Hareem of Queen Alessa

Hareem of Queen Alessa
Langkah Raja Fabian



Sebuah pertanyaan yang dapat membuatnya mati di tiang gantungan. Jika tidak menjawab, dia akan berakhir di tangan sang Raja. Jika dia berkata jujur dia pun tidak luput dari genggaman sang Ratu. Bagai memakan buah simalakama, tidak ada pilihan yang dapat Tina pilih sama sekali. Wanita itu hanya bisa menggenggam erat surat tersebut hingga kusut tidak berbentuk. Matanya liar ke sana kemari berusaha mencari jawaban yang tepat. Dia menggeleng kaku untuk terakhir kali sebelum akhirnya Raja Fabian merampas surat tersebut.


SREK!!!


“Yang Mulia!” Tina tersentak ketika tersadar suratnya sudah berada di tangan sang Raja.


“DIAM!” bentak pengawal pada wanita itu, tangannya di tekuk hingga bersujud di hadapan Raja Fabian.


“Yang Mulia … ampuni hamba! Itu hanya sebuah surat kaleng-“ ucapnya terpotong oleh ancaman hunusan pedang pengawal padanya. Tina masih berusaha membela diri.


Raja Fabian masih melirik Tina dengan geram sambil membuka surat tersebut. Di bacanya surat itu dengan seksama sebelum meremasnya hingga hancur.


“SIAPA YANG MEMERINTAHKANMU!” Raja maju dan mencengkeram pipi Tina dengan manik berkilat. Amarah jelas terlihat. Raja Fabian benar-benar murka.


Tubuh Tina bagai tidak bertulang mendapatkan perlakuan serta gertakan keras dari sang Raja. Nyawanya sudah di ujung tanduk. Dia sudah dipastikan tidak akan selamat. Merasa tidak ada jalan keluar, dengan berani Tina menepis tangan sang Raja dan mendorong tubuhnya. Detik kemudian ia menerjang pedang sang pengawal. Tina menusukkan perutnya sendiri ke pedang pengawal tersebut.


JLEB!!!


Raja dan pengawal terhenyak. Mereka semua dibuat terkejut dengan apa yang dilakukan Tina. Wanita itu memilih mati sebagai kesetiaannya pada sang Ratu. Tina pun tewas saat itu juga.


***


Langkah lebar penguasa Prussia menggema di Lorong istana menuju kamar pribadinya. Dia membuka pintu dengan sangat keras.


BRAK!!!


Suara pintu tersebut jelas membuat orang yang di dalam kamar terhenyak kaget. Ratu Anna yang sedang berganti pakaian sampai memekik karena hal itu.


“Rajaku, ada apa? Kenapa kamu sampai sekasar itu?”


Raja Fabian tidak menjawab pertanyaan istrinya. Pria itu malah menarik napas dan berteriak mengusir semua orang selain Ratu Anna. “Yang Lain, KELUAR SEKARANG!”


Tidak perlu menunggu lama, semua pelayan pergi dengan terbirit-birit. Sang Raja sedang marah. Mereka semua bukanlah kucing yang memiliki 9 nyawa hingga berani membantah perintah Raja. Tinggallah Ratu Anna yang hanya


mengenakan pakaian dalam berwarna putih. Wajahnya memerah karena malu dan kesal.


“Rajaku-“


Raja Fabian menyela ucapan sang Ratu dengan sebuah lemparan kertas kusut ke hadapan wanita itu, tepat di depan kakinya.


Ratu Anna masih tidak mengerti mengapa suaminya terlihat begitu marah. “Apa maksud semua ini, Fabian?” wanita itu pun tersulut emosi dengan memanggil nama sang Raja tanpa panggilan kehormatan. Untuk pertama kalinya dia  diperlakukan tidak sopan oleh suaminya sendiri. Melemparnya dengan sesuatu.


“Kau mau jawaban, bacalah!” perintah Raja Fabian dengan wajah datar.


Mendengar hal itu sedikit membuat Ratu resah. Membaca? Apakah kertas itu tertuliskan sesuatu? Atau jangan-jangan ….


“Di mana Tina?” tanya sang Ratu. Wanita itu menunduk dengan tangan mengepal. Sepertinya rencananya sudah ketahuan.


Ratu Anna segera mengangkat wajahnya dan melihat Raja Fabian yang tertawa mengejek. “Padahal Tina tidak menyebutkan siapa yang memerintahkannya. Tapi, jelas … karena dia pelayanmu. Pasti dia melakukan hal itu atas perintahmu. Dan siapa lagi kalau bukan kau yang merupakan keponakan Kaisar Louis?”


