
Pria bersurai merah itu berjalan tergesa menuju arah yang di tunjuk Pangeran Evandor, tempat seseorang yang ingin menemui Kaisar berada. Darius sangat kesal karena harus mengikuti perkataan calon selir itu, di dalam hati dia merencanakan sebuah pembalasan jika ternyata orang yang dimaksud bukanlah siapa-siapa.
“Aku akan menggantung kakinya di atas tiang gantungan agar otaknya membeku oleh darahnya yang turun ke kepala,” gumamnya berapi-api.
Pangeran Evandor yang melihat Darius dari kejauhan hanya tersenyum penuh arti. Pria itu menantikan reaksi Darius saat bertemu dengan orang yang menurutnya sangat penting bagi Kaisar.
Langkah Darius pun semakin lebar ketika netranya menangkap sosok yang dimaksud oleh Pangeran Evandor. “Apakah Anda yang Ingin menemui Ka-“
Ucapannya terputus saat orang itu memperlihatkan wajahnya yang barusan menunduk menatap tanah. Sosok yang jelas sangat Darius kenal. Siapa lagi kalau bukan Permaisuri Rhea? Wanita itu tengah terduduk di bawah pohon rindang.
Dia beristirahat karena kelelahan. Usianya yang sudah tidak muda lagi membuat energinya lebih cepat habis. Meski begitu, kerutan belum begitu kentara di wajahnya yang cantik jelita.
Tentu saja pria itu terkesima, tidak berkutik. Seperti sedang bermimpi di siang bolong. Orang yang sangat berarti bagi Kaisar ada di hadapannya. Padahal sebelumnya ia dan Kaisar telah mencari Permaisuri Rhea begitu lama hingga hampir putus asa. Tapi, kini … orang itu hadir di waktu yang tidak disangka-sangka. Di saat Kaisar pun sedang dalam bahaya.
“Darius?” Panggil permaisuri Rhea membuat Darius tersadar dari keterkejutannya.
“Ya-yang Mulia Permaisuri!” Darius pun bersujud di hadapan wanita paruh baya itu. “Maafkan hamba sempat meragukan Anda, tolong hukum hamba!” dia teringat akan sikapnya barusan yang tidak percaya dengan perkataan Pangeran Evandor. Dia benar-benar merasa bersalah. Kenapa juga Pangeran Evandor tidak memberitahukan yang sebenarnya? Darius mengepalkan tangan dengan perasaan dongkol dan malu.
“Bangunlah, anakku! Kau sama sekali tidak bersalah,” Permaisuri Rhea mengajak Darius untuk bangkit dari sujudnya. Pria itu menurut dan membungkuk hormat.
“Terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia,” Darius rasanya ingin menangis, andai Kaisar ada di sini. Wanita itu pasti akan sangat bahagia mengetahui orangtuanya yang masih hidup.
Permaisuri Rhea tersenyum. Darius langsung mengecup punggung tangan Ibu dari Kaisar tersebut. “Semoga Dewa selalu memberkatimu, anakku Darius. Sampai saat ini kau terus menjaga putriku. Di mana Kaisar? Aku sangat merindukannya, dia baik-baik saja ‘kan? Pangeran Evandor sempat menceritakan penyerangan yang terjadi pada dia dan puteriku. Tapi, kamu sudah menyelamatkannya ‘kan?”
Darius membeku, haruskah dia menceritakan yang sebenarnya? Pria itu pun akhirnya memberanikan diri untuk berterus terang. Namun, sebelum itu sebaiknya Permaisuri mempersiapkan diri terlebih dahulu.
“Sebaiknya kita kembali dulu ke rombongan. Anda butuh istirahat, Yang Mulia. Wajah Anda pucat,” ucap Darius mengalihkan pembicaraan.
Permaisuri Rhea meraba wajahnya. “Benarkah? Oh, tidak! Kaisar pasti akan khawatir jika melihatku seperti orang sakit. Baiklah, aku akan mengikuti saranmu, Darius.” Permaisuri Rhea menyetujui usul Darius untuk beristirahat dulu.
Pria itu dapat bernapas lega sesaat sebelum akhirnya dia harus mengungkapkan yang sebenarnya. “Maafkan hamba Yang Mulia,” gumamnya dalam hati.
***
Sementara itu, Pangeran Evandor yang telah mendengar dan membaca surat yang di bawa oleh Knight Albert hanya terdiam sambil menundukkan kepala. Ketika melihat rombongan hatinya sempat membuncah senang. Akhirnya dia bisa bertemu dan berkumpul lagi dengan Yang Mulia Kaisar.
Dia pikir rombongan Darius datang untuk mencari dirinya, dia pun berpikir jika Kaisar telah berhasil kembali ke Aegis. Namun, kini ekspektasi itu hancur hingga berkeping-keping. Semua pemikirannya salah besar. Yang ada, Kaisar telah ditawan oleh Kaisar Louis dan dieksekusi mati. Ini sama sekali tidak bisa di terima oleh akalnya. Dunianya serasa runtuh.
