
Kerajaan Prussia-Eropa Timur
Terdapat kerumunan di dalam ruang rapat kerajaan Prussia, para marquis, count dan viscount terlihat membicarakan hal serius hingga kedatangan Raja yang sedikit mengagetkan mereka.
“Yang Mulia Raja Fabian telah tiba,” seru Knight mendampingi sang Raja memasuki ruang rapat. Pria tampan yang merupakan mantan kekasih Kaisar Alessa kini telah mengganti gelarnya yang dulu seorang pangeran menjadi seorang Raja. Tepat setelah menikahi puteri Anna Podolski yang merupakan anak dari Raja terdahulu.
Para marquis, count dan viscount segera berjejer rapi sesuai dengan posisinya masing-masing. Mereka menunduk dan memberi hormat pada pemimpin negeri Prussia.
Raja Fabian memandang setiap bawahannya sebelum duduk di singasana tempat dia memutuskan sebuah kebijakan baru untuk negerinya. Hening tanpa ada suara yang keluar dari setiap mulut mereka sampai sang Raja mengangkat suara.
“Apa yang sedang kalian bicarakan barusan sebelum aku masuk ke sini? Kenapa semuanya diam?” pancing Raja Fabian yang sebelumnya melihat kerumunan.
“Kami rasa bukan hal yang penting Yang mulia,” sahut salah satu marquis.
“Bukan hal penting?” Raja Fabian merasa tidak puas dengan jawaban tersebut. Tatapan intimidasi dikeluarkan sampai seorang viscount maju menghampiri dan bersimpuh di hadapannya.
Raja Fabian melihat tangan viscount tersebut yang menengadahkan sebuah gulungan surat. Raja pun memberikan isyarat pada knight untuk mengambilkannya.
“Ini Yang Mulia,” Knight memberikannya pada Raja Fabian.
Raja Fabian meraihnya dan membaca gulungan itu dengan seksama. Awalnya tampak biasa saja. Namun, perlahan raut wajah sang Raja berubah muram. Tidak hanya itu, Raja Fabian meremas kertas tersebut dengan tangan yang menyembulkan urat-urat setelah selesai membacanya.
“Dari mana kau mendapatkan berita ini?!” suara Raja terdengar keras dan bergetar. Viscount yang barusan memberikan gulungan itu sampai tersentak karena terkejut. Apa dia telah melakukan kesalahan?
“Awalnya hanya sebuah rumor, hingga salah satu pedagang kita pulang setelah berdagang di perbatasan. Dia mendapatkannya dari sana,” jawabnya setengah takut.
Raja mengetatkan rahangnya dan langsung berdiri dari singasana. Dia berjalan lebar meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata pun. Para penghuni ruangan rapat sampai keheranan.
“Ada apa dengan Raja?”
“Apa kau lupa? Raja Fabian pernah menjalin hubungan dengan seorang yang kini menjadi Kaisar di Aegis?”
Viscont itu tercengang dengan berita yang baru saja dia dengar. Dia baru bergabung di pemerintahan setelah pelantikannya tahun lalu. Dia adalah viscount termuda hingga wajar tidak mengetahui hal itu.
“Aku sama sekali tidak tahu, apa aku akan baik-baik saja?”
“Aku akan mendo’akanmu,” salah satu count memberikan semangat. Kini ruangan rapat menjadi ramai kembali.
***
‘Ini tidak mungkin, katakanlah Alessa… semua ini hanya gurauan!’ Raja Fabian menatap sebuah lukisan wanita yang tergores indah diatas kanvas yang terpasang di dinding. Sosok itu begitu cantik dengan gaun khas tempatnya berasal, negeri para dewa.
“Hahhhh….” Hembusan napas berat terhembus. Seolah menyalurkan beban di hati. “Kau tidak tahu jika selalu ada alasan di setiap keputusanku,” tambahnya sambil menerawang membayangkan sebuah kilasan masa lalu.
Belum lama Raja Fabian memejamkan mata agar kilasan itu semakin jelas. Saat itu juga terdengar suara yang membuatnya terperanjat. Matanya terbuka seketika.
“Rajaku… di mana kamu?”
Raja Fabian segera meninggalkan ruangan tersebut yang ternyata ada di balik sebuah lemari ruangan kerjanya. Ruangan rahasia yang selalu di kunjunginya saat teringat akan mantan kekasihnya yaitu Kaisar Alessa.
“Rajaku?”
“Ada apa Ratuku?”
