Hareem of Queen Alessa

Hareem of Queen Alessa
Kebohongan Pangeran Evandor



Perbatasan Aegis


Ternyata selain mata keranjang, pria di hadapannya ini termasuk manusia yang keras kepala. Berani-beraninya mengancam Kaisar dan melakukan penawaran. Kaisar pun berniat untuk mengujinya.


“Jika kau sudah bosan hidup, sayatlah lehermu. Aku sama sekali tidak peduli,”


Pangeran Evandor terperangah sulit mempercayai apa yang barusan Kaisar Alessa katakan. Kaisar sama sekali tidak menginginkan keberadaannya. Bahkan lebih baik jika pria itu mati saja. Pangeran Evandor tersenyum getir. Dia menarik napas dan berniat untuk membuat sayatan pada lehernya. Darah segar mulai menguar dari gesekan benda tajam tersebut hingga….


SRET!


PRANK!


Kaisar menarik tangan Pangeran lalu menghempas belati itu. Kaisar mendorong tubuh Pangeran Evandor hingga pria itu tersungkur di dalam kereta. Dengan mata tajam Kaisar menatap pria tersebut.


“Jaga sikapmu saat di sana! Jangan buat keributan atau aku sendiri yang akan menggorok lehermu!” kecam sang Kaisar. Meski ucapannya ketus. Tapi Kaisar masih menunjukkan sisi pedulinya dengan melemparkan Evandor sapu  tangan.


Mendapatkan ancaman semacam itu membuat Pangeran Evandor mengangguk kaku. Namun, lebih dari itu Evandor merasa senang karena Kaisar masih memikirkan dirinya. Evandor mengulum senyum tipis sambil menempelkan sapu tangan itu pada lehernya yang terluka.


Kaisar kembali ke tempat duduknya. Dengan menahan kesal akhirnya Kaisar memilih membiarkan orang yang dihindarinya untuk berada di dalam kereta yang sama.


“Terima kasih Yang Mulia,” meski dipelototi seperti akan di telan hidup-hidup, semua terasa lebih baik daripada dia harus pindah ke kereta belakang.


Kaisar tidak menjawab. Hanya saja, maniknya terus mengikuti pergerakan pria tersebut. Pangeran Evandor mengambil belati yang terjatuh barusan.


“Berikan padaku!” Pinta sang Kaisar saat Evandor akan memasukkan belatinya ke dalam saku celana.


Perkataan Kaisar adalah sesuatu yang mutlak, oleh karenanya, pria itu langsung menyerahkan senjata tersebut tanpa banyak tanya. Pangeran Evandor tidak ingin merusak suasana yang masih cukup menegang. Baginya, dengan Kaisar sudi berada di dekatnya sudah membuatnya bahagia.


Kereta kuda mereka pun berjalan kembali setelah sempat tertunda beberapa saat.


Sepanjang perjalanan Kaisar menatap pemandangan di balik jendela. Meski lehernya sudah mulai terasa sakit karena melihat sesuatu dalam waktu yang lama dan tidak berubah posisi.


“Yang Mulia… apa Anda haus?” tanya Pangeran Evandor sok perhatian.


Kaisar Alessa diam saja, Pangeran Evandor sebenarnya ingin mencairkan suasana. Tapi, semua itu tidak mudah. Pria itu mau tidak mau menutup mulutnya dan menjaga sikap.


***


Perjalanan mereka memakan banyak waktu karena selain menggunakan kereta kuda. Mereka pun diharuskan menggunakan perahu layar untuk sampai ke kerajaan Prussia dan, selama itu pula Kaisar tidak mengajak Pangeran Evandor berbicara sama sekali. Pangeran Evandor sendiri tidak menjaga jarak. Walau didiamkan seperti patung, dia tidak henti mengikuti sang Kaisar selayaknya anak ayam pada induknya.


Akhirnya, karena tingkah sang Pangeran membuat Kaisar menjadi merasa terganggu. Kaisar menegur pria itu.


“Bisakah kau berhenti mengikutiku?”


“Jika hamba tidak mengikuti Yang Mulia, hamba akan tersesat, hamba tidak pernah pergi ke kerajaan Prussia.”


“Omong kosong! Jangan berbohong karena aku akan mengetahuinya,” Kaisar mengacungkan telunjuknya.


