
Perpustakaan Istana
Helios bergeming saat pipinya merasakan usapan nan lembut dari bibir sang Kaisar. Wajah itu sangat dekat, pahatan sempurna jelmaan Dewi dapat ia pandang dengan jarak se-dekat ini. Bahkan Helios sampai bisa menghirup hembusan napas Kaisar yang begitu wangi dan manis bagai buah persik. Mata mereka beradu, senyuman terulas di bibir yang lagi-lagi mengambil perhatian Helios.
“Kenapa kau begitu kaku? Apa kau tidak pernah menyentuh wanita?”
“Hamba… tidak pernah.” Menjawab dengan terbata dan pandangan lurus ke arah bibir Kaisar yang bergerak.
Kaisar merasa tertarik dengan jawaban Helios. Dia pun mencoba menggoda pria muda tersebut. “Tidak pernah? Sungguh? Kenapa?”
“Saya hanya tidak ingin,” Helios mengalihkan netranya. Dia tidak berani jika bilang yang sebenarnya, kalau dia hanya akan setia pada dewi Aphrodite.
“Tidak ingin? Lalu, denganku hanya karena sedang ingin?”
Pertanyaan Kaisar sungguh menjebak. Helios langsung kembali menatap Kaisar, dengan bersungguh-sungguh dia mengelak. “Tolong jangan bicara seperti itu, Kaisar… tentu hidup hamba tidak berarti karena, hidup hamba hanya milik Yang Mulia. Bagaimana bisa hamba memikirkan hal seperti itu terhadap Yang Mulia?”
“Aku anggap kau tidak berbohong,” Kaisar menjauh. Helios merasa kehilangan. “Pulanglah dulu, dan besok kembali ke istana.” Pungkasnya memberi perintah.
“Yang Mulia…”
“Ada lagi yang ingin kau sampaikan?” Kaisar membelakangi
Helios. Pria itu menyesal karena telah bersikap pasif. Andai dia tahu akan
begini jadinya. Dia akan memaksakan diri untuk berani menghampiri Kaisar lebih
dulu. Dia pun tidak ingin diragukan.
“Ti-tidak ada Yang Mulia,”
“Baiklah, kalau begitu aku pamit. Pertemuan kita cukup sampai di sini….”
Helios tersentak. Dia tidak mau pertemuan kali ini hanya sampai di sini. Dia ingin terus melihat sang Kaisar. “Apa? Kaisar tidak mau
menemuiku lagi?”
“Maksudku untuk… Hari ini,” jelas Kaisar berhasil membuat Helios menunduk malu.
“Biasakan mendengar perkataan orang sampai selesai… jangan buat pemikiran sendiri, Helios…”
“Baik Yang Mulia…”
***
Sore itu Helios pulang dengan kereta kuda istana bersama penasehat seperti saat dirinya dijemput dari rumah. Kaisar memperlakukannya dengan sangat baik, sebelum pulang Helios ditunjukkan ke kamar khusus untuk dirinya yang kebetulan bersebelahan dengan kamar sang Kaisar.
Helios merasa tersanjung dan merasa diprioritaskan, walau hanya sebuah letak kamar tidur. Helios pun dijamu makan siang bersama dengan Ayahnya. Namun, tanpa Kaisar.
Percakapan mereka saat makan siang.
“Bagaimana Helios?” tanya sang Ayah memancing sang putera yang wajahnya bersemu merah.
“Aku ingin menjadi selir Kaisar,” ungkap Helios tanpa basa-basi.
Tuan Attala menahan tawa. “Sekarang kamu begitu terus terang, padahal kemarin mati-matian menolak.”
“Aku minta maaf, Ayah…” Helios pasrah jika harus disalahkan akan kelakuannya di masa lalu. Ternyata sang Ayah masih memiliki penglihatan yang baik.
“Jadi, kau tidak meragukan buta warnaku ‘kan?”
Helios menggeleng. “Tidak lagi Ayah, kurasa buta warna itu menjadi anugerah. Karena buta warna itulah aku bisa bertemu dengan Kaisar.”
Tuan Attala tergelak. “Ayah senang, kamu sepertinya akan bahagia bersama Kaisar. Setelah menikah, cepatlah punya anak. Buat Kaisar hamil anakmu, jangan sampai kamu keduluan yang lain!”
Uhuk, uhuk, uhuk!
“Helios, kau baik-baik saja?” tanya sang Ayah sambil mengusap punggung Helios.
“Aku baik-baik saja Ayah,” Helios menghindari usapan itu, dia memalingkan muka.
Helios tersedak oleh air yang sedang ia minum akibat ucapan Ayahnya yang membahas masalah kehamilan. Wajah pemuda itu merah padam. Bayangan
akan dirinya yang bersandingan dengan kaisar serta seorang anak di tengah
“Helios!”
