Hareem of Queen Alessa

Hareem of Queen Alessa
Wanita paruh baya



“Beritahukan 20 prajurit terbaik untuk bersiap-siap. Kita akan ke Kerajaan Prussia untuk mencari Yang Mulia Kaisar!” seru Darius pada salah satu anak buahnya.


“SIAP TUAN!” anak buahnya segera pergi menuju barak untuk melaksanakan tugasnya.


Sementara itu dari belakang tubuh Darius ada yang mendekat. Mereka adalah Pangeran Lucas dan Helios.


“Tuan Darius, perkenankan kami ikut!” pinta Pangeran Lucas.


Darius menatap malas dua pria yang tidak lebih baik darinya dalam ilmu pedang. Mau apa mereka berdua? Apa mereka mau membuatnya semakin kerepotan. Yang Mulia Kaisar saja belum ditemukan, haruskah Darius semakin


terbebani karena harus melindungi calon selir Kaisar tersebut?


Darius tidak menjawab, dia memilih melenggang pergi untuk persiapannya ke Negeri mantan kekasih sang Kaisar. Andai dia tahu akan berakhir seperti ini, ia tidak akan pernah membiarkan Kaisar Alessa mengirimkan undangan


sendirian. Setahu dia, Pangeran Evandor menyusup ke kereta kuda Yang Mulia. Tapi, kenapa pria itu tidak melakukan tugasnya? Apa gunanya semua calon selir tersebut jika tidak bisa melindungi Kaisar.


“Para pecundang,” gumam Darius mencibir.


Merasa diabaikan, Pangeran Lucas hanya bisa kecewa. Dia ingin sekali ikut mencari calon istrinya. Jangan sampai hal buruk terjadi pada wanita yang dicintainya itu. Pangeran Lucas tahu ini semua pasti berhubungan dengan Raja Prussia. Apa jangan-jangan Kaisar di kurung di istana Prussia?


Pangeran Lucas menggigit kukunya hingga berdarah karena merasa cemas. Helios yang melihat hal itu segera menarik tangan pangeran Lucas.


“Tenangkan dirimu, kita akan mencari Yang Mulia!”


“Tapi, bagaimana? Tuan Darius sama sekali tidak me-“


“Aku tahu caranya,” potong Helios dengan tatapan meyakinkan. Pria itu pun melihat ke arah Darius yang terus berjalan ke depan. Helios mengejar panglima perang itu.


“Tuan Darius, aku tahu jalan pintas ke Prussia. Dengan jalan itu kita bisa sampai lebih cepat!”


Darius menghentikan langkahnya, menoleh ke belakang tempat Helios berada.


“Kau tahu?”


“Aku mempelajari peta berbagai kerajaan termasuk Prussia,” terang Helios.


“Kau pikir aku tidak bisa membaca peta?” ejek Darius.


“Tapi Tuan tidak tahu, jika ada sebuah jalan tersembunyi yang disembunyikan di setiap peta. Hanya orang tertentu yang bisa membacanya. Jelas, aku bukan orang yang pandai bertarung. Tapi, aku akan sedikit berguna untuk mengartikan segala macam simbol atau isyarat dari negeri lain.”


Darius paham arah perkataan Helios. Pria itu tidak mengira jika ada sebuah pesan tersembunyi di setiap peta. Darius tidak serta merta percaya. Dia pun membuka lembaran kertas yang dimilikinya.


“Jadi, menurutmu ada yang luput dari penglihatanku?”


Helios mengambil peta itu dan menerawangkannya ke arah matahari, perlahan sebuah jalan muncul dari kertas yang sebelumnya terlihat tidak ada jalan apa pun. Darius terdiam sementara Pangeran Lucas berdecak kagum.


“Tuan bisa melihat, ada sebuah jalan dan ada sebuah tulisan Prussia kuno. Apa Tuan bisa membacanya?”


Darius menggeleng. Jujur saja, dia bisa membaca tulisan Prussia. Tapi, untuk Prussia kuno, dia akan mengangkat tangan.


“Ini adalah gunung Pirenia, gunung non aktif yang bisa kita lewati. Setelah itu, kita akan menuruni bukit serta menyebrangi sungai Rhein,” sambung Helios.


“Ini jalur lain?” Pangeran Lucas ikut melihat peta.


“Ya, kita sampai di Kerajaan Prussia lewat jalur belakang. Perjalanan kita hanya akan memakan waktu dua hari satu malam.”


