Hareem of Queen Alessa

Hareem of Queen Alessa
Ada yang menyelinap!



Kekaisaran Aegis


Kaisar Alessa menaiki kereta kuda diiringi beberapa dayangnya. Wanita itu berniat untuk pergi ke Kerajaan Prussia hari ini. Sudah bisa ditebak apa tujuan pemimpin Aegis tersebut, melempar undangan ke wajah mantan kekasihnya.


“Kaisar, apa sebaiknya hamba menemani Anda?” Darius menahan pintu kereta yang hendak di tutup.


Melihat orang kepercayaannya yang tampak khawatir membuat Kaisar Alessa mengulas senyum. “Kamu harus berada di istana dan memantau para calon selir,” terangnya.


“Tapi-”


“Darius….”


Kaisar Alessa menatap Darius dengan raut serius. Pria itu pun akhirnya menyerah. Dia kemudian menutup pintu kereta.


“Hati-hati di jalan Yang Mulia,” pesannya.


“Terima kasih, aku akan kembali dalam dua hari.”


Darius mengangguk, tidak lama kereta itu bergerak menjauhi pekarangan Istana. Dua kereta kuda berjalan beriringan meninggalkan Aegis. Kereta yang berada di depan dinaiki oleh sang Kaisar, sedangkan kereta di belakang dinaiki oleh para dayang.


Selama perjalanan menuju Kerajaan Prussia, Kaisar Alessa memilih memejamkan mata. Akhir-akhir ini dia kurang tidur karena padatnya tugas sebagai pemimpin Aegis. Semakin tinggi takhta seseorang akan membuatnya memiliki


tanggung jawab yang lebih besar. Kini wanita itu harus mengemban dan menjalankan pemerintahan sebaik mungkin. Karena banyak nyawa yang bergantung padanya. Para rakyat yang menaruh harapan besar pada dirinya.


Sementara itu, saat Kaisar Alessa mulai terlelap terdapat pergerakan dari bawah kursi kereta yang berseberangan dengan Kaisar duduki. Perlu diketahui jika ada sebuah ruang kecil di bawah kursi tersebut yang bisa memuat seorang dewasa dengan cara melipat kakinya dalam keadaan tidur menyamping. Benar saja, dari kursi itu keluar sosok yang tidak disangka-sangka. Orang itu adalah Pangeran Evandor Daryan. Calon selir yang dijauhi oleh Kaisar.


Pria itu nekat menyelinap ke dalam kereta kuda Kaisar karena ia ingin memohon maaf dan meminta agar Kaisar tidak mengabaikannya lagi. Hatinya tidak tenang dan terus dihantui rasa bersalah yang semakin besar pada sang


Kaisar. Apalagi dengan Kaisar yang mengirimkannya pelayan yang sempat dia goda. Sebuah sikap sarkasme yang begitu menyakiti harga dirinya juga membuatnya semakin tidak berharga.


Pangeran Evandor sebisa mungkin tidak bersuara ketika keluar dari persembunyiannya dan memilih diam untuk memandang calon istrinya. Wanita cantik jelmaan sang dewi Yunani.


Dia akan menikmati waktunya yang mungkin tidak akan terulang lagi. Evandor kini menyadari jika dia telah menyia-nyiakan kepercayaan sang Kaisar. Penyesalan memang selalu datang belakangan.


***


BRUAK!


Benturan keras terjadi antara roda kereta dengan batu jalanan yang lumayan besar. Kereta tersebut pun terguncang hingga Kaisar tersentak terbangun dari tidurnya. Tidak hanya itu, karena benturannya cukup keras membuat Kaisar sedikit terhuyung ke depan. Secara refleck Pangeran Evandor menangkap tubuh wanita tersebut. Kaisar masih tidak menyadari karena baru terjaga hingga kemudian dia membeliakkan mata saat pandangannya menangkap sosok yang tidak asing untuknya.


“Pangeran?” dengan wajah terkejut wanita itu meyakinkan apa yang ia lihat. Perhatiannya pun terjatuh pada tangan Pangeran Evandor yang sedang menopang pinggangnya. Kaisar Alessa langsung menjauh dan kembali ke tempatnya semula. Suasana menjadi tidak nyaman, Pangeran Evandor sendiri merasa gugup seperti ketahuan sedang mencuri sesuatu, wajahnya pucat karena kini Kaisar mengetahui keberadaan dirinya.


“Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah aku sudah bilang untuk menjauh dariku?!” sebuah penolakan tegas dilontarkan. Pangeran Evandor hanya bisa memalingkan muka.