“Helios!”
“Eh? Ya Ayah?”
“Apa yang sedang kau lamunkan?”
Helios menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan secara berualng ulang. “ Tidak, aku tidak memikirkan apa-apa,” bohongnya. Helios mengusap bibirnya sebagai tanda jika sudah selesai makan. “Sebaiknya… aku segera pulang. Ibu pasti menungguku,”
Helios bangkit dari duduknya.
“Baiklah, sampaikan salam Ayah pada Ibumu. Ayah belum bisa pulang sampai acara pernikahan kau dan Kaisar selesai dilaksanakan,” jelasnya.
Helios mengerti, dia pun segera pamit pulang kemudian diantarkan dengan kereta kuda.
***
Kediaman Menteri Pertahanan
“Terima kasih untuk tumpangannya,” ucap Helios pada dua orang penasehat.
“Sudah kewajiban kami Tuanku, kalau begitu kami permisi,” sahut kedua penasehat tersebut.
Helios mengangguk, kereta pun mulai berjalan dan menjauhi halaman rumah Helios. Pria itu terus menatap kereta kuda sampai menghilang dari pandangannya.
Saat memasuki rumah Helios disambut oleh Ibunya.
“Kau sudah pulang, Nak,” Ibu Helios menghampiri. Mengambil mantel yang Helios lepaskan kemudian melipatnya.
“Iya Bu, Ayah menitipkan salam pada Ibu karena belum bisa pulang.”
“Memangnya ada acara apa di Istana?” tanya Ibu Helios penasaran. Pasalnya, sang Suami akan jarang pulang jika ada acara besar di Istana.
Helios terdiam sejenak, berpikir berulang-ulang untuk menyampaikan atau tidak hal yang sebenarnya. Tapi, Helios pikir sang Ibu pantas mengetahuinya. “Aku… aku dilamar Kaisar, Bu….”
“Apa? Kamu… kamu dilamar Kaisar?” pekik sang ibu dengan matanya yang membulat.
“Iya, dan Ayah belum bisa pulang sampai acara pernikahanku selesai dilaksanakan.”
Raut wajah sang Ibu begitu berbinar. Dia memegang kedua bahu Helios dengan semangat. “Demi Dewa Zeus… kamu diberkati Nak, kamu terpilih untuk mendampingin Kaisar kita yang sangat Mulia….” Ini sebuah anugerah untuk
keluarganya bisa berbesanan dengan orang yang sangat berpengaruh. Orang nomor satu di Aegis. Dan juga akan menjadikan keturunannya lebih dari bangsawan. Keturunan Helios bisa menjadi puteri ataupun pangeran.
“Iya Bu… beliau memang sangat mulia,” sahut Helios menerawang membayangkan wajah Kaisar yang sempat mengecup pipinya.
“Sepertinya ada yang sedang jatuh cinta…” sang Ibu memperhatikan gerak gerik puteranya.
Helios hanya tersenyum. Senyuman yang jarang dilihat bahkan oleh Ibunya sendiri.
“Entahlah Bu… aku hanya ingin lebih mengenal Kaisar, seperti apakah dia? Apa yang ada dipikirannya?”
“Jika kau begitu ingin tahu, maka dekati dia… jangan biarkan Kaisar yang menghampirimu lebih dahulu. Sudah kodrat pria yang mengejar. Bukankah kumbang pasti mencari bunga?”
Helios mencerna setiap petuah sang Ibu.
“Saat dia menjadi milikmu, maka jagalah. Karena pasangan kita adalah anugerah dewa yang harus selalu disayangi. Setia dan selalu ada untuknya. Berjuanglah Helios. Kamu pasti bisa!”
Helios memeluk Ibunda yang begitu berharga, sama berharganya dengan Kaisar saat ini yang sudah memasuki hatinya. Helios akan terus mengingat pesan dan nasehat sang Ibu.
“Terima kasih, Bu…” bisiknya.
Ibunda menepuk punggung Helios. Wanita itu terbawa suasana. “Kau ini… padahal bukan seorang gadis. Tapi, Ibu seperti melepas anak gadis yang akan menikah,” sudut matanya berair.
“Aku pria tulen, Bu!” elak Helios tidak terima.
“Ya, kau pria. Pria paling tampan dan membanggakan di dataran Aegis. Tidak hanya untuk Ibu dan Ayahmu.” Ibunda tersenyum bahagia dengan suaranya yang bergetar.
Malam itu menjadi malam terakhir antara Ibu dan puteranya sebelum fajar membawa sang anak menempuh hidup barunya. Hidup sebagai pendamping Kaisar.
Tbc.