
Istana Aegis
Beberapahari kemudian
Sepertibiasa, berbagai hidangan menggugah selera tersaji tertata rapi di atas meja makan. Yang diperkiraan bisa mengenyangkan perut 20 orang sekaligus. Tapi, semua ini adalah sajian untuk sarapan Kaisar bersama para calon selirnya. Makanannya pun disesuaikan dengan selera mereka. Karena tidak semua calon selir terbiasa dengan makanan di Aegis. Contohnya, Pangeran Jerome.
Para calon selir sudah berada di setiap kursinya, posisi yang telah mereka duduki sejak seminggu yang lalu. Namun, kali ini ada yang berbeda. Pangeran Evandor hadir untuk sarapan bersama setelah beberapa hari absen dari kegiatan tersebut.
Kehadiran Evandor jelas membuat selir yang lain penasaran dengan alasan kenapa pria itu tidak kunjung muncul?
“Pangeran Evandor, kemana saja kamu?” tanya Pangeran Lucas yang duduk berseberangan dengan pria itu.
Pangeran Evandor hanya menatap Pangeran Lucas tanpa sempat menjawab karena tidak lama Kaisar tiba ke ruangan.
“Yang Mulia Kaisar telah tiba,” seru pelayan yang mengiringi jalan Kaisar.
Saat itu juga para calon selir bangkit dari duduk mereka lalu memberi hormat. Kaisar memperhatikan mereka semua hingga tatapannya terjatuh pada Pangeran Evandor yang berdiri tepat di samping kursinya. Mereka saling memandang sejenak sampai Kaisar membuang muka dan berjalan melewati deretan pria itu.
Kini posisi kaisar dan para calon selir menjadi berjauhan. Hal itu sontak membuat Pangeran Evandor terusik dan sangat tidak nyaman.
‘Kaisar masih marah padaku, bahkan sudah tidak sudi berada dekat denganku. Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku?’ Evandor hanya bisa bertanya dalam hati tanpa berani mengungkapkan semua.
Pria –pria itu pun tidak luput dari tanda tanya, mengapa Kaisar duduk berjauhan dengan mereka? Apalagi Lucas, dia merasa hubungannya dengan Kaisar sedang baik-baik saja. Bahkan mengalami kemajuan. Kenapa Kaisar malah menjauh?
‘Kenapa Kaisar duduk di sana? padahal aku ingin menatapnya lebih dekat,’ keluh Pangeran Lucas kecewa.
‘Ada apa dengan Kaisar? Apa aku telah melakukan kesalahan?’ Helios mencoba mengingat hal yang baru-baru ini dia lakukan bersama sang Kaisar. Tapi, dia tidak menemukan apa pun karena memang dia belum bertemu Kaisar beberapa hari ini. Terakhir dia latihan bersama, setelah itu Helios banyak berada di ruang kementrian membantu Ayahnya. Dan semua itu atas ijin sang Kaisar.
Sedangkan Jerome tidak bertanya, karena dia tahu hal utama yang membuat Kaisar memilih menjauh dari para calon selir. Karena kehadiran Pangeran Evandor.
Darius dengan sigap menarik kursi untuk sang Kaisar. Wajahnya datar seperti biasanya.
“Terima kasih Darius, duduklah di sampingku,” sebuah perintah yang mengusik para pria. Mata mereka menatap sinis pada Darius. Darius sendiri tidak mengindahkannya, memilih menurut dan menyimpan seringai yang hanya bisa di lihat oleh Helios. Pria itu sangat peka.
‘Darius Adolf, panglima perang yang tidak pernah kalah itu selalu berada di sisi Kaisar. Keberadaannya lebih tinggi di bandingkan kami. Aku penasaran, apa loyalitasnya sesederhana itu?’
“Kalian semua, silahkan duduk,” Kaisar mempersilahkan para calon selir untuk duduk.
Sarapan pagi pun dimulai dengan keheningan, hanya suara dentingan sendok garpu pada piring yang terdengar. Sementara itu, Kaisar hanya memakan buah sejak tadi.
“Yang Mulia hanya makan buah?” Darius bertanya karena dia terus memperhatikan Kaisar tanpa peduli dengan para mata yang menghunus padanya.
“Aku sedang tidak berselera,”ucapnya sambil meminum air putih.
“Apa Kaisar sedang tidak enak badan?” celetuk Pangeran Lucas tidak mau kalah untuk memberikan perhatian pada Kaisar.
Kaisar Alessa menggeleng. “Aku baik-baik saja Pangeran Lucas, kamu tidak perlu khawatir,” tidak lupa dia memberikan senyuman pada pria itu agar tenang.
