Hareem of Queen Alessa

Hareem of Queen Alessa
Akhir hidup Yudas



Ada semangat menggelora yang menyertai perjalanan Kaisar Alessa menuju tanah tumpah darahnya. Berada di tengah-tengah orang yang mendukung dan mencintainya, wanita berambut emas itu tak gentar dengan apa pun yang akan ia temui di Aegis nanti.


Saat ini dia sangat siap menghabisi seseorang yang menjadi sumber kekacauan selama ini. Kakak berhati dingin yang tega menghabisi ayah kandung mereka harus segera menerima hukuman. Utang nyawa harus dibalas dengan nyawa.


Wanita itu menatap lurus ke depan tanpa surut sedikit pun. Sejenak dia teringat tatapan Duke Tristan sebelum meregang nyawa. Kaisar memejamkan matanya sebentar, dalam hati ia mendoakan agar para Dewa mengampuni dosa Duke Tristan. Bahkan orang sejahat Duke Tristan yang tega menyekapnya, masih bisa berbuat baik di akhir hidupnya.


Rombongan Kaisar Alessa akhirnya tiba di Aegis. Suasana di istana porak poranda. Kaisar bisa membayangkan sehebat apa pertempuran yang terjadi di tempat ini. Banyak kepala bergelimpangan di sepanjang jalan masuk istana. Tiang-tiang roboh dan menutupi jalan, bahkan masih ada kepulan asap tipis di gedung belakang istana.


"Yang Mulia, senang sekali melihat Anda masih hidup." Pangeran Evandor segera menyambut kedatangan Kaisar dengan mata berbinar. Pangeran Jerome tak mau kalah, dia membungkukkan badan dan langsung mencium punggung tangan perempuan yang dikasihinya.


"Aku pun senang, ternyata kalian semua masih setia menungguku. Sepertinya kalian sudah menyelesaikan tugas dengan baik. Meskipun istanaku berantakan, setidaknya telah terbayar dengan banyaknya kepala yang aku lihat di luar," seloroh Kiasar Alessa bangga.


Mendapatkan pujian itu membuat Pangeran Evandor tersipu malu. Padahal ucapan sang Kaisar tidak hanya tertuju padanya. Tapi, bagaimana pun juga itu sudah membuatnya senang. Apakah kali ini Kaisar telah membuka hatinya untuk Pangeran Evandor?


Di saat pria itu larut akan romansa yang memenuhi dada, suara seseorang terdengar mengalihkan perhatian sang Kaisar.


"Alessa, anakku!"


Sosok wanita paruh baya yang dikenalnya tiba-tiba berlari dan langsung memeluk Kaisar Alessa.


"Ibu." Alessa sempat terhenyak sebelum menyambut pelukan hangat ibunda. "Demi Dewa, akhirnya aku bisa melihat Ibu lagi. Apakah ibu baik-baik saja? Apakah mereka melukai Ibu."


Alessa memindai tubuh ibunya, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Setelah itu menatap wajah wanita yang sangat dikasihinya. Sungguh, kerinduannya begitu mendalam.


"Tidak, Nak. Mereka tidak akan berani menyentuh ujung rambut ibu meski cuma sehelai. Pangeran Evandor sangat berhati-hati menjaga Ibu."


Yang disebut namanya menjadi salah tingkah. Dia berdehem kecil sengaja supaya Pangeran Jerome mendengar pujian itu. Alessa menatapnya seolah mengucapkan terima kasih yang tak terhingga. Mendapat tatapan seperti itu Pangeran Evandor kembali menekuk lututnya lalu membuka topi dan membungkuk memberi hormat.


“Oh Ibu, aku hampir putus asa. Aku mengira Ibu sudah tiada. Dewa begitu baik padaku. Jangan pergi lagi, Bu. Aku akan menjaga Ibu.” Air mata pemilik Aegis itu menetes. Tidak akan pernah dia biarkan keadaan buruk menimpa Ibundanya lagi.


“Alessaku sayang, Ibu tidak akan ke mana-mana. Kita akan terus Bersama sampai maut memisahkan kita.”


Permaisuri Rhea kembali merengkuh putrinya, membawanya ke dalam pelukan. Cukup lama keduanya larut dalam suasana pertemuan ibu dan anak yang membuat semua yang hadir menitikkan air mata.


"Ibu, beristirahatlah dulu. Ada urusan yang harus aku selesaikan sekarang." Alessa teringat sesuatu. Ia tidak mau berlama-lama membiarkan orang yang menjadi dalang semua ini bisa bernapas lega.


"Darius, ikut aku. Kita punya pekerjaan yang belum tuntas."


"Siap Yang Mulia."


"Yang Mulia saya ikut!" Pangeran Lucas melangkah maju.


"Saya juga akan menemani Yang Mulia." Tak mau kalah Helios juga bergabung.


"Saya sudah lama mengamati situasi di sini, Yang Mulia bisa lebih cepat menemui orang itu bersama saya. Saya ikut." Pangeran Jerome berlari kecil bergabung dengan yang lain.


"Yang Mulia pasti tidak akan meninggalkan saya. Mari kita habisi pengkhianat itu bersama-sama." Pangeran Evandor tentu ingin terus berada di sisi calon istrinya itu.


Permaisuri Rhea yang sedang melangkah masuk ke dalam istana Aegis, tersenyum lebar saat melihat lima lelaki perkasa itu rela menjadi benteng untuk putrinya. Sekarang tidak ada lagi yang perlu ia khawatirkan.


