Hareem of Queen Alessa

Hareem of Queen Alessa
Calon selir baru



Kaisar Alessa yang sedari tadi mengikuti Darius tak sengaja mendengar pengakuan Sang Panglima tentang perasaannya.


"Benarkah yang kau katakan ini Darius? Apakah aku tidak salah dengar?"


Helios membungkukkan badan memberi hormat. Darius terpaku, wajahnya pucat pasi. Jika kemarin-kemarin dia masih bisa menghindari Kaisarnya, maka kali ini dia merasa sudah tak bisa lagi menyelamatkan muka.


"Darius, tolong ulangi yang apa yang kamu katakan barusan."


Helios menunggu dengan cemas. Wajahnya seolah memberi dukungan supaya Panglima Darius mengungkapkan kebenaran tentang cerita hatinya. Meski sebenarnya mereka adalah saingan cinta. Tapi, Helios akan mendukung apapun yang terbaik untuk calon istrinya tersebut. Helios tidak memungkiri akan jasa Darius pada sang Kaisar, begitu juga Kaisar yang terlihat sangat lepas jika dengan pria itu.


"Ayolah, Tuan Darius! Anda cuma punya satu kesempatan. Sekarang atau tidak selamanya,' gumamnya kesal.


Darius yang terdesak oleh keadaan dan sebuah kesempatan untuk mengungkapkan semua akhirnya menarik napas sebelum melontarkan kata.


"Be-benar Yang Mulia. Hamba mohon ampun jika perasaan ini dianggap lancang. Tapi hamba sudah tidak sanggup lagi menahan. Hamba hampir gila karena selama ini terus berpura-pura."


"Yes!"


Helios mengayunkan tangannya, tapi pria itu segera menyadari kehadirannya hanya membuat Panglima dan Kaisar canggung, maka Helios segera menutup mulut.


"Sejak kapan? Aku ingin tahu sejak kapan kamu merasakannya?"


"Hamba tidak menyadari kapan tepatnya perasaan ini datang. Hamba selalu merasa senang saat berada di dekat Anda Yang Mulia. Tapi perasaan senang itu berubah saat Pangeran Fabian datang pada setiap ulang tahun Yang Mulia."


Itu sudah lama sekali. Kaisar Alessa semakin menyadari selain menjadi panglima perang yang kuat secara fisik, Darius juga kuat menahan gejolak hatinya.


"Saat itu hamba hanya ingin Yang Mulia berbahagia tanpa peduli perasaan hamba sendiri. Tapi ketika Pangeran Fabian menikah dengan wanita lain dan Anda didera kesedihan mendalam, saat itu hamba juga turut hancur."


Kaisar Alessa memejamkan matanya. Ingatannya mundur pada satu masa menyedihkan di mana saat itu dia merasakan harga dirinya sebagai wanita telah dicampakkan oleh orang yang ia cintai.


"Saat hamba menemukan tubuh Yang Mulia di kuil pemujaan setelah di tikam Pangeran Yudas, hamba merasa separuh diri juga ikut mati. Hamba tak sanggup melihat Anda terluka dan menderita."


Mata Darius berkaca-kaca. Helios bahkan sudah menyeka air bening yang tiba-tiba merembes dan membasahi pipinya. Kini dia tahu, seberapa besar pengorbanan Darius untuk Kaisar.


"Hamba bertekad melindungi Anda sepanjang hidup, ketika Yang Mulia ingin belajar ilmu pedang hamba menjadi orang yang paling bersemangat mengajari, tapi sekaligus orang yang paling khawatir dan cemas karena takut Anda terluka."


Kaisar Alessa masih memejamkan matanya, mendengar semua pengakuan Darius seperti ini seperti menuntunnya pada perjalanan masa lalu yang menyesakkan dada.


"Hamba tidak tahu kapan tepatnya, tapi saat melihat Anda menunggang kuda dengan gagahnya setelah diberitakan meninggal, saat itu rasanya hamba ingin melompat, memeluk Yang Mulia dan tidak ingin melepaskan pelukan itu selamanya."


Kaisar Alessa menarik napas dalam-dalam. Pertemuan itu juga membuatnya sangat berbahagia. Dia masih ingat bahkan dirinya yang terlebih dulu memeluk Sang Panglima. Kali ini Kaisar Alessa membuka matanya. Kini dia sadar arti pelukan Darius.


Sekarang dia mengerti saat mereka merayakan pertemuan itu, saat para calon selir bergantian memeluknya dengan penuh sukacita, Darius diam-diam menjauh.


"Darius, ikut aku."


Tiba-tiba Kaisar Alessa menggamit lengan Darius, lalu menarik tangannya.


"Kita mau ke mana Yang Mulia?"


