
Istana Aegis
Sudah lebih dari 5 hari Kaisar Alessa beserta rombongan belum juga kembali dari kerajaan Prussia. Awalnya semua terlihat baik-baik saja. Namun, keadaan berubah sejak sebuah sapu tangan bernoda darah sampai ke tangan Pangeran Jerome. Pria itu mendapatkan benda tersebut dari orang yang dikenalnya. Seorang pengembara yang kebetulan melewati area bekas pembantaian terjadi. Orang itu segera berlari dan pergi menuju Aegis untuk melaporkan haltersebut. Sehelai kain berbahan sutra menarik perhatiannya, akhirnya diamembawa benda itu sebagai bukti.
Pangeran Jerome memandang saputangan itu dan menelisiknya dengan seksama ke setiap bagian. Terdapat inisial pengenal pada kain itu yang bertuliskan huruf A. Tangan Pangeran Jerome mulai gemetaran.
“Kau yakin dengan apa yang kau lihat? Aku tidak akan pernah melepaskanmu jika kau berbicara omong kosong!” kecamnya seraya menarik kerah orang tersebut. Orang itu menggeleng cepat dengan keringat dingin yang menguar dari pelipisnya.
“Hamba tidak berbohong Pangeran, hamba melihat sendiri banyak pelayan istana dan pengawal yang mati di sana.”
“Lalu, apa kau melihat Yang Mulia Kaisar?”
“Ti-tidak, hanya mereka yang hamba lihat.”
Pangeran Jerome melepaskan orang itu kemudian pergi menuju Istana Aegis. Dia harus memberitahukan ini kepada Darius.
Sesampainya di Istana Pangeran Jerome mencari keberadaan Darius yang kebetulan sedang berada di ruangan makan bersama calon selir lainnya. Napasnya terengah-rengah karena telah berlari cukup jauh. Tidak hanya
itu, ternyata di ruang makan sendiri telah terjadi sesuatu. Yaitu, pecahnya gelas yang dipakai oleh Darius.
PRANK!
Jerome sempat terdiam sesaat sebelum memanggil Darius.
“Tuan Darius!”
Tuan Darius dan para calon selir melihat ke arahnya.
“Ada apa Pangeran Jerome?” tanya Darius.
Dengan tarikan napas, Pangeran Jerome meneruskan kata.
“Yang Mulia!” dia mengulurkan tangannya yang terdapat sehelai sapu tangan yang Darius kenal. Pria itu mendekat dan mengambilnya. Matanya melebar Ketika menangkap noda darah di kain itu.
“Di mana kau menemukannya? Di mana Yang Mulia?” Darius bertanya dengan bibir bergetar.
***
Pelabuhan Prussia.
Kaburnya Kaisar Alessa ternyata tidak berjalan mulus. Karena di Pelabuhan, para bandit sudah memenuhi tempat itu. Kaisar Alessa terpaksa bersembunyi di balik perahu yang masih di tepi pantai.
“Segigih itu kau ingin membunuhku Fabian!” Kaisar Alessa semakin meradang. Tidak sabar rasanya untuk Kembali ke Aegis. “Bagaimana caranya aku bisa keluar dari sini?” monolognya terus mengamati.
Kaisar sibuk melihat ke arah depan tanpa memperhatikan situasi di belakangnya. Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya. Seketika Kaisar Alessa membeku karena tepukan tersebut. Bukan apa, Kaisar Alessa sama sekali
tidak menyadari keberadaan sosok yang ada di belakangnya saat ini. Bahkan, Langkah kakinya sama sekali tidak terdengar oleh wanita itu. Kaisar Alessa mengeratkan genggaman pada pedang dan memasang kuda-kuda sebelum berbalik untuk menyerang orang di belakangnya.
Dengan secepat mungkin Kaisar memutar tubuhnya dan menghunuskan pedang tepat di leher orang itu. Hal yang sama pun berlaku sebaliknya. Pedang orang itu tepat berada di leher sang Kaisar. Mereka pun saling melempar pandangan. Bergeming dengan keadaan saling mengancam, tidak ada yang mau mengalah. Mereka berdua sama hebatnya. Orang yang menghunuskan pedang pada sang Kaisar adalah Duke Tristan Reinhart. Panglima perang Kekaisaran Diocletianus.
Pria itu memindai Kaisar Alessa dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Turunkan pedangmu, cantik! aku tidak akan melukaimu asalkan kau mau menurut.”
