
Pangeran Evandor menatap tidak percaya pada apa yang dia lihatnya saat ini. Seorang wanita paruh baya yang sekilas mirip dengan Kaisar Aegis. Pangeran Evandor tanpa sadar memanggilnya.
“Yang Mulia?”
Wanita paruh baya itu terdiam mendengar panggilan yang terasa aneh. Dia merubah raut wajahnya menjadi bingung.
“Maaf?”
Pangeran Evandor pun segera tersadar mendapati respon tersebut. Dia menggelengkan kepalanya kaku seraya tersenyum kikuk.
“Ma-maaf, maksud saya … Anda telah menyelamatkan saya?”
“Panggil aku Ibu Maria. Aku menemukanmu terdampar di pinggir sungai dengan keadaan penuh luka. Apa kau telah di serang?” tanyanya penasaran.
“Saya ….” Pangeran Evandor menggantungkan kata. Haruskah memberitahukan apa yang telah dialaminya pada orang itu? Orang yang tidak dikenalnya. Pangeran Evandor berpikir sejenak sebelum akhirnya meneruskan pembicaraan. Namun, belum sampai dia membuka mulut lagi. Kehadiran seseorang menahannya.
“Ibu, apa pria itu sudah sadarkan diri?“
Ada yang masuk ke dalam ruangan itu, seorang wanita manis dengan banyak bintik di wajahnya. Mereka berdua bersitatap.
“Ups, maafkan aku,” ucapnya sungkan lalu menundukkan kepala.
“Natalie, kamu mengagetkan Ibu.” Maria mendekatinya. Pangeran Evandor perkirakan hubungan mereka adalah Ibu dan Anak.
“Itu, soalnya barusan aku bertemu dengan orang istana. Mereka menanyakan beberapa pejalan kaki. Sepertinya mereka sedang mencari buronan.”
“Akhir-akhir ini banyak sekali orang istana yang berlalu-lalang.”
Pangeran Evandor mendengarkan percakapan Ibu dan Anak tersebut dengan baik. Pasti yang dicari para prajurit istana adalah dirinya. Pangeran Evandor mengeratkan genggaman pada gelas yang belum diminumnya.
“Nak … ada apa?”
“Ah, tidak. Saya hanya teringat orang rumah,” bohong sang Pangeran.
“Begitukah? Pasti orang rumahmu mengkhawatirkanmu, apa lagi kamu pingsan selama dua hari.”
“Apa?! Dua hari?” tanya pangeran Evandor setengah percaya.
“Iya, Tuan tidak sadarkan diri tiga hari dua malam,” sahut wanita yang bernama Natalie.
“Bagaimana pun juga saya ucapkan terima kasih karena telah menyelamatkan saya.”
“Sama-sama. Ngomong-ngomong, Anda belum memberitahu kami mengapa Anda sampai terluka seperti itu?”
Pangeran Evandor tidak bisa lari dari alasan itu. Dengan banyak pertimbangan Pangeran Evandor akhirnya mengarang cerita.
“Saya diserang beruang hingga terjatuh dari tebing dan berakhir di sini,” jelas Pangeran Evandor.
“Ya Tuhan, beruntung kamu masih hidup. Jarang sekali manusia yang bisa lolos dari seekor beruang hutan. Beruang hutan di sini terkenal besar dan ganas.” Ibu Maria tersentak mengetahui hal yang terjadi pada Pangeran Evandor. Sebuah kejadian rekayasa.
Evandor mengangguk dan merasa lega. Ternyata karangannya masih masuk akal. Natalie sejak tadi menatap pangeran Evandor. Pria itu pun jadi menatap balik wanita itu. Yang terjadi malah membuat wanita itu tersipu malu.
“Nak, sebaiknya ramuan itu kau minum.”
“Baik!” Pangeran Evandor akhirnya meminum ramuan yang sangat pahit itu. Ia menahan mual yang menjalar di perut saat cairan itu memasuki kerongkongannya.
“Ini,” Natalie memberikan segelas air putih pada Pangeran Evandor dan gelas yang kosong dia bawa untuk dibersihkan.
“Uhuk, uhuk!”
“Tahan, setelah meminumnya luka dalammu akan mengering.”
“Sekali lagi terima kasih,” pria itu merasa berhutang budi pada Ibu Maria.
“Nama saya Hans,” Pangeran Evandor memutuskan untuk menyamar menjadi orang lain sementara waktu dan melihat situasi. Saat keadaan memungkinkan, dia akan kembali ke Aegis. Pangeran Evandor mengira jika sang Kaisar telah sampai di sana.
***
Istana Duke Tristan
“Apa Duchess sudah makan?” tanya Duke Tristan pada pelayan.
Pelayan itu menggeleng lemah. “Tidak Tuan Duke, Duchess Selena tidak mau memakan apa pun sejak kemarin.”
