
Istana Prussia
Keesokan harinya Istana Prussia menjadi gempar akibat insiden penyerangan terhadap Kaisar beserta calon selirnya, kepulangan rombongan Aegis pun tertunda. Ratu Anna berjalan setengah berlari dengan raut wajah khawatir.
“Yang Mulia Kaisar, Anda baik-baik saja?”
Kaisar Alessa menampakkan raut datar. Bukannya menyambut kedatangan Ratu Anna, wanita itu malah menanyakan hal lain.
“Di mana Raja Fabian?”
“Eh? Raja Fabian? Maksudnya ada apa Yang Mulia?”
“Aku ingin bertemu dengan Raja Fabian, tolong Ratu panggilkan beliau,” tekan Kaisar Alessa serius.
Ratu Anna tidak mengerti maksud Kaisar, ada apa memangnya dengan Kaisar? Sementara wanita itu terlihat bingung, kehadirang orang bersangkutan pun tiba. Kaisar Alessa menatapnya tajam.
“Mari ikut saya Yang Mulia Kaisar,” Raja Fabian mengajak Kaisar untuk berbicara di tempat lain.
Ratu Anna menangkap sinyal berbahaya. Tidak akan dia biarkan suaminya berduaan saja dengan sang mantan. Ratu Anna menggoyang tangannya menahan pria itu pergi. “Rajaku, ada apa?”
“Ada yang harus aku bicarakan dengan Kaisar,” jelas sang Raja.
“Ke-kenapa tidak dibicarakan di sini saja?”
“Hal ini terlalu berbahaya dibicarakan dengan banyak orang.”
“Aku ikut!”
“Ratu Anna, tolong mengerti. Ini bukan hal yang layak untuk diketahui selain aku dan korban.”
“Kalau begitu hamba bisa ikut serta, karena hamba termasuk korban” sahut Evandor. Pria itu pun tidak ingin memberikan celah pada Raja Fabian untuk mendekati calon istrinya.
Raja Fabian mengatupkan bibirnya rapat, tangannya mengepal. Ia ingin sekali memukul wajah pria tampan yang mengaku sebagai suami Kaisar Alessa, padahal mereka belum melangsungkan pernikahan.
“Aku hanya akan berbicara dengan petinggi Aegis, karena ini menyangkut Kekaisaran.”
“A-“ Pangeran Evandor masih ingin mendesak. Namun, Kaisar Alessa menjeda niat calon selirnya.
“Pangeran Evandor, aku yang akan mengurusnya. Jadi, kau tenang saja.”
“Kaisar, hamba juga berkaitan dengan masalah ini.”
“Akan kupastikan kita pulang hari ini juga, Ok… sayang?” Kaisar mengusap pipi Pangeran Evandor lembut. Bahkan dia berkata sambil tersenyum menenangkan. Berbanding terbalik saat menatap ke arah Raja Fabian.
“Baiklah, hamba akan menunggu, Yang Mulia….”
Kaisar Alessa mengangguk kemudian pergi bersama sang Raja.
***
Ruang kerja Raja Fabian.
Pintu tertutup dan tinggal mereka lah berdua di ruangan itu. Kaisar langsung membuka pembicaraan tanpa basa-basi.
“Aku tahu itu ulahmu, Raja Fabian….” Kaisar memutar tubuhnya agar bisa melihat wajah Raja Fabian, memberikannya tatapan intimidasi.
Bukannya merasa bersalah atau ketakutan, Raja Fabian malah tersenyum manis. Dengan berani dia memanggil Kaisar tanpa panggilan kehormatan. “Aku apa maksudmu Alessa?”
“Raja Fabian, ada apa denganmu?”
“Kenapa kau tidak tanyakan pada dirimu sendiri? Bagaimana bisa kau dengan tenang memberikan aku undangan sialan itu?”
Kaisar Alessa sempat terkejut dengan perkataan Raja Fabian. Namun, kemudian dia tertawa.
“Hahaha, kau sungguh lucu Raja Fabian. Apa kau lupa? Kau melakukan hal sama 5 tahun yang lalu?”
“Aku menjanjikanmu posisi selir, Alessa!”
“Kau pikir aku sudi? Aku bisa menjadi seorang Kaisar, gelar selir tidak berharga untukku!”
Perkataan Kaisar Alessa langsung membuat sang Raja tidak berkutik. dia menghela napas panjang. “Maaf… maafkan aku, sungguh semua demi kerajaan Prussia. Aku tidak benar-benar ingin melakukan pernikahan ini.”
“Aku tidak peduli, aku hanya ingin tahu apa maksudmu mengirimkan pembunuh bayaran padaku?”
“Kau sadar, dengan kau melukai calon selirku, berarti kau ingin Aegis meratakan Prussia!”
“Dia hanya seorang calon selir, dia tidak sebegitu berharga untukmu ‘kan?”
“Dia lebih berharga dari pada dirimu yang selalu melemparkan kesalahan pada orang lain. Entah mengapa aku dulu begitu bodoh karena telah mencintaimu.”
