Hareem of Queen Alessa

Hareem of Queen Alessa
Penyerangan



Mansion Duke Tristan


Hari-hari berlalu begitu saja, membuat Kaisar Alessa tidak tenang. Bagaimana kabar Aegis tanpa dirinya? Apa yang terjadi dengan Darius dan para calon selir? Apa mereka mencari keberadaannya?


Jika iya, pasti mereka semua sedang kebingungan. Dia harus segera pergi dari sini dan kembali ke Aegis. Tapi, bagaimana caranya? Pria gila itu memasang penjagaan begitu ketat. Bahkan memberikannya banyak pelayan di dalam kamar tidurnya. Terus mengawasi hingga sulit untuk sekedar mengatur napas. Padahal hingga kini tangannya masih dikekang oleh rantai emas.


Kaisar Alessa menghempas tangannya yang seperti mati rasa.


“Apa kau lihat ini?” tunjuknya pada tanda merah di


pergelangan tangan sang Kaisar. “Tanganku kesakitan!”


Melihat hal itu membuat para pelayan berlonjak kaget. Mereka pun segera keluar kamar. Tidak semuanya. Tapi, Sebagian saja. Mereka yang keluar berniat mencari tabib. Semua hal itu sangat tidak perlu. Kaisar Alessa pun menyampaikan keinginannya yang sudah dia minta sejak menapakkan kaki di mansion itu.


“Jika kalian mau aku tidak kesakitan, kalian cukup melepaskan benda sialan ini!”


“Maafkan hamba Yang Mulia Duchess. Semua atas perintah Duke Tristan. Kami tidak berani melepaskan belenggu itu,” sahut pelayan takut. Dia hanya bisa membungkukkan badan tanpa berani melihat kea rah Kaisar Alessa.


Kaisar Alessa hanya memutar bola matanya malas. Sudah berbagai cara dia lakukan agar bisa membuat para pelayan melepaskan dirinya. Tapi, sepertinya rasa takut mereka pada Duke Tristan lebih besar di bandingkan rasa takutnya pada Dewa. Pasalnya, Duke Tristan selalu memberikan ancaman akan keselamatan keluarga dan nyawa mereka. Benar-benar seorang tiran.


Tiba-tiba terpintas sebuah ide. Saat itu juga Kaisar Alessa bangkit dari duduknya. “Di mana pria itu?”


“Maaf Duchess?”


Pelayan itu tidak mengerti siapa yang dimaksud oleh Kaisar Alessa. Wanita itu pun menarik napas menahan kesal. “Maksudku, Duke Tristan!”


“Oh, maafkan hamba Duchess. Tuan Duke sedang ada di ruang kerjanya.”


“Panggilkan dia! Minta dia datang menemuiku!”


Pelayan itu pun mengangguk dan segera pergi memenuhi perintah sang Kaisar. Para pelayan lain diam-diam saling memandang karena tidak biasanya Kaisar mencari majikan mereka.


“Apa yang sedang kalian lihat?” tegur Kaisar menangkap gelagat dari pelayan yang menjaga dirinya.


“Ti-tidak ada Duchess.” Mereka pun tersentak seolah ketahuan sedang mencuri.


“Dari pada kalian melamun tidak berguna, lebih baik bantu aku berganti pakaian.”


Para pelayan terdiam sejenak sampai Kaisar melanjutkan perkataannya. “Aku ingin menyambut Duke Tristan,” ucapnya sambil tersenyum manis.


***


Sementara itu, pelayan yang diperintahkan Kaisa sedang berjalan menuju ruangan kerja sang Duke. Dari kejauhan dia melihat seseorang yang berdiri sambil mengintip di antara celah pintu yang terbuka. Sebuah sikap yang aneh yang belum pernah dia lihat. Tidak ada yang berani melakukan hal itu di dalam mansion sang Duke. Kecuali … dia seorang mata-mata!


“Apa yang sedang kau lakukan!” pelayan tersebut bersuara dengan lantang hingga, membuat yang bersangkutan berdejit kaget.


“A-aku ….”


“SIAPA ITU!” sahutan lain yang berasal dari dalam ruangan kerja pun terdengar.


Tidak lama kemudian Duke Tristan muncul di balik pintu. Pria yang barusan mengintip pun gemetaran. Dia melangkah mundur dengan perlahan. Duke Tristan memberikan tatapan menyeramkan. Sang Duke memindai orang itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tentu saja hal yang dilakukan oleh Duke mampu membuat nyali setiap orang menciut.


