
Istana Prussia
Ratu menyambut kedatangan Kaisar dengan jamuan mewah dan hidangan terbaik dari negerinya. Ia pun memperlihatkan berbagai hal mengenai keunggulan kerajaan tersebut seperti syair yang di buat oleh para penulis terkenal di negerinya. Mereka kini sedang berada di perpustakaan istana Prussia yang sama besarnya dengan milik Kaisar Alessa di Aegis.
“Horace, Virgil, Ovid, dan Livy semuanya adalah penulis yang karirnya berkembang. Mereka melahirkan karya brilian yang tidak semua negeri memilikinya,” Ratu Anna sedikit membanggakan diri.
Kaisar Alessa mengangguk. Maniknya bergulir membaca setiap helai kertas berharga tersebut. Pada masa itu, ilmu pengetahuan adalah harta yang tidak ternilai karena para cendikiawan sangatlah terbatas.
“Tapi, Eropa mengadopsi struktur keagamaan dan genre teatrikal orang-orang Yunani.”
Ratu Anna terdiam seketika, Kaisar Alessa tersenyum manis sambil mengambil tumpukan kertas yang lain. “Ada pepatah yang bilang untuk tidak melupakan asal muasal dirimu, sekecil apapun itu.”
“Terinspirasi lebih tepatnya.”
“Sangat mengesankan,” entah mengapa ucapan sang Kaisar terdengar seperti sebuah sindiran.
Ratu mulai merasa canggung. “Bisa kita kembali ke ruang penjamuan?”
“Tentu saja, Ratu.”
Kaisar berjalan lebih dulu setelah merapikan lembaran yang dia baca, sang Ratu menggigit bibirnya karena tidak berhasil memprovokasi Kaisar Alessa. Berniat ingin menunjukkan kelebihan malah membuka luka lama. Yunani sangat berpengaruh pada bahasa, politik, sistem pendidikan, filsafat, ilmu, dan seni di Eropa. Karena hampir semuanya berkiblat dari sana.
***
Langit sudah mulai gelap. Di sebuah ruangan terdapat pertemuan rahasia.
“Pastikan dia lenyap malam ini juga!”
Sebuah perintah yang diberikan pada seorang pria berpakaian serba hitam. Dia mengenakan jubah bertudung hingga wajahnya tidak terlihat.
“Baik!” dengan cepat sosok serba hitam itu menghilang dari balik balkon kamar.
Tidak lama, seringai terpatri di wajah tampan namun dingin. Ekspresi yang tidak pernah dia perlihatkan pada siapa pun. Orang itu tidak lain adalah Raja Prussia, Raja Fabian. Dia menyewa seorang pembunuh bayaran untuk menghabisi target yang dia benci. Sangat membencinya hingga tidak ingin melihat sosok itu lagi.
“Aku tidak akan membiarkan pernikahan itu terjadi, tidak akan!”
Raja Fabian meremas gelas yang sedang dipegangnya hingga hancur. Amarahnya memuncak ketika teringat sebuah gulungan undangan yang diberikan oleh Kaisar Alessa. Wanita itu akan menikah, menikah dengan seorang pangeran. Dia tidak rela, gadis yang sempat menjadi miliknya akan dipersunting oleh orang lain. Bukankah dia dulu pernah menawarkan posisi selir untuk Kaisar Alessa. Raja Fabian sama sekali tidak menyangka Kaisar Alessa akan menjadi pemimpin Aegis. Andai dia tahu lebih dulu, Raja Fabian tidak akan melakukan pernikahan politik dengan keluarga Podolski. Karena jika dia menikahi mantan kekasihnya itu, sudah pasti posisi yang disandang wanitanya akan jatuh padanya.
Semua di luar dari rencana. Selama lima tahun ini Raja Fabian berpikir mantan kekasihnya telah mati akibat kudeta yang dilakukan Pangeran Yudas. Tanpa disangka, bagai bangkit dari kubur wanita itu meruntuhkan kekaisaran Aegis di bawah naungan Kakak tirinya yang lalim dan kejam. Tidak berlangsung lama, sebuah kabar burung membuat Raja Fabian prustasi. Mantan kekasih terindahnya itu malah mengadakan sayembara mencari selir sebagai pendampingnya.
Awalnya Raja Fabian tidak serta merta percaya. Itu hanya kabar tidak jelas yang bisa saja hanyalah sebuah karangan. Tapi, semua terjawab dengan kedatangan Kaisar Alessa dengan sebuah undangan darinya.
“Sialnya kau malah semakin mempesona, Alessa….”
“Yang Mulia?”
Raja Fabbian terperanjat dengan suara istrinya yang tiba-tiba, sosok itu sudah berada di balik jendela. “Ra-ratu?”
