
Di Hutan
Darius serta para selir kembali mencari keberadaan Kaisar yang mereka tidak ketahui sama sekali bagaimana nasibnya. Di tengah pencarian itu Knight Albert pun datang. Namun, kedatangannya kali ini terlihat cukup aneh bagi Darius. Wajah pria itu tegang tidak seperti biasanya.
“Ada apa Knight Albert?” Darius mendekati pria yang baru saja turun dari kudanya.
Knight Albert tidak menjawab. Dia malah memberikan sebuah surat yang sudah kusut pada Darius. Para selir pun menghampiri Darius yang menerima surat tersebut. Mereka ingin tahu apa yang ada di dalam surat itu. Bersama-sama mereka membacanya.
Tidak lama Darius menatap Knight Albert dengan raut tidak bersahabat. Pria itu pun melakukan hal yang sama dengan Raja saat membaca surat itu. yaitu meremasnya.
“Apa maksudnya ini, Knight Albert?!”
Ksatria andalan Prussia tersebut menekuk kakinya, bersimpuh di hadapan Darius dan para calon selir yang tampak menuntut penjelasan.
“Hamba menyampaikan beribu maaf dari Raja Fabian. Beliau juga sama terkejutnya dengan Anda Tuan Darius. Bahkan Baginda Raja pingsan setelah membaca surat itu.”
“Surat ini berasal dari mana dan untuk siapa? Dan mengapa ada berita tentang Kaisar yang telah dieksekusi. Tolong beritahu kami! Kaisar tidak mungkin sudah-” tanya Helios mewakili yang lain. Namun, ucapannya terputus oleh Pangeran Lucas yang melangkah maju. Pangeran tersebut menarik baju Knight Albert hingga pria itu terpaksa bangun dari sujudnya.
“Jangan main-main dengan kami! Katakan di mana Kaisar sekarang?!”
“Lucas, tenanglah!” Helios mencoba menenangkan Pangeran Lucas.
“Aku tidak akan tenang. Bagaimana bisa kabar seperti ini terjadi. Yang Mulia pasti masih hidup, aku yakin itu!” tekan Pangeran Lucas tegas. Meski begitu air matanya mengalir membasahi pipinya. Pangeran Lucas sosok yang lebih mudah mengekpresikan hatinya di bandingkan calon selir yang lain.
Darius yang melihat Pangeran Lucas menuntut Knight Albert tidak melerai. Pria itu malah meminta hal lain yang membuat Knight Albert menelan salivanya kasar.
“Jika Rajamu merasa bersalah, antarkan kami ke Diocletianus! Kami akan menyerang mereka. Bahkan, jika memang Kaisar sudah tidak bernyawa. Aegis tidak akan sudi membiarkan jasadnya berada di sana!”
“Tu-Tuan Darius ….” Knight Albert tercengang dengan ucapan Darius. Dia pun tidak berdaya jika keputusan sebesar itu telah diambil. Wajar bila Darius ingin memperjuangkan Kaisarnya. Knight Albert mau tidak mau menuruti permintaan Darius. Karena sang Raja berpesan untuk mengikuti apa yang akan Darius lakukan.
“Peperangan antara Diocletianus dan Aegis memang tidak terelakkan. Aegis akan membawa 100.000 pasukan untuk meratakan Diocletianus. Dewi Athena bersama kami.” Darius berkata dengan nada dingin.
Dia pun mengirimkan Pangeran Jerome untuk kembali ke Aegis. Pria itu akan memimpin 100.00 pasukan dari Aegis menuju Diocletianus.
“Aku akan mengirimkan lokasi yang di tuju melalui merpati,” ucap Darius sebelum Pangeran Jerome berangkat. Pria itu sangat siap dengan tugas yang diberikan oleh Darius. Dia ingin menghancurkan Diocletianus hingga rata dengan tanah.
“Baik Tuan!”
"Berhati-hatilah selama di perjalan!”
“Terima Kasih, Tuan Darius.”
Para pria itu berusaha tenang meski telah diterpa oleh kabar yang membuat mereka terpuruk. Sebuah kabar jika Kaisar telah dibereskan. Bukankah berarti sang Kaisar telah tiada? Wanita itu telah pergi dari dunia ini.
“Tuan!” Pangeran Jerome memanggil Darius yang sudah berjalan menjauh darinya. Pria itu pun menoleh. “Yang Mulia baik-baik saja. Dia masih
menunggu kita!” sebuah semangat masih terpancar di mata Pangeran Jerome. Karena itu pula yang ada di dalam hati para pria tersebut.
Darius hanya mengangguk dengan bibirnya yang melengkung tipis. Sangat tipis hingga tidak terlihat.
