Hareem of Queen Alessa

Hareem of Queen Alessa
Pembunuh Bayaran



“Ya, dan aku hampir lupa jika kamu bermulut sangat manis, Pangeran…”


“Apa itu mengganggu Yang Mulia?”


“Keadaannya saja yang tidak tepat,” sergah Kaisar Alessa. Wanita itu memetik Bunga mawar yang ada di taman itu.


Maksud sang Kaisar adalah Pangeran Evandor bisa berkata manis saat mereka sedang bersandiwara. Berpura-pura sebagai pasangan yang terlihat saling menyayangi.


Pangeran Evandor menunduk, dia masih belum bisa melunakkan hati Kaisar yang sudah terlanjur beku. Sebenarnya, hati sang Kaisar memang tidak terbuka untuk siapapun. Hanya saja, pengkhianatan Pangeran Evandor membuatnya kehilangan celah untuk menjadi lebih dekat. Bukankah dengan usaha semua akan ada hasilnya?


Setidaknya, Kaisar bisa dengan leluasa bersikap biasa tanpa ada rasa benci seperti sekarang ini. Pangeran Evandor sadar jika dia harus lebih keras lagi meyakinkan calon istrinya tersebut.


Keheningan kembali terjadi. Kaisar sibuk dengan bunga yang dia petik. Bunga indah dengan duri di tangkainya. Keindahan yang akan melukai yang memegangnya jika tidak hati-hati. Seperti sang Kaisar. Makhluk sempurna


itu bagaikan mawar yang siap kapan saja memberikan luka. Luka saat menggenggamnya dengan erat. Kaisar tidak bisa dikekang, dia harus dibiarkan sesuai hatinya. Dengan begitu dia akan bahagia dan tumbuh dengan indah. Pangeran Evandor ingin bunga itu tumbuh sebagaimana mestinya, agar bisa terus bersamanya. Meski hanya sekedar memiliki lewat pandangan mata.


“Yang Mulia-“


“Pangeran! AWAS!”


JLEB


Sebuah anak panah menancap ke pohon di belakang Pangeran Evandor. Beruntung sang Kaisar menarik pria itu. Jika tidak, sudah bisa dipastikan kepala pria itu berlubang akibat anak panah tersebut.


“SIAPA ITU! KELUAR KAU!” kaisar berteriak dan mengambil sesuatu di balik gaunnya. Sebuah benda pipih yang Pangeran Evandor kenal. Belati miliknya.


Pangeran Evandor masih dalam keadaan syok. Dia hanya membelalak tanpa bergerak. Sedangkan Kaisar melangkah mendekat ke arah anak panah itu berasal. Sekelebat sosok hitam tertangkap oleh indera penglihatannya. Kaisar segera berlari mengejar sosok itu.


“Ya-Yang Mulia!” Pangeran Evandor mulai sadar dan mengikuti Kaisar yang berlari. Pria itu kini berhutang kembali pada sang Kaisar. Sebelumnya, lehernya selamat akan tiang gantungan karena kemurahan hati sang Kaisar yang


memaafkannya. Kini dia terselamatkan dari sebuah panah yang ditujukan padanya. Sebuah hutang budi yang tidak akan pernah mampu ia balas.


Sosok hitam itu begitu cepat, berlari kemudian menaiki tembok pembatas istana dengan hutan. Kaisar sendiri tidak menyerah, agar bisa menaiki dinding itu dia merobek gaunnya agar bisa leluasa bergerak.


BRETTT!


Tungkai kaki nan mulus terpampang dan dengan cekatan menaiki dinding.


Pangeran Evandor sampai tidak fokus mengejar karena tatapannya selalu terjatuh pada bagian tubuh calon istrinya tersebut.


“Ya Dewa, cobaanmu begitu berat!” keluhnya.


Pangeran Evandor pun cukup tercengang dengan kacakapan sang Kaisar dalam ilmu bela diri. Tanpa pertolongan dirinya, sang Kaisar berhasil membekuk sosok itu. Kaisar menarik tudung yang dipakai pemanah itu. seorang pria yang tidak dikenalinya.


Manik Kaisar menatap tajam pria berjubah hitam tersebut, Berani-beraninya berniat melukai orangnya! Seburuk apapun Pangeran Evandor, hanya dia yang berhak atas dirinya. Bahkan nyawanya adalah milik Kaisar.


“Siapa kamu? Apa kau tahu siapa aku? Siapa yang hendak kamu lukai?” desak sang Kaisar. Wanita itu memiting leher pria tersebut dengan kasar. Wajah orang itu memerah hampir seperti kepiting rebus. Namun, dia tidak kunjung menjawab pertanyaan Kaisar.