“Anda sedang apa malam-malam begini di balkon. Udara malam tidak baik untuk kesehatan,” Ratu Anna tampak khawatir. Dia membawakan mantel dan memakaikannya pada sang Raja.
“Aku… hanya sedang menghirup udara segar.”
“Aku rasa ini sudah larut, ayo kembali ke dalam. Besok kita harus bangun lebih awal karena rombongan Aegis akan kembali ke negerinya.”
“Besok?” tanya sang Raja kembali. Meyakinkan jika dia tidak salah mendengar. Ada perasaan tidak rela saat mantan kekasihnya akan segera pergi.
“Iya, tadi siang Kaisar Alessa mengutarakan niatnya, Kenapa?”
“Jangan mengharapkan apa pun, karena dia sudah akan menikah. Biarkan dia bahagia dengan pilihannya,” sang Raja menghentikan langkah. Menoleh pada istrinya.
“Apa maksudmu?” Raja Fabian mengerutkan kening.
“Aku tahu jika Yang Mulia masih menyukainya,” sahut Ratu dengan wajah datar.
Raja Fabian menggeleng. Meski yang dikatakan sang Ratu adalah kenyataan. Raja Fabian jelas tidak ingin mengakuinya. “Kamu terlalu banyak berpikir.”
“Aku melihatnya, aku tidak buta. Raja terus menatapnya meski ada aku di sisimu!”
“Ratu, aku tidak ingin berdebat. Seperti yang Ratu tahu jika Kaisar akan segera menikah. Bukankah hal itu membuatmu tenang?”
Raja berkata sambil membelakangi tubuh istrinya. Dia tidak ingin memperlihatkan ekspresi ketika mengucapkan kata yang sebenarnya menyakiti dirinya sendiri. Menekan rasa tidak nyaman itu dan terus bersandiwara. Dia masih membutuhkan Ratu sebagai pendukung takhtanya. Ratu Anna Podolski merupakan keponakan Kaisar Louis yang merupakan pemimpin kekaisaran Diocletianus yang menaungi kerajaan Eropa Barat dan Eropa Timur.
Ratu mendekati Raja Fabian dan memeluk tubuh pria itu.
“Aku tidak akan pernah menyerah, kita sudah ditakdirkan untuk bersama selamanya.”
***
Kamar tamu Istana Prussia.
Pangeran Evandor menuangkan air teh ke dalam cangkir lalu memberikannya pada Kaisar. “Yang Mulia, silahkan diminum,” tawarnya.
“Kau tidak perlu repot-repot pangeran, masih banyak pelayan yang bisa membuatkan aku teh,” Kaisar menerimanya walaupun enggan.
“Hamba hanya mengisi waktu luang.”
Kaisar Alessa menarik napas dalam. Kalau bukan karena kejadian tadi siang. Dia berpura-pura mesra dengan sang Pangeran agar Raja dan Ratu percaya jika mereka memang akan menikah, dia tidak akan membiarkan pria itu berada di dalam kamarnya. Kini Pangeran Evandor kebingungan akan hal yang harus dilakukan, sebab Kaisar sendiri tidak kunjung mengajaknya untuk berbincang.
“Bagaimana jika kita berjalan-jalan di taman sebelum besok kita kembali pulang?”
Tawaran Kaisar tersebut bagaikan sebuah durian runtuh bagi pangeran Evandor. Mimpi apa semalam hingga Kaisar mengajaknya jalan-jalan. Padahal sebelumnya sang Kaisar seolah membencinya setengah mati.
Pangeran Evandor langsung bangkit dari duduk dan mengambil mantel untuk sang Kaisar. Tindakannya itu ternyata terlalu berlebihan. Pria itu lagi-lagi menyesal.
Para pelayan melihat sebuah signal hingga mereka maju dan mengambil mantel tersebut dari sang Pangeran.
“Biarkan pelayan melakukan tugasnya. Kamu sebagai pangeran hanya cukup menjaga sikap,” sarkas sang Kaisar langung menancap ke jantungnya.
“Ba-Baik Yang Mulia,” Pangeran Evandor mengangguk patuh.
Mereka pun berjalan menuju taman. Taman indah di bawah sinar bulan. Suasananya sungguh romantis. Ditambah mereka berjalan hanya berdua. Kaisar Alessa sengaja tidak membawa dayangnya untuk bersamanya. Kaisar berniat untuk mengatakan sesuatu pada Pangeran Evandor.
“Maaf, aku telah bersikap seenaknya. Aku memanfaatkanmu untuk kepentinganku. Jika kamu keberatan, aku akan menghentikannya.”
“Hamba tidak pernah keberatan. Gunakan hamba sesuka Yang Mulia. Manfaatkan hamba hingga hamba lupa jika sedang dimanfaatkan.”
Tbc.
Ratu Anna Podolski