“Ini tidak mungkin … Yang Mulia ….” Tanpa terasa Pangeran Evandor menitikkan air mata. Di saat bersamaan Darius masuk ke dalam keretanya.
“Maksudnya?”
“Kau dan Permaisuri pulang ke Aegis hari ini juga. Tunggu kabar dariku mengenai Kaisar,” tegas Darius dan pria itu pun berbalik untuk keluar dari kereta. Pangeran Evandor yang masih belum mencerna maksud Darius segera mencekal tangannya. Menahan pria itu keluar dari kereta.
“Aku tidak mengerti, bukankah Kaisar sudah dieksekusi?”
“Apa kau percaya Kaisar sudah tiada?”
Pangeran Evandor tersentak, dia melepaskan cekalan. Mengapa juga dia begitu saja percaya. Kaisar bukanlah wanita lemah. Harusnya itu yang dia pikirkan.
“Kaisar masih hidup, aku yakin itu. Hidup atau mati, aku akan membawanya pulang ke Aegis!”
“Tunggu Tuan Darius! Ijinkan aku ikut bersamamu!”
“Untuk apa? Bukankah kau telah berpikir Kaisar telah mati? Dengan begini kau bisa menikahi wanita lain. Kau sudah menjadi pria bebas sekarang,” sarkas Darius.
Pria itu meluapkan kekesalannya akibat Pangeran Evandor tidak memberitahukannya akan identitas orang yang sempat diabaikannya. Karenanya, Darius hampir mengacuhkan Permaisuri Rhea. Sungguh perbuatan yang sangat disesalkan.
“Tuan! Kalaupun memang Kaisar telah tiada, aku tidak akan pernah menikah dengan wanita manapun! Aku akan sendirian sampai mati. Apa Anda puas?!” Pangeran Evandor sangat tersinggung dengan perkataan Darius. Sampai saat ini pria itu masih belum rela Kaisar mendapatkan seorang calon selir seperti Pangeran Evandor. Kebencian itu masih tepancar di matanya.
Darius masih diam tidak merespon. Pangeran Evandor pun kembali bersuara. “Aku akui jika aku pria brengsek! Aku bukan pria yang pantas untuk Yang Mulia. Tapi, aku telah berhutang banyak padanya. Yang Mulia telah berkali-kali menyelamatkan nyawaku. Bahkan harga diriku sebagai calon selir. Aku … merasa kematianku pun tidak cukup untuk menebusnya. Jadi, apa pengabdianku ini terlihat meragukanmu, Tuan? Kaisar tidak akan rugi kehilanganku, Kaisar tidak akan sengsara tanpa diriku. Namun, sebaliknya. Aku tanpa Yang Mulia hanya seonggok daging tanpa ruh. Aku bukan apa-apa tanpanya,” ungkapan hati Pangeran Evandor berhasil membuat Darius menoleh. Dilihatnya wajah putus asa Pangeran Evandor, tidak ada kebohongan di manik emas miliknya.
Darius membuang muka. Dia Kembali membelakangi Pangeran Evandor.
“Persiapkan dirimu. Antarkan Permaisuri hingga Aegis lalu kembali menyusulku bersama Pangeran Jerome. Pimpin pasukan Aegis, aku menunggumu di gerbang Diocletianus.” Setelah mengatakan itu Darius benar-benar keluar dari kereta kuda. Pangeran Evandor sedikit terkejut dengan tugas yang diberikan padanya. Tapi, kemudian dia menepuk dadanya dengan semangat membara. Dia akan menyelamatkan Yang Mulia seperti apa yang dilakukan wanita itu padanya.
“Tunggu aku Yang Mulia, aku akan menyelamatkanmu. Aku akan membalas segala kebaikanmu padaku!”
***
“Apa keadaannya sangat genting? Mengapa puteriku pergi lebih dulu?” Permaisuri Rhea enggan untuk pergi sendirian ke Aegis.
Darius bercerita jika mereka sedang berperang dengan Diocletianus dan Kaisar sudah di sana lebih dulu. Perihal penangkapan dan eksekusi sama sekali tidak Darius bahas. Dia tidak ingin Permaisuri Rhea menjadi kahwatir, karena sejatinya ia yakin Kaisar masih hidup.
“Yang Mulia Permaisuri tidak perlu khawatir. Bala bantuan akan segera datang. Aegis membutuhkan Anda sebagai pemegang kekuasaan sementara Kaisar tidak ada. Hamba serahkan Aegis pada Anda, Yang Mulia,” Darius memberikan beban pada Permisuri Rhea untuk mengalihkan perhatiannya pada Kaisar.
Tbc.