
Kaisar Alessa terkejut mendapat pelukan yang sangat tiba-tiba dari Darius. Dia sering memeluk panglima perang yang sangat berjasa itu, tapi biasanya respon Darius biasa saja. Tidak berlebihan seperti sekarang. Alessa merasa pelukan ini terlalu berlebihan.
Kaisar Alessa beberapa kali berusaha untuk melepaskan diri, tapi sepertinya Darius ingin berlama-lama menikmati pelukannya. Perlahan-lahan mata indah yang membulat sempurna saking kagetnya itu meredup. Sepertinya Darius membutuhkan semangat.
Maka dengan senang hati Kaisar Alessa mengusap punggung Darius untuk menenangkan sang panglima. Dia pikir Darius sedang memiliki masalah, hingga meluapkan perasaan dengan memeluk dirinya.
"Darius, kau baik-baik saja?"
Darius yang merasakan mendapatkan sambutan dari Kaisar Alessa justru terpaku. Tubuhnya seakan-akan membeku.
Dengan cepat dia melepaskan pelukan dan segera membetulkan kerah bajunya. Dia menunduk agar wajah malunya tidak terlihat. Sungguh yang ia lakukan barusan adalah hal paling bodoh dalam hidupnya. Darius merutuki dirinya sendiri.
"Ampun, maafkan kelancangan hamba, Yang Mulia. Hamba tidak bermaksud tidak sopan dan mengganggu Yang Mulia. Maaf, maafkan hamba."
Darius menunduk lalu berjalan mundur. Tanpa menunggu jawaban dari Kaisar Alessa dia segera pergi meninggalkan perempuan cantik yang sedang menatapnya keheranan.
Persiapan pernikahan Kaisar Alessa terus dilakukan. Istana Aegis disulap menjadi gedung mewah dengan banyak bunga menghiasi dari pintu masuk hingga ke dalam istana.
"Beri jarak yang cukup antar lampu, ini acara pernikahan bukan pasar malam!" seru Darius kepada beberapa orang yang sedang memasang lampu hias.
"Permadani terbaik! Aku sudah memintamu membuat permadani yang belum ada di dunia. Tapi kenapa yang kau buat ini seperti tak asing di mataku?" Darius memindai permadani tebal yang menjadi alas pelaminan.
"Ampun Panglima Darius, permadani ini ditenun oleh ahlinya. Motif sepasang rusa ini baru pertama kali hamba rancang. Jika Anda pernah melihatnya, mungkin karena warna merah ini memang sering dipakai. Hanya saja hamba berani menjamin, perpaduan warna merah dan warna emas ini baru pertama kali ada."
Sekali lagi Darius mengamati motif dua rusa yang seperti sedang berciuman. Darius mendengkus kesal, karena seharusnya bukan sepasang. Ada empat rusa lainnya yang menanti ciuman selanjutnya.
"Kenapa perkara permadani bisa membuatmu sekesal itu, Darius?"
Kaisar Alessa yang sedari tadi mengamati Darius dari kejauhan mendekatinya. Dia tahu Darius tidak ingin mengecewakan di hari bahagianya. Tapi memarahi tukang permadani, bukan tabiat Darius.
"Maaf Yang Mulia, hamba tidak tahu Anda juga berada di sini. Saya hanya ingin mempersembahkan yang terbaik untuk Yang Mulia. Maaf, di belakang sepertinya masih ada yang harus saya periksa. Permisi."
Darius segera berlalu. Lagi-lagi Kaisar Alessa dibuat heran oleh sikap Darius.
Karena penasaran Sang Kaisar mengikuti langkah panjang panglimanya.
"Acara bahkan belum dimulai, kenapa bunga lily ini sudah mulai layu?" cetus Darius. Beberapa orang yang sedang merangkai bunga di pintu masuk tampak ketakutan.
"Siapa yang bertanggungjawab? Berani-beraninya membawa bunga layu ke aula."
"Maaf Panglima Darius, kami akan segera menggantinya."
Kaisar Alessa menggeleng-gelengkan kepalanya. Entah kenapa sekarang semua nampak salah di mata Darius.
"Darius!"
Kaisar Alessa hendak menegur Darius. Tapi sebelum menyelesaikan kalimatnya, Darius buru-buru pergi menuju area perjamuan makan.
"Kalian tahu warna kuning emas adalah warna kesukaan Yang Mulia Alessa, tapi kenapa aku tak menemukan warna itu di meja makan? Seperti permintaan Yang Mulia, warna emas adalah simbol simbol matahari dan warna emas ini melambangkan kejayaan, keagungan, kemegahan, serta kesucian."
