Hareem of Queen Alessa

Hareem of Queen Alessa
Aliansi



Kaisar memandang datar Pangeran Evandor dengan pengakuannya. Sangat disayangkan, di malam dia memperingatkan hal yang dilarang. Malam itu juga Pangeran Evandor mengingkarinya. Dengan penuh rasa was-was Pangeran Evandor menunggu respon dari


Kaisar yang sejak tadi tidak memberikan suara. Pangeran Evandor yang sudah terlanjur bersujud pun tidak berani mengangkat kepalanya.


“Hukuman apa yang ingin kau jalani?”


Pangeran Evandor tersentak, dia langsung mendongak dan melihat manik tanpa ekspresi sang Kaisar. Kini dia tahu seberapa fatal yang sudah dilakukannya.


“Hamba… hamba….” Pangeran Evandor terbata. Hatinya tertusuk oleh tatapan dingin sang Kaisar yang sempat memberikan senyum padanya belum lama ini. Saat Kaisar dan dirinya berjalan menuju balkon istana. “Maaf… ampuni hamba, Yang Mulia...."


“Aku sudah memperkenalkanmu pada rakyatku Pangeran, apa kebaikanku selama ini tidak berarti untukmu?”


Pangeran Evandor menggeleng dengan wajah memutih bagai mayat. “Tidak Yang Mulia… hamba yang salah… hamba mohon ampuni hamba.”


“Kau sungguh mengecewakan aku, Pangeran. Setelah ini, aku harus bagaimana? Aku tidak mungkin menggantung calon selirku. Aku tidak mau merusak citra yang telah kau dapatkan di depan para rakyat. Karena itu… aku akan memberikan keringanan untukmu. Kau masihlah selirku, tidak akan ada yang berubah. Tapi, pastikan kau menjaga jarak dariku. Aku tidak ingin melihat wajahmu. Menghindarlah saat berada di dalam satu ruangan denganku. Bahkan, jangan sampai kita menghirup udara yang sama,” ucap Kaisar dengan dingin.


Hati Pangeran Evandor mencelos. Dia menatap kosong pada Kaisar yang berbalik badan dan pergi meninggalkannya.


“Yang Mulia… Kaisar….” Kini Pangeran Evandor telah kehilangan Kaisar karena keteledoranya. Pria itu masih setia bersimpuh di atas lantai nan dingin. Kenapa hatinya sakit? Bukankah memang dia tidak ingin dikekang? Bahkan dia selamat dari hukuman gantung. Tapi, kenapa dia merasakan sebuah lubang besar di dadanya?


Para selir lain yang melihat kebersamaan Kaisar dengan Pangeran Evandor dari kejauhan merasa aneh dan bingung. Mengapa Pangeran Evandor sampai bersimpuh seperti itu? Ada apa gerangan? Pangeran Lucas lah yang merasa penasaran. Ketika Kaisar sudah tidak ada, Pangeran Lucas dan Steve menghampiri pria yang masih bersimpuh tersebut.


“Pangeran, ada apa dengan Anda?” Steve menghampiri dengan ikut bersimpuh di sampingnya.


Pangeran Evandor bergeming. Dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya. Steve yang melihat gelagat aneh sang Pangeran memilih menarik tubuh majikannya. Pangeran Evandor benar-benar terlihat seperti mayat hidup yang tidak merespon apa pun. Pangeran Lucas yang ingin bertanyapun menjadi urung.


“Apa tuanmu sakit?” tanyanya pada Steve.


“Entahlah Pangeran Lucas. Sebaiknya saya bawa Pangeran Evandor untuk beristirahat.”


Steve terus berjalan sambil memapah sang majikan tanpa menunggu persetujuan Pangeran Lucas. Pelayan itu membawa Pangeran Evandor ke kamarnya.


Helios dan Pangeran Jerome mendekati Pangeran Lucas. Pangeran Lucas memandang Pangeran Evandor yang semakin menjauh.


“Kira-kira, apa yang dia bicarakan dengan Yang Mulia sampai seperti itu?” tanya Pangeran Lucas ingin tahu. Meski sejak tadi tidak ada yang bisa menjawab pertanyaannya.


Helios tidak kalah kuriositas. Tapi, pria itu hanya diam tanpa mengungkapkan isi hatinya. Sebenarnya Pangeran Jerome yang mengetahui semua. Ini pasti berhubungan dengan kejadian kemarin malam. Di mana Pangeran Evandor menggoda pelayan istana. Pria itu tersenyum tipis sebelum pergi untuk menikmati pesta yang masih berlangsung.


“Karma itu ada, dan kau mendapatkannya sekarang,” gumam Pangeran Jerome.


***


Steve merebahkan Pangeran Evandor di atas ranjang. Pria itu tidak menampakkan ekspresi apa-apa sejak tadi. Padahal Steve terus mengajaknya berbicara.


