Hareem of Queen Alessa

Hareem of Queen Alessa
Peringatan Kaisar



Istana Aegis


Pangeran Lucas meraup wajahnya dengan kasar setelah ia berada di dalam kamar, sikapnya yang gelisah semakin membuat sang pelayan panik.


"Pangeran, hamba mohon tenang," pinta Cain.


"Kau bilang aku harus tenang? Apa kau tidak melihat selir yang menempati kamar nomor satu tadi? Wajahnya sangat tampan," ucap Lucas secara tidak langsung memuji saingannya itu.


Cain menunduk, ia sama sekali tidak bisa mengatakan apa pun. Jujur saja, saat ia melihat selir yang menempati kamar nomor satu ia juga


terpana dengan ketampanan lelaki itu, tidak hanya itu tatapan yang tajam serta sikap dinginnya menambah kesan tersendiri.


"Kau diam Cain? Berarti kau juga mengaguminya?" tebak Lucas sembari memberikan pukulan kecil di bahu sang pelayan.


"Maafkan hamba Pangeran… hamba khilaf," Cain


cengar-cengir.


"Kau bilang maaf? Kau sama sekali tidak setia. Kau bilang aku lelaki tertampan, tapi kau memuji lelaki lain?" cecar Lucas tak terima, sungguh emosi lelaki itu sama sekali tidak stabil.


"Hamba pantas mati, Pangeran," sahut Cain memohon ampun yang sedikit mendramatisir.


"Sudahlah, lebih baik kau pijat wajahku agar tidak


berkerut," perintah Lucas yang tak ingin meributkan hal itu lagi, apalagi saat melihat Cain sudah pasrah seperti itu.


Di kamar lain tepatnya kamar Pangeran Persia, Jerome Istvan. Lelaki itu langsung merebahkan dirinya di atas ranjang yang empuk. Ia sama


sekali tidak mempermasalahkan dengan calon selir-selir yang lain, tidur adalah hal yang kini ia butuhkan.


Namun, berbeda dengan kamar dari pangeran Evandor. Lelaki itu langsung menarik salah satu pelayan tercantik yang sempat ia lihat di luar tadi.


"Kau sangat cantik sayang. Apa kau mau


menemaniku?" tanya Evandor pada wanita muda yang kini dibelai dengan penuh kasih sayang.


Sang wanita sangat risih dengan tingkah sang pangeran. Bukan apa-apa wanita itu masih sayang dengan nyawanya.


"Pangeran, mohon maafkan hamba dan izinkan hamba keluar dari kamar ini jika pangeran tidak membutuhkan apa-apa," jawab sang pelayan dengan nada takut.


"Aku membutuhkanmu dan pelayanan darimu, ayo, sayang," bujuk Evandor.


"Sekali lagi mohon lepaskan hamba, Pangeran." Sang wanita meminta dengan wajah penuh iba membuat Evandor kesal lalu mendorongnya.


"Keluar!" bentak Evandor.


Pelayan Evandor yang dibawa dari negerinya kini langsung masuk saat pelayan wanita itu keluar dengan terburu-buru.


"Pangeran, Anda harus mengendalikan diri Anda. Ingat tujuan Anda saat menjadi selir dari kaisar," ucap sang pelayan yang bernama Steven.


"Kau tenang saja. Kaisar pasti akan takluk denganku. Kau tentu tahu keahlian yang aku miliki bukan?" sahut Evandor membanggakan


diri.


"Hamba tau pangeran. Hanya saja saingan Anda bukanlah orang biasa. Apalagi dengan calon selir yang menempati kamar nomor satu, meskipun


ia bukan dari kalangan para pangeran tapi ia kandidat terkuat saat ini," papar steven yang langsung membuat pangeran Evandor memikirkan segala rencana agar bisa merebut hati kaisar.


Sementara itu di kamar nomor satu, Helios Attala sedang meregangkan otot-ototnya dia sama sekali tidak menyangka hanya berjalan menuju


kamar selir menyita kekuatannya. Apalagi pandangan para kandidat selir yang lain seperti ingin membunuhnya.


"Belum sehari aku berada di sini, aku sudah merasakan sesaknya persaingan. Mampukah aku bertahan? Apa aku bisa menjadi yang terbaik


untuk Kaisar?" gumam Helios.


Helios kini mengingat kejadian manis yang terjadi antara dirinya dengan kaisar. Dewi yang ia puja memberikan satu kecupan untuknya, sungguh itu semua adalah anugrah terindah yang pernah ia dapatkan.


"Aku pasti bisa mendampingi yang mulia. Seperti kata Ibu, aku harus menjaga dan mendekati Kaisar lebih dulu. Ingat semua yang sudah


terjadi dan ini semua pasti akan berakhir sempurna," ucap Helios meyakinkan dirinya sendiri.


Ketukan pintu menyadarkan Helios bahwa seseorang telah datang ke kamarnya. Dia bukan seorang pangeran yang memiliki seorang pelayan di sampingnya untuk itu ia harus berjalan sendiri untuk membuka pintu itu.


"Tuan," sapa seorang lelaki.


"Kau siapa?" tanya Helios.


"Hamba, Malo. Hamba ditugaskan oleh penasehat kaisar untuk menjadi pelayan pribadi Anda," terang Malo.


"Pelayan pribadi?" ulang Helios seperti tidak


percaya dengan apa yang dikatakan Malo. Sebenarnya dia sempat melihat setiap pangeran yang didampingin pelayan di sisinya ke manapun mereka berada.


