
Jalan utama menuju istana dijaga ketat oleh penjaga. Akhirnya setelah melalui jalan rahasia bawah tanah yang ditunjukkan oleh Tuan Cicero, Pangeran Evandor bertemu dengan Pangeran Jerome di Istana Aegis. Keduanya pun bersepakat untuk bekerja sama agar bisa menyingkirkan kepala pelayan rumah tangga kekaisaran Diocletianus.
Pangeran Jerome tersenyum bengis, seluruh sendiri tubuhnya sudah tidak sabar untuk segera membantai kepala pria bernama Gustaf tersebut. "Kita harus segera bergerak Pangeran Evandor, aku sudah tidak sabar untuk menghabisi dan mengoyak setiap sisi kulit mereka."
"Ya, waktu kita tidak banyak," ucap Pangeran Evandor teringat dengan keadaan Permaisuri Rhea dan berharap wanita itu tetap baik-baik saja saat ia kembali nanti selagi dia mencari keberadaan rombongan Kaisar Alessa.
Mereka juga mulai mengumpulkan para pasukan Tuan Darius yang terkenal dengan keloyalannya, juga ikut turun andil terjun membantu memberikan pasukan tanpa memperdulikan siapa kaisar mereka saat ini. Setelah memastikan semuanya bersiap, Pangeran Evandor dan Pengeran Jerome serta yang lainnya pun mulai melangkahkan kaki para kuda mereka untuk menyerang para pengawal dari Eropa timur.
Seluruh pasukan menyerang secara terang-terangan hingga terciptanya pertikaian yang membuat kedua Pangeran murka. Tak ingin menghabiskan banyak waktu, Pangeran Evandor dan Pengeran Jerome akhirnya mendesak untuk melangkah dan menyerang paksa para pengawal Eropa timur. Terlebih Pangeran Jerome yang emosinya sudah sampai ke ubun-ubun. Saat menyadari mereka ada di lantai dua, dia pun dengan cepat menyerang dan menikam kuat jantung Gustaf dan melemparkannya keluar jendela istana.
Sikapnya yang berutal memancing pasukan Aegis untuk ikut menghabisi pasukan Diocletianus tersebut tak terkecuali Pangeran Evandor yang juga ikut terpancing untuk menyerang setiap pengawal yang menghalangi jalan mereka. Tidak percuma Darius melatih dua pangeran itu hingga mahir berpedang. Karena keahlian mereka menjadi penentu nasib Aegis ke depan. Setelah beberapa menit saling mengadu pedang, akhirnya kedua pangeran dan pasukan berhasil menumbangkan seluruh prajurit Eropa timur. Tak ada satupun yang mereka sisakan, semuanya sudah tumbang menjemput ajal masing-masing.
Memang tidak perlu diragukan lagi ketangkasan mereka terhadap menghabisi lawan, tidak perlu waktu yang lama untuk mereka. Dalam sekejap musuh sudah terkapar di depan mata. Pangeran Jerome merasa sangat puas dengan dirinya yang telah berhasil membunuh semua manusia itu tanpa membuat pedangnya lecet.
"Aku harus segera menyelamatkan Kaisar Alessa," kata Pangeran Evandor dengan mata kuningnya yang menyala. "Dia harus melihatku terlebih dahulu agar bisa merasa aman."
Pangeran Jerome menoleh malas untuk melihat wajah Pangeran Evandor yang tampak begitu percaya diri, padahal masih ada dirinya yang lebih patut untuk membanggakan diri. "Kau terlalu naif, lihatlah siapa yang menghujam jantung kepala pelayan itu! Dan juga semua pasukan itu! Kau hanya membunuh sebagian dari mereka! Itupun beberapa di antaranya yang sudah mati di tanganku."
"Sudahlah, lebih baik kita lanjut bergerak. Aku tidak suka berdebat dengan orang sepertimu, Kaisar membutuhkan kita," balas Pangeran Evandor kembali memecut kudanya untuk berjalan beriringan dengan Pangeran Jerome.