Pangeran Lucas termangu mengagumi kepintaran saingannya itu. ‘Tidak hanya tampan, dia juga sangat pintar. Huft, apa aku memiliki celah untuk bisa menang darinya?’ gumam pria itu menciut.


Kali ini Darius tidak bisa mengelak. Informasi yang diberikan Helios sangat membantu.


“Jadi, Tuan… bisakah kami ikut bersama Anda?” tanya Helios meminta izin.


Darius menimbang-nimbang kemudian mengangguk. “Kau saja, Pangeran Lucas lebih baik tinggal di Istana.”


“Apa yang bisa kau lakukan, Pangeran? Tuan Helios masih berguna, sedangkan kau?”


“Aku … aku bisa membantu apa pun!” kukuh Pangeran Lucas.


“Apa pun?” Darius mengeryit kemudian menyeringai. “Kau yakin?”


“Ya! Aku yakin!”


***


“Apa kau bisa mengangkutnya?” tanya Darius memberikan tiga buah tas berisikan perbekalan di perjalanan pada Pangeran Lucas. Pangeran tampan itu mau tidak mau menerima sambil mengangguk karena memang dari awal dia


sudah mengiyakan apa pun tugas yang di berikan Darius asalkan dirinya diperbolehkan ikut dalam perjalanan mencari Yang Mulia Kaisar.


Dengan kelapangan hati, Pangeran Lucas menjadi pelayan pribadi Darius. Pria itu mengulum senyum penuh misteri setiap memberikan perintah. Helios hanya bisa menggeleng tidak habis pikir. Di tengah keadaan genting seperti ini. Darius masih sempat-sempatnya melakukan hal semacam itu. memanfaatkan Pangeran Lucas. Atau lebih tepatnya, mengerjai Pangeran Lucas.


Sepertinya Darius menyimpan sebuah dendam pada pria itu. Darius sebenarnya memendam kekesalan pada setiap calon selir Kaisar. Namun, karena kali ini Helios berguna, Darius pun bisa menerimanya.


“Setelah mengangkut barang, tolong jaga barang-barang tersebut,” perintah Darius.


“Maksudnya?” tanya sang Pangeran.


“Maksudnya, Pangeran Lucas bisa duduk di kereta barang dan menjaga barang-barang agar tidak hilang,” pungkas Darius berhasil membuat Pangeran Lucas menelan ludah. Bukan apa, para prajurit seolah menahan tawa melihat wajah pias sang Pangeran. Darius dengan sengaja membuat malu Pangeran Lucas.


“Tapi, aku-“ Pangeran Lucas hendak protes. Namun, tatapan Darius begitu mengintimidasi.


“Apa Anda keberatan, Pangeran?”


“Ti-tidak! Tidak sama sekali!” Akhirnya Pangeran Lucas mengalah. Dalam hati Pangeran Lucas mengutuk Darius. ‘Saat Yang Mulia ditemukan, aku akan adukan semua tingkah burukmu yang menindasku. Lihat saja …


aku akan membalasmu, Darius!’


Pangeran Lucas memasuki kereta barang dengan wajah masam. Para prajurit sendiri berjalan beriringan di belakang kereta tersebut.


“Baik, kalau begitu, kita berangkat sekarang!” Darius memberikan komando.


***


Sebuah gubuk di tengah hutan


Seorang pria tampak berbaring lemah. Tubuhnya terdapat bekas luka yang mulai mengering. Luka yang paling parah terdapat di sisi perut sebelah kiri. Karena rasa sakit yang menyengat akhirnya membuat pria itu terjaga.


“Hghh ….”


“Kau sudah sadar, Nak?”


Seorang wanita paruh baya memasuki ruangan. Dia membawa sepiring makanan di tangannya. Pria yang terluka itu adalah Pangeran Evandor. Dirinya mengerjap meniti diri mendapati tubuhnya yang masih utuh setelah sebelumnya sempat terjun dari tebing.


“Aku … masih hidup?”


“Tentu saja kau masih hidup. Ini minumlah, ramuan ini sangat mujarab untuk menyembuhkan lukamu yang cukup parah,” sahut wanita paruh baya tersebut yang telah meletakkan piring makanan ke meja lalu memberikan segelas


obat pada Pangeran Evandor.


Pangeran Evandor melihat sosok itu dengan lebih jelas saat menerima gelas itu. Wajah wanita paruh baya itu mengingatkannya pada seseorang.


“Yang Mulia?”


Tbc.