Hareem of Queen Alessa

Hareem of Queen Alessa
Benteng Barat Prussia



Perjalan rombongan Darius menuju Prussia berjalan tanpa adanya hambatan yang berarti. Mereka hanya disambut dengan hujan cukup deras yang hampir membuat Pangeran Lucas mati kedinginan.


Suhu di Prussia memang lebih rendah di bandingkan dengan Aegis yang cenderung hangat. Dan, untuk pertama kalinya seorang Pangeran Lucas bermalam di perjalanan. Butuh 3 lapis selimut agar dia bisa bertahan. Meski pagi harinya dia terus bersin-bersin. Darius bersikap masa bodo ketika Helios memintanya untuk berhenti sejenak.


“Jangan manjakan dia, Tuan Helios. Anda bukan baby sitternya!” ketus Darius menjawab permintaan Helios.


Pangeran Lucas yang begitu diperhatikan pun menjadi malu sendiri. Padahal selama ini dia sangat merasa tersaingi oleh Helios. “Aku tidak apa-apa, terima kasih Tuan Helios.”


“Kau dengar jawabannya?” Darius menyambut sahutan Pangeran Lucas yang sadar diri. Helios hanya bisa menghela napas panjang.


Helios melihat Pangeran Lucas yang mengangguk lemah. Bukan apa, Helios tidak tega jika melihat orang yang sedang sakit. Wajah Pangeran Lucas pun terlihat merah padam. Helios tahu apa yang sebenarnya pria itu rasakan.


“Tuan Darius … Pangeran Lucas, demam. Akan lebih sulit kedepannya jika keadaan Pangeran semakin parah.”


Mendengar perkataan Helios, Darius pun menghentikan laju kudanya. Pria itu turun dan mendekati Pangeran Lucas. Dengan kasar memegang kening pria bermata biru tersebut. Benar adanya. Tubuh Pangeran Lucas hangat.


Darius pun mendengus kesal. “KITA ISTIRAHAT!” teriaknya.


“Terima kasih … Tuan Darius,” Helios tersenyum lega.


Darius mendelik pada Pangeran Lucas. “Pastikan kau cepat sembuh!”


Pangeran Lucas menunduk sungkan. Ah, kenapa juga dia harus sakit? Di saat seperti ini dia baru menyesal sering mangkir dalam pelatihan prajurit yang ada di kerajaannya. Pelatihan adu ketangkasan yang seharusnya diikuti olehnya. Namun, karena malas dia selalu beralasan jika sang Raja yaitu Ayahnya meminta dia untuk latihan.


Bukankah seorang pemimpin harus lebih hebat dari pada prajuritnya?


“Bolehkah Pangeran Lucas pindah ke dalam kereta kuda bersamaku?” Helios memperkirakan demam yang di derita Pangeran Lucas karena angin malam yang menerpa tubuhnya.


Darius merasa Pangeran Lucas mulai merepotkan. Dia tidak mau ambil pusing.


“Sekarang dia tanggung jawab Anda. Aku mau dia sembuh nanti malam. Karena kita tidak mungkin menunda lagi. Besok pagi, kita harus sudah sampai ke tempat tujuan. Anda tahu ‘kan alasan kita berada di sini?”


Helios mengangguk mantap dan mulai melakukan tugasnya, yaitu merawat Pangeran Lucas.


“Aku butuh semangkuk air dan handuk kecil,” pinta Helios pada pelayan yang sengaja dibawa dari Aegis.


“Baik Tuan!”


“Oh, buatkan juga Elderberry hangat!”


Elderberry adalah jamu kuno dibuat dari tanaman Sambucus nigra. Elderberry telah lama digunakan untuk meredakan sakit kepala, sakit saraf, sakit gigi, pilek, infeksi virus, dan sembelit.


***


Suhu tubuh Pangeran Lucas telah stabil. Darius terdiam menerima berita itu dari pelayan yang juga melihat proses pengobatan yang dilakukan Helios. Tabib yang Darius bawa dari Aegis sendiri kalah cekatan dari Helios. Pria itu ternyata tidak hanya pintar membaca peta. Dia juga pandai dalam ilmu pengobatan.


“Tidak heran dia menjadi pemuda paling menjanjikan di Aegis,” ucap Pangeran Jerome mengacungi kemampuan Helios.