"Jangan banyak bertanya, aku akan mengajakmu ke suatu tempat."


Sebelum pergi, Kaisar Alessa berbalik lalu memandang ke arah Helios yang masih sibuk menyusut air matanya. Sedari tadi Helios tak berani bersuara, bahkan mengambil napas pun sangat takut merusak suasana. Maka ketika Kaisar melangkah pergi, Helios merasa sangat lega.


"Helios!"


"Jangan sampai ada yang tahu masalah ini, termasuk para calon selir yang lain. Kau mengerti 'kan maksudku?"


"Siap, Yang Mulia!"


Helios memberi hormat. Setelah memastikan Sang Kaisar dan panglimanya menghilang, baru Helios bebas menarik napas kembali. Dia mengibas-ngibaskan jemarinya yang terasa kaku saking tegangnya.


Helios bisa menebak apa yang akan terjadi jika para calon selir tahu akan pengungkapan perasaan Tuan Darius pada Kaisar. Karena sejatinya, kedekatan Kaisar dengan Darius sudah sanggup membuat para calon selir ketar-ketir hingga saat ini. Setelah ini, besar kemungkinan Darius menjadi bagian dari mereka.


Sambil berjalan, Helios terus meracau tak jelas. Dia senang Panglima Darius sudah berani mengungkapkan perasaannya, tapi kini baru ia sadari ternyata diam-diam ada kecemburuan baru yang sulit ditahan.


"Seharusnya cuma berempat, bergilir empat malam sekali, sekarang ada Tuan Darius, perputarannya jadi makin lama. Aih, apa yang sedang aku pikirkan?" rutuknya menahan malu dengan isi kepalanya yang mulai liar.


Helios tak memedulikan para pelayan yang yang sedang sibuk menghias istana. Para pelayan itu meliriknya dan senyum-senyum sendiri mendengar kicauannya.


"Tapi mereka memang harus bersatu. Tuan Darius sudah banyak berkorban untuk melindungi Yang Mulia, jadi wajar saja kalau sekarang Tuan Darius meraih mahkota kebahagiaannya. Mereka benar-benar pasangan yang serasi. Saat bersama pancaran energinya benar-benar terasa. Ah, sudahlah Helios, tutup saja mulutmu kalau tak mau namamu raib dari daftar selir besok."


Kaisar Alessa membawa Darius ke kamarnya. Tentu saja hal ini di luar dugaan Darius. Meskipun beberapa kali berduaan di tempat tertutup seperti sekarang, tetap saja Darius merasa canggung. Apalagi mengingat saat Darius memijat tubuh Kaisar Alessa. Perasaan yang sama kini hadir menderanya.


"Duduklah di sini, di hadapanku."


Darius menuruti kata Kaisar meskipun hatinya sedang bergejolak tak keruan.


"Aku ingin mendengarnya lagi."


Darius tak mengerti maksud ucapan Kaisar.


"Aku masih tak percaya Darius. Pantas saja aku selalu merasa nyaman dan aman bila berada di dekatmu. Rupanya ketulusanmu ini yang membuatku selalu merasa tak gentar menghadapi dunia."


Darius menunduk. Apa pun akan ia lakukan supaya Kaisar terus merasa nyaman bersamanya.


"Jadi, kau rela melakukan apa pun untukku?" Darius mengangguk.


Tentu saja. Tanpa bertanya pun Kaisar sudah tahu jawabannya. Tapi memang makhluk bernama wanita selalu membutuhkan validasi, jawaban dan pengakuan terang-terangan.


Kaisar juga tahu Darius bahkan rela melihat dirinya menikah dengan para selir esok hari. Mengingat hal itu, tiba-tiba terbersit sesuatu dalam pikirannya.


"Apa kau rela aku menikah dengan orang lain?"


"Diluar dari perasaan hamba, sesungguhnya kebahagiaan Yang Mulia yang terpenting. Hamba akan mendoakan Yang Mulia, dan akan terus setia mengabdi sampai napas terakhir hamba."


"Darius, kau sungguh membuatku gila."


Kaisar Alessa memandang lekat-lekat wajah Darius yang masih menunduk tak berani menatap kaisarnya. Berdekatan dengan orang yang ia cintai melebihi dirinya sendiri seperti ini, hanya membuat perasaannya porak poranda.


"Maaf Yang Mulia, jika perasaan ini membebani Yang Mulia. Hamba ak-"


"Menikahlah denganku Darius!" Darius terhenyak dengan ucapan sang Kaisar.


"A-apa, Yang Mulia?" Darius mengangkat wajahnya, mencari kesungguhan di balik tatapan junjungannya itu.


"Maukah kau menjadi salah satu selirku?"


Tbc.