Pria itu meremas kedua tangannya yang dingin, seharusnya dia bisa mengutarakan niat awal yang sejak tadi dirapalkan sepanjang perjalanan.


“Kau tentu tahu bukan itu jawaban dari pertanyaanku!”


“Hamba… hamba….” Mengapa sulit sekali untuk mengungkapkan maksud hatinya? Tenggorokan pria itu mendadak kering.


Kaisar mendengus kesal, wanita itu melipat tangannya sambil melihat ke arah jendela. Mereka sudah cukup jauh dari Aegis. Sudah hampir di perbatasan negeri. Kaisar menatap sekilas sang Pangeran. Ada niatan untuk menurunkan pria itu di tengah jalan. Namun, Kaisar mengurungkannya. Masalahnya, mereka sedang ada di hamparan gurun pasir sepanjang mata memandang. Meski Kaisar mengutuk calon selirnya tersebut, dia belum terlalu tega untuk membiarkan pria itu mati karena kepanasan dan juga kehausan.


Kaisar pun menghentikan keretanya. Pangeran Evandor sontak ketar-ketir. Apakah dia akan dilempar ke luar sana?


“Sebaiknya kau pindah ke belakang, di sana ada para dayang. Bukankah lebih menyenangkan ada di sana?”


Ucapan sang Kaisar membuat Pangeran Evandor terpaku. Rahangnya mengeras dengan lidah yang hampir dia gigit karena kesal. Dia kecewa dan merutuki sikapnya di masa itu. Dia sudah tidak tahan. Pangeran Evandor pun mengambil belati yang selalu dibawanya sebagai senjata untuk membela diri. Tapi, kali ini belati itu digunakan untuk menyakiti dirinya sendiri. Pria itu secara sadar menghunuskan ujung belati tajam itu ke lehernya.


Kaisar Alessa bergeming dengan sikap calon selirnya. Meski dalam hati dia sedikit terkejut, dia tidak mengambil tindakan apa pun, hanya mengamati dengan seksama.


‘Apa maunya pria ini?’


“Kaisar, hamba tahu akan kesalahan hamba yang begitu besar. Meski awalnya hamba bersyukur karena tidak berakhir di tiang gantungan atau dari algojo yang siap menebas kepala dari tubuh hamba. Tapi, ternyata tidak lebih


baik dari itu semua. Anda menghindari hamba tidak ubahnya menghindri serangga. Sikap Anda lebih menyakitkan dan dapat membuat hamba mati secara perlahan.”


Kini Kaisar Alessa tahu arah pembicaraan Pangeran. Kaisar Alessa tersenyum samar, dia belum lama memberikan hukuman pada pria tersebut. Namun, Pria itu sudah menyerah. Terlalu dini untuknya jika memaafkan pria yang bisa


dibilang mata keranjang. Tentu saja, Kaisar tidak akan mudah mempercayai orang itu, atau mungkin tidak akan pernah bisa.


“Lalu apa maumu?” tantang Kaisar. Dia mulai jengah dan ingin masalah ini cepat selesai.


Ditanya seperti itu membuat Pangeran Evandor bingung sendiri. Apa yang diinginkannya? Jika bilang ingin agar Kaisar seperti semula terhadapnya apa itu pantas? Sedangkan semuah maaf sudah merupakan anugerah untuknya. Masih layakkan dia berbuat tamak?


“Hamba… hanya ingin Anda memaafkan hamba. Hamba akan melakukan apa pun untuk Yang Mulia. Hamba mohon jangan menghindari hamba lagi,” Pangeran Evandor memberanikan diri menatap sang Kaisar dengan bersimpuh di hadapannya.


Kaisar Alessa tertawa, dia merasa lucu dengan makhluk yang ada dihadapannya ini. Setelah hilang baru mereka sibuk mencari dan menyesali diri. Apa memang ini sifat alami semua pria?


“Aku pikir kau tidak sadar akan posisimu Pangeran. Kau kira, aku akan begitu saja memaafkan orang yang telah menusukku dari belakang? Meski sebenarnya, kau sama sekali tidak berarti bagiku. Kamu tidak cukup berarti untuk


mendapatkan maafku!”


Pangeran Evandor mengatupkan bibirnya rapat dengan kepalanya yang menunduk dalam. Dia bukan siapa-siapa tanpa gelar selir di mata Kaisar. Dia bukan apa-apa.


Pangeran Evandor mengangguk. “Hamba memang tidak berharga, tidak apa-apa Yang Mulia. Manfaatkan hamba sampai Yang Mulia sudi memberikan maaf pada hamba.”


Tbc.