Hareem of Queen Alessa

Hareem of Queen Alessa
Tidak berdaya.



Kekaisaran Aegis


Berbagai cara telah Tuan Cicero lakukan agar penjaga penjara mau melepaskan dirinya dan pangeran Jerome. Namun, semua sia-sia saja. Karena penjaga yang ditugaskan bukanlah orang Aegis. Melainkan orang Eropa Timur.


“Kau tidak diharapkan di sini, manusia laknat!” maki Tuan Cicero memancing dua penjaga penjara naik pitam. Mereka menendang pintu penjara dengan keras hingga terbuka bahkan tubuh Tuan Cicero sendiri terpelanting ke belakang. Pangeran Jerome segera menangkap tubuh pria tua itu.


“Tinggal menunggu waktu, kalian akan segera berakhir di tiang gantungan,” ucap salah satu penjaga.


“Benar sekali, harusnya kalian sadar diri,” sahut penjaga yang ke-dua. Dia pun melirik ke arah Pangeran Jerome dengan tatapan cemooh. “Kudengar, ada yang mengaku sebagai calon selir Kaisar. Hahahaha, selera Kaisar benar-benar buruk. Harusnya dia melihat aku yang lebih gagah dan per-“


BRUGHH!!! Krek!!!


Pangeran Jerome maju secepat kilat membekuk penjaga yang barusan berbicara. Semua terjadi dengan sangat cepat. Tuan Cicero sendiri sampai tidak menyadari pergerakan pria itu. Kini Pangeran Jerome berada di atas tubuh penjaga. Pangeran Jerome mencekik penjaga itu hingga mata penjaga itu mendelik ke atas.


“Jaga mulut kotormu! Kau sama sekali tidak pantas bahkan hanya sekedar menyebut Namanya!” desis Pangeran Jerome. Pengawal yang lain berusaha membantu temannya. Namun, Tuan Cicero tidak tinggal diam. Pria tua itu pun ikut memiting tangan sang penjaga meski tenaganya kalah besar. Dia mengerahkan seluruh kekuatannya, menunggu Pangeran Jerome membereskan pengawal yang sedang dicekiknya.


Tidak memakan waktu lama, penjaga itu meregang nyawa. Pengawal yang sedang menyerang Tuan Cicero pun menjadi korban selanjutnya. Setelah dua penjaga itu mati. Pangeran Jerome dan Tuan Cicero melepaskan para pejabat dan penasehat yang juga terkurung di penjara bawah tanah.


“Aku akan membereskan penjaga yang berjaga di pintu keluar penjara. Mereka semua pasti orang Eropa Timur. Setelah itu kalian harus pergi untuk mencari tempat perlindungan. Tunggu sampai keadaan aman dan Tuan Darius datang. Beliau tidak tahu jika Aegis telah diserang. Setidaknya sampai saat ini Kaisar Eropa belum sampai Aegis,” Pangeran Jerome memberikan arahan. Mereka semua tidak ada yang membantah atau memberikan sanggahan. Semuanya setuju akan usul Pangeran Jerome.


***


Hutan Diocletianus


“Tuan Darius! Roda keretanya rusak!” seorang prajurit berseru menghentikan perjalanan. Saat itu juga Darius merasakan sebuah firasat tidak enak, entah berasal dari mana. Dari Kaisar ataukah dari yang lain misalnya, dari Aegis.


“Kita tunda perjalanan!” perintahnya. Darius duduk di bawah pohon untuk beristirahat.


Mendengar bahwa perjalanan kembali tertunda, Helios pun turun dari kereta kudanya. “Ada apa Tuan?”


“Perasaanku tidak enak, sungguh mengganggu,” baru kali Helios melihat Darius mengeluh. Pria itu terlihat sangat lemah.


“Tuan, apa sebaiknya kita menunggu pasukan Aegis datang terlebih dahulu?” Helios mencoba memberikan jalan keluar. Darius hanya diam sambil menatap tanah.


“Entahlah, kali ini aku benar-benar bingung harus melakukan apa? Karena Kaisar tidak berada di sisiku,” u ngkapnya terus terang. Selama ini Kaisar selalu bersamanya. Mereka berbagi suka dan duka, hingga keberadaan Kaisar sangat berpengaruh pada Darius. Meski hatinya percaya sang Kaisar masih hidup. Tapi, jika kenyataannya berkata lain. Rasanya dia tidak akan siap menerima hal itu.


“Yakinlah dengan hatimu, Tuan. Karena aku pun percaya Kaisar baik-baik saja. Kita pasti bisa membawanya kembali pulang.”


