
Ketidak hadiran Pangeran Evandor sama sekali tidak membuat Kaisar peduli. Wanita itu memulai latihan pedang tanpa pria itu yang kini hanya bisa memandang dari balkon kamar. Menatap Kaisar dari kejauhan. Baru sehari, Pangeran Evandor merasa tersisihkan. Beberapa kali menarik napas berat, Pangeran Evandor memilih memasuki kamarnya.
Tok, tok, tok!
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya. Kebetulan Steve sedang keluar mengambil beberapa barang yang dibutuhkan. Pangeran Evandor sendiri belum cukup berani untuk keluar dari kamar. Masih dihinggapi rasa bersalah yang entah akan sampai kapan.
Pria tampan dengan surai pirang itu terkejut ketika membuka pintu. Menampilkan sosok wanita cantik yang tidak lain adalah pelayan yang sempat digodanya.
“Selamat siang Pangeran…” salamnya ramah.
“Kamu… ada perlu apa?”
“Saya diminta melayani Pangeran,” ucapnya ragu.
“Apa maksudmu?”
“Kaisar… meminta saya melayani Anda Pangeran…” pelayan itu menjelaskan dengan takut-takut karena saat itu pula Pangeran Evandor merubah raut wajahnya. Antara marah dan malu. Namun, Pangeran Evandor sadar semua karena kesalahannya hingga Kaisar bersikap seperti ini.
“Apa kata Kaisar?” pria itu ingin tahu, adakah hal lain selain ini yang Kaisar perintahkan pada pelayan tersebut.
“Yang Mulia bilang agar merawat Pangeran dengan baik.”
“Kenapa harus kamu? Apa ini sebuah hukuman darinya? Aku sudah memohon ampun, katakan aku yang tidak tahu diri ini menyesal. Kaisar sudah tidak sudi untuk melihatku lagi!” Pangeran Evandor mencengkeram kedua bahu sang pelayan hingga ia meringis. Pria itu mulai kalut. Dia telah dibuang. Kaisar bahkan sampai mengirim sosok yang dihindarinya.
“Maafkan hamba Pangeran….”
“Pangeran! Anda kenapa?” Steve baru saja datang dan menatap ngeri pada pelayan wanita yang ada di depan pintu kamar. “Kamu, sedang apa di sini? Sebaiknya kamu pergi, Pangeran sudah tidak akan mengganggumu lagi!”
Pelayan itu menutup mulutnya dengan maniknya yang mengembun. “Maafkan hamba, hamba juga tidak ingin seperti ini. Hamba tidak mau menjadi penyebab Kaisar kehilangan Pangeran… maafkan hamba.”
Pangeran Evandor menggeleng dengan senyum getir. “Nyatanya, aku yang melepaskan diri, bukan Kaisar yang kehilangan. Dan semua terjadi karena ulahku. Jadi… jangan merasa bersalah. Aku meminta maaf padamu untuk kejadian itu.”
Steve sedikit tercengang dengan perubahan sikap Pangerannya yang selama ini teledor dan terkesan seenaknya. Suka merendahkan bahkan otoriter. Tapi, kali ini pria itu meminta maaf pada seorang pelayan. Sebesar itukah pengaruh Kaisar pada sang Pangeran?
Pelayan tersebut merasa tidak enak. “Pangeran tidak perlu meminta maaf. Hamba juga memiliki andil dalam hal ini-“
“Pergilah, kuharap kita tidak bertemu lagi. Sebisa mungkin, hindari aku.”
Setelah mengatakan itu, Pangeran Evandor memasuki kamarnya lagi. Steve yang masih tercengang hanya bisa memberikan isyarat agar pelayan itu segera pergi lalu ikut memasuki kamar. Dilihatnya sang majikan yang langsung menaiki ranjang. Semangatnya seolah hilang dengan pelayan kiriman Kaisar.
“Pangeran…”
“Aku ingin tidur, berharap saat aku membuka mata nanti… Kaisar mau melihat wajahku. Tanpa senyumpun tidak apa-apa,” ucapnya penuh harap.
Steve mengatupkan mulutnya rapat. Sungguh hatinya merasa iba dengan keadaan majikannya saat ini.
***
PRANK!!!
Pedang milik Helios terbang dan menancap di tanah, hampir mengenai Pangeran Lucas. Pria itu tidak bisa menahan kekuatan Darius sebagai lawannya. Helios menyeka peluh di keningnya. Berbanding terbalik dengan Darius yang tidak terlihat lelah sama sekali. Dengan santai pria itu memainkan pedang dengan lihai.