“Pangeran, ada apa dengan Anda? Apa Anda sakit?”


“Kaisar membenciku,” ucap Pangeran Evandor lirih.


Steve membeku, dia mencoba mengulang yang barusan dia dengar.


“Apa pangeran?”


Pelayan itu membeo. “Kaisar membenci Pangeran?”


“Aku… aku mengutarakan permohonan maafku akan kejadian semalam karena rasa bersalah yang membuatku tidak tenang.”


Steve membelalakkan mata. “Apa? Untuk apa Pangeran? Kenapa Anda begitu gegabah? Padahal cukup diam saja selama Kaisar tidak mengetahuinya.” habis sudah nasib majikannya.


“Kau pikir aku bisa tenang, sedangkan pengawal bengis itu terus memperingatkanku?”


“Sudah hamba bilang sejak awal jangan buat masalah, apa kita diusir? Apa Pangeran dihukum gantung?” Steve bergidik ngeri sambil memegang lehernya.


“Yang Mulia mengampuni aku. Beliau tidak mengusirku… dan juga tidak menggantungku. Tapi, dia… memintaku agar menjauh darinya. Agar jangan pernah menampakkan diriku di hadapannya,” suara pria itu terdengar sumbang.


Steve yang mengetahui hal itu pun bingung untuk merespon bagaimana? Lega karena majikannya


lolos dari maut dan pengusiran. Tapi, Pangeran telah kehilangan kepercayaan Kaisar. Entah, apakah ini lebih buruk dari yang dibayangkan?


Steve pun berusaha menghibur sang majikan. “Pangeran, jangan bersedih. Hamba rasa saat ini Kaisar hanya sedang emosi sesaat. Terbukti dengan kemurahan hatinya yang tidak memberikan hukuman gantung dan mengusir kita. Bila amarahnya telah mereda. Saya pastikan semua akan kembali normal. Kita ikuti keinginan Kaisar… sebaiknya, Pangeran menjaga jarak dan mengamati dari jauh saja.”


Pangeran Evandor diam. Apa yang dikatakan pelayannya benar. Kaisar begitu pemurah dengan


membiarkannya tetap hidup. Namun, Pangeran Evandor merasa tidak dibutuhkan lagi seperti kata Darius. Dia layaknya sebuah pajangan yang mendapat gelar. Itulah penyesalan, yang selalu datang terlambat. Pangeran Evandor hanya bisa terus menyesali diri.


***


Keesokan harinya para pria diminta untuk berkumpul di sebuah lapangan luas yang berada di belakang istana. Tempat di mana para prajurit berlatih ilmu pedang. Kaisar ingin menguji kemampuan para selirnya dalam menggunakan senjata tajam tersebut.


“Hei, Persian. Aku tidak melihat Pangeran Evandor. Ke mana dia?” tanya Pangeran Lucas yang sejak sarapan pagi merasa aneh. Pria yang selalu tebar pesona itu tidak menampakkan batang hidungnya.


Pangeran Jerome yang dipanggil seperti itu jelas hanya menoleh tanpa ingin menyahut. Cara bicara Pangeran Lucas terkesan merendahkannya. Kini pria bertubuh besar itu memalingkan muka setelah melemparkan tatapan malas.


“Hei! Aku bertanya padamu!” Pangeran Lucas merasa diabaikan.


Helios yang merasa risih dengan perkataan Pangeran Lucas pun akhirnya pasang badan. Dia berdiri di antara dua pria tersebut. “Bisakah Anda tenang Pangeran Lucas? Tolong tunjukkan sikap seorang Pangeran. Apa aku perlu membawakan buku tata krama?”


Seperti biasa, Pangeran Lucas selalu tidak berkutik jika berhadapan dengan Helios. Karena baginya, rival terberatnya adalah pria itu. Pria bersurai hitam dengan manik senada yang menurutnya lebih tampan dari dirinya sendiri.


“Aku tidak berbicara denganmu!” ketus Pangeran Lucas dengan wajah merah padam.


Helios menggeleng sambil menghela napas. Percuma jika lawan bicaranya tidak mau mendengarkannya. Hingga akhirnya, Helios memilih menjauhi Pangeran Lucas. Bersamaan dengan itu Pangeran Jerome mengikuti Helios.


“Aku menyukaimu, ku pikir kita bisa berteman,” Pangeran Jerome tersenyum ramah pada Helios.


Pemuda itu mengangguk pelan. “Mungkin lebih tepatnya saling menghargai.”


Pangeran Lucas yang ditinggalkan begitu saja merasa kesal. “Mereka membuat aliansi, mereka pikir aku tidak bisa? Aku akan menjadikan Pangeran Evandor sekutuku. Kita lihat saja nanti,” gerutunya sambil menendang kerikil.


Tbc.