Hareem of Queen Alessa

Hareem of Queen Alessa
Jerome Vs Evandor



Usai makan malam para pria kembali ke kamar masing-masing. Mereka semua terdiam dengan berbagai pemikiran setelah Kaisar mengatakan hal yang bisa dibilang peringatan sebelum mereka menjadi selir di Aegis.


Pangeran Lucas dan Helios tidak terlalu mempermasalahkan. Helios yang jelas orang Aegis pasti akan setia pada kekaisaran, sedangkan Lucas sudah terlanjur cinta mati. Dia akan memberikan jiwa dan raga untuk Sang


Kaisar.


Berbeda dengan Pangeran Jerome dan Evandor. Mereka cukup dilema dan bimbang untuk meneruskan niatan menjadi selir Kaisar.


Pangeran Jerome yang kini bimbang, ia langsung keluar dari kamarnya untuk mencari udara segar. Ia sama sekali tidak menyangka di istana itu terdapat sebuah balkon yang didesain menjadi taman.


Bunga-bunga yang bermekaran menjadi penghias, ditambah sinar rembulan yang langsung mengarah ke balkon memanjakan setiap mata yang memandang. Namun, lagi dan lagi semua itu hanya kesenangan fana yang


dirasakan oleh Jerome, ia langsung teringat kembali dengan peringatan yang diberikan oleh Kaisar.


"Aku menerima lamaran dari negeri Aegis karena memang aku tidak ingin negeriku bermusuhan dengan Aegis. Sebuah pernikahan akan menjamin keselamatan negeriku. Tapi, setelah mendengar semua ucapan dari Kaisar kenapa begitu berat?" Jerome mengeluarkan semua isi pikirannya, ia sama sekali tidak bisa menceritakan apa yang dia pikirkan pada orang lain. Biarlah


ucapannya barusan dibawa terbang oleh semilirnya angin malam.


"Apa ini semua sudah takdir yang digariskan oleh Dewa Zeus?" tanya Jerome. Ia langsung mendesah pelan meskipun sikapnya yang


brutal menjadi ciri khasnya. Namun, lelaki itu memiliki perasaan sentimentil untuk kehidupan orang lain terutama pada rakyatnya.


Beberapa saat berlalu Jerome kini hanya bisa kembali terdiam sembari menikmati hembusan angin, di saat pertanyaannya tidak mendapatkan


jawaban.


Sementara di kamar lain pangeran Mesopotamia—Evandor Daryan, tidak jauh berbeda dengan Jerome dia juga terus memikirkan ucapan dari Kaisar.


"Dari awal aku berniat mencari untung dengan pernikahan ini. Aku bisa memiliki banyak wanita di sisiku seandainya kekuasaan setelah pernikahan ini langsung berada di genggaman tanganku. Tapi sekarang?"


"Aku harus setia pada negeri Aegis dan kaisar. Aku memang terpesona akan kecantikan sang kaisar yang tidak pernah aku temui pada


wanita lain."


Pangeran Evandor menghela napas panjang. Kepalanya dibuat berdenyut hebat setelah mengeluarkan isi dalam kepalanya. Berkali-kali menyugar rambutnya yang sudah berantakan.


"Setelah dipikir, tidak ada salahnya jika harus setia dengan Kaisar seumur hidupku. Tapi, apa aku harus berbagi wanita dengan orang lain? Konyol sekali. Ini semua adalah hal yang sejak dulu tidak akan pernah aku lakukan," peringat Evandor pada dirinya sendiri.


Semakin Evandor memikirkan ini semua semakin susah ia bernapas. Dia butuh seorang wanita agar bisa membuat penat dalam kepalanya mencair. Evandor keluar dari kamar mencari sosok wanita yang pernah menolak dirinya. Saat bola matanya bergerilya dia menemukan wanita itu.


"Kau pelayan kemari," perintah Evandor sembari


berteriak karena jarak keduanya lumayan jauh.


Pelayan wanita itu dengan sedikit takut berjalan


tergopoh-gopoh menuju ke arah Pangeran Evandor.


"Ada yang bisa saya bantu pangeran?" tanya sang


pelayan.


"Kemari dan ikuti aku." Pangeran Evandor berjalan


terlebih dahulu, sementara pelayan wanita itu dengan berat hati melangkah mengikuti sang pangeran.


Pangeran Evandor menghentikan langkahnya saat dia sampai pada tempat yang sepi. Tidak hanya itu tempat itu juga sangat indah, suasananya cocok untuk merayu seorang wanita. Tidak! Lebih tepatnya menggoda wanita.


Pangeran Evandor langsung menarik tangan sang pelayan. Menempatkan tubuh pelayan itu di sudut tembok lalu kedua tangan pangeran Evandor mengunci tubuh sang pelayan.


"Kau bilang tidak ingin menemaniku, ‘kan? Tapi aku tidak ingin menyerah! Kau harusnya menyalahkan dirimu, kenapa kau begitu cantik


diantara pelayan yang lain?" ucap Evandor tepat di depan wajah sang pelayan. Bahkan pelayan itu bisa merasakan hembusan napas sang pangeran.


"Pangeran, hamba mohon jangan bersikap seperti ini. Anda adalah calon selir Yang Mulia Kaisar. Anda tidak pantas menyentuh seorang pelayan seperti hamba," papar sang pelayan memperingati. Maniknya liar memperhatikan sekitar. Jangan sampai ada yang menangkapnya berduaan dengan calon selir Kaisar.


"Kenapa tidak? Siapapun pantas untuk aku sentuh apalagi wanita secantik dirimu. Lihatlah bibir ranum milikmu ini, bukankah sangat


sayang untuk dilewatkan?" Dengan jari telunjuk Evandor mengusap bibir sang pelayan.


