Hareem of Queen Alessa

Hareem of Queen Alessa
Misi Selanjutnya



Istana Diocletianus


Duke Tristan yang di tunggu oleh sang Kaisar tidak kunjung datang. Pria paruh baya itu pun bertanya-tanya.


“Kenapa Duke Tristan belum datang?” tanya nya pada kepala rumah tangga kekaisaran, Gustaf.


“Hamba akan memeriksanya kembali, Yang Mulia.” sahut Gustaf hendak pergi mencari tahu. Namun, baru saja ia akan pergi suara pemberitahuan mengalihkan perhatian semua tamu di aula istana tersebut.


“Tuan Duke Tristan telah tiba!”


Kaisar Louis tersenyum di atas singasananya. Orang yang sangat dia andalkan telah datang ke pesta yang dibuat untuk pria itu. Lambang bendera keluarga Duke Tristan yang merupakan seekor singa menunjukkan kekuatannya, kekuatan Kekaisaran Diocletianus. Setiap negeri memiliki lambangnya sendiri. Lambang Aegis adalah lukisan dewi Athena sebagai dewi perang. Di Eropa, Athena dikenal sebagai dewi Minerva. Nama Aegis pun memiliki arti perisai dewi Athena. Karena itu Yunani di bawah naungan Aegis, yaitu pelindung dewi Athena.


Pria tampan dengan surai emas memasuki aula, maniknya seperti permata ruby memandang dingin setiap orang. Dia hanya akan berbinar ketika menatap Kaisar Alessa hingga netranya berkilau. Sebuah hal yang tidak diketahui siapa pun.


“Tristan de Abelard menghadap matahari Diocletianus, Yang Mulia Kaisar Louis,” sapa Duke Tristan sambil menekuk kakinya di hadapan Kaisar Louis.


Kaisar Louis mengangkat tangannya. “Bangunlah anakku, Duke Tristan de Abelard. Selamat akan keberhasilanmu menunaikan tugas dariku.”


Duke Tristan tersenyum tipis sambil mengangguk. “Semua hanya untuk Yang Mulia,” ucapnya berdusta. Apa jadinya jika Kaisar Louis tahu akan yang sebenarnya?


“Kamu tidak pernah mengecewakanku,” ungkap Kaisar bangga. Pria itu berdiri dan mengambil segelas anggur merah. Mengangkatnya tinggi. “Mari bersulang akan kejayaan Diocletianus, karena selanjutnya akan ada banyak misi yang harus kita lakukan, Duke.”


“Misi baru? Apa itu Yang Mulia?”


“Tentu saja mengambil alih Aegis, bukankah pemimpin mereka telah mati. Sebelum negeri lain menyadarinya. Kita harus lebih dulu menduduki Aegis. Masa kejayaan Yunani sudah berakhir.” Kaisar Louis berkata dengan ambisi di matanya. Duke Tristan hanya mengatupkan bibirnya rapat. Entah apa yang ada di dalam pikirannya sekarang.


***


Pesta berlangsung hingga larut malam. Para tamu mengelilingi Duke Tristan. Terutama para wanita lajang yang berusaha merayu dan menawarkan diri menghangatkan ranjangnya yang sudah lama dingin. Pria itu bergeming dengan pikirannya tidak berada di tempat. Mengingat niat Kaisar Louis selanjutnya. Apa yang sebaiknya dia lakukan? Membebaskan Kaisar Alessa agar Aegis selamat? Atau tetap mengurung wanita itu, menjadikannya Duchess di atas kertas. Karena dia tidak akan bisa menampilkan wanita itu di khalayak umum. Keselamatannya terancam karena statusnya akan menjadi buronan jika Kaisar Louis tahu ia masih hidup.


Awalnya dia tidak tahu jika wanita yang digilainya adalah seorang Kaisar. Kaisar sebuah negeri besar yang terkenal akan kekuatan militernya. Aegis tidak pernah kalah, mereka seolah memiliki kekuatan super yang diturunkan dari dewa mereka. Tapi, semua tidak akan sama tanpa seorang pemimpin. Aegis hanya cangkang tanpa adanya Kaisar Alessa. Mengingat betapa wanita itu mengagungkan gelar dan tanah airnya, apa ia akan diam saat mengetahui niat Kaisar Louis yang akan mengambil alih Aegis?


Melepas wanita itu pun Duke Tristan tidak sanggup. Dia sudah terkena kutukan cinta mati. Cinta yang memaksakan, karena sebelumnya hanya itu yang Duke Tristan tahu. Harus memiliki dan berada di sisinya sampai kapan pun. Meski salah satunya menderita dan ingin pergi.