“Rajaku-“


“Kau … sudah di luar batas Anna. Apa yang membuatmu berani melakukan hal itu? Apa alasanmu untuk melenyapkan Kaisar Alessa? Bahkan, kau bersekutu dengan pamanmu!” geram Raja Fabian.


“Kau pikir aku melakukan ini karena siapa? SEMUA AKU LAKUKAN KARENAMU! KAMU MASIH MENCINTAINYA, JAWAB AKU FABIAN!” Ratu Anna balik berteriak, wanita itu meluapkan seluruh isi hatinya yang sudah lama tertahan.


Raja Fabian mendesah lelah, dia berusaha untuk menekan amarahnya yang masih berkumpul di dada. Semua terjadi karena kecemburuan sang Istri. “Sudah kubilang-“


“Aku mendengar percakapan kalian, dia memintamu menyingkirkan aku. Tidak akan pernah aku biarkan, karena itu aku yang akan lebih dulu melenyapkannya!”


“HENTIKAN ANNA! Hentikan ….”


Raja Fabian cukup terkejut dengan kenyataan bahwa istrinya mengetahui semua percakapannya dengan sang Kaisar. Ternyata itu yang menjadi alasan mendasar Ratu Anna bertindak sejauh ini.


“Kau membentakku karena dia,” Ratu Anna benar-benar merasa suaminya seperti orang lain. Orang yang berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi kehangata dan kelembutan, hanya ada tatapan dingin dari pria itu.


“Semua salah paham. Dia hanya menawarkannya karena aku terus mendesaknya. Dia tidak pernah memintaku untuk menyingkirkanmu. Dia tidak bersalah, Anna ….” Raja Fabian menyesal, lebih dari sebelumnya saat dia membatalkan pertunangan dan mengetahui mantan kekasih akan menikah dengan orang lain. Mendengar wanita itu ternyata masih hidup saja sudah membuatnya bahagia. Tapi, ternyata ia sendiri yang membuat kekasih hati meregang nyawa. Bahkan belum diketahui nasib jasadnya sampai sekarang.


“Sampai akhir kau tetap membelanya!” mata wanita itu mulai berembun meski raut mukanya masih tidak bersahabat.


“Maafkan aku … ini semua salahku. Anna … kau benar. Aku masih mencintainya. Karena itu, lebih baik kita akhiri semua,” ucap sang Raja dengan nada yang merendah. Amarahnya yang sebelumnya menggunung berubah menjadi rasa bersalah amat sangat.


Perkataan Raja Fabian membuat Ratu Anna mengerjap. Air matanya pun menetes tanpa disadarinya. “Ap-apa maksudmu?”


“Aku akan mengajukan perceraian kita.”


“Cerai? Kau bilang Cerai? Jadi, selama ini kau berbohong! Dasar brengsek! Sialan kamu Fabian!”


“Makilah aku, memang itu yang sebenarnya.” Raja Fabian berjalan menjauh dan berniat untuk pergi meninggalkan istrinya yang menangis. Ratu Anna berusaha menahan pria itu.


“Kau tidak bisa memutuskannya secara sepihak! Aku tidak mau! Aku tidak mau … Rajaku, jangan ceraikan aku … ” ratap Ratu Anna.


“Maafkan aku Anna. Aku pastikan, kau tidak akan mengalami kerugian. Aku akan mengembalikan semua dengan apa yang telah kau berikan pada Prussia.” Raja Fabian pun melepaskan tangan Ratu kemudian kembali melangkahkan kaki.


“Tidak… Fabian! FABIAN!”


***


Raja Fabian berjalan tanpa arah mengikuti kemana kakinya melangkah. Dia pun terhenti di sebuah kamar tamu yang sebelumnya sempat di huni oleh Kaisar Alessa. Menyentuh pintu dingin itu dengan perasaan sesak. Andai dia tahu akan berakhir seperti ini. Ia tidak akan menahan Kaisar Alessa dengan keegoisannya. Menuruti nafsunya yang berujung tragedy. Harga dirinya yang terasa diinjak-injak dengan kenyataan jika wanita yang dicintainya sudah memiliki orang lain tidaklah seberapa di bandingkan kehilangan wanita itu dari muka bumi ini. Kini, Raja Fabian hanya bisa meratapi penyesalan yang menggerogoti hingga ke sumsum tulang.


"Maafkan aku, Alessa...."


Tbc.