
Kekaisaran Diocletianus
Istana Diocletianus
Pengawal menghadang seseorang yang memakai jubah yang berniat memasuki area istana. Karena hal itu membuatnya membuka tudung yang sedang dikenakan.
“Siapa dan mau apa?” tegur sang Pengawal.
“Saya… saya Tina dari Kerajaan Prussia. Saya ingin menyampaikan surat dari Ratu Anna untuk Yang Mulia Kaisar Louis,” jawab dayang kepercayaan Ratu Anna seraya mengulurkan surat yang terdapat stempel kerajaan Prussia.
Para pengawal itu mengambil surat tersebut dan memeriksanya dengan seksama.
“Apa kau tahu isi suratnya?”
“Saya tidak tahu, Tuan.”
Dua pengawal itu saling melemparkan pandangan. Mereka sudah tidak asing dengan Ratu Anna yang merupakan keponakan sang Kaisar.
“Kau, ikut kami!” akhirnya mereka berjalan bersama memasuki istana.
Istana Diocletianus begitu megah, 5x lebih besar di bandingkan istana di kerajaan Prussia. Desainnya pun mewah menandakan seberapa makmurnya kekaisaran Diocletianus. Dayang itu menatap kagum arsitektur yang memanjakan mata hingga tanpa sadar sudah sampai di hadapan sang Kaisar.
“Panjang umur Yang Mulia Kaisar,” dayang memberi hromat.
Kaisar mengangguk dan mengucapkan tanya. “Siapa kamu?”
“Hamba Tina, Yang Mulia. Dayang pribadi Ratu Anna Podolski. Maksud kedatangan hamba ialah mengantarkan surat beliau langsung kepada Anda Yang Mulia Kaisar,” dayang berlutut dengan tangannya yang menengadah menyerahkan surat tersebut.
“Surat?”
Kaisar memberikan kode pada salah satu penasehat untuk mengambilnya dan sampailah surat itu di tangan Kaisar. Penguasa Kekaisaran Diocletianus membuka surat tersebut, membacanya dengan teliti.
Isi surat itu adalah permintaan tolong dari Ratu Anna agar Kaisar Louis mengurus Kaisar Aegis. Kaisar Louis pun mengerutkan kening. Kenapa Ratu Anna meminta hal semacam itu padanya.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Bisa kamu jelaskan, Tina?”
Sang Dayang mengerti maksud dari Kaisar Louis. Dayang Tina pun memnceritakan yang dia ketahui dari awal hingga akhir. Berdasarkan pandangannya sendiri. Kaisar menyimak hingga cerita selesai.
“Aku mengerti, memang sebaiknya aku menyingkirkan benalu meski akarnya sangat kuat. Kaisar Aegis… selama dia belum menginjakkan tanah airnya, kita bebas berlaku apa saja,” seringai mengerikan terlukis di wajah pria paruh baya tersebut.
“Duke Tristan! Kejar rombongan Kaisar Aegis! Pastikan mereka tidak sampai ke tempat asalnya. Tangkap mereka baik hidup atau mati!”
“Siap laksanakan Yang Mulia!”
***
Manik biru itu berusaha terbuka sementara rasa kantuk menyerang. Begitu berat, seolah ada batu yang bergelayut di setiap ujung bulu matanya. Kaisar Alessa tidak tidur semalaman sejak penyerangan yang dialaminya. Wanita itu terus bersikap waspada. Jangan sampai ada lagi hal yang serupa menimpa dia dan orang-orangnya. Pangeran Evandor memperhatikan sejak tadi mulai gemas. Kepala Kaisar berulang kali terantuk jendela kereta kuda.
“Yang Mulia, sebaiknya Anda tidur. Biar hamba yang berjaga.”
“Aku masih bisa mengatasinya,” elak sang Kaisar yang begitu keras kepala. Dengan berani Evandor menarik bahu Kaisar. Membuat wanita itu mendaratkan kepalanya di pangkuan sang Pangeran. Kaisar Alessa sempat tersentak dan ingin bangkit. Namun, Pangeran Evandor menahannya.
“Beristirahatlah, percayakan semua pada hamba,” Evandor menutup mata sang Kaisar dengan tangannya. Mengusapnya lembut.
Ternyata sentuhan itu mampu mengendurkan kewaspadaan Kaisar Alessa. Entah karena lelah atau memang sudah percaya pada pria itu. Perlahan tapi pasti, wanita itu mulai memejamkan mata lalu tertidur lelap.
