
Suara derap langkah saling bersahutan, yang satu berlari menghindar yang satu mengejar tanpa lelah. Menyusuri hutan kian dalam tanpa sadar jika ada sebuah tebing di ujung jalan sana. Pangeran Evandor menarik Kaisar Alessa yang hampir saja terpeleset dan terperosok ke jurang berdasar sungai berarus deras.
“Terima kasih,” ucap Kaisar tulus.
Pangeran Evandor mengangguk dan menarik kembali Kaisar Alessa untuk bersembunyi di balik pohon.
Kaisar Alessa tidak melawan, dia terus mengikuti apa yang Pangeran Evandor lakukan sekaligus menguji pria itu akan loyalitasnya. Kaisar Alessa cukup senang karena calon selirnya itu tidak melarikan diri meninggalkannya. Malah, pangeran Evandor langsung membangunkan dirinya dari tidur agar segera kabur dari para bandit yang tiba-tiba menyerang mereka.
“Kira-kira siapa mereka?” tanya Pangeran Evandor di sela pantauannya pada sekitar.
“Aku tidak tahu,” sahut Kaisar setengah yakin.
“Apakah mereka komplotan yang sama dengan yang menyerang kita kemarin malam?” Pangeran Evandor menoleh pada Kaisar. Pria itu melihat raut wajah Kaisar yang sulit dia artikan.
Kaisar menggeleng. “Seharusnya bukan, karena aku telah memperingatkan orang itu sebelum kita berangkat meninggalkan istana Prussia.”
“Anda sudah memperingatkannya? Memangnya siapa dia?” rasa penasaran Pangeran semakin menjadi. Kaisar sendiri merasa tidak bisa menyembunyikan identitas orang yang mencoba membunuh selirnya itu.
“Dia… adalah Raja Fabian. Dia menyewa pembunuh bayaran untuk melenyapkanmu.”
Seketika mata Pangeran Evandor melebar. Mulutnya setengah terbuka karena terkejut dengan apa yang Kaisar katakan. Jadi, orang yang hampir membuat kepalanya berlubang adalah orang suruhan Raja Prussia. Mantan kekasih sang Kaisar. Kini Pangeran Evandor mengerti. Pria itu terkekeh kecil. Hal itu sontak mengalihkan perhatian sang Kaisar. ‘Apa yang sedang ia tertawakan?’
“Ternyata Raja Prussia tidak sehebat itu. Dia langsung terintimidasi dengan keberadaan hamba di sisi Anda, Yang Mulia.”
Awalnya Kaisar pun cukup terkejut dengan perkataan Pangeran Evandor. Namun, sesaat kemudian ia ikut terkekeh. “Bisa dibilang begitu.”
“Apa jadinya jika dia melihat calon selir Anda yang lain?”
“Sepertinya dia akan mengibarkan bendera perang secara terang-terangan.”
Pangeran Evandor tergelak oleh ucapan sang Kaisar yang terdengar sangat lucu untuknya. Tapi, secepat kilat Kaisar membekapnya. Jangan sampai para bandit itu menangkap mereka. Pangeran Evandor menyadari kesalahannya.
“Maafkan hamba, Yang Mulia.” Pangeran Evandor membawa punggung tangan Kaisar untuk ia kecup. Sungguh pria yang pandai memanfaatkan situasi.
Kaisar Alessa segera menarik tangannya. Entah mengapa sikap calon selirnya itu mulai mengganggu dan berhasil membuat hawa di sekitar mendadak panas. Kebetulan cuacanya cukup terik. Mungkin karena itu, wajah Kaisar Alessa menjadi memerah.
“CARI MEREKA SAMPAI DAPAT!” seru salah seorang bandit yang sampai ke telinga Kaisar dan Pangeran.
Mereka berdua pun berusaha menutup mulut. Namun, karena ujung gaun sang Kaisar terlihat, keberadaan mereka pun diketahui.
“DISANA!” teriak bandit itu seraya menunjuk arah persembunyian Kaisar dan Pangeran.
“Kita ketahuan!”
Akhirnya mereka berdua menampakkan diri dan melawan bandit yang mendekati mereka. Satu persatu bandit itu berhasil mereka lumpuhkan. Tapi, gerombolan bandit yang lain terus berdatangan Kembali. Rasa lelah mulai merayap, apalagi sang Kaisar mendapatkan goresan luka di lengannya.
“Yang Mulia, serahkan semua pada hamba. Anda sebaiknya menyelamatkan diri!”
