Hareem of Queen Alessa

Hareem of Queen Alessa
Darius Vs Raja Fabian



Pagi itu Istana Prussia berakhir ricuh dengan seorang prajurit yang mati di depan gerbang istana. Raja Fabian pun geram dengan berita yang di bawa prajurit itu sebelum mati. Katanya, benteng sebelah barat telah runtuh. Namun, dia sama sekali tidak memberi tahu siapa yang telah melakukan hal tersebut.


Raja Fabian mengepalkan tangan lalu memukul pegangan singasananya.


“Bagaimana bisa itu terjadi? Bukankah prajurit yang bertugas di sana adalah yang terbaik?” teriaknya pada Knight Albert.


“Be-benar sekali Baginda Raja,” pria itu menjawab dengan terbata.


Salah satu tugas seorang knight adalah memilih para prajurit terampil dan unggul dalam ilmu pedang sebagai prajurit penjaga setiap benteng perbatasan. Sebenarnya, prajurit mereka bukannya tidak hebat. Hanya saja, lawan mereka yang tidak seimbang.


Meski hanya sedikit, prajurit Aegis memang terkenal sulit untuk dikalahkan karena mereka dipercaya merupakan keturunan dari para dewa. Dan, kejadian yang terjadi pada Kaisar Alessa bukan tanpa alasan. Prajurit Kekaisaran Diocletianus menyerang saat rombongan Kaisar Alessa beristirahat hingga mereka lengah. Kaisar sendiri hanya membawa 10 prajurit sebagai penjaganya.


“Lalu, mengapa bisa kalah?” Raja Fabian masih belum mendapatkan jawaban.


“Masalah itu ….” Raja Fabian bangkit dari duduknya. Dia beranjak dari sana dan menelisik Knight Albert. “Apa aku salah telah membiarkanmu yang mengambil alih pertahanan?”


Knight Albert menunduk dalam. Ia pun tidak menyangka akan diserang dan mendapatkan kekalahan telak.


Raja Fabian menggeram lalu meninggalkan ruangan pertemuan. Terlalu lama menunggu Knightnya mengambil inisiatif. Dia akan turun tangan sendiri.


“Baginda … Anda mau kemana?” Knight Albert berusaha mengejar sang Raja.


“Kau pikir aku akan menunggu benteng berikutnya di hancurkan?” sarkas Raja Fabian.


“Maafkan hamba, Baginda Raja!”


Raja Fabian menoleh dengan wajah masam. Dia sedang tidak ingin mendengar hal semacam itu. “Simpan permintaan maafmu. Sebaiknya kau menebus kesalahanmu sekarang juga. Balas mereka bersamaku!”


Knight menyadari maksud sang Raja. Dia akan membuktikan penyesalannya dengan memberikan kemenangan dan memperkokoh benteng barat. “Siap laksanakan, Baginda!”


***


Sementara itu di Mansion Duke Tristan, Kaisar Alessa terus mencari cara agar bisa keluar dari sana. Wanita itu menghentak pergelangan tangannya yang terbelenggu oleh rantai emas. Tidak lama pintu kamarnya terbuka. Kaisar Alessa segera bangkit dari duduknya.


Beberapa pelayan dan tabib datang untuk mengobati luka di lidah sang Kaisar.


“Selamat pagi, Duchess Elena,” sapa sang Tabib.


Kaisar Alessa memutar bola matanya malas. Mengapa semua orang di mansion ini memanggilnya begitu? Bukankah panggilan seperti itu diperlukan sebuah penobatan terlebih dahulu. Mereka semua gila. Baginya penghuni mansion tersebut tidak ada yang waras.


Kaisar Alessa belum bisa berbicara. Dia menggerakkan jarinya menunjuk pada sebuah kertas dan pena yang berada di sisi Tabib. Pria itu pun segera memberikannya.


Kaisar Alessa tampak menuliskan sesuatu di sana, kemudian memberikannya kembali pada sang Tabib. Tabib itu membacanya dengan tangan gemetar. Sebuah perkataan mengancam yang berbunyi.


“Bisakah kau berhenti memanggilku begitu? Kau tahu siapa aku? Aku Kaisar Aegis! Pemimpin Kekaisaran dari negeri para dewa. Kalian tidak takut mendapatkan malapetaka dengan melakukan hal yang tidak seharusnya?”


Gertakan Kaisar Alessa ternyata mampu membuat tabib tersebut berkeringat dingin. Dengan berat dia mengumpulkan nyali.


“Ampuni hamba Yang Mulia. Hamba hanya menjalankan tugas.”


