
Dari kejauhan pasukan Prussia terlihat mendekati istana. Para penjaga bersiap membukakan gerbang.
“BAGINDA RAJA, KEMBALI!” seru salah satu penjaga.
Pelayan pribadi Ratu Anna yang bertugas di gerbang depan segera memberitahukan majikannya berita tersebut.
“Yang Mulia, Baginda Raja telah tiba di istana.”
Ratu Anna yang hampir tertidur langsung membuka mata. Ia bangkit dari ranjang dengan terburu-buru. “Siapkan gaun yang indah! Aku harus menyambut suamiku!” perintahnya.
“Baik, Yang Mulia!”
Ratu Anna memakai gaun berwarna biru dengan taburan permata hingga membuatnya menjadi pusat perhatian. Tentu saja perhatian setiap orang akan tertuju pada permata yang berkilauan saat ia melangkahkan kaki. Ratu Anna berjalan dengan anggun hingga tibalah di depan gerbang istana menyambut kedatangan sang Raja.
Rombongan itu kembali tanpa kekurangan satu anggota pun bahkan, terlihat seperti tidak melakukan peperangan. Semuanya tampak rapi dan baik-baik saja.
Melihat hal itu tentu memberikan tanda tanya setelah sebelumnya terdapat kabar jika benteng mereka diserang. Semua terjawab ketika kereta kuda yang tidak asing mengikuti di belakang rombongan Prussia. Ratu Anna
membeliakkan matanya.
‘A-apa yang terjadi. Bukankah itu kereta kuda Aegis?’ batin Ratu. Dia mengeratkan genggaman. Apakah sang Paman gagal mengabulkan permintaanya? Menyingkirkan sang Kaisar.
Ratu Anna menahan kekecewaannya ketika Raja Fabian turun dari kereta kudanya. Wanita itu menampilkan senyum palsu yang sangat natural. Tidak terlihat jika itu hanyalah sebuah kebohongan.
“Rajaku, aku senang melihatmu sampai istana dalam keadaan baik-baik saja,” ucap Ratu Anna dan memeluk sang Raja.
Raja Fabian tidak merespon ketika sang Ratu memeluknya mesra. Perhatiannya teralihkan oleh keberadaan Darius dan para calon selir Kaisar yang berdiri tidak jauh darinya. Raja Fabian melepaskan pelukan itu.
“Baginda, mereka … siapa?” Ratu Anna memperhatikan sekitar mencari keberadaan Kaisar Alessa yang tidak kunjung terlihat. Hanya ada empat orang pria tampan yang tidak pernah ia temui. Ketampanan mereka sejenak
membuatnya terpana.
“Mereka-“
“Saya Darius Adolf, panglima perang Aegis. Dan, mereka semua … calon selir Kaisar Alessa,” potong Darius mampu membuat Ratu Anna tersentak. Tiga dari empat pria itu adalah pria-prianya Kaisar. Sungguh mengejutkan.
“Ca-calon selir?”
Raja Fabian enggan sekali membahas hal itu. Apa lagi masalah hareem Kaisar. Pria itu menoleh dengan tatapan datar pada Darius. Kenapa pula Darius harus memberitahukan status jejeran pria tampan tersebut, hatinya masih
muram dengan hilangnya Kaisar? Tidak perlu di tambah garam lagi agar terasa lebih sakit.
“Ratu, sebaiknya kembali ke kamar. Ada sesuatu yang harus aku urus.”
Ratu Anna tidak puas dengan jawaban sang Raja. “Masalah apa? Kenapa mereka di sini? Lalu … di mana Yang Mulia Kaisar?”
“Untuk sementara mereka akan menginap di sini. Aku akan segera memberitahumu. Pelayan, bawa Ratu ke kamarnya!” Fabian segera pergi bersama para pria Aegis. Sebelum itu, para pria tersebut membungkuk hormat pada sang Ratu.
***
Ratu Anna menugaskan salah satu pelayannya untuk mencari informasi. Tidak lama, informasi terbaru dia dapatkan. Pelayan itu berbisik di telinga sang Ratu. Ratu Anna pun menyunggingkan senyum.
“Ah … Jadi Paman berhasil melenyapkan wanita itu? Kaisar Louis memang yang terbaik! Aku akan memberikannya hadiah sebagai rasa terima kasihku padanya!”
“Hamba turut senang Yang Mulia.”
