
Saran dari Tuan Cicero sedang dipikirkan matang-matang oleh Kaisar Alessa, sebelum akhirnya perempuan cantik itu menyetujuinya.
"Baiklah jika ini yang terbaik, aku akan segera bersiap."
"Tuan Attala banyak berjasa dalam memulihkan Aegis, baik dari kondisi perekonomian maupun kondisi sosial. Berkat kebijakan dan peraturan Menteri Attala, kepercayaan rakyat Aegis terhadap pemimpin mereka semakin meningkat."
Permaisuri Rhea menyimak semua perkataan Tuan Cicero.
"Hamba tidak bisa memungkiri, bahwa pada awal-awal Yang Mulia memegang tampuk pimpinan Aegis, rakyat hampir berputus asa. Menteri Attala turun ke desa-desa, menyampaikan kebijakan Yang Mulia. Menurut hamba, putra Tuan Attala, Tuan Helios yang berhak menerima kehormatan ini."
"Jadi begitu rupanya. Kalau dari pertimbangan ibu, darah bangsawan mengalir deras di tubuh Helios. Dia berasal dari tanah yang sama tempat kita berpijak. Jadi sudah sewajarnya, lelaki itu menerima kehormatan untuk menjadi yang pertama."
"Helios. Pria itu berani memerintahku untuk datang ke rumahnya. Sekarang dia akan menerima hukuman," desis Kaisar lirih. Mendengar kata hukuman, permaisuri Rhea terkejut.
"Anakku, para selir itu bukan musuhmu, bersikaplah sedikit lembut pada mereka."
"Ehh, iya, ibu, maksudku ... ah baiklah, sekarang aku harus bersiap."
"Ampun Yang Mulia, ada satu hal lagi yang harus hamba sampaikan."
"Jangan buat aku menunggu Tuan Cicero, lekas katakan!"
"Bersama Tuan Helios, Anda hanya akan menikmati malam pertama, bukan malam penyatuan."
Melihat putrinya masih kebingungan Permaisuri meneruskan perkataan Tuan Cicero.
"Anakku, penerus Aegis harus tumbuh dari kasih sayang kedua orang tuanya yang saling mencintai. Pada siapa hatimu menetap, di situlah akan terjadi malam penyatuan, bukan kepada mereka yang hanya sekadar singgah."
Permaisuri Rhea sangat memahami, putrinya masih menyimpan luka yang ditinggalkan Pangeran Fabian. Para selir itu hanya pelampiasan ego putrinya.
"Aku tahu Ibu. Sekarang pintu hatiku baru terbuka dan mengizinkan mereka masuk. Ibu benar. Mereka yang masuk ini belum tentu menjadi penghuni tetap. Ada yang hanya sekadar singgah karena perintah rajanya, ada yang hanya ingin bermain-main untuk menguji Aegis, juga ada yang melamar demi perluasan wilayah."
Tuan Cicero mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia senang Kaisar yang meskipun masih berusia muda, tapi memiliki pemikiran yang matang. Tidak sulit mengarahkan Kaisar, karena memang putri Kaisar Basil itu memiliki kecerdasan di atas rata-rata.
Pengalaman pahit dikudeta saudaranya sendiri, dibuang, dan diasingkan, membuat Kaisar semakin terasah juga kecerdasan emosionalnya. Jika para selir yang sekarang tertidur nyaman di kamarnya itu suatu saat naik tahta pemberian ayahnya, maka Kaisarnya berbeda. Kaisar Alessa merangkak, dan harus berdarah-darah demi naik tahta yang memang menjadi haknya.
Kaisar segera mengumpulkan para selirnya di ruangan khusus. Wajah para selir terlihat tegang. Jika mereka dipanggil untuk datang ke ruangan ini, pasti ada sesuatu yang penting. Sebuah ruangan tertutup dengan dua pilar kokoh dihiasi banyak lampu.
"Aku sudah memilih dengan siapa aku akan menghabiskan waktu untuk malam pertama. Setelah ini kalian bisa bernapas lega."
Helios merapatkan jari-jarinya, Pangeran Evandor meniup-niup napas dari mulut, Pangeran Lucas memegang-megang rambut di kening yang sudah tertata rapi.
Pangeran Jerome tetap duduk dengan dada tegak, sementara Darius yang duduk di samping Kaisar bermuka datar tanpa ekspresi. Mereka tak sabar mendengar nama masing-masing disebut, meskipun itu tidak mungkin. Hanya ada satu orang yang paling beruntung.
Kaisar mengedarkan pandangan kepada para selirnya. Cukup lama keheningan meniup di ruangan itu.
"Helios, malam ini temani aku di ranjang pengantin."
Mata Helios membulat sempurna. Dia masih bingung dan merasa salah dengar. Raut kekecewaan terlihat jelas dari wajah para selir lainnya. Pangeran Lucas yang sedari awal sangat percaya diri, wajahnya berangsur muram.
Darius juga tak bisa menahan ekspresi kesedihannya, meskipun ia tetap berusaha bersikap biasa. Darius merindukan saat-saat berdua dengan Kaisar tanpa ada yang mengganggu. Tapi kerinduan ini memang belum bisa dibayar lunas. Kehadiran para selir membuat semua jadi berbeda.
Pangeran Evandor terlihat kesal. Dia sudah tak sabar ingin menenggak ramuan kuno yang konon membuat tenaganya setara dengan sepuluh kuda.