“Sungguh hamba tidak berbohong, mungkin hamba mata keranjang. Tapi, hamba tidak pernah bersilat lidah atau memutar balikkan fakta,” terang Pangeran Evandor.


Kaisar mengakui hal itu, karena saat Pangeran Evandor bermain serong dia mengakui hal itu dengan sendirinya. Andai pria tersebut tidak memberitahukan kebenaran pada sang Kaisar. Mungkin saja hingga saat ini dia tidak akan pernah tahu.


“Bersabarlah Evan… sabar,” gumamnya menguatkan hati yang mulai letih karena di dorong menjauh terus menerus oleh wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya.


***


Kabar mengenai kandasnya hubungan Kaisar Alessa dengan Raja Prussia masa ini sempat menjadi buah bibir di masa lalu dan Pangeran Evandor sendiri pernah mendengarnya meski hanya sekilas. Siapa sangka, dia akan ke tempat kenangan terindah sang Kaisar dengan mantannya berada.


Pangeran Evandor menelisik istana nan megah itu dari kejauhan, tidak lebih besar di bandingkan istana di tempatnya berasal. Pangeran Evandor boleh bernapas lega. Setidaknya, dia masih sedikit lebih baik dari mantan kekasih Kaisar dari segi kekayaan. Entahlah, apa memang begitu?


Tapi, hal yang lebih membuat pria itu penasaran adalah alasan sang Kaisar bertandang ke kerajaan tersebut. Firasat buruk mulai merayapi  hatinya.


Kereta kuda mereka berhenti. Pangeran Evandor kembali menuruni kereta lebih dulu. Dirinya sudah siap jika menerima penolakan lagi. Tapi, ternyata sebaliknya. Kaisar Alessa menyambut uluran tangannya dengan tegas dan


merangkul lengannya erat.


Pangeran Evandor sampai terkesiap sesaat hingga kehadiran seseorang menyadarkannya. Keberadaan yang menjadi alasan Kaisar Alessa mengeratkan rangkulan padanya.


“Alessa….”


“Yang Mulia Kaisar Alessa!” Pangeran Evandor menegur orang tersebut. Pria tampan dengan mata birunya. Mata sialan yang mengingatkannya pada salah satu calon selir. Mata Pangeran Lucas!


“Jaga bicara Anda!” kini seorang kesatria menegur balik Pangeran Evandor. Namun, pria yang salah memanggil Kaisar segera mengangkat tangannya, menahan pengawal itu yang hendak menarik pedangnya.


“Kyle!”


“Mohon maaf akan kelancangan saya. Yang Mulia Kaisar Aegis!” pria itu tidak lain adalah Raja Fabian. Raja Prussia yang sudah mengemban takhta selama lima tahun terakhir. Ulasan senyum tipis diberikandengan tatapan tertuju pada tangan Kaisar Alesaa yang sedang merangkul erat lengan Pangeran Evandor.


Semua ingatan masa lalu segera terbayang di mata wanita cantik itu. Kilasan indah bercampur dengan malapetaka, hingga membuat kakinya yang tadinya kokoh berubah menjadi tidak bertenaga. Amarah yang semula berkumpul di ubun-ubun berubah menjadi rasa panik yang menyesakkan. Apakah ini sebuah amarah yang tertahan. Begitu besarnya hingga malah berubah menjadi sebuah trauma.


Pangeran Evandor merasakan cengkeraman di lengannya. Wajah Kaisar pun pucat pasi. Tidak berlangsung lama wanita tersebut memuntahkan isi perutnya.


Hoek! Hoek!


“Yang Mulia!” seru Evandor khawatir. Hal sama dilakukan oleh Raja Fabian.


“Alessa?”


Pangeran Evandor menatap tajam Raja Fabian yang kembali memanggil Kaisar dengan tidak sopan. Pria itu segera merangkul tubuh lemas sang Kaisar.


“Jika Raja tidak keberatan, hamba ingin meminjam kamar untuk istri saya. Sepertinya dia sedang tidak enak badan!”


Raja Fabian terdiam mendengar perkataan Pangeran Evandor. Kaisar Alessa yang terlalu lemas bahkan tidak menyangkal hal tersebut, karena kenyataannya mereka belum lha melangsungkan upacara pernikahan. Pangeran Evandor mengarang cerita. Untuk pertama kalinya dia berbohong, semua itu dia lakukan untuk sang Kaisar.


Tbc.


Raja Fabian