Disaat Kaisar lengah, belati yang ada di tangan Kaisar ditarik oleh pria itu. Dia menancapkan belati itu ke dadanya sendiri. Pangeran Evandor yang melihat itu menyangka jika Kaisar yang tertusuk.


“Yang Mulia!” serunya panik. Dia merengkuh bahu sang Kaisar yang diam saja. Wanita itu mengatupkan bibirnya dengan rahang mengeras. Tangannya mengepal karena amarah.


Pembunuh bayaran itu mati di tempat sebelum sang Kaisar mengetahui siapa dia dan apa alasannya menyerang mereka berdua.


"SIALAN!”


Istana Aegis


Sudah dua hari para penghuni istana mencari keberadaan Pangeran Evandor yang tidak kunjung ditemukan. Padahal Darius sudah mengerahkan para prajurit menyusuri hingga perbatasan Aegis.


“Kemana perginya Pangeran Evandor? Apa kau mengetahui sesuatu?” tanya Pangeran Lucas sambil mendesah gemas.


“Jika kau bertanya padaku, kau salah besar. Bukankah kau yang lebih dekat dengannya?” Helios menjawab tanpa mengalihkan perhatian dari buku yang sedang dibacanya.


“Aku tidak sedekat itu. Saat aku berniat membuat aliansi dengannya, dia malah menghilang!”


Helios mengerutkan kening lalu menoleh pada Pangeran Lucas yang menutup bibirnya dengan tangan. Pria itu telah salah bicara. “Aliansi?”


“Lupakan!” Pangeran Lucas berajak pergi meninggalkan Helios. Bersamaan dengan itu Pangeran Jerome datang. Pangeran Lucas sempat berpapasan dengan pria itu. Tapi, segera memalingkan muka.


“Aku tidak tahu jika pria bisa datang bulan juga.” sebuah guyonan yang mampu membuat Helios mengulum senyum.


“Harusnya kau ucapkan itu saat dia masih di sini.”


“Mungkin nanti saat dia terlihat lebih jinak.”


Helios langsung tergelak. “Memangnya dia binatang buas?”


“Lebih dari itu asal kau tahu.”


“Hahahaha, kalau begitu aku tidak ingin tahu.”


“Kau mengambil keputusan yang baik.”


Helios mengangguk, dia meletakkan buku dan menuangkan anggur ke dalam gelas. Salah satunya untuk Pangeran Jerome. “Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu.”


“Apa itu?”


“Kau sering keluar istana dan kudengar jika kau juga banyak kenalan saudagar,” Helios mendetingkan gelasnya pada gelas Pangeran Jerome lalu menyesap anggur itu. “Ada yang melihat jika Pangeran Evandor berada di dalam


kereta Yang Mulia Kaisar.”


“Kau bilang apa? Kau tahu dari mana?”


“Dari Ibuku. Tadi pagi dia datang ke sini karena selembaran yang ditempelkan para prajurit istana. Kebetulan ia melihat selebaran itu ketika sedang membeli roti dan pedagang tersebut mengaku melihat Pangeran Evandor


berada di sebuah kereta. Di hari yang sama dengan kepergian Kaisar. Bukankah itu berarti Pangeran Evandor ikut besama Yang Mulia?”


Pangeran Jerome terdiam, dia seperti sedang berpikir. Kemudian dia meletakkan gelas anggur yang belum habis diminumnya.


“Aku akan memeriksanya. Terima kasih untuk informasinya, Helios!”


“Sama-sama. Aku harap Pangeran Evandor tidak menyulitkan Yang Mulia,” Helios berkata bukan tanpa alasan mengingat interaksi pria itu dengan Yang Mulia Kaisar. Terlihat jika Kaisar tidak menyukai keberadaan Pangeran Evandor di dekatnya. Helios pun tidak mengerti, mengapa Kaisar sampai seperti itu. Bukankah sebelumnya mereka berdua baik-baik saja?


Pangeran Jerome tercenung sesaat, dia sedikit terkejut dengan kepekaan Helios. Pria itu tersenyum dan mengangguk mengerti. “Aku akan segera mengabarimu.”


Ucapan Pangeran Evandor membuat Helios senang dan lega. Entah mengapa dia merasa Pangeran Jerome bisa diandalkan. Di bandingkan menjadi rival, bukankah lebih baik menjadi rekan seperjuangan? Karena kenyataannya, mereka akan menghabiskan waktu bersama. Bersama-sama menjaga dan mendampingin Yang Mulia Kaisar hingga akhir hayat mereka.


Tbc.