
Keesokan harinya upacara ritual pernikahan pun dilangsungkan. Seluruh rakyat Aegis berkumpul di aula istana yang megah untuk menyaksikan Kaisar kesayangan mereka bersanding dengan selir-selir terpilih.
Pernikahan mewah ini mengundang decak kagum tamu undangan. Aula istana disulap menjadi gedung megah dengan banyak hiasan bunga segar beraroma wangi nan menenangkan.
Para tamu seolah memasuki taman bunga begitu masuk ke dalam aula. Lalu permainan lampu hias yang ditata apik, menghasilkan cahaya berwarna-warni memanjakan mata.
Seluruh tamu undangan mengenakan busana terbaik yang mereka punya. Kelompok istri bangsawan berebut penata busana dan kecantikan terbaik di seluruh negeri Aegis. Pernikahan Sang Kaisar membawa keberkahan tersendiri bagi para ahli rias, perancang busana, juga penasehat kecantikan.
Para selir mulai berjalan menuju titik yang sudah disiapkan. Pangeran Evandor Daryan terlihat tampan. Dengan senyumnya yang khas, Pangeran Mesopotamia itu melangkah dengan dada tegak. Meskipun tak ia pungkiri, secara spontan matanya juga menatap para putri bangsawan yang sedang berbisik-bisik membicarakan ketampanan para selir.
"Tak dipungkiri, Aegis memang gudangnya wanita cantik. Tapi kecantikan para gadis bangsawan ini, tak ada apa-apanya dibanding Kaisar mereka," batinnya sambil terus menebar pesona.
Pangeran Kerajaan Frank, Lucas Geovanni berjalan sambil menegakkan dagu. Dengan kepercayaan diri maksimal Pangeran Lucas tersenyum. Wajahnya memang selalu begitu. 'Ceria' mungkin bisa jadi nama tengahnya. Di balkon khusus pelayan pribadi, Cain melambai-lambaikan tangannya memberi dukungan kepada tuannya.
Pria bertubuh besar, Pangeran Jerome Istvan berjalan dengan ekspresi dingin. Kegagahannya memang terlihat sempurna. Beberapa gadis putri bangsawan tertawa-tawa kegirangan melihat tubuh atletis Pangeran Persia itu. Mereka tidak menduga, sebuah negeri terbelakang menyimpan pria kekar dengan otot-otot menonjol yang membuat pikiran para gadis ini makin liar.
"Kaisar pasti akan memilih Pangeran Jerome untuk menemaninya di malam pertama. Lihat itu, perutnya sangat rata, dadanya yang bidang seperti sebuah pulau yang nyaman. Ohhh ... rasanya aku ingin berlibur di pulau itu."
Laura putri bangsawan yang bertugas di pemerintahan, tak henti-hentinya mengagumi tubuh Pangeran Jerome.
"Aku lebih suka melihat wajah imut Helios. Sejak dulu aku menyukai barang-barang lokal. Lihatlah senyumnya. Dia terlihat paling tampan, bukan?" celetuk Julia yang lihai berdansa.
Julia menyembunyikan senyumnya di balik kipas yang menjadi ciri khas gadis- gadis dan wanita bangsawan.
Para gadis itu sengaja datang lebih awal supaya mendapatkan tempat duduk di depan. Dengan begitu mereka bisa puas menikmati wajah-wajah tampan yang menjadi hiburan tersendiri.
Helios Attala memang terlihat paling tampan. Sayangnya dia lebih sering menundukkan wajah. Berjalan di depan ribuan manusia, membuat jantungnya berdegup lebih kencang. Helios merasakan punggungnya basah. Tapi demi Dewi Aphrodite yang sangat cantik, Helios Attala mencoba bersikap wajar.
Helios justru tidak menduga banyak gadis-gadis yang meneriakkan namanya. Selama ini dia terlalu larut dan tenggelam dalam tumpukan buku di perpustakaan, hingga tidak menyadari ternyata dia memiliki banyak penggemar. Hal itu memicu sedikit senyum dari sudut bibirnya.
Menjadi selir Kaisar adalah penyerahan diri seutuhnya. Mereka berempat secara sukarela menyerahkan diri kepada Kaisar dengan tujuan masing-masing. Setelah janji suci diikrarkan, yang ada hanya kesetiaan.
Suara terompet ditiup sangat merdu, menandakan prosesi akan segera dimulai. Pangeran calon selir telah bersiap di altar kuil untuk menyebutkan sumpah setia pada Sang Kaisar. Api suci mengitari mereka yang telah di dandani sedemikian rupa hingga menjadi sangat tampan paripurna.