Kaisar Alessa menyeringai, dia kembali menuliskan sesuatu di balik kertas yang sudah di pakai.


Tabib itu meremas kertas tersebut, ia menoleh pada para pelayan yang bingung. Masalahnya mereka tidak tahu apa yang telah di baca sang Tabib.


“Ka-kalian berikan obat itu pada Duchess, aku … aku sedang ada urusan!” ucap tabib itu sebelum meninggalkan kamar Kaisar dengan langkah lebar.


Sang Kaisar tersenyum senang melihat keputusasaan di mata sang tabib. Wanita itu yakin sang tabib akan mengundurkan diri dari tugasnya. Daratan Yunani terkenal sebagai negeri para dewa. Tuhan para manusia pada saat itu. Meski Diocletianus bukan termasuk dari Yunani. Namun, banyak dari rakyatnya yang memuja dewa negeri tersebut. Hanya penggilannya saja yang berbeda.


***


Kembali pada Raja Fabian yang akhirnya mendatangi bentengnya yang telah diluluh lantakkan oleh Darius. Saat sampai di sana pria itu dikejutkan dengan sebuah bendera yang dia kenal. Bendera Kekaisaran Aegis yang berkibar di bentengnya. Sontak pria itu mengeryit bingung.


Tidak hanya itu, saat kakinya tiba di dekat gerbang benteng. Tepat di depannya berdiri empat orang pria yang salah satunya tidak asing menurutnya.


“Pangeran Lucas?” gumam Raja Fabian menerka.


Sedangkan pria lain bersurai merah dengan manik berwarna senada menghunuskan pedang pada sang Raja seraya berteriak. “KEMBALIKAN KAISAR AEGIS!”


Keheningan terjadi, knight Albert pun tidak kalah bingung. Apa maksud dari pria itu? ada apa dengan Kaisar Aegis? Seingatnya rombongan kekaisaran itu telah pergi dari istana beberapa hari yang lalu.


“JIKA KAU TIDAK MENYERAHKAN KAISAR, SAAT INI JUGA AEGIS AKAN MENGIBARKAN BENDERA PERANG DENGAN PRUSSIA!” Kembali Darius berteriak karena tidak kunjung mendapatkan respon dari Raja Fabian.


Raja yang tampak berusaha mencerna maksud Darius. Raja Fabian mengangkat tangannya berusaha menahan amarah Darius yang siap menyerang.


“Tolong tahan sebentar, sepertinya ada sesuatu yang salah.” Raja Fabian bersama Knight Albert turun dari kudanya.


Sang knight dan para prajurit tetap waspada dengan postur siaga. Raja Fabian menggeleng pada Knight Albert, memberikan isyarat agar tidak terlihat memprovokasi.


Melihat sikap kooperatif yang dilakukan sang Raja membuat Darius menurunkan pedangnya.


“Apa maksud Anda dengan sesuatu yang salah?” tanya Darius penasaran.


“Karena Kaisar Aegis sudah pergi meninggalkan istanaku sejak beberapa hari yang lalu,” jelas Raja Fabian berhasil membuat Darius dan para calon selir tersentak.


Pangeran Lucas menggeleng. “Tidak mungkin! Sampai saat ini Yang Mulia belum kembali ke Aegis dan salah satu orang kami menemukan mayat-mayat rombongan Aegis di dekat Pelabuhan Prussia.”


Raja Fabian terdiam seketika dengan air muka pucat pasi. Darius maju dan berniat mencegkeram kerah Raja. Namun, tertahan oleh Knight Albert. “Jangan mempermainkanku! Katakan, di mana Kaisar!”


“Jaga sikapmu. Tuan!” hardik Knight Albert.


“Tuan Darius, jangan gegabah!” peringat Helios.


Bukan saat yang tepat untuk saling bersiteru. Yang terpentuing saat ini adalah keberadaan sang Kaisar. Jika memang Kaisar Alessa telah pergi dari istana Prussia. Lalu, siapa yang telah menyerang mereka? Helios beranggapan sang Raja tidak mungkin berbohong dengan reaksinya yang tampak terpukul.


Raja Fabian terlalu syok dengan berita yang diterimanya hingga tidak mampu berkata-kata. Dia pikir saat ini sang mantan tengah bersuka cita dengan pernikahan yang akan dilangsungkan. Tapi, kenyataannya malah terjadi sebuah tragedy menimpa wanita itu.


Wanita itu menghilang. Entah hidup atau mati. Kalaupun mati namun, tidak ditemukan mayatnya. Raja Fabian berharap Kaisar Alessa baik-baik saja.


Tbc.