Hareem of Queen Alessa

Hareem of Queen Alessa
Perpustakaan



Istana Aegis


“Panjang umur Yang Mulia Kaisar,” Tuan Atalla memasuki ruangan kerja Kaisar. Kaisar kebetulan sedang sendiri karena sejak tadi Darius tidak kunjung kembali setelah membuatkan Kaisar surat lamaran.


“Tuan Atalla…” Kaisar menjalin jarinya di atas meja. “Ada sesuatu?” wanita itu sengaja bertanya, seolah tidak tahu jika hanya pria itu yang belum memberikan surat kandidat calon selir dari Aegis.


“Hamba… belum memberikan surat berisikan data putera hamba,” jawab Tuan Attala.


“Kenapa belum? Apa karena Anda yakin Putera Anda akan terpilih?” sarkas Kaisar membuat wajah Tuan Attala menegang pucat pasi.


Tuan Atalla menggeleng cepat. “Bu, bukan begitu Yang Mulia… putera hamba… sedikit sulit.”


“Jadi, dia tidak mau?” Kaisar menyimpulkan.


Tuan Attala benar-benar terpojok. Andai puteranya bisa seperti pria lainnya yang dengan suka hati mendekati Kaisar, merangkak kalau perlu. Sayangnya itu hanya harapan, Helios terlalu pemalu sekedar menyapa Yang Mulia Kaisar. Kalau tidak tergiur kekuasaan yang besar, Tuan Attala lebih baik mengibarkan berdera putih. “Bukan tidak mau… ah… begini Yang Mulia. Saya mohon dengan sangat jangan mencoret putera saya dari daftar.”


Kaisar mulai geram, Tuan Attala seolah mengajaknya bergurau yang sama sekali tidak lucu. “Bagaimana aku bisa mencoret jika datanya saja tidak ada?”


“Dia… ingin langsung bertemu Kaisar. Dia ingin Yang Mulia yang langsung menjemputnya,” Tuan Attala menunduk. Tidak berani mengangkat mukanya. Beruntung di sana tidak ada Darius. Andai ada pria itu, melihat Tuan Attala memaksa Kaisar untuk membujuk puteranya agar mau menikah. Tidak akan Darius biarkan meski jabatan Tuan Attala setara dengannya.


“Apa kau bilang?” Kaisar sampai bangkit dari duduknya.


“Ampun Yang Mulia… tolong beri pengecualian pada putera hamba,” Tuan Attala masih berusaha membujuk Kaisar.


“Dia bukan pangeran, hanya seorang bangsawan di bawah kakiku. Dia berani memerintahku?”


Kali ini pria paruh baya itu tidak menunduk lagi. Tapi, bersujud. Bersujud dengan tubuh gemetar. “Tidak seperti itu Yang Mulia… saya mohon ampuni hamba dan putera hamba.”


Kaisar memandang Tuan Attala yang bersimpuh dihadapannya. Seorang Ayah sampai bersimpuh seperti ini hanya untuk sang anak. Sejenak sang Kaisar teringat mendiang Ayahnya. Wanita itu menghela napas kasar.


“Kalau bukan karena penasehat utama yang mengusulkan putera Anda sebagai kandidat terbaik, Aku tidak akan mau mengikuti kemauan Anda.”


Tuan Attala mendongak mendengar perkataan sang Kaisar. Kaisar memberikan isyarat agar Tuan Attala bangkit dari lantai.


“Apa yang dia sukai?”


“Yang dia suka?”


Kaisar mengangguk. Tuan Attala pun teringat akan sesuatu. “Helios sangat menyukai buku!”


“Suruh dia datang ke Perpustakaan Istana. Menjemputnya bukan berarti aku datang ke depan rumahnya ‘kan? Aku cukup mendekatinya lebih dulu.”


Tuan Attala mengerti. Dia menuruti perintah Kaisar dengan penuh rasa terima kasih. “Terima kasih Kaisar akan kemurahan hati Anda.”


***


Kediaman Menteri Pertahanan.


Tok, Tok, tok!


“Tuan Helios!” seorang pelayan mengetuk dan memanggil pria bersurai hitam yang sedang menulis di meja belajarnya.


Helios pun menghentikan kegiatannya lalu bangkit dan berjalan menuju pintu.


“Ada apa?” tanyanya pada sang Pelayan, setelah membuka pintu tersebut.


“Seseorang dari istana meminta Tuan datang, katanya atas perintah Tuan Besar,” jelas pelayan.


“Ayah?” Helios mengerutkan kening.


Pelayan itu mengangguk.


“Baiklah, suruh orang itu menungguku. Aku akan bersiap-siap!” perintahnya.


“Baik Tuan,” pelayan itu pun pergi.


Helios merapikan lembaran yang sedang dia tulis dan memasukkannya ke dalam laci. Setelah itu dia berganti baju dengan yang lebih bagus. Sebagai tanda menghargai Ayahnya yang seorang menteri di Aegis. Tentu saja penampilan menunjang seseorang, Helios belajar tata krama kerajaan meski dia belum tinggal di dalam istana. Tata karma berpakaian dan juga cara makan. Helios benar-benar bersikap selayaknya bangsawan sebenarnya.


Saat dia turun ke lantai bawah rumahnya dia melihat dua orang penasehat yang tersenyum ramah. Helios memberi salam dengan santun. “Yassas.*”


“Yassas, Tuan Helios. Kami datang menjemput Anda,” ucap kedua penasehat bersamaan.