“Aku jadi penasaran, apa dia juga pandai dalam atur strategi perang?” Darius mengusap dagunya. Dengan begini dia bisa meneruskan perjalanan.


“Jika begitu, dia memang cocok menjadi selir utama Kaisar. Bagaimana menurut Anda, Tuan Darius?”


Darius paling kesal jika mengingat status para pria di sana. Para calon selir Kaisar. “Aku lupa bilang jika sebenarnya aku membenci kalian semua,” ungkap Darius terus terang.


“Aku tahu, terlihat dari cara Anda berbicara dan bersikap.”


sambung Darius dan pergi meninggalkan Pangeran Jerome yang mematung.


***


Perjalan pun dilanjutkan. Pangeran Lucas tertidur setelah menerima obat yang Helios buat. Helios menatap para prajurit yang berjalan beriringan di sisi kereta kuda. Tiba-tiba kereta itu terhenti. Sebuah seruan dari salah satu prajurit mengambil atensinya.


“Tuan Darius! Kami melihat sesuatu!” seru prajurit yang berjalan di depan. Darius pun menarik tali kekang kudanya agar segera mendekat.


“Apa yang kau lihat?”


“Bendera Prussia.”


Darius melihat sebuah bendera yang berkibar di sebuah benteng kayu yang terdapat di tengah hutan.


Helios keluar dari kereta kuda. “Kita telah sampai di pertahanan barat Prussia.”


Darius mengangguk dan melihat ke arah Pangeran Jerome. Tiga pria itu saling mengangguk memberikan isyarat langkah apa yang harus dilakukan selanjutnya.


“Kereta kuda tetap diam di tempat. Para prajurit maju Bersamaku. Pastikan jangan ada suara. Kita menyerang mereka dalam diam. Mengerti?!” Darius memberikan arahan.


Para pelayan, tabib dan kereta kuda menunggu di tempat yang aman. Dua orang prajurit mendampingi mereka sebagai penjaga. Sisanya ikut dengan Darius dan para Pangeran, kecuali Pangeran Lucas yang tengah tertidur.


Darius mengangkat tangannya dan mengarahkan ke depan, bersamaan dengan itu prajurit maju dan menyerang benteng Prussia.


Mereka menyebar di setiap sisi benteng, mengendap dan mencari celah. Melumpuhkan para prajurit lawan yang lengah. Waktu yang masih malam dan situasi yang gelap memberikan keuntungan pasukan Darius.


Hanya berselang beberapa jam, semua prajurit Prussia berhasil mereka ringkus. Darius benar-benar meluapkan kekesalannya pada musuh. Dia menebas musuh tanpa ampun hingga tubuhnya bersimbah darah. Pangeran Helios hampir terkena tebasan karena lengah. Ilmu pedang pria satu ini memang yang paling lemah.


“Terima kasih, Pangeran Jerome!”


“Sama-sama, jangan lengah. Kita tidak tahu masih adakah mereka disekitar sini.”


“Ada yang lolos!” salah satu prajurit berteriak. Darius menahan prajurit itu untuk mengejar musuh.


“Biarkan saja, biarkan dia melaporkan apa yang terjadi.”


“Apa tidak masalah, Tuan?” sahut Helios.


“Ini sebagai bentuk peringatan kita. Tidak ada jalan lain selain menyerahkan Yang Mulia kembali. Jika mereka mengabaikannya, segera kirimkan salah satu prajurit ke Aegis untuk membawa 50.000 pasukan. Kita akan ratakan Prussia hari itu juga!” mata membara Darius mampu membuat Pangeran Jerome dan Helios merinding. Prussia benar-benar salah mencari musuh.


***


Istana Prussia


Seorang prajurit dengan perutnya yang terluka berjalan tertatih, dia tesungkur di depan pintu gerbang istana. Rekan-rekannya menghampiri dengan wajah terkejut.


“Apa yang terjadi?” tanya penjaga istana. Dia pun mengenali baju prajurit tersebut. Letak prajurit itu berada. “Kamu dari benteng barat?”


Dengan sulit ia mengangguk, berusaha membuka mulutnya yang mengeluarkan darah. “Kita di se-rang … benteng barat runtuh ….”


Setelah mengatakan itu prajurit tersebut menghembuskan napas terakhir. Dua penjaga istana itu saling pandang. Dengan terbirit-birit masuk ke istana dan mencari panglima perang untuk melaporkan hal tersebut.


Tbc.