Hareem of Queen Alessa

Hareem of Queen Alessa
Oase di padang tandus



Kamar Pangeran Lucas


“Pangeran,tolong buka pintunya! Sudah waktunya makan malam,” Cain mengetuk pintu sejak tadi. Pria itu mulai khawatir karena Pangeran tidak kunjung keluar dari kamarnya.


“Aku tidak lapar! Seru Pangeran. Pria itu bergelung di bawah selimut dan meringkuk di atas ranjang.


Pangeran lucas merasa malu dengan apa yang telah menimpanya. ‘Aku ingin menghilang sekarang juga,’ rintihnya.


Cain menggigit jarinya gemas, apa yang harus dia lakukan agar sang Pangeran mau keluar kamar dan makan malam? Pelayan setia itu hampir putus asa sampai sebuah suara mengalihkan perhatiannya.


“Yang Mulia Kaisar telah tiba!” seru seorang pelayan yang berjalan menghampiri Cain.


Cain yang melihat itu langsung kelabakan. Dia terkejut bukan main hingga tergagap. “Ya-Yang Mulia!”


“Yang Mulia Kaisar ingin menemui Pangeran Lucas,” ucap seorang pelayan yang membungkuk hormat. Tepat, di belakang pelayan itu berdiri sang Kaisar.


 “Apa pangeran Lucas ada?” Kaisar Alessa kini yang bertanya.


“A-ada yang Mulia… tapi… sejak tadi siang Pangeran mengurung diri di kamar. Hamba sedang membujuknya untuk keluar dari kamar karena sudah waktunya makan malam,” ungkap Cain terus terang.


“Jadi, sejak tadi Pangeran belum makan?”


Cain menggeleng, mengetahui hal itu membuat Kaisar Alessa tidak enak hati. Dia terdiam sejenak kemudian meminta sesuatu pada sang pelayan.


“Bawakan makan malam ke sini sekarang!”


“Baik Yang Mulia!” pelayan itu segera pergi untuk mengambil makanan. Setelah itu Kaisar memajukan langkah hingga berdiri tepat di depan kamar Pangeran Lucas, Cain pun memundurkan langkah memberikan ruang untuk sang Kaisar.


Kaisar melihat ke arah Cain, pria itu pun mengangguk.


Tok, tok, tok!


“Aku sudah bilang aku tidak lapar!” suara Pangeran Lucas menggelegar berbarengan dengan benturan yang berasal dari pintu. Sepertinya pria itu melemparkan bantal ke sana.


Cain menunduk takut, tidak menyangka majikannya akan berteriak sekencang dan sekeras itu. Andai dia tahu siapa yang mengetuk pintu tersebut.


‘Ya Tuhan Pangeran, kan benar-benar mencari masalah,’ batin Cain menjerit.


Pelayan yang baru saja diminta untuk membawakan makan malam telah sampai. Kaisar memintanya untuk mendekat, kemudian Kaisar mengambil nampan berisi makanan itu.


“Yang Mulia, biar hamba saja,” pelayan itu sungkan dan hendak menahan Kaisar. Tapi, Kaisar tersenyum penuh arti, sebuah isyarat yang diketahuinya agar tidak membantah. Pelayan tersebut pun memilih menurut.


Kaisar kembali mengetuk pintu. Kali ini bukan teriakan lagi yang terdengar. Melainkan caci maki tepat di depan muka Kaisar karena Pangeran Lucas membuka pintu sambil mengumpat. “Apa kau tuli? HAH?”


Wajah pias para pelayan dan Cain terpampang jelas, waktu terasa terhenti. Pangeran Lucas pun baru menyadari jika di hadapannya bukan Cain, melainkan Kaisar yang agung.


“Hm… Aku tidak tahu jika aku tuli,” Kaisar Alessa mengusap telinganya sambil tersenyum tipis.


Pangeran Lucas yang terhenyak hanya bisa memaki diri di dalam hati. ‘Mati kamu Lucas!’


***


“Mari bersulang,” pinta Kaisar Alessa sambil mengangkat gelasnya. Saat ini mereka sedang makan malam bersama di kamar Pangeran Lucas.


Pangeran Lucas menurut dengan patuh. Setelah meminum anggur itu, Pangeran Lucas kembali menunduk. Dia tidak sanggup melihat kearah Kaisar. Bagaimana bisa dia memaki seorang penguasa Aegis? Pangeran Lucas mengusap lehernya, seperti sulit menelan makanan yang masuk kekerongkongannya. Atau lebih tepatnya, dia sedang membayangkan jika nanti lehernya di jerat sebuah tali tambang. Sepertinya dia akan mati muda.


“Apa yang sedang kamu pikirkan Pangeran?”


