
Matahari terbit menyinari langit yang tadinya gelap. Memberikan kehidupan agar setiap makhluk hidup terjaga dari tidurnya yang lelap. Semua tidak berlaku untuk Pangeran Evandor yang tidak memejamkan mata semalaman. Ia memikirkan perkataan Natalie tentang Kaisar yang tidak mencarinya. Namun, pria itu berpikir hal lain. Hal yang mampu membuat hatinya gelisah. Tidak masalah jika sang Kaisar lupa akan dirinya. Mungkin saja, beliau sibuk dengan persiapan pernikahan. Pangeran Evandor berusaha memaklumi. Tapi, bagaimana jika bukan itu permasalahannya? Bagaimana jika sesuatu terjadi pada Yang Mulia Kaisar? Sesuatu yang buruk, misalnya.
Pria itu menggeleng, berusaha menepis pikiran gila itu.
‘Jangan sampai pikiran negatifku terjadi. Aku harus memastikannya sendiri!’ batinnya berkecamuk.
Pangeran Evandor bersiap-siap pagi itu juga untuk kembali ke Aegis setelah sarapan. Natalie hanya bisa pasrah ketika usahanya sia-sia. Provokasinya sama sekali tidak berpengaruh pada pria itu. Malahan sang Pangeran ingin cepat-cepat pergi dari sana.
Ibu Maria berdiri di depan pintu gubuk melepas kepergian Pangeran Evandor, sedangkan Natalie hanya menunduk tanpa ingin mengangkat kepalanya. Pangeran Evandor menyentuh bahu wanita muda itu. Seketika itu juga dia mendongak menatap dengan wajah bingung.
Berbeda dengan Pangeran Evandor, pria itu menebarkan senyum tulus. “Aku pergi dulu, terima kasih untuk semua kebaikan kalian,” ucapannya berhasil membuat Natalie semakin sedih.
“Maafkan aku Pangeran karena telah berkata yang tidak-tidak kemarin,” Natalie sadar akan perkataannya yang menghasut sang Pangeran.
“Tidak masalah, aku malah berterima kasih. Karenamu aku tahu apa yang harus aku lakukan. Tidak ada waktu lagi untuk menunda, aku selama ini terlalu santai. Aku tidak tahu keadaan Kaisar yang sebenarnya.”
Ibu Maria yang mendengarkan percakapan Natalie dan Pangeran Evandor pun merasa keheranan. Mengapa Natalie memanggil pria yang dikenalnya sebagai Hans menjadi pangeran?
“Apa ada sesuatu yang aku tidak ketahui?”
Pangeran Evandor pun teringat jika ia belum memberitahukan identitas aslinya pada wanita yang menyelamatkan hidupnya itu.
“Maafkan aku Ibu Maria, aku belum memberitahumu jika sebenarnya namaku bukanlah Hans, melainkan Evandor Daryan. Pangeran Mesopotamia, calon selir Kaisar Aegis.”
Entah mengapa raut wajah Ibu Maria berubah, ekspresinya sulit diartikan. Wanita paruh baya itu mengerjap dengan bibir bergetar. Melangkah maju dan mencengkeram kedua tangan sang Pangeran. “Pangeran Mesopotamia, calon selir Kaisar Aegis?”
“Iya Ibu Maria, ada apa?” Pangeran Evandor sedikit terkejut dengan cengkeraman Ibu Maria.
“Bu-bukankah Kaisar Aegis adalah … seorang pria?” tanya nya terbata.
Pangeran Evandor mengerti maksud Ibu Maria, pria itu langsung menggeleng. “Itu satu tahun yang lalu. Aegis sudah menjadi milik Kaisar baru, Kaisar Alessa Melaina Aphrodite.”
Saat itu juga Ibu Maria melepas cengkeraman hingga terduduk di atas tanah, Pangeran Evandor dan Natalie terkejut melihat hal itu.
“Ada apa, Bu?” Natalie sampai ikut menekuk kaki untuk mengecek kondisi ibunya.
“Ka-kaisar Alessa … Ya Tuhan… Alessa ….” Ibu Maria menitikkan airmata, tubuhnya bergetar dengan hebat.
“Ibu Maria, ada apa?” Pangeran Evandor pun tidak kalah khawatir dengan perubahan sikap yang begitu drastis pada Ibu Maria.
Wanita itu tidak menjawab segala pertanyaan yang dilontarkan padanya. Ibu Maria malah menatap Pangeran Evandor dan menautkan jari-jarinya. “Bawa aku Pangeran! Bawa aku menemui Kaisar!” pintanya lantang dengan air mata yang mengucur deras.