Dengan kikuk Helios mempersilahkan Malo untuk masuk ke dalam kamarnya. Mungkin ini salah satu fasilitas yang diberikan oleh kaisar karena ia


akan menjadi selirnya.


Saat semua kandidat selir sudah berada di dalam kamar masing-masing. Suara tanda pengumuman tengah dibunyikan. Seorang lelaki dengan suara nyaring kini memberikan ultimatum.


"Para kandidat selir. Persiapan diri untuk menghadiri makan malam bersama dengan Kaisar Alessa."


Tiga kali suara lelaki itu mengulang kalimatnya agar para kandidat selir mendengar apa yang ia umumkan.


****


Malam menjelang, untuk pertama kalinya 4 pria dikumpulkan dalam 1 meja makan.


Evandor Daryan dan Helios Attala berada di sayap kanan sementara Jerome Istvan dan Lucas Geovanni berada di sayap kiri. Suasana ruang


makan itu sedikit mencekam, para pria saling melemparkan tatapan penuh arti antara kagum dan mengejek.


Saat keempat pria itu saling menelisik satu sama lain dari arah pintu masuk Kaisar telah tiba dan seperti biasa penampilannya sangat cantik nan bersinar dengan gaun satin berwarna perak melekat di tubuh rampingnya.


Keempat pria itu terpana kagum saat sang kaisar berjalannmenuju ke arah mereka. Hanya saja keempat lelaki itu tidak suka dengan sosok


Darius yang selalu berada di sisi kaisar.


"Silahkan duduk Kaisar Alessa." Darius menarik


kursi agar memudahkan kaisar Alessa menempati kursi pemimpin.


"Terima kasih Darius," ucap Kaisar dengan


senyuman. Senyuman menawan yang jarang dia perlihatkan di depan khalayak.


Darius dengan setia berdiri kokoh di samping kursi Kaisar. Para pria jelas merasa kehadiran Darius sangat berbahaya. Karena kedekatan


Kaisar dengannya terlihat tidak biasa.


Ulasan senyum itu tidak berlangsung lama ketika perhatian Kaisar beralih pada selirnya. Kaisar Alessa memandang satu persatu-satu calon


kandidat dan tentunya hal itu membuat para pria langsung salah tingkah. Ada yang menunduk seperti Helios, dia tidak berani membalas tatapan Kaisar terlalu lama. Jantungnya berdebar tidak karuan. Ada juga yang duduk dengan punggung


yang sangat tegak seolah meminta perhatian lebih, contohnya Pangeran Lucas.


Kaisar Alessa sama sekali tidak bersuara ia terus mengamati keempat lelaki itu. Dari pandangannya ia menemukan sosok Pangeran Persia yang memiliki aura berbeda.


Pangeran itu terlihat tidak ramah karena wajahnya tidak pernah menyunggingkan senyum. Tubuhnya pun lebih besar dibandingkan yang


lainnya. Rambutnya juga panjang dan diikat dengan asal. Meski begitu Kaisar tidak mempersilahkan tampilan Pangeran Persia yang terkesan santai dan sembrono.


‘Dia hampir sama sepertiku,’ batin Kaisar.


Lain halnya dengan para pria yang kini mendapatkan pandangan dari Kaisar, mereka memandang balik dalam diam dengan berbagai pikiran di kepalanya.


‘Apa kaisar suka dengan penampilanku yang tampan dan rupawan?’ batin Pangeran Lucas. Dia berulang kali merapikan rambutnya.


‘Ah, Kaisar Alessa, sungguh beruntung jika aku bisa bermalam denganmu. Kau sungguh mengagumkan,’ batin Evandor yang mulai liar. Pria mesum itu berusaha tebar pesona dengan matanya beberapa kali mengerling pada Kaisar.


Darius yang melihat itu ingin rasanya mencongkel mata pria tersebut.


‘Apa Kaisar masih melihat ke arahku? Sungguh tidak nyaman,’ batin Helios.


‘Kenapa ekspresinya berubah saat dengan para selirnya? Kenapa dia hanya tersenyum pada pria yang berdiri di sampingnya?’ batin Jerome


penasaran.


"Selamat malam, ini adalah pertama kalinya kita


berkumpul bersama. Aku harap kita bisa hidup rukun dan tenang ke depannya. Tapi, sebelum itu aku akan menyampaikan sesuatu," Suara dingin Kaisar terdengar nyaring di gendang telinga masing-masing.


Kini pandangan para pria terarah kesatu titik yaitu Kaisar Alessa, mereka jelas senang memandang calon istrinya dengan lamat-lamat, hingga


Kaisar kembali melontarkan sesuatu yang berhasil membuat mereka menahan napas.


"Kalian semua akan menjadi selirku, sebuah posisi yang sangat menguntungkan bagi kalian tentunya. Lakukanlah tugas kalian dan setialah


pada Aegis. Tapi, jangan minta aku membalas semuanya. Karena satu yang harus kalian ingat. Aku tidak akan memberikan hal lebih dari sebuah status. Jika kalian ingin undur diri dari sekarang aku persilahkan, karena saat kalian


menjadi selirku, kalian harus setia dan patuh akan semua ucapanku. Tidak ada toleransi akan pengkhianatan. Aku akan menggantung kalian saat itu juga," tekan Kaisar mengintimidasi para pria.


Dengan begini mereka diberitahu jika apa pun bisa mereka dapatkan kecuali, cinta sang Kaisar. Dan, loyalitas merupakan harga mati yang tidak boleh mereka ingkari.


Tbc.