
Kediaman Menteri Attala
Tampak seorang pria paruh baya baru menuruni biga (kereta kuda) dengan terburu-buru. Hampir saja ia terjatuh karena tidak berhati-hati. Pria paruh baya itu adalah Tuan Attala. Menteri Pertahanan Kekaisaran Aegis.
“Selamat datang, Tuan….” Sambut seorang pelayan membukakannya pintu.
Tanpa menghiraukan pelayan itu, Tuan Attala malah sibuk menoleh ke sana ke mari. “Mana Helios?”
“Tuan muda sedang di perpustakaan,” jawab pelayan tersebut membuat Tuan Attala mengerutkan kening.
“Apa dia sudah menerima surat dariku?”
“Sudah Tuan, ada apa gerangan?”
“Kenapa dia tidak kunjung membalas suratku?”
“Saya tidak tahu Tuan!” pelayan itu menunduk.
Tuan Attala berjalan dengan langkah lebar menuju perpustakaan di kediamannya. Perpustakaan yang sengaja dibuat untuk sang putera. Putera lelakinya itu sangat senang membaca dan belajar dari semua yang telah dibacanya.
“Helios!” panggil Tuan Attala saat memasuki ruang perpustakaan. Ruangan besar dengan susunan gulungan kertas merupakan harta karun tidak ternilai bagi pria bernama Helios.
“Ayahanda, Anda sudah pulang?”
“Mengapa kamu tidak membalas suratku?”
Pria dengan surai hitam legam setara dengan maniknya sekelam malam. Alisnya tebal tersusun rapi, dengan rahangnya yang terlihat kuat. Hidungnya mancung, tidak berlebihan serta bibir tipisnya yang berwarna merah jambu. Memalingkan muka dari Ayahnya.
“Aku belum mau menikah,” sergahnya.
Tuan Attala melotot. “Kau gila, kau mau menolak Kaisar?”
“Wanita yang sanggup meruntuhkan Kaisar Yudas pastilah seorang wanita arogan yang sama sekali tidak ada lemah lembutnya. Ayah lupa aku ingin menikahi wanita selembut Dewi Aprodithe?”
“Dan kaisar merupakan jelmaannya. Kau akan menyesal jika sudah melihatnya langsung!”
“Aku meragukan selera Ayah,” Helios menggulung kertas yang barusan dibacanya dan mengambil yang lainnya.
Tuan Attala gemas, dia sampai meremas salah satu gulungan milik Helios. “Ya, Tuhan Helios! Kau pikir Ayah bermasalah dalam penglihatan?”
Helios menahan diri agar tidak memarahi Ayahnya yang tega membuat rusak gulungan berharganya. Baginya, marah-marah adalah sikap barbar yang sama sekali tidak menujukkan kebangsawanan. “Coba, aku tanya… ini berwarna apa?” Helios mengambil jubahnya yang berwarna biru tua.
“Kau tahu aku buta warna! Tapi aku masih bisa membedakan mana wanita cantik atau tidak!”
“Wanita berwarna abu-abu?”
Kini bukan meremas lagi. Tapi, Tuan Attala menggigit selembar kertas itu hingga robek.
“Ayah, kau merusak kertas yang sangat berharga!” Helios memandang ngeri kertas yang telas sobek itu.
“Aku tidak peduli! Pokoknya kamu harus datang ke pesta malam ini!”
“Aku akan usahakan datang.…”
“Bukan berusaha, tapi harus! Kalau tidak, aku akan menyeretmu, atau aku akan membakar semua gulungan ini. Kau pilih mana?” ancaman Tuan Attala sungguh membuat jantung Helios hampir berhenti berdetak. Bagaimana bisa Ayahnya yang sangat penyayang itu menjadi berubah hanya karena dia yang tidak mau datang ke pesta?
Helios sudah tidak berdaya jika perpustakaannya menjadi terancam. Pria itu hanya mengangguk meski enggan.
“Bagus! Kau harus berdandan setampan mungkin. Jangan sampai ada yang mengalahkan ketampananmu nanti malam, mengerti?”
‘Aku tidak menyangka jika Ayah akan menjualku, maafkan aku Dewi Aphrodite…. Aku tidak bisa menjaga diriku yang seharusnya menjadi milikmu,’ batin Helios sedih.
***
Istana Aegis
Kaisar Alessa baru sampai setelah sehari menginap di kota Shire bersama Darius. Kedekatan mereka bedua selalu menjadi sorotan, banyak orang yang segan pada Kaisar karena sosok Darius yang selalu di sisinya.