“Ti-tidak ada,” Pangeran Lucas menggeleng.


“Sungguh?”


“Pangeran, aku ke sini untuk meminta maaf padamu,” Kaisar mengungkapkan tujuan mendatangi Pangeran Lucas.


“ Meminta maaf?”


“Ya, atas kejadian tadi siang.”


Pangeran Lucas yang ingin menyuap makanan menjadi urung. Dia meletakkan kembali makanan itu.


“Kenapa tidak di makan?” Kaisar mengerutkan kening.


“Kaisar tidak perlu meminta maaf, nyatanya… hamba memang tidak lebih hebat dari Yang


Mulia. Hamba menyesal karena tidak banyak belajar,” Pangeran Lucas menyadari kekurangannya


dan mulai tidak percaya diri. Pantaskah dia bersanding dengan sang Kaisar?


“Dan… maafkan masalah ucapan hamba barusan, Yang Mulia sama sekali tidak tuli.”


Kaisar Alessa mengerjap kemudian tergelak. Dia tertawa dengan sangat lepas, selain kekanakan ternyata Pangeran Lucas adalah pria yang sangat lucu.


Pangeran Lucas yang ditertawakan hanya bisa memasang wajah bingung di tambah dia pun terpana oleh tawa Kaisar. Ternyata Kaisar Alessa jauh lebih cantik ketika tersenyum juga tertawa.


“Kamu… sangat lucu Pangeran,” Kaisar Alessa masih tertawa hanya kali ini sudah mulai mereda.


“Apa Kaisar senang hal yang lucu?”


“Tentu saja, aku jarang merasakan hal ini. Mungkin akhir-akhir ini hidupku terlalu serius,” wanita itu tertawa hingga matanya berair. Kaisar hendak mengusapnya. Namun, Pangeran Lucas sudah lebih dulu melakukan hal itu. Pangeran Lucas mengusap sudut mata sang Kaisar dengan lembut, selembut senyumannya.


“Hamba ingin membuat Kaisar terus tersenyum dan tertawa. Hamba ingin Kaisar bahagia saat kita bersama,” Pangeran Lucas berkata dengan serius. Maniknya menatap lurus tepat mengunci pandangan sang Kaisar.


“Pangeran Lucas?”


“Hamba tau, Yang Mulia tidak akan pernah membalas perasaan hamba. Tapi, Yang Mulia hanya perlu tahu jika hamba akan selalu mendukung Kaisar. Hamba akan menyerahkan seluruh hidup dan kesetiaan hamba untuk Yang Mulia, hingga ujung usia,” pria itu berdiri dari duduknya kemudian bersimpuh di samping Kaisar Alessa. Matanya memancarkan ketulusan yang bisa Kaisar lihat secara jelas.


Selama ini Kaisar lebih sering mendengar dan melihat fatamorgana. Apakah ada yang namanya kesetiaan? Ketulusan dari seorang pria? Mungkin pria yang pertama kali dipikirkannya adalah Darius. Meski kesetiaan itu dari seorang kesatria kepada tuannya. Tapi, ternyata masih ada sosok yang serupa dengannya. Tanpa ada kemunafikan yang menjijikkan.


Kaisar Alessa menarik setiap sudut bibirnya, dia membelai pipi Pangeran Lucas yang sontak terpejam menikmati kelembutan tangan wanita itu.


“Terima kasih, Pangeran Lucas….”


***


“Apa yang telah terjadi Pangeran? Wajah Anda sangat merah!” Cain terkejut dengan majikannya.


“Be-benarkah?” Pangeran Lucas melihat wajahnya pada cermin.


“Ya! Apa perlu hamba panggilkan tabib?”


“Ti-tidak perlu, aku ingin segera tidur. Kau keluarlah!” tolak Pangeran Lucas, pria itu seperti tidak mempermasalahkan keadaan wajahnya.


“Anda yakin, Pangeran?”


“Ya, aku rasa malam ini aku bisa mimpi indah,” Pangeran tersenyum sumringah dengan wajahnya yang merona. Sayangnya, Cain tidak melihat senyuman itu karena Pangeran Lucas sudah menggulung tubuhnya ke dalam selimut. Kali ini dia tidak merintih lagi.


Jantungnya berdegub tidak beraturan mengingat hal yang telah terjadi saat makan malam bersama sang Kaisar. Setelah pernyataan perasaannya, Kaisar mencium dirinya. Mendaratkan bibirnya yang merah merekah di bibir Lucas yang kering kerontang.


Kecupan itu bagai oase yang memberikan kesegaran pada padang tandus. Bibir Pangeran Lucas seketika terasa lembab. Hingga menjelang pagi Pangeran Lucas tidak henti memegang jejak manis itu.


Tbc.