Darius menoleh dan tersenyum. “Terima Kasih Tuan Helios. Aku menjadi tenang menyerahkan Kaisar padamu.”


Darius berniat kembali menaiki kudanya. Namun, tertahan oleh pertanyaan Helios. “Kenapa harus menyerahkan padaku? Kenapa tidak Tuan Darius yang mengurus Kaisar?”


Darius terkekeh dan menjawab asal. “Aku bukan selir Kaisar.”


“Jika Anda ditawari menjadi seorang selir Kaisar, apa Anda bersedia?”


Hatinya bergejolak, baru saja dia berniat untuk menjawab. Seorang prajurit menghampiri.


“Roda kereta kudanya sudah diperbaiki, Tuan!”


Darius dan Helios menoleh pada prajurit itu. Tuan Helios memandang malas prajurit itu. Sebaliknya, Darius merasa terselamatkan. Dia pun mengalihkan topik pembicaraan.


“Oh, baiklah! Sepertinya kita sudah bisa melanjutkan perjalanan. Ayo!”


“Tuan, tolong jangan mengalihkan pertanyaan saya.” Helios tidak begitu saja melepaskan Darius. Darius pun mengeluarkan statementnya.


“Jika memang Kaisar menawarkan aku gelar sebagai seorang selir, tentu saja aku akan menerimanya. Meskipun itu tidak mungkin.”


“Jadi benar jika Anda menyukai Yang Mulia?”


“Tidak hanya itu, dia segalanya bagiku. Apa pun yang terbaik untuknya akan aku perjuangkan. Apa kau sudah puas, Tuan Helios?”


Helios tidak menjawab apa-apa, membiarkan Darius menaiki kudanya dan maju ke depan. Tanpa mereka tahu jika ada Pangeran Lucas di balik kereta kuda. Pria itu mendengar semua percakapan Darius dan Helios dengan seksama.


Pria itu menjadi muram, jika Darius mengagumi sang Kaisar maka tidak ada celah untuknya bisa dekat dengan Kaisar Alessa. Sosok Helios saja sudah membuatnya merinding. Apa lagi jika Darius menjadi selir ke-5 Kaisar. Pangeran Lucas tentu saja aku akan menjadi biara karena tidak dikunjungi Kaisar. Darius pasti akan memonopoli Yang Mulia. Segala pikiran buruk berseliweran di otaknya.


***


Sementara itu Kaisar yang juga berada di kaki gunung Diocletianus terus menyusuri jalan untuk keluar dari sana. Dia sampai mencuri sebuah kuda di salah satu desa kecil. Sepanjang jalan Kaisar Alessa berkata “Aku hanya meminjammu, ya kuda! Aku akan mengembalikanmu setelah aku sampai Aegis.”


Ucapannya berulang hingga Kaisar Alessa kelelahan sendiri. Kaisar Alessa menarik tali kekang guna mempercepat laju kuda. Karena maniknya menangkap sesuatu dari kejauhan. Mendadak hatinya terasa berdebar-debar.


“Aku seperti mengenai kereta itu. Dewa, kumohon berikan keajaiban!”


 Semakin lama, semakin dekat, Kaisar Alessa pun akhirnya berhasil mengikis jarak antara mereka hingga sekitar 10 meter.


Dari jarak segitu Kaisar Alessa berteriak. Meski dia tahu aksinya ini sangat berbahaya. Tapi, tidak ada salahnya untuk mencoba. “Kalian berhenti!” dengan Bahasa Aegis.


Satu detik, dua detik, tigak detik kereta itu seolah tidak mendengar. Kaisar Alessa telah pasrah. Besar Kemungkinan kereta kuda itu bukanlah dari Aegis melainkan dari Diocletianus. Kaisar Alessa berniat menarik tali kekang dan memutar arah. Ingin melarikan diri sebelum ditangkap oleh para pasukan Diocletianus.


“YANG MULIA!”


Suara itu menghentikan laju kuda Kaisar Alessa. Wanita itu segera menoleh ke asal suara. Sosok pria dengan surai merahnya. Kaisar Alessa melebarkan mata kemudian menutup mulutnya. Rasa haru merayapi hatinya yang hampir putus asa. Rasa tidak berdaya pun menguar begitu saja. Kaisar Alessa segera turun dari kudanya. Maniknya berkabut. Akhirnya pelariannya berakhir.


“DARIUS!”


Langkahnya secara alami melangkah menghampiri pria itu. Kaisar Alessa melompat dan memeluk pria itu.


 Tbc.