Duke Tristan mengambil nampan yang sedang di pegang pelayan. Pelayan itu sampai terkejut. “Tu-Tuan! Biar saya saja!”
Duke Tristan bergeming, ia malah melangkah pergi meninggalkan pelayan yang menawarkan jasanya. Pria tampan bermanik hijau itu memasuki kamar utama. Kamar dirinya bersama sang Duchess yang tidak lain adalah Kaisar Alessa.
Baru sang Duke membuka pintu, sebuah gelas melayang ke udara hampir mengenai wajahnya.
“Lain kali aku tidak akan meleset!” Kaisar Alessa berdiri di sisi ranjang yang terpasang sebuah rantai emas di pergelangan tangannya. Duke Tristan memperlakukan seorang Kaisar Aegis seperti burung dalam sangkar.
“Apa kau tahu? Kamu semakin cantik saat sedang marah.” Duke Tristan tidak terpancing oleh sikap Kaisar Alessa. Dia menaruh makanan di meja dekat Kaisar berada. Tentu saja Kaisar tidak menerimanya. Wanita itu segera
menendang meja itu hingga makanan berserakan di atas lantai.
“Aku akan memotong lidahmu!” kecam Alessa dengan tatapan tajam. Ingin rasanya menikam pria itu dan memotong tubuhnya menjadi beberapa bagian. Membuangnya ke laut lepas agar bisa di makan oleh para ikan.
“Kalau kau lakukan itu … kau tidak akan merasakan lembutnya lidahku ketika aku mencumbumu, sayang.” Duke mendekat dan menarik tangan Kaisar Alessa hingga tercekal ke belakang tubuhnya. Kaisar Alessa berusaha melepaskan diri dengan menginjak kaki sang Duke namun tidak berhasil.
“LEPASKAN AKU DUKE TRISTAN!”
“Jangan buang energimu, Duchess Elena,” bisiknya di telinga Kaisar. Baru kali ini Kaisar Alessa bertemu dengan pria semacam Duke Tristan. Pria itu cukup kuat dan arrogant. Salah satu karakter yang mengingatkannya kembali pada Darius.
“Aku bukan Duchessmu. Aku Kaisar Aegis!”
Duke Tristan terkekeh. “Gelarmu tidak berlaku di sini. Tidak lama lagi kau akan menjadi Duchessku. Menemaniku di Istana ini selamanya.”
“Lebih baik aku mati!”
Mendengar kata mati membuat netra Duke Tristan berkilat. Dia mencengkeram pipi Kaisar Alessa agar menatap ke arahnya. “Jangan pernah bicara kematian!”
Biasanya seorang wanita yang digertak bahkan diperlakukan kurang Ajar akan menangis. Tapi, tidak dengan Kaisar Alessa. Wanita itu menantang balik sang Duke dengan tatapan intimidasi. Sebuah keyakinan jika ia bisa mengalahkan pria tirani yang lebih bobrok dari Raja Fabian.
“Kau bukan Dewa, kau hanya manusia. Jiwaku, tidak akan pernah menjadi milikmu!”
Duke Tristan naik pitam. Dia menghempas tubuh Kaisar Alessa ke atas ranjang. Dengan kuat menekan tangan Kaisar yang berusaha berontak. Bagaimana pun kekuatan Pria tidak sebanding dengan wanita. Kaisar Alessa tidak bisa bergerak sama sekali. Apa lagi pria itu langsung menindih tubuh sang Kaisar. Duke Tristan berusaha mencium bibir Kaisar. Namun, sebelum itu Kaisar menggigit lidahnya sendiri hingga mengeluarkan banyak darah.
Duke Tristan terperanjat. Wajahnya langsung pias pucat pasi. Dia melepaskan genggaman pada tangan Kaisar dan mengguncang tubuh wanita itu agar berhenti menggigit lidahnya.
“APA YANG KAU LAKUKAN! HENTIKAN! JANGAN GIGIT LIDAHMU!”
Kaisar Alessa menyeringai. Dia membuka mulutnya yang penuh cairan merah. Duke Tristan segera bengkit dan meremas rambutnya.
“Kau rela melukai dirimu sendiri agar tidak disentuh olehku?” tanya Duke Tristan putus asa.
Kaisar Alessa tidak menjawab. Dia sudah tidak bisa mengeluarkan kata karena lidahnya yang terluka. Duke berteriak memanggil pelayan agar dicarikan tabib.
“PANGGILKAN TABIB!”
“Baik Tuan!”
Sebelum meninggalkan kamar, Duke Tristan tersenyum pahit. “Bahkan jika kau tidak bisa kusentuh. Kau tidak akan pernah ku biarkan pergi dari sini. Ingat itu, Duchess!”
Tbc.