Pangeran Evandor menarik tangan yang menutupi mata sang Kaisar. Untuk pertama kalinya dia melihat wajah polos calon istrinya. Wajah cantik yang tampak tidak sekuat biasanya. Terdapat guratan di bawah matanya. Tampak sedikit menggelap, menandakan kurangnya waktu beristirahat.
Memindai wajah itu berulang-ulang. Hingga tatapannya jatuh pada bibir merah pucat nan ranum. Segar seperti buat peace saat baru dipetik dari pohonnya. Katakan Pangeran Evandor mencari mati. Atau mungkin dia siap mati, karena berani mendekatkan wajahnya lalu mencuri kecupan sang Kaisar.
“Peganglah janjiku Yang Mulia, hamba tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Berikan hamba kesempatan… karena hamba sudah jatuh hati.”
***
Sehari sudah berlalu, rombongan Aegis belum juga sampai ke Pelabuhan. Entah mengapa jalan mereka seolah tidak berujung.
“Kenapa kita belum sampai juga?” Pangeran Evandor bertanya pada sang kusir, dia melongok melalui jendela. Kaisar sedang tertidur pulas dipangkuan pria itu. Pangeran Evandor tidak mau sampai membangunkannya.
“Hamba tidak tahu Pangeran, kami sudah mengikuti jalan yang sesuai,” sang kusir pun tampak bingung. Pasalnya dia belum begitu familiar dengan jalan di daerah Prussia. Dia hanya mengikuti arah jalan yang ada.
Pangeran Evandor menggeser kepala sang Kaisar secara perlahan, menopangnya dengan jubah miliknya. Merasa aman dan Kaisar tampak nyaman, pria itu baru turun dari kereta kudanya.
“Baiklah, kita beristirahat sebentar.” Perintahnya pada setiap rombongan. Memberikan waktu istirahat pada sang kusir yang jelas paling lelah.
Pangeran Evandor memilih berjalan-jalan dan melihat sekeliling. Dia mendekati sebuah papan penunjuk arah. Pangeran Evandor menangkap sesuatu yang janggal. Terdapat galian di bawah papan itu. Pangeran Evandor menyentuhnya, tanah itu seperti baru saja di gali. Pria itu pun mencoba memegang papan itu yang ternyata dengan mudah terlepas. Pangeran Evandor terkejut.
“Ada apa ini? Apa mungkin ada yang menyabotase petunjuk arah? Karena itulah kami tidak kunjung sampai ke Pelabuhan!” Pangeran Evandor mulai merasakan firasat buruk. Pangeran Evandor Kembali ke kereta kudanya dengan Langkah lebar. Namun, semua prasangkanya terjawab ketika suara sabetan yang berasal dari belakang kereta kuda terdengar.
SRANK!
“Pa-pangeran!”
BRUK
Sang kusir terjatuh dengan luka di punggungnya., Luka sayatan yang sangat dalam. Darah segar mengalir deras. Para pelayan yang melihat hal itu berteriak histeris.
“KYAAAAA!”
***
Sehari kemudian di Istana Aegis
PRANK!
Sebuah gelas jatuh hingga hancur berkeping-keping. Gelas yang sedang dipakai oleh Darius.
“Ada apa Tuan Darius?” Helios menghampiri panglima perang itu yang sejak tadi diam. Entah mengapa hatinya tidak tenang sejak fajar tiba.
“Apa Tuan Darius sakit?” Pangeran Lucas juga mendekat.
Meski Darius sangat galak dan otoriter. Tapi, Pangeran Lucas tahu jika Tuan Darius adalah orang yang baik. Terbukti dari semua kebijakannya yang selalu memihak rakyat. Pangeran Lucas mengetahuinya ketika ia sedang di pasar. Tuan Darius membagikan makanan dan obat-obatan tanpa berniat mengambil keuntungan. Pangeran Lucas mulai simpati pada pria berambut merah tersebut.
Sementara Darius yang terus diam dan bertanya-tanya dalam hati, pertanda apakah ini? Dari arah lain terdengar Pangeran Jerome berlari dan memanggil namanya.
“Tuan Darius!”
“Ada apa pangeran Jerome?”
“Yang Mulia!”
Pangeran Jerome membuka tangannya yang berisi sebuah sapu tangan. Kain yang biasa Kaisar bawa ke mana-mana itu terdapat noda darah
Tbc.