“Apa terjadi sesuatu?”


“Tidak ada Tuan, mari kita berangkat,” pinta salah satu penasehat.


Helios hanya bisa mengangguk dan mengikuti para penasehat itu dari belakang. Tapi sebelum itu dia pamit terlebih dahulu pada Ibunya. “Tunggu sebentar,” ucapnya menahan langkah kedua penasehat.


Pria muda itu berjalan menuju dapur. Di sana terdapat Ibunya yang sedang membuat roti untuk cena* nanti. “Ibu, aku pergi. Ayah menyuruhku datang ke istana,” ucapnya sambil mengecup sebelah pipi Ibunda.


“Kamu belum makan, Nak!”


“Nanti saja saat aku pulang dari sana, aku akan membawah beberapa medlar sebagai penganjal perut.”


“Bawalah sebanyak kau mau,” sahut sang Ibu.


Helios tersenyum dan mengambil 3 butir medlar yang hampir membusuk. Sebuah buah unik yang bisa di makan saat sudah membusuk. Buah yang hanya ada di zaman itu.


***


Istana Aegis


Helios menaiki kereta kuda dan menatap penuh minat pada setiap jalan yang ia lintasi. Helios sangat suka dengan pemandangan para manusia yang berkumpul di satu lingkungan seperti pasar. Di sana tidak ada perbedaan antara bangsawan dan rakyat jelata. Yang berkuasa adalah pedagang. Jika pedagang itu tidak mau menjual barangnya, tidak peduli kau siapa, kau tidak bisa memaksa. Itu aturan yang Kaisar Alessa buat saat dirinya naik takhta.


Kaisar mencoba menerapkan para petani yang langsung menjual hasil panennya kepada pembeli tanpa adanya pihak ke-dua dan ke-tiga. Hingga para petani bisa menikmati jerih payahnya tanpa potongan akibat adanya orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Aegis pun hanya meminta sedikit bayaran untuk pajak keamanan. Penjagaan mereka dapatkan dari istana langsung. Anak buah Darius yang berkeliling patroli menjaga situasi pasar agar tetap terkendali.


Sebuah pemikiran yang sangat berani dan brilian di mata Helios. Di tambah anugerah akan kecantikan yang wanita itu dimiliki. Lengkap sudah sosok Kaisar Alessa membuat Helios melupakan Dewi pujaannya yaitu Dewi Aphrodite.


Sesampainya di istana, penasehat menuntunnya ke suatu tempat yang belum pernah dia kunjungi. Dia merasa sedikit aneh karena arahnya bukan menuju kantor sang Ayah.


“Apa kita tidak salah jalan?” tanya Helios.


“Tidak Tuan, Tuan Attala meminta Anda menunggunya di tempat yang kita tuju sekarang,” sahut penasehat.


Helios tidak bertanya lagi dan mengikuti kemana penasehat melangkah hingga mereka berhenti di sebuah pintu yang sangat besar dan megah berwarna emas. Lebarnya sampai 2 meter.


“Ini?”


Penasehat membuka pintu itu dan mempersilahkan Helios memasukinya. Pria itu masuk dan tersentak saat itu juga ketika netranya menangkap berjejer rapi lemari buku nan besar dan banyak di ruangan itu. rak-rak yang terbuat dari kayu mahoni berkualitas. Kayu yang di panen ketika sudah setengah abad baru kemudian dipahat, dijadikan sebagai benda furniture berjualitas tinggi.


Langit-langit ruangan tersebut terbuat dari kaca yang memantulkan cahaya matahari menyinari setiap sisi. Berkilauan membuatnya semakin indah. Helios terpukau dengan semuanya.


Tidak lama kehadiran seseorang lebih mengejutkannya. Helios sampai membeku tidak sanggup menoleh.


“dan laki-laki akan menyediakan untuknya, banyak persembahan di tempat pemujaannya. Dan karena hal-hal ini adalah tiga, demikian juga manusia akan mengorbankan hecatombe yang sempurna untuk Anda di pesta Anda setiap tiga tahun.” Sebuah syair yang dikenal Helios. Pria itu akhirnya mampu untuk menatap sosok yang menggantikan pujaannya selama ini.


“Himne Homeros?”


“Kau tau?” Kaisar tersenyum menawan. Helios menunduk hormat.


“Panjang umur Yang Mulia Kaisar.”


“Kau memang sangat pintar, tidak semua orang tau himne itu. Pantas semua penasehat meminta aku menjadikanmu sebagai selir, Helios apa kau keberatan?”


“Hamba tidak layak untuk menolak.”


“Lalu kenapa aku harus menjemputmu?”


Ucapan sang Kaisar membuatnya malu bukan main. Bukan dia kurang ajar, sesungguhnya dia hanya tidak sanggup menghadapi Kaisar. “Karena hamba tidak mampu sekedar memanggil Anda Yang Mulia… Anda terlalu Mulia….”


“Manis sekali, apa bibir pria memang semanis ini?” Kaisar menyentuh pipi Helios yang masih menunduk. Dibawanya wajah merah itu agar menatap manik biru milik Kaisar. “Jika begitu, besok kau sudah harus di istana. Mengikuti berbagai persiapan pernikahan kita, kau mengerti?”


Helios tidak bisa menjawab. Hanya bisa mengangguk kaku karena gugup.


“Anak baik,” Kaisar pun memberikan kecupan di pipi Helios.


Tbc.


“Yassas.*” sapaan orang yunani


cena* waktu makan antara siang hingga sore