Raja Fabian bersuara di belakang sosok yang berseru memanggilnya. Orang itu adalah Ratu Anna Podolski, istrinya.
“Yang Mulia mengagetkan aku!” wanita itu menoleh dengan senyuman.
“Maafkan aku Ratu, ada apa?”
“Aku hanya merindukanmu,” sang Ratu mendekat dan melingkarkan tangannya pada leher Raja Fabian. Kecupan hangat mendarat di bibi tebal pria tersebut. Dengan lihai ia pun membalasnya. Kecupan hangat menjadi semakin panas.
‘Alessa….’
Tidak lama cumbuan itu berlanjut ke tingkat yang lebih tinggi. Pakaian sepasang suami istri itu telah terongok di atas lantai. Peluh dan suara erangan memenuhi ruangan. Ratu Anna tersenyum penuh semangat, tapi hanya sesaat sebelum sang Raja mengeluarkan bibit di luar jalur yang seharusnya.
“Yang Mulia?”
“Maaf, aku sedang tidak enak badan.” Kini tampilan Ratu di mata pria itu telah berganti seperti semula. Hasratnya yang awalnya meletup-letup menghilang seketika. Perlahan Raja Fabian mengenakan pakaiannya sedangkan Ratu menunduk dengan perasaan kecewa.
Sebenarnya tidak ada yang salah, sang Ratu sudah mendapatkan kepuasan. Hanya saja, dia kehilangan kesempatan untuk mendapatkan penerus yang sejak dulu ia idamkan.
“Kenapa selalu begitu?”
“Apanya?”
“Kenapa Yang Mulia selalu melepaskannya di luar? Apa Yang Mulia tidak ingin memiliki anak dariku?”
“Itu hanya perasaanmu saja,” Raja Fabian mengambilkan pakaian sang Ratu. Menyampirkannya di bahu polos istrinya.
“Jangan bercanda Yang Mulia, sudah berapa lama kita menikah? Aku seharusnya sudah memiliki anak.”
Raja Fabian terdiam dan mengusap bahu Ratu. Jujur di dalam hatinya, sang Raja hanya ingin memiliki keturunan dari Kaisar Alessa. Sebuah kemungkinan yang sangat tidak mungkin untuk saat ini. Raja Fabian akan mencari cara.
“Kita masih memiliki banyak waktu,” pria itu keluar dari ruangan.
“Yang Mulia!” Ratu Anna memanggil suaminya yang tetap melangkah lurus ke depan.
“Pelayan, bawa Ratu ke kamarnya,” Perintah Raja Fabian saat melewati deretan pelayang yang siap siaga di luar pintu ruangan tersebut.
***
Istana Aegis
Kaisar Alessa berjalan menyusuri lorong dengan didampingin Darius. Sepanjang jalan dia mengingat kejadian di lapangan saat latihan pedang.
‘Apa aku sudah kelewatan pada Pangeran Lucas?’ Kaisar Alessa sejujurnya tidak ingin melakukan hal itu. Mempermalukan calon selirnya dengan melucuti pakaiannya. Ia hanya gemas dengan tingkah Pangeran Lucas yang masih kekanakan. Senang mencari ribut dan selalu ingin menjadi pusat perhatian.
“Darius… aku akan ke kamar Pangeran Lucas,” perkataan Kaisar Alessa berhasil membuat Darius menghentikan langkah.
“Untuk apa Yang Mulia?”
Kaisar Alessa menoleh pada Darius. “Aku rasa aku sudah melampaui batas. Aku harus menghiburnya.”
“Kaisar tidak perlu melakukan itu, apa yang Anda lakukan sudah benar,” Darius menggeleng dengan raut meyakinkan.
“Benarkah?”
“Ya! Sudah selayaknya Anda tegas!” Darius berkata dengan berapi-api. Kaisar Alessa terkekeh dan menutup mulutnya.
“Tapi, kurasa aku akan mendatanginya. Bagaimanapun juga dia calon selirku.”
“Kaisar….”
“Sebaiknya kamu kembali ke barrackmu, aku lihat bawahanmu mengikuti kita sejak tadi,” Kaisar Alessa menggerakkan dagunya ke arah sekumpulan pria dengan baju zirahnya.
Darius berbalik badan dan mendapati beberapa prajurit yang membungkuk hormat. Sepertinya ada sesuatu hal yang penting. Darius tidak bisa membantahnya. Ia segera menghampiri para prajurit tersebut.
Tbc.