Helios tidak langsung menjawab. Dia meraih segelas air yang diberikan Malo, pelayan pribadinya. “Maaf, aku tidak sengaja,” ucapnya setelah meminum air.
Pangeran Lucas masih tidak terima, dia pun bersungut-sungut. “Kau bisa lihat, berapa jarak pedangmu dengan kakiku?”
“Bukan aku yang mengarahkannya.” Helios menjawab dengan santai.
Pangeran Lucas belum puas, dia hendak mendekati Helios untuk kembali mengomel.
“Pangeran Lucas!” panggil sang Kaisar berhasil membuat pria itu terhenti. Bahkan wajahnya langsung berbinar. Sedangkan Pangeran Jerome dan Helios menatap malas Pangeran Lucas yang mencari perhatian.
“Ya, Yang Mulia?”
“Jangan terlalu dibawa ke hati. Ini hanya latihan.”
“Baik, Yang Mulia… tentu saja aku tidak memasukkannya ke hati. Bukan begitu Tuan Helios?” tanyanya dengan senyuman.
Helios tidak menjawab, dia lebih memilih memalingkan muka dan mengambil pedangnya.
“Kalau begitu, maukah Pangeran Lucas mengajariku ilmu pedang?” pinta sang Kaisar yang langsung diangguki oleh pria yang sudah bucin itu.
“Aku akan mengajari Yang Mulia dengan sangat lembut, mari Yang Mulia,” Pangeran Lucas meraih tangan Kaisar lalu mengecupnya.
Helios, Pangeran Jerome kini berwajah masam. Kenapa jadi Lucas yang latihan dengan sang Kaisar? Lain halnya dengan Darius. Pria itu justru menyeringai ketika Kaisar mengajak Pangeran Lucas menjadi lawannya.
“Aku akan menyiapkan tabib dari sekarang,” ucap Darius yang berhasil membuat Helios dan Pangeran Jerome saling pandang.
***
“Cain cepat!” Pangeran Lucas mengerang karena pakaiannya yang terlepas, hampir membuatnya telanjang bulat. Dia tidak menyangka jika Yang Mulia Kaisar sangat mahir memainkan pedang. Kaisar hanya tersenyum dengan ucapan maaf ketika Pangeran Lucas menutupi tubuhnya yang terekspos.
“Maafkan aku pangeran, aku tidak sengaja,” benarkah seperti itu?
Mendengar sang pujaan hati meminta maaf sambil tersenyum tidak enak, tentu saja Pangeran Lucas langsung memaafkannya. Sambil menunduk, dia segera berlari dari lapangan. Sungguh malunya bukan main. Niat awal ingin menyombongkan diri akan keahliannya.Dia malah kena getahnya. Kaisar sengaja melakukan hal itu, agar para selir sadar dan tidak meremehkan dirinya yang seorang wanita.
Helios dan Pangeran Jerome tidak mampu berkata-kata, mereka menatap Kaisar antara kagum dan tercengang.
“Kalian berdua… berlatihlah dengan serius! Darius akan mengajarkan ilmu pedang yang aku kuasai. Tidak lucu ‘kan jika aku yang melindungi kalian? Kita tidak tahu, kapan dan di mana musuh akan datang. Jadi, kita harus selalu waspada,” peringat Kaisar.
Helios meneguk salivanya, dia tahu jika dirinya tidak begitu mahir dalam memainkan pedang. Semakin sulit untuknya agar setara dengan Kaisar. Helios mulai tidak percaya diri.
“Kini aku percaya dengan kabar tentang Yang Mulia mampu melumpuhkan Kaisar Yudas,” Jerome mengungkapkan segala pertanyaan yang akhirnya terjawab hari ini. Seberapa hebat sang Kaisar hingga mampu menggulingkan kekaisaran yang lalu.
Kaisar menoleh pada Pangeran Jerome dan tersenyum. “Kapan-kapan kita akan beradu pedang agar kau lebih yakin lagi.”
“Aku menantikannya,” sahut Pangeran Jerome membalas senyuman Kaisar. Pria itu mulai tertarik pada Kaisar. Lebih dari sebelumnya.
Sementara itu, mereka tidak tahu jika Helios yang sejak tadi diam memperhatikan, merasa keberadaannya tidak dihiraukan. Pria muda itu mengepalkan tangannya karena cemburu.
Tbc.