***
Berhari-hari sudah Raja Fabian serta yang lainnya mencari keberadaan Kaisar. Menyusuri hutan cukup dalam, menyisiri setiap sungai hingga lembah. Namun, tidak kunjung menemukan Kaisar maupun Pangeran Evandor. Mereka hampir putus asa. Di tengah pencarian itu Raja Fabian mendapatkan sebuah kabar.
“Baginda Raja!” Knight Albert melangkah lebar menghampiri Raja Fabian yang sedang membicarakan sesuatu dengan Helios.
“Ada apa Knight Albert?”
Pria dengan baju zirahnya itu melihat sekeliling termasuk pada Helios. Knight Albert memilih membisikkan maksudnya pada telinga sang Raja. Raja Fabian mendengarkan dengan seksama sampai dahinya mengerut. Helios sendiri melangkah mundur melihat sebuah kode agar tidak ikut campur dari sang knight. Ia menjaga jarak antara Raja Fabian dengan anak buahnya.
“Sudah waktunya makan siang, kita beristirahat!” seru Darius menghentikan pencarian sejenak.
Pangeran Lucas yang melihat Helios sendirian pun mendekat. Dia penasaran dengan bisik-bisik tetangga yang terjadi dengan Raja Fabian.
“Ada sesuatu?”
“Entahlah, aku tidak menguping,” jawab Helios cepat.
Pangeran Lucas mengerucutkan bibirnya. “Huft, kenapa tidak? Barangkali ada sebuah kabar baik!”
“Kalau memang itu sebuah kabar baik, kita pasti akan segera diberitahu,” Helios membersihkan pedang miliknya yang kotor seusai menebas pepohonan.
“Kau sangat sabar, apa salahnya mengetahui lebih dulu,” sungut Pangeran Lucas tidak mau kalah.
Helios menggeleng tanpa ingin menimpali lagi. Dari arah lain Pangeran Jerome datang dengan sebuah roti dan menyumpal benda itu ke dalam mulut Pangeran Lucas agar pria itu diam.
“Makanlah dengan tenang.”
Helios tersenyum kecil dan menerima makanan dari Pangeran Jerome. “Terima kasih.”
“Sama-sama,” Pangeran Jerome mengangguk. Dia duduk di sebelah Helios.
“Kau memang seorang tiran!” pekik Pangeran Lucas. Dia hampir tersedak oleh roti tersebut.
“Terserah kau.”
Darius yang duduk agak jauh hanya diam melihat tingkah kekanakan para calon selir. Tidak lama, Raja Fabian mendekati mereka yang sedang menikmati makan siang.
“Maafkan aku, sepertinya aku harus kembali ke istana. Ada urusan kerajaan yang mendesak. Untuk Tuan Darius, aku akan memerintah Knight Albert menemani kalian dan memenuhi kebutuhan selama pencarian. Beritakan perkembangan yang kalian temukan ke istana.”
Darius mengangguk. “Baik, Baginda Raja, hati-hati di jalan.”
Raja Fabian tersenyum. Terlepas dari sikapnya dahulu yang ingin melenyapkan semua pria Kaisar. Di saat seperti ini dia malah bekerja sama dengan para calon selir untuk keselamatan wanita itu. Sepertinya semesta sedang bergurau padanya. Raja Fabian pun pergi meninggalkan mereka yang terus melakukan pencarian.
Singkat cerita, sampailah sang Raja ke istana. Ketika ia berjalan di halaman istana, pria itu menangkap sosok yang tidak asing yang tampak berjalan sambil mengendap-endap. Sikapnya sungguh mencurigakan. Sang Raja pun mengikutinya hingga orang itu tidak sadar jika sedang dibuntuti. Karena rasa penasarannya sang Raja pun bersuara. Memanggil orang itu hingga mematung.
“Siapa kamu?”
Orang itu terhenyak. Langkahnya segera terhenti, menoleh dengan perlahan. Matanya langsung melotot saat tahu siapa yang memanggilnya.
“Ya-Yang Mulia?”
“Tina? Sedang apa kamu?” Raja Fabian menarik tudung yang dikenakan oleh orang itu. Orang itu tidak lain adalah pelayan pribadi sang Ratu Anna.
Raja Fabian menelisik Tina dengan intimidasi, pandangannya pun tertuju pada sebuah surat yang di pegang oleh wanita itu.
“Surat apa itu?”
Tina yang telah tertangkap basah hanya bisa meremas surat itu. Tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan.
Tbc.