.


Darius langsung memasuki kamarnya tanpa menoleh kepada keempat selir yang sibuk dengan pikirannya masing-masing.


*Temetum- anggur murni.