Hareem of Queen Alessa

Hareem of Queen Alessa
Kegelisahan Ratu Anna



Raja, Darius beserta calon selir Kaisar berjalan memasuki ruangan makan. Di sana telah disediakan segala macam hidangan yang menggugah selera. Tidak hanya itu, selain dari hidangan makanan yang membuat perut keroncongan ternyata mereka juga disuguhi dengan pemandangan yang memanjakan mata. Sekumpulan wanita cantik menari berlenggak lenggok memberikan hiburan bagi siapa saja yang memandang.


Darius terpaku, dirinya langsung menghentikan langkah bersamaan denga para calon selir.


‘Apa maksudnya ini?’


Raja Fabian pun melakukan hal yang sama. Pria itu bahkan tampak sangat terkejut. Di tengah keterkejutannya, sang Ratu Anna segera menghampiri menampilkan wajahnya yang berseri-seri.


“Rajaku, aku menyiapkan semua untuk tamu kita.”


Raja Fabian melihat istrinya dengan wajah penuh tanya. “Apa yang kau lakukan? Untuk apa para penari itu?”


“Tentu saja untuk menghibur mereka. Bukankah mereka tamu kita yang telah datang dari tempat yang jauh? Pasti mereka sangat lelah setelah perjalanan panjang,” jawabnya dengan wajah polos.


Raja Fabian mengurut pelipisnya, tindakan Ratu Anna bukan di waktu yang tepat.


“Maafkan kami Baginda Ratu, kami sedang tidak bersuka cita. Yang Mulia Kaisar … menghilang. Jadi, kami harap untuk tidak menyiapkan hal semacam ini,” sela Helios menjelaskan.


Mendengar penuturan salah satu calon selir membuat sang Ratu terkesiap tidak percaya. Ratu Anna mengeluarkan keahliannya dalam bersandiwara. Bahkan bibirnya sampai bergetar seolah berita itu sangat membuatnya terpukul.


“A-apa? Yang Mulia Kaisar, menghilang? Bagaimana bisa?”


Raja Fabian enggan menjelaskan, membuatnya menjadi merasa bersalah karena lalai menjaga wilayahnya sendiri. Terutama gagal menjaga wanita yang masih ada di hatinya. Sungguh naif.


Para Calon selir sendiri menundukkan kepala. Mereka jadi teringat akan keadaan sebenarnya. Jika mengingat hal tersebut membuat nafsu makan mereka menghilang. Bagaimana bisa mereka makan enak, sedangkan keberadaan sang Kaisar tidak diketahui.


Ratu Anna diam-diam mengamati ekspresi suaminya yang terlihat murung. Amarahnya mendadak memuncak, ia semakin yakin jika suaminya belum bisa merelakan wanita yang sangat dibencinya itu. ‘Tidakkah kau melihat


aku di depanmu, Rajaku? Kau malah sibuk bersedih hati … untuk apa?’


Karena tidak kunjung mendapatkan respon dari para pria, Ratu Anna kembali membangun image baik. Simpati seorang Ratu pada orang lain.


“Maafkan aku, aku sama sekali tidak tahu. Maafkan kelancanganku,” ungkapnya dengan isakan kecil.


“Tidak masalah, Baginda Ratu,” sahut Helios berusaha mewakili Aegis. Pria tampan itu sangat sopan dan terpelajar. Tutur katanya juga lembut, Ratu Anna mengaguminya untuk sesaat.


“Baiklah, aku akan membereskan semuanya.” Ratu Anna menjentikkan jari, “kalian! Segera pergi dari sini!”


Para penari itu pun pergi dengan terburu-buru. Awalnya berharap sebuah pujian, mereka malah diusir sebelum menampilkan kebolehan. Apalagi mereka melihat para tamu adalah pria tampan di atas rata-rata. Sayang sekali tidak berhasil menarik perhatian mereka.


Setelah kepergian para penari, sang Ratu kembali mengucapkan kata maaf. “Sekali lagi aku meminta maaf.”


“Anda tidak perlu merasa bersalah, lagipula hamba telah meratakan benteng barat Prussia.” Darius menyeringai. Entah mengapa dia tidak suka terhadap Ratu Anna yang baginya seperti sedang mencari muka. Ia memang tidak


pernah baik pada wanita lain selain pada Yang Mulia Kaisar Alessa.


“A-apa?” Ratu membeliakkan mata mendengar ucapan Darius.


Darius tidak hanya menghentak sang Ratu, para calon selir sampai menoleh secara bersamaan. Terutama Helios, ia melotot dan mengoyangkan kepalanya memberikan isyarat pada Darius. Pria itu malah melibat tangannya


tidak peduli.


Raja Fabian mengalihkan perhatian Ratu Anna. “Sebaiknya kita makan dulu, ayo Ratuku.”


“Tapi, barusan itu ….”


Raja Fabian membawa sang Ratu untuk duduk di kursinya. Setelah itu sang Raja mempersilahkan Darius dan para selir untuk bergabung.