Dia sudah tahu bagaimana sikap Pangeran Jerome, jadi dia tidak tahu terlalu mau berdebat untuk menghabiskan waktunya dengan sia-sia. Apalagi saat ini sang Kaisar tengah menunggu pertolongan darinya.
"Kita memang tidak seharusnya berdebat Pangeran Evandor, aku tahu kau tidak layak," imbuh Pangeran Jerome dengan angkuh. Mereka masih sempat-sempatnya bertikai.
Tak ingin peduli, Pangeran Evandor terus menunggangi kudanya, sambil berjaga takut-takut ada pasukan yang ingin menjegal langkah mereka. "Semoga kau selalu dalam lindungan Dewa Pangeran Jerome."
***
Sementara itu di perbatasan Diocletianus, Kaisar Alessa sedang berjuang untuk bertahan. Jumlah yang tidak seimbang membuat prajurit Kaisar Alessa tumbang di tangan para prajurit Eropa Timur yang kini tengah mengikuti rombongan Kaisar Alessa dari belakang. Hanya tinggal Darius, Helios dan Pangeran Lucas yang masih bertahan untuk melindungi Kaisar. Ketiganya terus berjaga dengan ketat, agar tak satupun yang berani mendekati sang Kaisar.
"Yang Mulia tidak perlu khawatir, kami bertiga masih bisa bertahan untuk melindungi Anda." Pangeran Lucas kembali menatap ke arah belakang rombongan yang keseluruhannya telah ditutupi para pengawal Eropa. "Tetaplah di sana dan berlindung pada jubahmu yang Mulia."
Darius memutar bola matanya. Asal tahu saja, sejak tadi Darius yang melindungi pria itu dari serangan para prajurit lawan. Sekarang dia berlagak hebat di hadapan Kaisar. Tanpa dilindungi pun, Kaisar tidak akan tinggal diam jika diserang. Wanita itu lebih kuat dari yang dibayangkan.
Kaisar Alessa mengangguk pelan menghargai sikap pemberani Pangeran Lucas. Kini hatinya mulai melunak karena pengorbanan para calon selirnya yang setia menunggu bahkan berusaha mencarinya. Kaisar Alessa mempercayakan nyawanya kepada para lelaki itu, Panglima Dairus, Helios dan Pangeran Lucas.
"Baiklah, aku percayakan diriku ini kepada kalian."
"Sudah kewajiban kami untuk melindungi Yang Mulia," ucap Tuan Dairus mematahkan kesombongan Pangeran Lucas yang tidak pada tempatnya. Darius, Semenjak diangkat menjadi Panglima Perang Kekaisaran Aegis, dia sudah mengabdikan dirinya sepenuhnya kepada Kaisar dan tak akan takut jika harus berkorban.
Pangeran Lucas hanya bisa mengatupkan bibirnya rapat. Jika mulut pedas Darius telah berbicara, tidak ada yang bisa menang darinya. Pangeran Lucas memilih diam dan tidak menimpali.
Beberapa saat kemudian saat mereka kembali melakukan perlawanan, Iris mata biru Pangeran Lucas melihat sebuah panah tiba-tiba tengah meluncur dari arah sisi depan, dia langsung bersigap berdiri di depan Kaisar Alessa untuk menghalangi anak panah tersebut. Namun, dari arah berlawanan tiba-tiba saja seorang pria berlari untuk ikut menghadang anak panah tersebut.
Suara jatuhnya tubuh pria tersebut melebarkan mata Kaisar Alessa yang sedang menangkis pedang lawan. Dia terpaku setelah menyadari jika pria yang berkorban untuknya itu adalah Duke Tristan. Kaisar Alessa segera menepis pedang itu dan menusuk dada prajurit itu hingga tumbang kemudian ia berlari dan bersimpuh di samping tubuh lemah Duke Tristan.
"Duke Tristan! Apa yang kau lakukan?" pekik sang Kaisar. Kaisar Alessa memang membenci pria itu. Tapi, mengetahui jika Duke Tristan sampai rela mengorbankan nyawa untuk dirinya membuat Kaisar Alessa lupa akan kebenciannya itu.
