
“Apa yang sebaiknya aku lakukan?” hati Raja Fabian benar-benar kalut mengetahui apa yang telah menimpa Kaisar Alessa.
Di dalam surat diberitahukan jika wanita itu telah disingkirkan. Tapi, Raja Fabian tidak ingin begitu saja percaya. Rasanya seperti kehilangan harapan, kali ini dia tidak memiliki keberanian untuk meminta lebih pada wanita itu setelah memberikan banyak masalah padanya.
“Semua karena salahku, kamu menjadi korban ….“ Raja Fabian berbicara sendiri di depan pintu kamar hingga tidak menyadari kedatangan Knight
Albert.
“Baginda Raja!” panggilnya pada sang Raja. Penguasa Prussia itu terlihat berbeda, seperti orang yang putus asa.
“Knight Albert, aku telah melakukan kesalahan. Bagaimana aku mempertanggung jawabkan semuanya pada para calon selir Kaisar?” Raja Fabian berkata sesuatu yang sama sekali tidak dimengerti sang Knight.
“Maksud Baginda?”
Raja Fabian pun menceritakan yang terjadi barusan. Tentang Istrinya yang menjadi biang keladi penyerangan pada Kaisar hingga wanita itu tidak selamat. Knight Albert pun terlihat sangat terkejut dengan kabar tersebut.
“Jadi, Kaisar Alessa sudah mati di tangan Kaisar Louis?”
“Aku tidak tahu, aku tidak akan percaya sampai aku melihat sendiri jasadnya!” Pria itu menggeleng pelan dengan matanya yang memerah. Antara marah dan sedih bercampur menjadi satu. Antara yakin dan ragu. Sungguh tidak menentu.
“Apa yang harus aku lakukan Albert? Beritahu aku, aku mohon!” Raja mengguncang bahu sang Knight hingga tubuh pria itu limbung hampir terjatuh karena dia menopang tubuhnya yang tiba-tiba lemas.
“Baginda Raja!” Knight Albert panik dengan perubahan Raja yang begitu ekstrim. Sepertinya kabar Kaisar Alessa benar-benar membuatnya terguncang. “Pengawal!” serunya sambil membopong Raja Fabian. Pria itu tidak sadarkan diri.
Beberapa pengawal pun datang untuk membantu Knight Albert. Kini ia yang harus mengambil langkah apa yang seharusnya dilakukan selanjutnya. Melihat keadaan sang Raja, tidak memungkinkan jika membiarkan Raja Fabian mengambil alih semua.
Kericuhan yang terjadi membuat istana ramai hingga sampai ke telinga Ratu yang baru saja selesai berpakaian. Matanya belumlah kering karena menangisi sang suami. Wanita itu malah harus melihat pemandangan menyedihkan suaminya yang terbaring lemah di atas ranjang. Derai air matanya pun kembali menganak pinak.
“Rajaku, apa yang terjadi padamu?” Ratu Anna berjalan mendekat menuju ranjang sang Raja. Namun, belum lah setengah jalan Knight Albert segera menghadangnya.
“Maafkan hamba, Baginda Ratu. Saat ini Raja tidak bisa ditemui.” Pria itu pasang badan. Ratu pun membeliak dengan raut bingung.
“Tidak bisa ditemui? Kau sadar dengan apa yang kau katakan? Cepat menyingkir, aku istrinya! Aku ratu di sini!”
“Baginda Raja sudah menceritakan semua pada hamba. Hamba harap, Baginda Ratu mau bekerja sama.”
Amarah Ratu Anna memuncak. Wanita itu pun membentak keras. “KNIGHT ALBERT!”
“Maafkan hamba, Baginda Ratu. Pengawal, bawa Ratu kembali ke kamarnya!” Perintah knight pada para pengawal. Mereka saling memandang sejenak sebelum akhirnya lebih menuruti Knight Albert di bandingkan oleh ancaman mata tajam sang Ratu.
Knight Albert hanya mengemban tugasnya. Dia sudah tahu jika Raja Fabian akan menceraikan istrinya juga semua kekacauan ini berawal dari
Baginya sang pemimpin hanyalah Raja Fabian seorang. Jika sang Raja sudah melepaskan Ratu Anna, tidak ada alasan baginya untuk patuh pada wanita itu. Saat ini yang terpenting adalah Kesehatan Raja Fabian. Knight Albert yakin keberadaan Ratu Anna hanya akan menambah buruk keadaan sang Raja.