"Pangeran! Hamba mohon hentikan," pinta sang


Pelayan itu kini hanya bisa memukul-mukul dada bidang pangeran Evandor agar berhenti melakukan aksinya yang kini bibir sang pangeran


hampir menyentuh bibir miliknya. Saat kelopak mata sang pelayan terpejam kini gendang telinganya mendengar suara pukulan keras dari belakang Pangeran Evandor.


BUGH!


BUGH!


"Pantaskah seorang pangeran dari negeri Mesopotamia melakukan hal senonoh seperti ini?" tuding Jerome dengan nada mengejek. Pria itu membogem pipi Pangeran Evandor hingga bibirnya pecah.


"Dasar pembuat onar! B*debah!" Maki Evandor yang tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Jerome.


"Lebih baik aku pembuat onar dibandingkan kau lelaki mata keranjang!" sahut Jerome.


Meskipun itu adalah sebuah kenyataan tapi Evandor tidak suka dengan kalimat yang diucapkan oleh Jerome. Lelaki itu yang sempat ambruk karena mendapatkan bogeman dengan tiba-tiba kini bangkit lalu menyerang Jerome.


Jerome mengamati keadaan sekitar dia bisa membaca gerak-gerik Evandor yang ingin membalas pukulannya tadi, beruntung pria itu bisa langsung menghindari pukulan dari Evandor, ia justru kini kembali memberikan pukulan di pipi pangeran yang terkenal sebagai pria playboy itu.


"Kau tidak pantas untuk bersiteru denganku. Karena kau hanya bisa bermain seperti ini dengan para wanita murahan di luar sana," cetus Jerome sembari menyunggingkan senyum liciknya.


Dada Evandor bergemuruh sudah cukup harga dirinya sebagai pangeran negeri Romawi di hina oleh pangeran negeri Persia. Negeri yang tertinggal, bahkan terkesan primitif. Tanpa banyak gerakan dengan titik tujuan terarah kini Evandor mengepalkan tangannya lalu melayangkan pukulan itu tepat di bibir Jerome.


Jerome yang lengah mau tidak mau dia kini mendapatkan pukulan itu.


"Bagaimana? apa kau merasakan sakit? Kau pikir aku tidak bisa melawan tubuh besar milikmu itu? Dasar otak kosong!"


Keduanya kini tersulut emosi, adu jotos pun terus terjadi. Bagi kedua pangeran itu harga diri adalah nomor satu meskipun, darah bercucuran tidak akan menyerah karena tujuannya hanya satu sebuah kemenangan.


Sementara pelayan wanita yang tadi dilecehkan oleh Evandor kini menjadi panik. Beruntung saja saat itu ia melihat Darius, ia langsung berlari menghampiri tangan kanan sang Kaisar.


“Tuan Darius!” wanita itu menangis.


“Ada apa?”


Pelayan itu bercerita sambil menunjuk ke arah dua pria yang sedang bertikai. Mendengar apa yang terjadi membuat Darius geram. Pria itu segera menghampiri pasangan gulat tersebut.


"Berhenti!" Darius menghunuskan pedangnya diantara kedua leher pria itu.


"Tuan Darius," ucap keduanya saat mendengar suara keras milik Darius.


"Apa kalian dipertemukan di istana ini untuk bisa membunuh satu sama lain?" bentak Darius.


Ke-dua pria itu diam membisu dengan kepalan tinju yang masih mengambang di udara. Masing-masing masih dikuasai amarah. Tapi, keberadaan pedang Darius jelas bukan hanya ancaman. Mereka sempat mendengar Pangeran Lucas yang dilukai oleh pengawal pribadi Kaisar tersebut.


“Apa jadinya jika Kaisar tahu kelakuan seorang Romawi yang terkenal akan adabnya?” sarkas Darius yang langsung mengenai harga diri Evandor. “Kau pikir kau siapa? Kau bisa aku singkirkan saat ini juga. Kaisar terlalu berharga untuk sampah sepertimu!”


Manik merah Darius terlihat berkilat. Ucapannya benar-benar membuat keringat dingin  Evandor menguar dari keningnya.


Evandor menarik diri kemudian menurunkan kepalan tinjunya. Pria itu menunduk. “Maaf!”


Darius tidak mengindahkan permohonan maaf Evandor. "Jika mataku melihat kalian seperti ini lagi. Jangan harap kalian bisa pulang ke negeri kalian dengan nyawa yang masih menyatu ke tubuh kalian!"


Ancaman yang membuat keduanya kini bergidik ngeri. Rumor yang ada tentang Darius nyatanya bukanlah kabar angin saja, lelaki itu benar-benar kejam tidak salah jika Kaisar menobatkannya sebagai panglima perang.


"Dan kau." Darius menunjuk ke arah Jerome, "Cukup beritahu aku jika kau menemukan hal aneh atau menjijikkan seperti ini. Aku tidak akan memberi ampunan lagi.” Jelas lagi-lagi Evandor merasa tersentil. Karena biang keladi semuanya adalah dia sendiri.


"Saya mengerti Tuan," sahut Pangeran Jerome.


Darius pun memasukkan pedangnya yang sempat keluar dari sarungnya. Pedang tajam yang sudah membantai ribuan orang di medan perang. Pria itu melangkah pergi melewati tubuh Evandor sambil berbisik. “Jika kau tidak


tahan untuk menggagahi gundik, pulanglah ke negerimu. Kau tidak dibutuhkan di sini!”


Tbc.


Evandor Daryan