Tidak ada yang tahu bahwa di dalam hati masing-masing mereka sedang dilanda kegugupan yang luar biasa.
"Sial! Aku sudah tidur dengan banyak wanita! Tapi membayangkan malam pertama dengan Kaisar Alessa, tak kuduga jantungku bisa berpacu secepat ini."
Pangeran Lucas *******-***** jarinya. Sebagai putra mahkota, tentu ia sudah dibekali banyak ilmu. Hanya satu yang kurang, pengajar etika dan tatanan rumah tangga tidak mengajari bagaimana menjadi suami di hari pertama menikah. Dan ini membuatnya tidak nyaman.
Pangeran Lucas hanya melihat bagaimana ayahnya memperlakukan ibundanya. Mereka pasangan yang sering melempar pujian satu sama lain. Tapi itu pernikahan normal, bukan menjadi selir seperti dirinya sekarang yang tentu saja harus bersaing dengan selir lainnya.
"Bagaimana kalau aku nanti membuat kesalahan yang mengundang amarah Kaisar?" batinnya dipenuhi kekhawatiran.
Kemarin saja Darius melukai tangannya padahal dia tidak melakukan kesalahan. Mungkin sekarang Darius akan memenggal lehernya jika sampai Kaisar kecewa atau marah. Rasa percaya diri yang selama ini menaungi, mendadak hilang entah kemana.
Para tamu terus memandangi para selir dengan tatapan kekaguman. Tubuh kekar mereka terbalut oleh baju pernikahan pria berbahan sutera ungu dengan jahitan benang emas di pinggirnya.
Untaian daun dan bunga sebagai mahkota menghiasi kepala, bertahtakan mutiara menjadikan mereka bagai dewa-dewa Yunani. Decak kagum terus terdengar tak hanya dari mulut-mulut para gadis, tapi juga perempuan-perempuan para istri bangsawan.
Pria-pria beruntung itu terpilih menjadi masa depan Aegis. Kaum hawa tidak menampik rasa iri ingin seperti kaisar yang dikelilingi oleh para pria berkualitas dan mengagumkan.
Jika Pangeran Evandor sibuk dengan pikiran seputar ranjang, dan Pangeran Lucas sedang jatuh kepercayaan dirinya, maka Pangeran Jerome yang bertubuh besar, sekarang sedang memikirkan bagaimana dampak pernikahannya nanti bagi negerinya Persia.
"Aku melakukan semua ini demi rakyatku. Demi Zeus, tolong hentikan debaran yang membuatku terlihat bodoh ini," rutuknya menenangkan perasaannya sendiri. Berkali-kali mata Pangeran Jerome menatap langit. Helios yang melihat itu mengira Pangeran Jerome sedang berdoa.
Dibalik semua kesempurnaan pasti ada celah di sana. Karena dibalik senyum merekah para pria tersimpan rasa gugup teramat sangat. Status suami akan segera mereka sandang, mampukah mereka membahagiakan Kaisar. Lebih tepatnya, mampukah mereka memuaskan wanita tercantik seantero Aegis.
Helios Attala tak luput dari sindrom gugup yang tiba-tiba menyerang menjelang pernikahan. Helios menunduk sambil merapal mantra yang ia ciptakan sendiri untuk menenangkan hatinya. Helios memejamkan mata sambil membayangkan perpustakaan megah yang dijadikan ayahnya akan segera terwujud.
Kegugupan mereka itu nyatanya hanya sementara. Saat kehadiran seorang wanita bergaun indah menjuntai dan berjalan anggun mendekati mereka, para tamu menyerukan kekaguman yang sama.
"Panjang umur Yang Mulia Kaisar Alessa."
Mereka semua dibuat takjub menyaksikan sosok wanita yang menjelma menjadi dewi sesungguhnya.
Gaun pengantin berwarna ungu muda nan indah dihiasi brokat bersulam emas sungguh terlihat mewah membalut tubuh kaisar menjadi kesatuan harmoni. Laksana seorang dewi yang turun dari langit, semua mata terpana. Sungguh pemandangan itu sulit untuk dilukiskan.
Keempat calon selir terpukau oleh kecantikan jelmaan dewi, tapi ada hal lain yang membuat mereka tersentak.
Seseorang yang berjalan tepat di belakang Kaisar. Pria gagah itu datang bersama Kaisar dengan pakaian yang sama yang dikenakan oleh para calon selir. Lelaki yang selalu setia dan menjaga Sang Kaisar dengan taruhan nyawa. Pria itu Darius, Sang Panglima yang telah memenangkan hati Sang Dewi.