
Kaisar Alessa dan Duke Tristan terpaksa keluar dari mansion melalui pintu rahasia yang hanya diketahui oleh pria itu. Tanpa disangka mansionnya telah dikepung oleh prajurit Kaisar Louis. Pria tua itu telah mengetahui apa yang Duke Tristan lakukan yaitu, membiarkan Kaisar Alessa hidup. Bahkan memperlakukannya dengan sangat baik. Kaisar Louis curiga sejak Duke Tristan terlambat datang ke acara pestanya. Sebuah pesta yang sengaja Kaisar Louis buat untuknya. Namun, yang ada Duke malah datang terlambat. Sebuah hal yang jarang sekali
dilakukan oleh pria itu.
Kaisar Louis akhirnya mengirimkan mata-mata ke mansion Duke untuk menyelidiki penyebab pria itu terlambat dan setelah mengetahui semuanya. Kaisar Louis pun murka, dia merasa dikhianati oleh orang yang sangat dipercayainya. Duke Tristan berani berbohong perihal Kaisar Alessa yang telah mati di tangannya.
Kekuasaan Kaisar Luois tidaklah main-main, seyakin itu Duke Tristan akan pengaruhnya, nyatanya tidak berlaku sama sekali. Seorang penguasa sekelas Kaisar jelas bisa menyingkirkan Duke Tristan meski harus kehilangan setengah pasukannya.
Prajurit Duke Tristan yang setia terus bertahan membiarkan majikannya untuk bisa melarikan diri, mereka semua rela berkorban dan menjadi musuh Kaisar Louis.
“Tuan, sebaiknya Anda pergi ke gunung Karpatia guna menghindari kejaran pasukan Kaisar Louis. Saya akan ke barack untuk memberitahu yang lain.”
Lokasi pasukan Duke Tristan cukup jauh dari Mansionnya. Karena itu kepungan dari Kaisar Louis tidak bisa dihindari. Andai ada pasukan Duke Tristan yang berjumlah 20.000 orang, kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi. Kaisar Louis melakukan serangan mendadak. Siapa yang mengira jika kedatangan mereka untuk menangkap Duke dan Kaisar Alessa?
Awalnya para pengawal mengira ini hanyalah sebuah kedatangan pasukan biasa saja, tanpa diduga mereka ditikam ditempat. Karena jumlah mereka kalah jumlah, prajurit dan pengawal Duke Tristan kalah telak.
Duke Tristan mengangguk, setelah itu anak buahnya segera pergi menuju barak. Sementara Duke Tristan Kembali meneruskan perjalanan Bersama Kaisar Alessa dan beberapa prajurit. Kaisar Alessa mengikuti pria itu tanpa berkomentar hingga mereka sampai di sebuah gua di anak gunung Karpatia.
“Kita bermalam di sini,” ucap Duke Tristan. Dia pun menunjuk salah satu prajurit. “Bersihkah gua dan siapkan tempat untuk tidur Duchess!”
“Baik, Tuan!”
Kaisar Alessa yang sejak tadi diam akhirnya menginterupsi perintah sang Duke. Prajurit yang diperintah sampai diam menunggu akhir dari perdebatan Duke dan Duchessnya.
“Kau tidak perlu melakukan hal itu. Aku bisa tidur hanya dengan alas tanah sekalipun,” sergah Kaisar Alessa.
Mendengar ucapan Kaisar Alessa, Duke Tristan langsung menggeleng cepat. “Duchess, tentu saja itu perlu. Aku tidak mau kamu sampai digigit serangga,” tekannya. Pria itu kembali melihat ke arah prajurit. “Cepat kerjakan!”
“I-Iya Tuan!”
Duke Tristan adalah pribadi yang tidak mau dibantah, Kaisar Alessa pun memilih duduk di sebuah batu besar. Wanita itu malas berdebat. Duke Tristan mendekatinya.
“Kamu lelah, sayang? Tenang saja, aku memiliki sebuah kastil di daerah perbatasan. Kaisar Louis tidak akan bisa mengejar kita. Karena dia tidak pernah tahu akan tempat itu.”
Kaisar Alessa menoleh, dia tersenyum sinis. “Sampai saat ini aku masih tidak tahu, mengapa Kaisar Louis mengejarku dan ingin sekali membunuhku? Dan kenapa juga kamu tidak menuruti perintahnya? Apa yang kau dapatkan Duke?”
Duke terdiam saat pertanyaan tersebut dilontarkan sang Kaisar. Pria itu menatap Kaisar Alessa. “Sehari sebelum perintah untuk menghabisimu di turunkan, Ratu Anna datang menghadap sang Kaisar. Sepertinya semua atas permintaannya. Apa kau memiliki masalah dengan Ratu Anna?”