***


Prussia


Raja Fabian dan para calon selir memulai pencarian. Mereka bahkan mendirikan tenda agar bisa terus mencari hingga ke dalam hutan. Mereka akan terus mencari hingga mendapatkan petunjuk.


“Minumlah,” tawar Helios memberikan teh hangat pada setiap orang. Pria itu tidak hanya tampan dan pintar. Tapi, juga hilai dalam urusan rumah tangga. Sungguh sosok suami idaman setiap wanita. Pangeran Lucas hanya bisa menghela napas panjang, kesal karena tidak mendapatkan kelemahan Helios. Pria yang sudah digadangkan menjadi selir utama Kaisar.


“Ya! Terima kasih. Aku akan tidur lebih dulu!” jawab Pangeran Lucas setelah menenggak teh tersebut lalu pergi memasuki tenda.


“Lihat kelakuannya, saat pencarian saja dia banyak merengek meminta istirahat. Dan, sekarang dia tidur lebih dulu. Aku bingung mengapa kau membawanya ke sini, Helios?” tanya Darius yang diangguki oleh Pangeran Jerome.


Helios tersenyum tipis. “Pangeran Lucas adalah calon selir yang paling Kaisar sukai. Aku hanya ingin Kaisar senang ketika kita bertemu dengannya. Setidaknya dia mengetahui jika Pangeran Lucas sangat mengkhawatirkan Yang Mulia.” Helios tahu jika sebelum Kaisar pergi, mereka berdua bertemu secara empat mata. Dari sana Helios menyimpulkan semuanya.


“Kamu begitu lapang dada, memangnya kau tidak cemburu?” tanya Pangeran Jerome penasaran. Baru kali ini dia menemui orang seperti Helios.


Helios menggeleng. “Kita semua adalah milik Kaisar, sudah sepatutnya menyenangkan Yang Mulia. Membalas segala kemurahan hatinya pada kita.”


Darius terkekeh mendengar jawaban Helios. Ia bangkit dari duduknya. Darius sudah tidak mau mendengarkan apa-apa lagi masalah para calon selir, membuatnya sulit untuk sekedar menelan teh tersebut. “Kau orang yang sangat langka. Karena sejatinya tidak ada cinta yang tidak ingin memiliki seutuhnya. Apa kau yakin kau sudah sepenuhnya menyukai Kaisar?”


Pertanyaan Darius sungguh mengejutkan Helios. Dari cara bicara Darius, seolah pria itu sangat tahu akan yang namanya cinta. Pria sedingin es dan sekejam dewa Hades bisa mengartikan sebuah perasaan? Helios berusaha mencerna semuanya. Pangeran Jerome tidak kalah terkejut, hanya saja ia tidak memperpanjangnya. Sedangkan Helios justru berusaha mengartikan maksud Darius.


Helios terdiam sejenak membiarkan Darius yang pergi dari sana. Pria itu berjalan menuju para prajuritnya yang sedang berkumpul. Tidak lama mata Helios membulat, ia melihat ke arah Darius dengan tatapan tidak percaya.


“Oh Tidak! Ini tidak mungkin terjadi ‘kan?” pekik Helios membuat Pangeran Jerome keheranan.


“Apa maksudmu?”


“Tuan Darius, dia … ada hati pada Yang Mulia! Dia mencintai Yang Mulia Kaisar!”


***


Istana Prussia


Ratu Anna menuliskan sebuah surat untuk pamannya Kaisar Louis. Dia menanyakan kabar akan permintaannya melenyapkan Kaisar Alessa. Dia ingin memastikan jika wanita itu sudah mati. Dengan begitu tidak ada lagi yang bisa merebut suaminya. Hati Raja Fabian mungkin pada Kaisar Alessa. Tapi, seiring waktu perasaan itu akan terkikis jika orang yang bersangkutan sudah menghilang dari dunia ini. Sebuah perasaan yang tidak akan pernah sampai.


“Kamu kinimkan lagi surat ini seperti kemarin, kau mengerti?!”


“Baik, Yang Mulia Ratu. Hamba pamit,” ucap pelayan pribadinya, Tina.


“Pergilah, dan pastikan tidak ada yang tahu masalah ini.”


Pelayan itu mengangguk dan pergi dari sana. Ratu Anna menggenggam tangannya yang gemetaran. Perasaan takut yang berlebihan itu selalu datang dan mengusiknya hingga membuat tubuhnya seperti mengigil. Terkadang ia menghilangkannya dengan meminum alcohol. Mabuk sampai pagi.


Tbc.