“Kau masih mencintaiku Alessa?”
“Dengar ini baik-baik, aku tidak mencintaimu lagi!”
Raja Fabian menggeleng dengan senyum getir. “Aku tahu kau masih mencintaiku, buktinya kau pingsan saat
pertama kali kita bertemu. Kau sakit ketika melihatku, meski aku tidak mengharapkan itu terjadi padamu. Rasa benci sangat tipis dengan rasa cinta,” Raja Fabian memegang tangan Kaisar Alessa dengan erat .
“Lepaskan aku Fabian!”
“Aku tidak akan melepaskanmu lagi, Alessa.”
“Lalu, apa yang bisa kau lakukan? Apa kau bisa menyingkirkan Ratumu dan memberikan takhta itu padaku?” Kaisar Alessa menantang sang Raja. Sebuah tantangan yang nyatanya tidak akan sanggup Raja Fabian kabulkan. Pria itu
bergeming. Itu membuat Kaisar Alessa semakin membenci Raja Fabian. Pria serakah yang tidak tahu diri. Wanita itu pun menepis tangan Raja Fabian dengan kasar. Dia melenggang pergi menuju pintu keluar.
“Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Aku akan meminta konpensasi atas kerugian yang aku terima. Berdo’alah agar aku tidak mencetuskan sebuah perang,” kecamnya.
Kaisar pun meninggalkan ruangan itu sementara sang Raja sendirian dalam pikiran yang tidak menentu. Bukan masalah perang yang dia pikirkan. tapi, Kaisar Alessa menantangnya agar melepaskan Ratu. Pria itu meremas rambutnya kasar.
“Bagaimana caranya aku menyinhgkirkan Ratu?”
Di tengah kegamangan hati sang Raja terdapat seseorang di balik dinding yang menggigit kuku jarinya hingga berdarah. Orang itu adalah Ratu Anna. Dia mendengar semua pembicaraan Kaisar Alessa dengan Raja Fabian.
“Aku tahu kau wanita murahan, beraninya kau meminta Rajaku untuk menyingkirkanku. Wanita sundal! Aku tidak akan membiarkannya!” Ratu Anna segera pergi dengan derai air mata tertahan. Dia berjalan menuju kamarnya
dengan beberapa dayang kepercayaannya. Dia menuliskan sebuah surat yang dengan cepat ia buat.
“Kirimkan ini ke Kaisaran Diocletianus, pastikan suratnya sampai ke tangan pamanku. Kaisar Louis!” perintahnya pada seorang dayang yang sudah sejak lama mengikutinya. Dayang yang dia bawa sendiri dari istananya semasa
belum menikahi Raja Fabian.
Dayang tersebut menerima surat itu dan membungkut hormat. “Baik Yang Mulia Ratu!”
***
“Kita pulang sekarang juga!” Kaisar berkata secara tiba-tiba ketika telah sampai ke kamar tamu kerajaan Prussia. Pangeran Evandor bangkit dari duduknya dan langsung menghampiri sang Kaisar.
“Apa masalahnya sudah selesai?”
“Ya, semua sudah jelas. Aku tahu siapa yang ingin membunuhmu,” ucap Kaisar membuat Pangeran Evandor melebarkan mata.
“Siapa?” tanya sang Pangeran penasaran.
“Lebih baik kita tidak membahasnya di sini,” jawabnya. Kaisar merasa tidak tenang hingga lebih baik mereka Kembali ke Aegis dengan segera.
Pangeran Evandor seolah mengerti dan langsung mengambil alih dalam memerintah para dayang dan pengawal. Sebenarnya pria itu sudah bisa menebak siapa yang ingin mencelakakan dirinya. Hanya saja, dia tidak memiliki
bukti.
“Bereskan semua barang-barang dan, siapkan kereta kuda secepatnya!” perintah Pangeran Evandor. Para rombongan Aegis pun tampak sibuk.
Saat mereka sedang menyiapkan keberangkatan. Raja Fabian datang, pria itu memberikan ekspresi yang aneh. Lebih terlihat muram.
“Anda akan pulang sekarang Yang Mulia?”
Pria itu bertanya saat Kaisar membelakanginya. Kaisar Alessa memejamkan mata, dengan enggan menoleh. Dalam hatinya ia ingin memaki. ‘Kau secara terang-terangan menyerang orangku, apa kau ingin aku terus di sini? Gila!’
“Acara pernikahanku akan segera digelar. Banyak ritual yang harus kami lakukan. Kami akan menunggu kedatangan kalian. Raja dan Ratu Prussia,” Kaisar Alessa tersenyum ramah menutupi kejengkelannya. Sedangkan Raja Fabian cukup terkejut dengan perkataan Kaisar yang menyebutkan Ratu Anna yang ternyata telah berada di sisi pria itu.
“Selamat jalan, Kaisar.” Ratu Anna membalas senyuman itu dengan seringai.
Tbc.