***


Seorang pria yang wajahnya ditumbuhi bulu lebat berada di dalam aula Istana dengan tubuh terikat. Beberapa prajurit menjaganya dengan ketat.


Kaisar Alessa memasuki aula. Kelima pria kekar segera membentuk formasi untuk melindungi Kaisar.


Pangeran Evandor dan Pangeran Jerome berjaga di sisi kiri, Pangeran Lucas dan Pangeran Helios berada di sisi kanan, sedangkan Panglima Darius melangkah maju, mengambil posisi tepat di belakang Kaisar.


Kedatangan Kaisar Alessa jelas membuat Yudas yang tadinya menunduk mendongak mengangkat kepala. Sosok yang sangat ia benci akhirnya muncul juga. "Alessa, bukankah kau sudah mati?" ujar Yudas sembari tersenyum. Pria itu sama sekali tidak sadar akan tempatnya.


“HAHAHAHA, dewa mu yang hanya bisa berdiam diri itu memberikan kekuatan? Jangan membuatku tertawa. Semua hanya kebetulan. Kau hanya beruntung.”


“Terserah kau bilang apa, kenyataannya aku masih di sini. Di depanmu untuk mengambil nyawamu.”


Pria ini sadar hanya Alessa, adik yang sangat ia benci hingga ke tulang, yang bisa menyelamatkan nyawanya. Dia pun mencoba peruntungan.


“Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Sebuah pembelaan, insting bertahan hidup. Tentu kau mengerti apa yang aku maksud. Selalu ada alasan di balik semua tragedi.”


"Apakah yang kau maksud adalah bersekutu dengan Diocletianus untuk menghancurkan Aegis?" sinis Kaisar Alessa.


Yudas melihat Sang Kaisar mendekatinya. Langkah mantap yang bisa meruntuhkan keberanian lawan. Memberikan intimidasi yang menekan. Pria itu sama sekali tidak melunturkan senyuman menyebalkannya. Seolah mengejek.


Alessa muak melihat ekspresi di wajah Yudas, secepat kilat Alessa memutar tubuhnya, lalu mendaratkan tendangan maut ke arah perut Yudas.


Bugh!


"Uhuk!"


Lelaki yang wajahnya sudah tak keruan itu terbanting ke atas lantai sambil terbatuk-batuk.


"Perbuatanmu tak bisa dimaafkan Yudas," geram Alessa dengan mata menyala. Yudas meringkuk di atas lantai yang dingin. "Bagaimana bisa kau buat nyawa ayahku melayang? Dia ayahmu juga!"


“Hanya kau, putra Basil. Seperti yang selalu dia bilang. Aku bukanlah siapa-siapa.”


Alessa maju lagi, Yudas seolah siap dengan konsekuensi yang ada. Pria itu masih saja tersenyum.


"Teruslah mencari alasan, membuat pembenaran akan tindakan busukmu!” Kaisar Alessa sudah tidak menahan diri lagi, dia meluapkan semua amarahnya. “Kalian semua akan menjadi saksi, pengkhianat inilah yang menyebabkan Kaisar Basil terbunuh. Hari ini aku akan menuntaskan dendam ayahku. Matilah kau, Yudas!"


Kaisar Alessa segera memberi isyarat kepada Panglima Darius. Tanpa menunggu lagi, kaisar gagah perkasa itu menghunjamkan pedangnya sekuat tenaga memotong leher Yudas. Sekilas sebelum tebasan itu berakhir, wanita itu seperti mendengar suara dari Kakaknya itu.


“Maafkan aku.”


Crak!


Dalam sekali ayunan, kepala Yudas terpisah dari badannya. Kepala itu menggelinding ke arah Alessa yang segera menghentikan kepala itu dengan gerakan kakinya. Semua yang hadir di aula istana menarik napas panjang.


“Barusan itu apa?” batin sang Kaisar gamang sambil menatap potongan kepala Yudas.


***


Sementara itu nun jauh di sana, di Diocletianus, para prajurit Duke Tristan  berhasil dikalahkan.


Kekuatan pasukan berada di pundak pemimpinnya, maka ketika Duke Tristan gugur saat menyelamatkan Kaisar Alessa, para prajurit itu kehilangan arah.


Dengan mudah semuanya dibantai habis tanpa sisa oleh Kaisar Louis.


Pria itu sangat kesal melihat orang kepercayaannya mati karena perasaan cinta yang tidak berguna.


"Kamu benar-benar bodoh, Tristan. Sangat bodoh! Sekarang kamu lihat sendiri, cintamu itu sia-sia dan tak pernah dianggap oleh wanita sialan itu."


Kaisar Louis meradang. Duke Tristan berakhir seperti ini karena wanita itu. Berkali-kali lelaki meremas rambutnya. Bagaimana bisa Duke Tristan yang sangat ia percaya justru berkhianat di akhir hidupnya. Sungguh hanya dengan mengingat nama Alessa saja, darahnya langsung mendidih.


"Kaisar Alessa. Si ****** itu tidak akan bisa tidur nyenyak sekarang. Aku bersumpah akan menggantung kepalamu di gerbang Diocletianus!" pekik Kaisar Louise dengan suara lantang.


"Sebelum hari itu tiba, hidupku tidak akan tenang!" geram Kaisar Louise sambil mengepalkan tangannya.


Tbc..