“Rajaku, Anda harus menjelaskan apa yang sudah terjadi!” bisik Ratu Anna ketika Raja telah duduk di sisinya.


“Tunggu aku di kamar setelah makan malam,” jawab Raja Fabian agar Ratu Anna berhenti bertanya.


***


“Setelah mereka merusak benteng, Anda membiarkan mereka menginap di sini? Bahkan aku menyiapkan mereka makan malam!” pekik Ratu Anna tidak terima setelah sang Raja menceritakan yang terjadi.


“Semua karena salah paham, Aegis hanya tahu jika Yang Mulia Kaisar ditangkap oleh Prussia. Bahkan menyerang orang mereka. Beruntung mereka mempercayaiku jika Prussia tidak melakukan hal tersebut. Jika tidak, mereka


siap mengerahkan 50.000 pasukan. Peperangan tidak akan terelakkan. Karena itu, aku akan mencari dalang dari semua ini dan melakukan peencarian terhadap Kaisar Alessa. Baik hidup atau mati, jasadnya harus ditemukan!”


Ratu Anna menyimak dengan baik. Hatinya berharap agar Kaisar Alessa benar-benar mati. Tapi, mendengar masalah jasad yang belum ditemukan. Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Perasaan gelisah mulai merayapi dadanya. Dia harus menanyakannya langsung pada Kaisar Louis. Dia tidak akan tenang sampai melihat potongan kepala wanita itu dengan matanya sendiri.


“Lalu … apa yang akan Anda lakukan, Rajaku?”


“Besok, aku akan melakukan pencarian di lokasi kejadian, di mana Kaisar Alessa dan Pangeran Evandor menghilang.”


“Berhati-hatilah di sana, jangan sampai kau terluka.” Ratu Anna memeluk Raja Fabian, menelusupkan wajahnya di dada pria itu. Menyembunyikan ekspresi mengerikan.


“Terima kasih, Ratuku. Kau selalu mendukung semua keputusanku.” Raja membalas pelukan tersebut.


Ratu Anna merenggangkan pelukan tanpa melepasnya. Mendongak dan menatap suaminya. “Karena aku mencintaimu, Fabian.”


Pria itu terdiam ketika Ratu Anna mengecup bibirnya. Hanya senyuman samar yang bisa dia berikan.


***


Sementara itu di gubuk di dalam hutan, tempat Pangeran Evandor berada. Luka-lukanya berangsur-angsur pulih. Pria itu memutuskan untuk pergi esok pagi. Dia akan kembali ke Aegis.


“Kau akan pulang, Hans?” tanya Ibu Maria yang selama ini merawatnya.


Pangeran Evandor mengangguk. “Iya, Ibu Maria. Aku harus kembali!”


Ibu Maria tersenyum, saat ini ia sedang menyulam. Wanita itu bangkit dari duduknya dan menyiapkan sesuatu di dalam kamarnya. Tidak lama, dia Kembali dengan sebuah kantung kain. “Bawalah! Di dalamnya ada perbekalan dan juga beberapa obat untuk berjaga-jaga.”


Pangeran Evandor menatap kantung yang disodorkan padanya lalu malihat wajah Ibu Maria. “Anda sangat baik, entah bagaimana aku membalas kebaikan Anda?” ucapnya. Pria itu merasa terharu. Selama ini sudah sangat


merepotkan Ibu Maria. Tapi, di saat ia ingin pergi pun Ibu Maria masih memberikan bantuan.


“Aku hanya mengharapkan keselamatanmu.”


“Hati Anda melebihi hati sang Dewi. Aku akan berdo’a pada dewa agar Anda selalu sehat dan juga Bahagia.”


Ibu Maria kembali tersenyum. Wanita paruh baya itu merentangkan tangannya. Pangeran Evandor pun memeluknya. Merasakan kehangatan yang telah lama tidak ia rasakan. Sesaat kemudian Pangeran Evandor menyadari sesuatu. Wangi wanita paruh baya itu kembali mengingatkannya pada seseorang. Tidak hanya wangi, bahkan paras mereka hampir mirip.


“Kak Hans, mau ke mana?” suara seseorang membuat Pangeran Evandor melepaskan pelukan. Natalie datang dan melihat kantung yang ada di dekat pria itu.


“Hans akan pulang, Natalie,” jawab Ibu Maria.


“Kakak akan pergi? Tidak akan Kembali lagi?” air muka Natalie berubah muram. Terlihat matanya yang berkabut.


“Aku akan menengok kalian di kemudian hari,” ucap Pangeran Evandor setengah yakin. Tapi, dia memang berniat untuk membalas budi pada Ibu Maria suatu saat nanti. Mungkin, saat dia telah resmi menjadi selir Kaisar.


Wajah Natalie tidak berubah, wanita itu malah pergi meninggalkan Pangeran Evandor yang bingung.


'Ada apa dengannya?'


Tbc.