“Sayang sekali para calon selir itu … mereka semua menjadi duda sebelum menikah. Hahaha … lucu sekali, aku tidak habis pikir. Dia begitu serakah, sudah memiliki banyak calon selir tapi, masih juga menggoda suamiku. Mati
“Bagaimana kalau kita hibur para pria itu dengan sesuatu. Bukankah kita memiliki beberapa wanita yang pandai menari?”
“Ya, Yang Mulia.”
“Siapkan jamuan yang mewah, sertakan para penari sebagai pelipur lara bagi mereka.”
Ratu Anna berniat membuat para pria lupa pada wanita yang dibencinya. Dia tidak tahu jika niatnya itu akan menjadi masalah tersendiri untuknya.
***
Di dalam suatu ruangan beberapa orang pria tampak serius membicarakan sesuatu. Raja Fabian memberikan toleransi atas penyerangan yang di lakukan Darius pada bentengnya hingga memakan banyak nyawa. Semua karena kesalah pahaman. Ini juga menyangkut kelangsungan perdamaian dua negeri yang baik-baik saja. Mereka tidak bermusuhan, jika saja mereka tidak merundingkan penyebab semuanya. Mungkin saja mereka sedang berperang tanpa alasan. Kini prioritas mereka adalah menemukan Kaisar Alessa dan Pangeran Evandor yang juga ikut dalam rombongan.
“Adakah yang tahu tentang perjalanan Yang Mulia ke Prussia selain kalian?” tanya Raja Fabian.
“Tidak ada … hanya kami dan Anda tentunya, Baginda Raja,” jelas Darius.
“Jika begitu siapa yang menyerang Yang Mulia?” Pangeran Lucas mengigit kukunya.
“Kalau aku tahu, aku pasti akan memberitahumu, Pangeran. Berhentilah membuat keadaan semakin memanas. Bukan pertanyaan itu yang kami butuhkan!” Pangeran Jerome sangat gemas dengan salah satu rekannya tersebut.
Pangeran Lucas mengatupkan bibirnya. Dia memilih menunduk dan mendoakan calon istrinya yang cantik jelita. Mereka belum menikah, baru kecupan lembut yang di dapatkannya. Dia tidak rela jika harus kehilangan wanita itu. Padahal, sebelumnya dia sudah membayangkan calon bayi-bayi mereka yang pasti akan sangat lucu. Gagal sudah angan-angan indah itu.
Jerome menggeleng sambil menarik napas ketika mendengar isakan samar dari Pangeran Lucas. “Ya ampun.”
“Aku sudah mengirimkan beberapa orang untuk menjaga lokasi tempat terjadinya penyerangan. Besok pagi kita ke sana!” Raja Fabian memberikan solusi.
“Terima kasih, Baginda Raja.” Helios menyetujui hal tersebut.
Darius diam saja, sejak tadi hatinya tidak tenang. Sebenarnya sejak dirinya memecahkan gelas. Perasaannya tidak menentu. Dia sadar jika hal buruk terjadi pada Yang Mulia Kaisar. Mengingat Pangeran Evandor yang menemani
sang Kaisar. Seharusnya mereka baik-baik saja. Dengan menghilangnya mereka berdua. Darius beranggapan Kaisar tidak sendirian.
‘Aku berharap banyak padamu, Pangeran Evandor.’
Di saat mereka memikirkan rencana yang lain, suara ketukan mengalihkan perhatian mereka semua. Raja Fabian mempersilahkan orang itu masuk. Ternyata orang itu adalah pelayan istana. Pelayannya Ratu Anna.
“Baginda Raja, makan malam telah siap. Ratu menunggu di ruang makan.”
Raja melihat jendela istana yang menampilkan cuaca saat ini. Langit mulai menghitam, menandakan waktu sudah malam. Pria itu mengangguk.
“Baik, aku akan segera ke sana,” ucapnya.
Pelayan itu pun pamit. Raja mengajak para pria itu untuk makan malam bersamanya.
“Kita makan malam, setelah itu kalian bisa beristirahat. Besok akan membutuhkan banyak energi. Tidak ada yang boleh kembali ke istana sebelum mendapatkan petunjuk tentang keberadaan Kaisar.”
Darius kali ini mengangguk mengiyakan rencana sang Raja. Meski sebenarnya enggan untuk bekerja sama dengan orang yang pernah menyakiti orang yang sangat penting dihidupnya. Semoga esok dewa memihak pada mereka.
Tbc.
Bonus buat kalian