Kaisar Alessa bukannya mematuhi permintaan orang itu. Tapi, malah mendekatkan pedangnya hingga menggores leher Duke Tristan. Darah segar pun keluar dari goresan tersebut.
“Sebaiknya kau jangan meremehkan aku, atau kau akan menyesal!” ancam Kaisar tidak main-main.
Mendapatkan perlawanan seperti itu dari seorang wanita cantik yang belum pernah dia temui membuat sang Duke merasa tertantang. Apalagi lawannya secantik ini. Kecantikan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
“Apa wanita Aegis selalu semenarik ini? Ku pikir hanya kamu yang paling bersinar.”
“Menjauh kau dariku!” Kaisar Alessa meludahi Duke Tristan hingga mengenai wajahnya.
Pria itu tidak termakan oleh provokasi Kaisar Alessa. Sang Duke malah memanggil para bandit yang merupakan pengawal kekaisaran. Kaisar Alessa terkejut bukan main.
“Pengawal!”
“Sialan!”
Kaisar tidak tinggal diam dengan melakukan perlawanan meski di kepung. Dia pun gagal menebas kepala sang Duke karena salah satu pengawal mencekal tangannya. Jumlah mereka terlalu banyak untuk dihadapi oleh sang Kaisar. Mungkin, semua itu tidak berlaku jika ada Darius di sisinya. Saat itu juga Kaisar Alessa teringat sosok pengawal yang selalu ada di sisinya. Batinnya memanggil Darius walau dia tahu tidak akan pernah terdengar oleh pria itu.
‘DARIUS!’
***
Kaisar Alessa berhasil di lumpuhkan dengan dibuat pingsan. Wanita itu mendapatkan pukulan di tengkuknya hingga tidak sadarkan diri. Tubuh tidak berdaya itu di bopong masuk ke dalam kereta kuda. “Bawa wanita itu ke mansionku!”
“Ke mansion Anda Tuan?”
“Ya, memangnya kenapa?”
“Bukankah Kaisar meminta kita membawa Kaisar Aegis ke Istana Kekaisaran?”
“Maksudmu? Bukankah sang Kaisar telah jatuh ke jurang?” yang Duke Tristan maksud adalah Pangeran Evandor yang terjatuh dari tebing ketika terus melawan ketika akan ditangkap.
Pengawal itu menggeleng. “Tidak Tuan! Kaisar Aegis adalah dia. Wanita itu adalah Kaisar kekaisaran Aegis.”
Duke Tristan bergeming. Dia baru tahu akan hal itu, bahka Kaisar Aegis adalah seorang wanita. Wanita yang sangat cantik itu akan berakhir di tiang gantungan. Pria itu menatap tidak percaya pengawal yang memberitahunya. Duke Tristan melihat sekeliling dan mulai bertanya.
“Siapa yang tahu jika Kaisar Aegis itu wanita?”
“Kaisar Louis menitipkan surat perintah yang secara tidak sengaja hamba baca. Surat ini untuk Tuan Duke, maaf hamba telah lancang.”
“Jadi, hanya kamu yang mengetahui hal itu?”
“Hamba sempat memberitahu bahwa wanita itu sangat penting untuk ditangkap.”
“Tapi, kamu belum memberitahukan jika dia adalah Kaisar?”
Pengawal itu menggeleng pelan, beberapa detik kemudian kepala pengawal itu terlepas dari tubuhnya. Sang Duke memenggalnya ketika tidak ada seorangpun di sana sebagai saksi.
ZRASHHHH!!!
Darah segar memucrat dari tubuh tanpa kepala, mengenai pakaian sang Duke. Pria itu menyeringai mengerikan.
“Sebaiknya tidak ada yang tahu,” ucapnya seraya memasukkan pedang pada sarungnya.
Duke Tristan pun akhirnya membawa Kaisar Alessa ke Mansionnya dan memerintahkan para pengawal istana kekaisaran kembali memberikan kabar jika misi berhasil. Namun, jasad para korban tidak ditemukan karena terjatuh
ke jurang.
Entah apa yang ada di dalam kepala Duke Tristan. Selama perjalanan terus membelai wajah sang Kaisar.
“Cantik sekali … apakah kau jelmaan sang Dewi? Aku tidak akan membiarkanmu terluka. Tidak akan pernah.”
Duke Tristan tidak memperdulikan perintah Kaisarnya sendiri karena terpesona oleh kecantikan mematikan Kaisar Alessa.
Tbc.