“Ra-ratu Anna? Jadi … bukan Raja Fabian?”
“Ratu Anna adalah keponakan Kaisar Louis, semua yang dia inginkan selalu dituruti oleh Kaisar karena Kaisar Louis tidak memiliki anak perempuan. Semua anaknya adalah laki-laki. Raja Fabian pun mendapatkan takhtanya saat ini atas bantuan Kaisar Louis.” terang Duke Tristan sontak membuat Kaisar Alessa tertawa lirih.
Duke Tristan mengatupkan bibirnya rapat. Ada sesuatu hal yang lebih besar dari pada hal itu.
Haruskah dia memberitahukan pada Kaisar Alessa?
“Sebenarnya … Kaisar Louis berniat untuk menyerang Aegis. Karena saat ini Aegis tidak memiliki pemimpin.” Pria itu memutuskan memberitahu yang sebenarnya.
Netra Kaisar seketika melebar. “A-apa kau bilang?”
“Terlepas dari permintaan Ratu Anna. Sudah sejak lama Kaisar Louis ingin menaklukkan Aegis. Sebelum Raja Fabian berganti gelar. Kaisar Louis sudah memantau Aegis diam-diam.”
Kaisar Alessa bangkit dari duduknya dan mencengkeram kerah leher sang Duke. Dia sangat marah. “Mengapa kau baru memberitahuku! Apa kau tahu arti Aegis bagiku? Jika Aegis hancur, sudah tidak ada lagi alasan aku untuk hidup. Kau pikir aku akan diam saja dan menurut menjadi peliharaanmu?”
“Maafkan aku, aku melakukan semua karena aku tidak mau kehilanganmu. Aku pikir cukup menyembunyikanmu dengan kabar kematian palsumu. Aku melupakan kemungkinan Aegis yang akan diserang. Aku … mencintaimu Duchess.” Duke Tristan mengenggam tangan Kaisar. Saat itu juga wanita itu menyentak tangannya. Melepaskan
diri dan menarik pedang milik Duke Tristan.
“Duchess, ku mohon tenanglah!” Duke Tristan mengangkat tangannya sambil menggelengkan kepala. Kaisar Alessa menghunus pedang ini padanya.
“Menjauh dan berhenti memanggilku begitu! Cinta? Apa yang kau tahu arti dari kata itu? yang kau lakukan bukanlah cinta, tapi pengekangan!” Hardik Kaisar. Wanita itu kalut dengan pikiran yang melanglang buana. Dia hanya ingin kembali ke Aegis. Dia harus menyelamatnya negara dan rakyatnya.
“Baik, aku tidak akan memanggil itu lagi. Kembalilah, di luar sana tidak aman. Kau tidak akan bertahan lama di saat kau sedang dicari di setiap sudut Diocletianus.” Duke Tristan mencoba membujuk Kaisar Alessa, prajurit Duke pun menyadari keributan yang terjadi dan mulai berkerumun mengelilingi sang Kaisar.
“Jadi, kau pikir aku akan aman bersamamu? Sementara Negeriku sedang diserang? Kau jangan bercanda!”
“Kita akan mencari cara, aku … aku akan mengembalikanmu ke Aegis. Jadi, tolong ikut bersamaku. Saat ini hanya itu pilihan yang terbaik!”
Kaisar Alessa tertawa. “Hahaha, kau benar-benar pria yang sangat angkuh. Dalam keadaan seperti ini pun kau masih sombong. Daripada aku bersamamu, lebih baik aku mati!” Kaisar Alessa menempelkan pedang pada lehernya. Duke Tristan terperanjat, dia sangat terkejut.
“Apa yang kau lakukan! Lepaskan pedang itu!”
“Aku akan melepaskannya asalkan kau membiarkan aku pergi. Perintahkan semua prajuritmu menyingkir! SEKARANG!”
Duke Tristan mengepalkan tangan, tidak pernah dia menginginkan Kaisar Alessa terluka. Hal yang bisa dia lakukan adalah menuruti permintaan wanita itu. Meskipun sangat berat.
“Kalian semua, pergi dari sini!” perintah Sang Duke pada para prajurit. Mereka terlihat kebingungan. Masalahnya, semua pemberontakan ini berawal dari Kaisar Alessa. Jika wanita itu pergi, apa gunanya mereka menjadi pengkhianat. Semua kegilaan ini karena cinta buta sang Duke yang membuat banyak orang dirugikan. Meskipun para prajurit sudah sumpah setia pada majikan hingga titik darah penghabisan.
Tbc.