"Ma-afkan aku yang sempat meyakitimu. Hanya ini yang bisa a-ku lakukan sebagai penebusan do-saku yang lalu," ucap Duke Tristan terbata. Sudut matanya berair, ia mengangkat tangannya yang lemah dan mengusap pipi wanita yang ia cintai.
Kaisar Alessa menggeleng, matanya pun berkabut. Disambutnya tangan yang mulai mendingin itu. "Aku ... akan memaafkanmu, karena itu bertahanlah!"
Hengh! uhuk, uhuk!
Duke Tristan tersentak dadanya dan terbatuk-batuk hingga mengeluarkan darah. Pria itu menggeleng.
"Per-gilah, biar ... biarkan pasukanku yang menangani mereka." napas Duke Tristan mulai tersendat. Kaisar Aless semakin panik.
"Kita bisa menyembuhkanmu, Ayo!" Kaisar Alessa berusaha memapah tubuh sang Duke. Namun yang terjadi pria itu malah semakin kesakitan. "Tristan!"
Duke Tristan tersenyum dan melihat ke arah Darius. Sebuah isyarat agar pria itu pergi membawa sang Kaisar.
"Sebaiknya kita pergi sekarang Yang Mulia, sebelum pasukan Kaisar Louis berhasil mengepung kita di sini," ujar Tuan Darius sambil meminta bantuan Helios dan Pangeran Lucas agar membujuk sang Kaisar.
"Benar Yang Mulia," timpal Helios. Pria itu sebenarnya tidak tega. Tapi melihat kondisi Duke Tristan yang sudah sekarat, rasanya percuma untuk mengobatinya. "Duke Tristan tidak bisa selamat," tambahnya terus terang.
"Tidak! kamu bohong 'kan?" Kaisar Alessa menatap Helios dengan serius. Namun, hanya gelengan yang dia dapat. "Ya dewa!"
"Pergilah Yang Mulia, biarkan kami menahan mereka. Aegis menunggu Anda!" salah satu prajurit Duke Tristan berseru menyadarkan Kaisar akan tujuan utamanya. Kaisar Alessa menoleh pada Duke Tristan. Lagi-lagi, pria itu tersenyum dan mengangguk.
Kali ini airmata Kaisar tidak terbendung. Dia memalingkan muka dan berjalan menjauh. Kaisar menyeret langkah dengan berat dan berusaha untuk tidak melihat kebelakang lagi. Sebelum dia semakin jauh, Kaisar mengucapkan kata yang membuat Duke Tristan terpejam dalam damai.
"Aku memaafkanmu Tristan, semoga dikehidupan selanjutnya kita bisa menjalin hubungan baik. Terima kasih banyak!"
"Terima kasih kembali, Kaisar ...." suara yang hanya terucap di dalam hati sang duke.
***
Berkat pertolongan Duke Tristsan, mereka berempat akhirnya bisa lolos dari kejaran pasukan Kaisar Louis. Kaisar Alessa bisa sedikit lebih tenang, tetapi perjalanan menuju tanah airnya masih cukup jauh dan berharap ketiga orang yang melindunginya mampu bertahan. Kaisar juga teringat dengan Permaisuri Rhea, Ibunda tersayang yang tidak dia ketahui keadaannya sekarang, semoga saja semuanya bisa kembali dengan selamat.
Panglima Darius dan Pangeran Lucas dengan cepat memecut kudanya agar bisa membawa pergi sang Kaisar dengan cepat dari tempat ini. Zirah besok dan jubah besar yang dia pakai, tak dapat menghilangkan rasa dingin dari udara pagi yang menusuk-nusuk kulitnya, mungkin juga ini disebabkan karena tekanan darahnya yang menjadi rendah.
Namun, tak ada waktu untuk memikirkan semua itu. Yang terpenting sekarang adalah menyelematkan semua orang dan kembali ke tanah Aegis.