"Mungkin aku akan tetap meminum ramuan itu, lalu merobohkan istana Aegis dengan tenaga sepuluh kuda," batinnya kesal. Hasratnya sudah di ubun-ubun tapi sampai sekarang belum juga mendapat pelampiasan.
Pangeran Jerome meremas jari-jarinya, menghasilkan suara gemeretuk yang menyita perhatian.
"Helios, kau dengar?"
"Ham-ba, Yang Mulia. Hamba sungguh tak menyangka mendapat kehormatan ini. Apakah Yang Mulia yakin?" Helios ingin bertanya apakah Kaisar tak salah pilih. Tapi ia urungkan, karena tak mungkin kaisar salah, maka ia memilih kosakata yang lebih sopan.
"Yang terdengar justru kau yang tidak yakin," jawab Kaisar semakin membuat Helios frustrasi.
Helios bergidik ngeri. Dia tak sanggup menerima tatapan intimidasi dari para selir saingannya, terutama Darius.
Entah kenapa Helios selalu ketakutan melihat Darius. Jika bisa, ia ingin memberikan jatahnya pada Darius saja. Tapi mana mungkin? Kaisar sudah memilih, itu artinya perintah yang pantang ditentang.
Pertemuan dibubarkan. Semua selir melangkah gontai ke kamarnya masing-masing, kecuali Helios. Dia langsung menuju kamar khusus yang sudah disediakan. Matanya menatap ranjang emas dengan sprei satin putih yang terlihat mengilap. Ada taburan bunga di atas ranjang hingga terhidu aroma wangi yang menenangkan.
Beberapa pelayan masuk membawa anggur dan gelas emas, lalu meletakkannya di atas meja.
"Tuangkan anggur itu, aku ingin meminumnya," titah Helios kepada pelayan. Dengan cekatan pelayan menuangkan anggur ke dalam gelas.
"Lagi!"
Suara Helios kembali terdengar, lalu anggur gelas kedua ia nikmati.
"Sekali lagi!" pintanya. Helios merasa perlu menenangkan degup jantungnya yang mulai tidak beraturan.
Setelah sepuluh gelas anggur berpindah ke perutnya, Helios segera naik ke atas ranjang.
"Beri aku minuman lagi!"
Para pelayan itu saling berpandangan, lalu menggelengkan kepalanya. Helios terjungkal di atas ranjang. Para pelayan itu ketakutan dan langsung keluar dari kamar pengantin.
Kaisar Alessa datang ke kamar pengantin dengan gaun tipis. Dia sendiri sengaja menjeda waktu dan memilih minum anggur di kamar pribadinya. Sama seperti Helios, Kaisar butuh pemicu supaya keberaniannya tumbuh.
Namun, yang didapatinya malah Helios yang terjungkal di atas ranjang.
"Lemah!" serunya saat mendapati Helios tengah tertidur pulas akibat terlalu banyak meminum anggur.
Dengan langkah terhuyung-huyung Kaisar membuka pintu. Pada saat yang sama Darius yang baru saja melakukan pemeriksaan keamanan hendak menuju ke kamarnya.
Tanpa membuang waktu, Kaisar yang sudah setengah mabuk, menarik tangan Darius dan membawanya ke atas ranjang. Darius menatap mata indah yang kini terbalut birahi. Dari tatapan itu Darius tahu apa yang diinginkan sang Kaisar. Namun, pria itu bingung dengan keadaan tersebut. Bukankah seharusnya Kaisar menghabiskan malam dengan Helios.
Di tengah keterkejutannya, Darius melihat Helios yang terbaring tidak jauh darinya. Pria itu pun mengerutkan kening, penasaran dengan Helios yg tampak diam tidak bergeming.
"Ada apa dengannya?"
Kaisar mengikuti arah pandang Darius. Wanita itu menarik wajah Darius agar melihat dirinya.
"Kau percaya? dia meninggalkan aku begitu saja, tertidur dengan lelap," racau Kaisar dengan mimik kesal. Bibirnya mengerucut seperti anak kecil.
Entah mengapa mengetahui hal tersebut membuat Darius lega, pria itu menatap dalam Kaisar Alessa yang baru disadarinya sangat menggoda. Lekuk tubuh wanita itu terpampang jelas menantang sesuatu di bawah sana.
Tubuh Darius tiba-tiba memanas, melihat situasi yang mendukung. Pria itu memberanikan diri membelai wajah Kaisar. Kaisar menikmati setiap sentuhan Darius.
Jarinya menari dari mata hingga ke bibir merah pucat milik Kaisar. Sebuah oase penyejuk para musafir yang kehausan. Darius berulang kali menelan salivanya.
"Hamba selalu menbayangkan bisa menyentuh Yang Mulia seperti ini."
Kaisar yang sudah dikuasai gairah membara malah memancing Darius dengan nakal. Tentu saja semua itu pengaruh dari alkohol
"Kalau begitu, sentuh aku lebih dari ini, Darius." meski dalam keadaan mabuk, beruntungnya Kaisar masih mengenali siapa lawan mainnya.
Darius yang diberikan lampu hijau tentu saja tidak menyia-nyiakan kesempatan.
Ada sesuatu yang menuntut untuk diselesaikan. Desah napas tak beraturan, lenguhan kecil, berakhir dengan teriakan pelepasan. Keduanya terengah-engah menyelesaikan permainan asmara yang membakar hasrat. Sementara Helios mendengkur di ranjang yang sama.
End. Season 1
Tunggu di judul lain yaitu "Love in Hareem"