“Ma-maafkan saya Tuan, saya berniat untuk membersihkan ruangan-“


Mendengar perkataan pelayannya yang bisa dibilang cukup familiar baginya membuat sang Duke segera menarik pria itu. Mencengkeram kerah bajunya hingga kakinya tidak menapak lantai. Karena sang Duke mengangkatnya hingga orang itu tidak berdaya. Salah satu pengawal pun memasang kuda-kuda siap menyerang.


“KAU MATA-MATA?!” bentaknya.


Pria itu hanya bisa memejamkan mata seolah pasrah denganvnasibnya tanpa ingin menjawab pertanyaan sang Duke. Bersamaan dengan itu derap langkah yang berasal dari tempat lain mengambil atensi mereka. Beberapa pengawal berlarian menuju Duke Tristan.


“Tuan! Kita harus segera pergi dari sini!”


Duke Tristan yang masih belum mencerna hal yang terjadi, menyerahkan orang yang dikira mata-mata pada pengawal yang bersamanya.


“Ada apa Ryan?” Duke Tristan merasakan sebuah firasat buruk.


“Kita diserang oleh pengawal Kaisar Louis, hamba pun tidak mengerti ada apa. Saat hamba menanyakan mereka baik-baik. Mereka malah menyerang kami secara tiba-tiba.


“Apa? Bagaimana bisa mereka menyerang kediamanku. Ada apa ini?” Duke Tristan menggeram hingga maniknya tertuju pada orang yang dituduh sebagai mata-mata. “Kamu! Apa kamu biang keladi semua ini? Kamu mata-mata


Kaisar?”


Pria itu diam saja, tidak mau menjawab meski Duke Tristan mencekik lehernya hingga pria itu membelalakkan mata. Duke Tristan kembali bertanya saat napas orang itu tersendat-sendat. “Apa yang kau laporkan? Sejak kapan kau di sini!”


“A … e-gis ….”


Seketika mata Duke melebar. Dia menghempas orang itu dan segera berlari menuju kamar sang Kaisar. Dia berlari secepat mungkin agar lekas


sampai tujuan.


“Jangan … JANGAN SENTUH DIA!”


Teriaknya saat para prajurit kekaisaran tampak berkerumun di depan kamar yang ditujunya. Dia menerjang para ksatria itu bersama pengawal yang masih mengikutinya.


Di dalam kamar itu para pelayan dan pengawal telah tewas tanpa sisa. Mayat-mayat mereka bergelimpangan dengan genangan darah segar. Hanya ada satu orang yang bertahan, masih berdiri kokoh di sisi ranjang. Kaisar Alessa tampak berusaha melawan dengan sebilah belati yang dia dapat entah dari mana. Dengan benda tersebut, setidaknya tidak akan ada yang bisa mendekatinya.


“Duchess Elena! Kau baik-baik saja?” Duke Tristan menghampiri wanita itu setelah berhasil mengalahkan para prajurit yang sempat berkumpul di kamar Kaisar Alessa.


Kaisar Alessa mengacungkan belatinya pada Duke Tristan. “Ada apa sebenarnya? Mengapa para pengawal menyerangku? Kenapa kau tidak sekalian membunuhku dari awal?”


“Tenanglah, mereka bukan prajuritku. Mereka prajurit Kaisar Louis. Sepertinya aku telah dimata-matai sejak lama. Pria itu mencari celah agar bisa menyingkirkan aku,” ucap sang Duke berusaha menenangkan sang Kaisar.


“Aku tidak peduli dengan masalah negerimu. Sebaiknya kau lepaskan aku!” permintaan Kaisar kali ini menjadi sebuah dilema. Mengikat wanita


itu pun bukan hal yang baik. Karena mereka kini sedang menjadi sasaran, khususnya Kaisar Alessa.


“Aku akan melepaskan belenggu ini asal kau berjanji. Berjanjilah, kau akan tetap bersamaku. Di sini, kau bisa bertahan asal bersamaku. Duchess!”


“Aku akan menepati janji selama kamu bisa menjamin keselamatanku. Jika sebaliknya, aku akan pergi meninggalkanmu tanpa berpikir panjang!” Kaisar Alessa pun tahu jika saat ini hanya Duke Tristan yang bisa diandalkan. Pria


itu tidak mau sampai dirinya terluka. Setidaknya, dia harus selamat sampai bisa kembali ke Aegis!


Tbc.