Hareem of Queen Alessa

Hareem of Queen Alessa
Obsesi Duke Tristan



Pangeran Evandor mengejar Natalie yang berjalan hingga ke luar gubuk. Wanita itu terus melangkahkan kaki sampai di bukit kecil. Dari sana kita bisa memandang indahnya malam yang bertaburan banyak bintang. Kebetulan malam ini bulan pun bersinar sangat terang dan besar.


Natalie duduk di bukit kecil itu, Pangeran Evandor pun mengikutinya dengan duduk di samping wanita itu.


“Beberapa hari ini aku mengalami hal yang tidak pernah aku rasakan sejak kecil. Hidup sederhana di sebuah gubuk bersama kalian berdua. Makan seadanya. Namun, tetap nikmat. Hidup tenang tanpa beban akan kekuasaan dan harta. Sungguh pengalaman yang sangat berarti.”


Natalie menoleh, merasa bingung dengan apa yang sedang Pangeran Evandor katakan. “Kalau begitu mengapa harus pergi? Apa Kakak tahu jika aku sangat kehilangan. Karena sebenarnya … sebenarnya aku menyukai Kakak!” tambahnya terus terang.


Pangeran Evandor terhenyak dan terkejut dengan pengakuan Natalie yang baru beberapa hari dikenalnya. Sesaat kemudian Pangeran Evandor tersenyum. Jika dia masih merupakan pria brengsek di masa lalu, mungkin saja


dia akan menyambut pengakuan itu. Dia tidak akan bisa hidup dengan satu wanita.


Tapi, itu dulu … sebelum Kaisar mengisi hatinya. Membuatnya tidak bergeming dengan kehadiran wanita lain secantik apa pun. Karena cantik tidak lah cukup untuk menyingkirkan sang Kaisar. Tidak ada wanita sehebat beliau, yang ketika di titik terendah masih memperjuangkannya. Pangeran Evandor menjadi merindukan sosok itu. Hatinya berdebar-debar tidak beraturan.


“Aku akan jujur padamu. Sebenarnya aku bukanlah seorang pemburu. Aku,” Pangeran Evandor mengantung katanya, “ … seorang pangeran.”


Kali ini mata Natalie yang membelalak hingga hampir melompat dari tempatnya. Apa yang barusan dia dengar?


“A-apa?”


“Aku seorang pangeran. Lebih tepatnya aku calon selir Kaisar. Kaisar Aegis!”


“Calon selir Aegis?” Natalie membeo seperti orang bodoh.


“Dengar Natalie, Aku adalah seorang pangeran Mesopotamia yang akan menjadi selir Kaisar. Aku dan Kaisar ke Prussia untuk mengirimkan undangan secara pribadi pada Raja Fabian. Tapi, saat perjalanan pulang, kami di serang. Aku berpisah dengan Kaisar sebelum aku jatuh dari tebing. Beruntungnya aku selamat karena kalian menolongku. Dan, para prajurit istana yang datang berkeliling itu adalah para penyerang kami yang menyamar menjadi bandit. Aku harus kembali ke Aegis. Aku yakin Kaisar sedang menungguku.”


Natalie mengerjap mendengarkan penuturan sang Pangeran. Setelah itu wanita itu menunduk. Tentu saja, pria setampan Pangeran Evandor sudah dimiliki oleh orang lain. Tapi, jika bukan karenanya Pangeran Evandor pasti sudah mati. Dan sejauh ini dia tidak menemukan orang lain yang sedang mencari seseorang yang hilang. Pangeran Evandor pasti sudah dikira tidak selamat. Natalie menggeleng.


“Tidak ada yang mencarimu, Pangeran. Jika memang benar semua yang kamu katakan, Kaisar sama sekali tidak mencarimu. Kaisar tidak mengharapkanmu.”


***


Mansion Duke Tristan


Duke Tristan berjalan menyusuri lorong menuju kamar utama yang Kaisar Alessa tempati. Hari ini dia akan menghadiri pesta yang diadakan oleh Kaisar Louis untuk merayakan keberhasilanya melumpuhkan Kaisar Alessa. Tanpa Kaisar Louis ketahui jika orang yang harusnya lenyap malah Duke Tristan simpan di kediamannya.


Menjadikannya seperti harta tersembunyi. Harta yang sangat berharga. Memperlakukannya seperti burung yang terkurung dalam sangkar emas. Satu hal yang merupakan kesalahan sang Duke. Menganggap Kaisar Alessa seekor burung jinak, padahal sebenarnya seekor singa betina yang siap menerkam saat pria itu lengah.