"Beraninya kalian mengabaikan perintah Yang Mulia Kaisar!" hardik Darius sambil menggebrak meja.
Koki istana tergopoh-gopoh datang membawa setumpuk serbet berwarna kuning emas. Mata Darius terbelalak lebar. Sungguh jika tak melihat dari dekat, serbet itu terlihat seperti sapu tangan mewah yang menjadi buah tangan bagi tamu undangan.
"Hamba akan memasangnya segera, Tuan Panglima. Maafkan kecerobohan hamba."
Melihat tumpukan serbet bersulam benang emas itu, Darius lega sekaligus malu. Tentu saja rasa malu itu ditahannya. Malu karena kepala koki ternyata tak ceroboh seperti dugaannya.
Bahkan kepala koki istana merancang serbet itu dengan sangat detil. Seperti motif karpet, pada permukaan serbet juga terpampang sketsa sepasang angsa sedang beradu paruh.
Diam-diam sepasang mata turut melihat kejadian demi kejadian itu. Helios terus memperhatikan kemarahan Darius yang tak seperti biasanya, dan dia tidak suka melihat tingkah Darius yang selalu berusaha menghindari Kaisar Alessa.
"Beginilah kalau wajah dan mata tak bisa bekerjasama," sindir Helios.
"Pergilah, jangan menggangguku," usir Darius begitu melihat Helios mendekatinya. Dia benar-benar sedang tak ingin bicara dengan siapa pun.
"Wajah Anda mungkin terlihat biasa-biasa saja. Anda sangat bersemangat karena baktimu kepada Kaisar. Hanya orang bermata jeli sepertiku yang bisa melihat mata itu sedang dibalut kesedihan mendalam."
Helios memang tak bisa menegur Darius secara langsung. Bagaimana pun dia tetap menghormati panglima perang Kerajaan Aegis terbaik itu.
"Semakin dihindari, ia semakin menjerat." Kali ini Helios seolah berbicara pada dirinya sendiri. Tapi Darius paham Helios sedang menyindirnya.
Darius kesal karena merasa Helios sok tahu dengan urusannya. Helios tidak mengerti betapa malunya Darius saat ini, jika berhadapan langsung dengan Kaisar Alessa. Lagi-lagi Darius mengutuk pelukan memalukan beberapa hari lalu.
"Tahu apa kau tentang perasaan, Tuan Helios?" sungutnya sambil melangkah memasuki halaman di mana beberapa orang sedang menghias taman.
"Jangan dipendam jika tak ingin semakin sakit, Tuan Darius. Kebohongan paling berat adalah kebohongan pada diri sendiri. Yang kulihat sekarang meskipun sandiwara Anda cukup baik, tapi hati Anda tersiksa."
Darius tercenung. Saat hatinya sedang tak menentu seperti ini, kata-kata Helios bagai sebilah pedang yang menusuk ulu hatinya. Perih.
"Aku telah melakukan kebodohan besar, Tuan Helios. Sekarang aku tak punya muka lagi di hadapan Kaisar." Akhirnya Darius membuka diri. Wajahnya menunduk. Dia lalu menceritakan kejadian beberapa hari lalu.
Bahwa pelukan itu tak seharusnya terjadi, tapi entah kenapa dia juga tak bisa menahannya.
"Aku sangat mencintai Kaisar. Tak terbersit sedikitpun niat dalam hatiku untuk bersikap tidak sopan. Aku bodoh karena tak bisa menahan diri, bebal karena tak sanggup menahan gelora rasa sayang yang teramat besar ini."
Darius menghela napas panjang, seolah mengumpulkan kekuatan untuk melanjutkan keresahan hatinya.
"Aku mencintainya sejak pertama kali melihatnya. Aku langsung terpesona dengan binar mata biru itu. Bagaimana bisa aku mengatakan bahwa aku sudah menyayanginya jauh sebelum dia mengenal Pangeran Fabian?"
Helios memerhatikan wajah Darius yang semakin sendu. Siapa pun yang melihat Darius saat itu, pasti paham betapa dahsyat gelombang rasa yang dibendungnya selama ini. Helios terkejut saat menyadari seseorang sedang mendekati mereka.
"Benarkah apa yang kau katakan ini?
Tanpa diduga, Kaisar Alessa mendengar semua yang dikatakan Darius.