“Kita pergi bersama!” Kaisar tidak menyetujui permintaann sang Pangeran.
Mendengar Kaisar yang begitu gigih tidak ingin menyerah bahkan ingin terus berjuang bersama membuat Pangeran Evandor semakin jatuh hati. Sudah dua kali hidupnya diselamatkan oleh wanita itu. Rasanya semua lebih dari cukup, jika memang hidupnya hanya sampai di sini demi sang Kaisar agar tetap hidup. Pangeran Evandor rela mengorbankan nyawanya.
“Tolong tetap selamat dan sampai ke Aegis, Yang Mulia!”
“Tidak! Kau harus ikut denganku!”
Hati sang Kaisar bagai teriris menyaksikan hal tersebut. Wanita itu menggigit bibirnya hingga hampir terluka.
“Yang Mulia! Kita tidak punya banyak waktu!” Pangeran Evandor menahan bandit yang ingin menghujamnya dengan pedang. Kaisar juga tidak dalam keadaan bebas. Dia juga sedang menangkis semua serangan beruntun para bandit yang jumlahnya sangat banyak.
Kaisa menggeleng. Dia tidak ingin kehilangan lagi. Dia harus kembali dengan pangeran, orang yang tersisa bersamanya.
“HIAAH!
JLEB!
Tusukan yang dalam mengenai perut salah satu badit. Selama itu terdapat waktu untuk Pangeran Evandor menyadarkan Kaisar yang diam saja.
“Yang Mulia!” pria itu menggoyang kedua bahu Kaisar hingga tatapan mereka bertemu.
“Pangeran,” ucapnya lirih.
“Sekali ini saja, aku mohon kabulkan permintaanku. Pergilah Yang Mulia!”
“Aku tidak mau, kita hadapi-“
Cup
Pangeran Evandor menghentikan ucapan Kaisar Alessa dengan kecupan di bibirnya. Dengan lembut dia memangut benda kenyal nan manis itu. Kaisar membelalakkan mata dan bergeming. Sampai Pangeran Evandor menjauhnya wajahnya, sang Kaisar masih terdiam membisu.
“Kita akan bertemu lagi. Hamba janji akan menyusul Yang mulia. Karena itu, tolong pergilah. Hamba akan berusaha menghindar dan lari setelah Yang Mulia pergi.”
Niatan Pangeran Evandor membuat wanita itu mengerjap, dia sama sekali tidak marah dengan kecupan tiba-tiba dari sang Pangeran. Hanya keselamatan mereka yang dia pikirkan.
“Kau janji?”
“Iya, hamba janji akan menyusul Yang Mulia, karena itu cepat pergi sekarang. Agar hamba bisa segera kabur.”
Dengan berat hati Kaisar mengangguk. Dia menyerang bandit yang hendak menikam Pangeran Evandor untuk terakhir kali. Sebelum dia menaiki kuda dan pergi meninggalkan calon selirnya itu.
“WANITA ITU PERGI! KEJAR! DIA TARGET YANG PALING PENTING!”
Pangeran Evandor tidak membiarkan para bandit itu maju untuk menyusul Kaisar. Dia terus melakukan serangan sampai Kaisar Alessa menghilang dari pandangannya. Pria itu pun berpikir sejak tadi setelah mendengar perkataan
para bandit. Sasaran utama mereka bukanlah dirinya melainkan Kaisar. Berarti komplotan itu bukanlah suruhan dari Raja Prussia. Ada pihak lain yang mengincar sang Kaisar.
“Kalian ingin menyentuh istriku? LANGKAHI DULU MAYATKU!”
***
Kaisar Alessa melaju secepat mungkin dengan kuda yang ditungganginya, menekan hatinya yang sedih dan merasa bersalah karena meninggalkan Pangeran Evandor.
“Kau harus Kembali! Harus!”
Dia harus Kembali ke Aegis dan mengumpulkan pasukan untuk menyerang balik. Atau bahkan melakukan peperangan. Prussia telah mengibarkan berdera perang padanya. Kaisar Alessa tidak akan mentolerir lagi sikap aneh mantan kekasihnya itu. Belum kering air liurnya akan perjanjian tidak saling mengusik. Tapi, ternyata sang Raja malah mengirimkan bandit yang sangat banyak untuk menghabisi mereka. Wanita itu mengeratkan kekang dengan amarah di ujung kepala.
“Aku akan memenggal kepalamu Fabian!”
Tbc.