Sementara itu Pangeran Lucas masih menangisi Kaisar. Pria itu menyesali semua yang telah terjadi. “Andai aku tahu akan seperti ini. Aku akan merengek agar Yang Mulia tidak pergi. Yang Mulia … aku sangat merindukanmu,” ucapnya lirih.
Darius melempar sebuah pedang pada pria itu hingga Pangeran Lucas tersentak.
BRAK!
Pangeran Lucas sempat terdiam sesaat karena masih terkejut. Namun, kemudian ia menarik napas dan menyeka wajahnya dengan kasar. Menghapus jejak air mata yang sempat membasahi pipinya. Dia pun mengambil pedang itu dan mempersiapkan diri dengan memakai baju zirah. Helios pun melakukan hal sama. Dia hanya ingin melihat Kaisar secepatnya.
"Dewa ... Jagalah Yang Mulia di manapun ia berada," batinnya berdo'a.
Rombongan mereka pun bersiap-siap keluar dari area hutan, mengikuti Knight Albert yang berjalan paling depan sebagai penunjuk jalan. Mereka terus berjalan hingga hampir keluar dari hutan. Namun, dari belakang mereka semua mendengar sebuah suara. Suara seseorang yang Pangeran Lucas kenal. Pria itu segera menghentikan langkah.
“Tuan Darius, sepertinya aku mendengar sesuatu?”
Darius pun menghentikan langkahnya, mengikuti Pangeran Lucas yang membawa kudanya ke belakang rombongan. Prajurit yang di belakang pun menoleh karena suara itu semakin jelas.
“TUNGGU KAMI!”
Pangeran Lucas melebarkan matanya. Ternyata orang yang memanggil mereka adalah Pangeran Evandor. Pria itu berlari mengejar rombongan
Aegis. Pangeran Lucas pun menghampiri dari arah berlawanan.
“Pangeran Evandor! Kau selamat?” seru Pangeran Lucas senang. Pria itu memeluk Pangeran Evandor. Bagaimana pun juga mereka adalah para calon selir Kaisar. Mereka pun satu perjuangan dalam memperebutkan kasih sayang Yang Mulia.
Pria itu menunduk mengatur napasnya yang tersendat karena berlari. Dia pun mengangguk dengan senyum di wajahnya. “Aku selamat, ada orang yang menolongku ….”
“Pangeran Evandor, duduklah dulu.” Helios membawakan sebotol air untuk pria itu. Helios pun tidak kalah senang dengan kenyataan jika Pangeran Evandor masih hidup.
“Terima kasih, tapi … ada yang harus aku lakukan,” Pangeran Evandor menerimanya dengan senang hati.
“Apa itu?” tanya Darius yang ikut menghampiri.
“Tuan Darius.” pria itu mendongak saat Darius berada di hadapannya.
“Aku senang kau baik-baik saja,” ucap Darius terus terang. Meski memang dia tidak menyukai para calon selir. Tapi, tidak ada sedikitpun keinginan untuk melenyapkan mereka semua. Karena dia tahu Kaisar membutuhkan para pria itu.
“Ada yang ingin bertemu Kaisar,” terang Pangeran Evandor membuat Darius penasaran.
“Siapa?”
“Dia ada di sana, aku meninggalkannya karena mengejar kalian. Dia tertinggal, tolong jemput beliau,” pinta sang Pangeran.
“Aku menjemputnya? Sepenting apa orang itu sampai aku harus menjemputnya?” tanya Darius enggan. Siapa pula yang berani memerintah sang
Jenderal perang. Hanya para calon selir yang kurang ajar saja yang masih dia tolerir.
“Tuan akan tahu setelah melihatnya.” Perkataan Pangeran Evandor malah semakin membuat Darius terpancing.
“Kenapa kau tidak beritahu aku saja sekarang, siapa orang yang ingin menemui Yang Mulia?”
“Aku tidak ingin Tuan menyesal, sebaiknya Anda cepat jemput beliau,” Pangeran Evandor tetap tidak ingin memberitahu.
Darius bisa saja meluapkan kekesalannya saat ini juga pada Pangeran yang sempat membuat masalah di istana Aegis. Tapi, melihat keadaan pria itu saat ini membuatnya urung. Terlihat raut lelah di wajah pria itu.
“Jika orang bukan orang penting, aku akan mengikat kakimu di tiang gantungan!” ancam Darius. Pangeran Evandor sama sekali tidak takut, karena dia tahu jika sosok itu bukanlah orang sembarangan. Ia yakin Tuan Darius akan mengakuinya.
Tbc.