***
“Kenapa Ibu ingin menemui Kaisar Aegis?” tanya Natalie.
Ibu Maria terdiam dan menghela napas Panjang. Wanita itu tersenyum tipis. “Nama Ibu yang sebenarnya adalah Rhea, Ibu adalah permaisuri
dari Kaisar Basil. Ayah dari Kaisar Alessa.”
“Apa? Jadi … Anda adalah Ibunda Yang Mulia Kaisar?” pengeran Evandor sungguh tidak menyangka jika wanita paruh baya yang menolongnya adalah ibu dari wanita yang dicintainya. “Tapi, mengapa Anda ada di sini Yang Mulia Permaisuri?” sebutan penghormatan langsung Pangeran sematkan untuk wanita itu.
Pangeran Evandor sama sekali tidak tahu kisah kelam yang menimpa Kaisar Alessa sebelum berhasil menaiki takhtanya saat ini.
Permaisuri Rhea pun seolah enggan untuk membuka luka lama. Dia hanya bisa mengulum senyum. “Ceritanya sangat Panjang dan cukup memberikan trauma.”
“Maafkan hamba Yang Mulia,” Pangeran Evandor menyadari jika pertanyaannya kurang berkenan untuk wanita itu.
Permaisuri Rhea menggeleng. “Jangan meminta maaf Pangeran, dan tolong jangan terlalu sopan. Gelar itu sudah lama tidak aku sandang.”
“Tidak bisa begitu Yang Mulia. Anda adalah ibunda Kaisar. Jelas, Anda adalah sosok yang pantas untuk dihormati.”
“Betapa beruntungnya Kaisar Alessa, memiliki Ibu dan selir seperti pangeran. Entah kebaikan apa yang sudah dia buat di kehidupan sebelumnya,” ucap Natalie yang sejak tadi diam saja. Wanita itu sungguh iri pada Kaisar Alessa.
“Natalie, maafkan Ibu karena tidak berterus terang selama ini. Semua Ibu lakukan agar bisa hidup tenang di sisa hidup Ibu. Yang Ibu tahu
adalah bahwa putri Ibu telah mati oleh pangeran Yudas. Pria itu tega membunuh adiknya sendiri demi sebuah kekuasaan. Padahal kami selalu memperlakukannya selayaknya keluarga. Alessa sangat menyayanginya. Tapi, hari itu … dia merenggut semuanya dan melemparkan Ibu ke dalam penjara bawah tanah. Pengawal yang mengabdi pada Kaisar terdahulu membebaskan Ibu karena kesetiaannya. Tanpa peduli dengan nasibnya sendiri. Ibu pun menjadi seorang buronan. Tidak ada yang mau menampung
keberadaan ibu, apalagi mereka malah memburu Ibu karena sebuah sayembara akan imbalan yang menggiurkan jika berhasil menangkap Ibu. Di tengah keputusasaan, Ibu sempat berpikir untuk mengakhiri hidup saja hingga, Ibu bertemu dengan Ayahmu. Petani baik hati yang mau menerima Ibu apa adanya. Ibu benar-benar berhutang budi pada Ayahmu.”
Jadi, Pemaisuri Rhea menikahi Ayah Natalie selama menjadi buronan. Wanita itu pun mengganti identitasnya agar lepas dari status tersebut. Natalie tidak mengetahui hal itu, dia hanya tahu jika Ayahnya menikahi wanita paling cantik yang belum pernah dia temui. Tentu saja ia senang memiliki Ibu yang selama ini dia idamkan setelah sekian lama Ayahnya menduda.
Siapa sangka jika Ayahnya menjadi pria beruntung, mendapatkan janda seorang Kaisar. Namun, kebahagiaan Ayah Natalie tidak berlangsung lama. Pria itu telah berpulang setengah tahun yang lalu karena sebuah penyakit yang merenggut nyawanya.
“Tanpa Ibu ketahui jika puteriku ternyata masih hidup. Bahkan telah menjadi seorang Kaisar. Ibu sungguh senang, Ibu sangat merindukannya …” Permaisuri Rhea menitikkan air mata untuk kesekian kalinya.
Sungguh Dewa sangat bermurah hati padanya. Tidak ada kebahagiaan yang lebih berharga dari kabar jika putrinya masih hidup. Permaisuri Rhea ingin segera menemui buah hatinya itu, memeluk dan mengecup keningnya dengan sayang.
Tbc.