Cukup diberikan senyuman mampu membuat Pangeran Lucas yang sejak tadi uring-uringan menjadi diam dan duduk manis. Pria itu pun melahap kembali makanannya.
Helios, Pangeran Evandor serta Jerome memilih diam setelah tahu jika Kaisar baik-baik saja, hingga sarapan mereka habis Kaisar mulai menyampaikan sesuatu.
sesuatu… apapun itu, kalian bisa memintanya pada para pelayan atau pada Darius,” jelas Kaisar Alessa panjang lebar.
“Kalau hamba boleh tahu, Kaisar hendak pergi ke mana?” Helios kali ini angkat bicara mewakili para calon selir yang berpikiran sama.
Kaisar diam beberapa saat, dia tidak ingin memberitahukan alasan dan tujuannya pergi sebelum hari pernikahan. Baginya ini urusan pribadi yang tidak perlu melibatkan para pria tersebut. Wanita itu ingin menyelesaikan masa lalunya yang masih diam ditempat. Perasaan sakit hati itu belum hilang jika dia belum membalasnya dengan hal yang sama, hal serupa. Bukankah, semua harus setimpal. Mata bayar mata, nyawa dibayar nyawa. Dan undangan… sebaiknya di bayar undangan juga.
Kaisar bangkit dari duduknya dan berjalan menuju Helios berada. Pangeran Evandor yang berada di samping Helios diam-diam mencuri pandang pada Kaisar yang tidak mengubrisnya. Sudah kepalang basah, karena diabaikan, Pangeran Evandor lebih memilih mencari perhatian. Setidaknya bisa melihat Kaisar dalam jarak dekat sudah menjadi sebuah hal langka untuknya.
“Kebetulan kamu bertanya Tuan Helios. Karena kamu adalah orang Aegis. Aku akan menyerahkan tanggung jawab padamu mengatur semua keperluan para calon selir sebagai rekanmu. Dan, membantu proses persiapan pernikahan kita.”
“Ma-maksud Yang Mulia?”
“Ini salah satu latihan untukmu sebagai calon selir utamaku, mengerti?”
Para Pangeran tersentak dan menoleh pada Helios beserta Kaisar yang menepuk kedua bahu pria itu. Bukan hanya terkejut bahkan rasa iri memenuhi hati salah satu pangeran, khususnya Pangeran Lucas.
‘Bagaimana bisa? Helios yang terlihat pasif itu menjadi calon selir utama?’
Helios yang terhenyak malah diam membisu, dia bingung harus bersikap bagaimana, sebuah tugas dan tanggung jawab besar diberikan pada dirinya. Di samping itu, dia pun senang karena dengan begini dia bisa lebih berguna dan merasa layak bersanding dengan Kaisar. Awalnya dia merasa tidak percaya diri akan kemampuan berpedangnya yang standard-standar saja. Tidak disangka, Kaisar malah mempercayakan hal lain yang lebih dikuasainya.
“Helios?” Kaisar menepuk kembali bahunya.
“Hamba bersedia, sebuah kehormatan untuk melaksanakannya. Percayakan semuanya pada hamba,” pria itu bersemangat.
“Jawaban yang bagus,” Kaisar Alessa tersenyum manis.
***
“Yang Mulia, Anda yakin mengangkat Tuan Helios sebagai selir utama? Apa tidak terlalu terburu-buru?” Darius bertanya dalam perjalanan bersama Kaisar menuju kamarnya. Mereka berjalan beriringan.
“Kamu meragukan keputusanku?”
“Ya! saya meragukan keputusan Anda, Yang Mulia!”
“Darius?” Kaisar Alessa menghentikan langkahnya. Sudah yang kedua kalinya Darius mengomentari keputusannya. Wanita itu mengeryit bingung. “Ada apa denganmu?”
“Yang Mulia yang ada apa? Semua diputuskan secara mendadak, tidakkah Anda merenunginya lagi? Hamba hanya tidak ingin Anda menyesal dikemudian hari dan terluka!”
“Kamu ini bicara apa? Menyesal apanya?”
“Sejak awal hamba tidak setuju dengan Anda mengangkat banyak selir, para pria yang sama sekali tidak mengenal Anda, mereka hanya memanfaatkan kekuasaan Anda!”
“Aku pun memanfaatkan mereka, kami saling menguntungkan. Untuk masalah terluka. Tidak akan ada yang terluka, kau tidak perlu memikirkan hal yang tidak perlu,”
Darius menunduk, apa yang sebenarnya terjadi padanya. Mengapa dia begitu kesal? Dia marah dan merasa tidak tenang sejak Kaisar mengutarakan niatnya menjadikan Helios selir utama. Rasa itu kian hari kian mengusik dan menganggu hingga membuatnya sulit untuk sekedar memejamkan mata.
Tbc.