“Yang Mulia lupa, malam ini adalah pesta penobatan Anda sebagai Kaisar baru. Ini sudah menjadi tradisi di Aegis. Kita juga mengundang beberapa orang penting dari negeri lain,” jelas penasehat yang berada di dekat Kaisar.
“Ah… ya ampun. Aku sampai lupa!” Kaisar Alessa menepuk keningnya. Tingkahnya itu membuat Darius tersenyum geli.
“Darius, jangan menggodaku dengan senyuman itu. Apa kau tidak sadar jika senyumanmu itu berbahaya?” Kaisar Alessa melirik Darius.
“Memangnya ada apa dengan senyuman hamba, Yang Mulia?” tanya Darius ingin tahu.
Kaisar Alessa mengerlingkan mata pada Darius. “Karena senyumanmu menawan.”
Darius terdiam seketika, bahkan pipinya merona. Sedangkan penasehat yang berada di dekat Kaisar Alessa tersedak minuman yang sedang diminumnya.
“Uhuk! Uhuk!”
Kaisar Alessa tergelak dan melenggang pergi begitu saja meninggalkan kekacauan yang sudah dibuatnya.
***
“Yang Mulia, Anda ingin riasan seperti apa?” tanya salah satu dayang.
Kaisar Alessa kini berada di kamarnya, wanita itu sedang dirias untuk pesta malam nanti.
“Menurut kalian, aku harus dirias seperti apa?”
Para dayang tampak saling pandang. Mereka bingung, karena pada dasarnya Kaisar Alessa sudah sangat cantik. Apabila dipoles lagi, sudah dipastikan akan membuat kaum Adam terpana tanpa bisa memalingkan muka. Karena tidak kunjung mendapatkan jawaban, Kaisar Alessa menatap para dayangnya.
“Jadi?”
“Maafkan kami Yang Mulia, kami tidak tahu karena Yang Mulia sudah sangat sempurna.”
Jawaban para dayang membuat Kaisar Alessa mengulum senyum. “Kalau begitu, cukup dengan riasannya. Ambilkan aku gaun sutra dengan hiasan emas,” perintah Kaisar.
Sang dayang dengan sigap mengambil gaun itu dan membantu Kaisar mengenakannya. Mereka berdua menatap takjub sang Kaisar.
“Bagaimana?” Kaisar Alessa berputar di depan kaca. Tapi, lagi-lagi tidak mendapatkan jawaban.
“Ada apa?” tanya penasaran.
“Saya yakin jika rumor bahwa Yang Mulia adalah jelmaan Dewi itu benar. Karena kecantikan Anda setara dengan Dewi Aprhodite,” ucap salah satu dayang yang diangguki temannya.
Kaisar Alessa merasa puas, berarti dia sudah pantas untuk menghadiri pesta. “Pujian kalian terlalu tinggi. Tapi, aku menjadi percaya diri. Terima kasih,” Kaisar Alessa pun keluar dari kamarnya yang sudah di sambut oleh Darius di sana.
Benar adanya, bahkan Darius tidak mampu mengedipkan mata hingga sang Kaisar menegurnya.
“Darius!”
“Hamba yang Mulia,” pria itu segera menunduk. Malu karena terlihat gugup. Lebih pada terpesona dan menjadi salah tingkah.
Kaisar Alessa mengindahkan sikap Darius. Wanita itu malah merangkul tangan Darius sampai yang empunya membeku dan melebarkan mata.
“Kau seperti melihat hantu, ada apa Darius?”
“Ti-tidak apa-apa, Yang Mulia Anda…” Darius melirik tangan lembut Kaisar yang merangkul dirinya. Mimpi apa dia semalam? Sampai bisa mendapatkan sentuhan dari sang Kaisar.
“Dampingi aku malam ini, karena aku masih berstatus lajang,” ucap sang Kaisar.
Darius mencerna perkataan sang Kaisar. Sebuah kenyataan, jika Kaisar telah menikah… tentu dirinya tidak akan pernah merasakan rangkulan dari Yang Mulia yang begitu dipujanya.
Darius berusaha menenangkan hatinya yang membucah, menekan perasaan yang tidak seharusnya ada. Dia harus sadar, siapa dirinya? Mengorbankan hidup untuk Kaisar adalah takdirnya. Jangan sampai dia merusak apa yang selama ini dia bangun. Kepercayaan sang Kaisar.
Tbc.
Helios