“Duchess Elena, kau selalu berhasil membuatku terpana. Gaun ini sangat cocok untukmu,” Duke Tristan menatap Kaisar Alessa dari ujung kaki hingga ujung rambut. Wanita itu baru selesai di dandani. Sengaja dihias ketika Duke akan mendatanginya.


Kaisar Alessa memilih diam meski begitu, netranya memindai sang Duke dengan tajam seperti biasanya.


“Aku tidak akan ke mana-mana, Duchessku. Aku akan di sini seharian.”


“Bukankah kau harus menghadiri sebuah pesta? Pesta kemenangan palsu,” sarkas Kaisar Alessa.


“Kau mengetahuinya?”


“Banyak telinga di setiap dinding mansion ini.”


Duke Tristan terkekeh sejenak. Matanya menelisik setiap bagian tubuh Kaisar seperti singa lapar. Namun, dia tidak cukup berani untuk mendekat. Dia tidak mau sampai Kaisar melukai diri sendiri lagi. “Aku mengakui kemampuanmu. Para pelayanku sangat setia, tidak mudah membuat mereka menjadi tunduk padamu.”


“Tidak, aku tidak akan pernah lupa. Karena itu aku akan tetap bersama dewiku agar hidupku terus bahagia.”


“Bagaimana jika aku memberimu kutukan?”


“Kutukan cinta? Aku bersedia menerimanya.”


“Aku mengutukmu agar berada di antara tidak hidup dan tidak mati,” Kaisar Alessa tersenyum manis.


“Kamu sangat membenciku, Duchess.”


“Jangan pernah ragukan itu.”


“Jangan lupa juga dengan istilah benci jadi cinta.”


“Hahaha, lucu sekali Duke Tristan.”


Sejak tadi Kaisar mencuri pandang pada sebuah pisau buah yang berada tidak jauh darinya. Tapi, mengukur rantai yang membelenggunya, jarak itu lumayan sulit untuk digapai. Kaisar Alessa pun mengangkat tangannya di hadapan Duke Tristan.


“Kapan kau akan melepaskan ini?”


“Aku akan melepaskannya asal kau berjanji tidak akan berusaha pergi meninggalkan mansion.”


“Apa yang kau takutkan? Aku tidak tahu area di sini. Jika aku kabur, aku pasti mati di dalam hutan.”


“Aku meragukan itu, mengingat betapa terampilnya kau bermain pedang, Duchessku.”


Duke Tristan mendekat, dia berjalan dan berdiri di belakang Kaisar yang sedang duduk. Pria itu dengan berani membaui aroma tubuh sang Kaisar. Wangi bunga mawar putih yang baru saja dia pakai untuk mandi. Aroma terapi yang di bawa dari negeri tetangga. Benda mewah itu hanya untuk sang Kaisar.


Kaisar yang lelah dengan sikap kurang ajar Duke pun tidak tinggal diam. Dia menarik kerah Duke dan menjepit kepala pria itu diantara lehernya. Berusaha untuk meretakkan tulang leher pria itu.


Duke yang juga bersikap siaga malah mengambil kesempatan dengan membiarkan Kaisar mencekiknya hingga bibirnya menyentuh pipi Kaisar. Dikecupnya dengan lembut. Sentuhan itu sontak membuat sang Kaisar tersentak dan memilih untuk melepaskan cekalannya.


“Kurang ajar!” maki Kaisar. Ingin rasanya memukul kepala pria mesum itu. Duke Tristan bukannya kesakitan karena cekikan Kaisar, ia malah mengusap jejak merah di lehernya. Bekas cekikan itu malah membuatnya semakin tertantang.


“Lakukan apa pun yang kau mau Duchessku. Aku akan menunggu hingga kau datang sendiri ke pelukanku.”


Kaisar berdecih, Duke Tristan benar-benar dalam khayalan tingkat tinggi. “Jangan berharap. Aku mempunyai empat orang selir yang lebih dari cukup untukku. Aku tidak membutuhkanmu untuk memelukku.”


“Empat selir?!”


“Ya! Mereka semua pria-pria luar biasa, yang tidak bisa dibandingkan denganmu!”


Mendengar hal itu membuat Duke Tristan meradang. Dadanya panas karena cemburu buta. Ternyata wanita yang disukainya telah dimiliki oleh pria lain. Bahkan lebih dari satu orang.


Duke Tristan mengusap wajahnya dan menarik setiap sudut bibirnya. “Lalu, kenapa jika kau memiliki selir? Itu dulu, saat kau ada di Aegis. Saat ini kau berada di Kekaisaran Diocletianus. Dan, Diocletianus berhutang banyak padaku. Aku yang memegang kekuatan militer tertinggi. Kaisar Louis bukan apa-apa tanpaku. Akan kupastikan, mereka semua tidak akan pernah bisa mengambilmu dariku!”


Tbc.