
Pangeran Yudas tidak sadarkan diri sedangkan Puteri Alessa sudah diambang batas kesabaran. Dia ingin tahu di mana sang ibunda berada, satu-satunya keluarga yang dia miliki.
“YUDAS, BANGUN! YUDAS!” Puteri Alessa berteriak seperti orang kesetanan. Padahal orang yang dia tanyai tidak bisa mendengarnya.
Tidak lama Darius sampai di kamar Kaisar di mana Puteri Alessa berada. Namun, Darius terkejut dengan Puteri Alessa yang menujukkan raut ketakutan serta terdapat derai air mata di pipinya. “Tuan Puteri Alessa?”
“Darius! Tolong aku!” Puteri Alessa segera bangkit dan menghampiri Darius.
“Ada apa? Tuan Puteri sudah membunuhnya?”
Puteri Alessa menggeleng. “Selamatkan dia!” sebuah perintah yang terdengar aneh di telinga Darius.
“Apa?”
“SELAMATKAN DIA! CEPAT!” Puteri Alessa berteriak keras hingga Darius terperanjat.
Darius yang masih tidak mengerti dengan permintaan sang Puteri hanya bisa mengikuti keinginannya. Dairus segera memerintahkan pengawalnya untuk mencari tabib. Pangeran Yudas pun di pindahkan ke kamar lain.
Istana berhasil dilumpuhkan hingga kini Darius yang memegang kendali karena panglima Zurith sudah ia singkirkan. Darius pun meminta salah satu pasukannya untuk menyusul ke medan perang di mana pasukan Aegis tengah bertarung dengan Persia. Darius memerintahkan pasukan Aegis untuk kembali ke kekaisaran.
“Puteri Alessa….” Darius menemui Puteri Alessa yang masih di tempat yang sama. Masih terduduk di lantai dengan darah Pangeran Yudas yang menggenang.
“Hamba telah memanggilkan tabib untuk merawat Pangeran Yudas.” Darius melaporkan apa yang sudah dia kerjakan.
Mendengar hal itu membuat Puteri Alessa segera menoleh, dengan wajah penuh harap. “Apakah dia telah sadar?”
Darius menggeleng dan itu membuat Puteri Alessa kecewa. Wanita yang berhati dingin itu menangis lagi. Wanita yang mampu melayangkan pedangnya pada leher setiap pengawal sedang rapuh, serapuh-rapuhnya.
“Ada apa Tuan Puteri?” Darius masih penasaran.
“Dia bilang… dia menahan Ibuku. Jika dia mati, aku tidak akan pernah tahu ada di mana Ibundaku….”
Darius mulai mengerti mengapa sang Puteri sampai mau merawat orang yang sudah membunuh Kaisar dan juga ingin melenyapkan dirinya. Karena Permaisuri Rhea lah alasan nya.
“Kita tidak perlu merawatnya, hanya buat dia sadar dan memberitahukan di mana yang Mulia permaisuri berada… Tapi, hamba rasa ada cara lain….” Darius mengingat sesuatu.
“Apa itu Darius?”
“Menggunakan Selir Maria Eve,” sambung Darius.
“Ibunda Eve…. Benar yang kau katakan. Panggil dia!” Puteri Alessa mengusap bekas air matanya lalu menyeringai menyeramkan. “Aku ingin menyapanya.”
BRUK!!!
“APA YANG KALIAN LAKUKAN PADAKU! AKU INI IBU DARI KAISAR KALIAN!” maki Selir Maria Eve pada pengawal yang berjejer rapi di hadapannya setelah menghempaskan tubuhnya di atas lantai dengan sebuah ikatan di pergelangan tangan.
“PANGGIL KAISAR SEKARANG! AKU PASTIKAN KEPALA KALIAN MENJADI SANTAPAN ANJING HUTAN!” ancamnya sambil melemparkan tatapan nyalang pada setiap pengawal.
“Kaisar yang mana yang kau maksud?” suara seseorang yang berhasil mengalihkan amarah Selir Maria yang tadinya meluap-luap menjadi hilang seketika.
“Apa kabar Ibunda Eve?” Puteri Alessa berdiri menjulang di hadapan Selir Maria Eve.
“Pu-puteri… Alessa?” suaranya terdengar samar dan terbata. Wajahnya pias seperti mayat hidup.
“Kau masih mengingatku?”
“Kau… bukankah kau sudah?”
“Mati? Kalau aku bangkit dari kubur, apa Ibunda percaya?”
“Tidak mungkin!” Selir Eve menggeleng.
“Tidak percaya ya…. bagaimana jika melihat sesuatu yang dapat menyadarkanmu, Ibu….” Puteri Alessa berjalan ke samping memperlihatkan sesosok manusia yang sedang diikat di atas kursi kayu. Tangan nya terputus, mengucurkan darah begitu banyak. Selir Eve sampai tidak mengenali orang yang ada tidak jauh darinya. Setelah diamati, wanita paruh baya itu pun histeris.
“Aku tidak melakukan apa-apa… aku hanya membela diri. Bukan kah Kakak juga melakukan hal yang sama denganku?” sarkas Puteri Alessa.
“Lepaskan Kaisar Yudas! Apa yang kau inginkan?”
“Aku suka dengan Ibunda yang langsung pada intinya.” Puteri Alessa mengelilingi Selir Eve. “Di mana Ibunda Permaisuri Rhea berada?”
“I-itu… aku tidak tahu,” Selir Eve mengalihkan pandangan.
Puteri Alessa tersenyum dan mendekati Pangeran Yudas. Tanpa aba-aba, Puteri Alessa menebas tangan yang satunya hingga putus.
ZRASH!
“AARRGGGG!” teriak Pangeran Yudas.
“AAAAAAAAAAA!”
“Ternyata kau bisa sadar?” tanpa rasa bersalah Puteri Alessa bertanya. Karena Pangeran Yudas tersadar dari pingsannya.
“Hentikan Puteri Alessa!”
“AKU AKAN BERHENTI ASAL KAU MEMBERITAHUKU DI MANA IBUKU!” teriaknya dengan amarah. Selir Maria Eve ketakutan karena hanya ada kebencian di mata Puteri Alessa.
“Masih tidak mau memberitahu?” tanyanya tidak sabar. “Kalaupun aku tidak tahu, aku tidak akan pernah membiarkan kalian hidup! Pengawal! Penggal mereka!” Puteri Alessa akhirnya memberikan perintah yang sejak tadi Darius nantikan. Pria itu tidak akan tenang selama dua manusia itu masih menghirup udara.
“Jangan! Ampuni kami Tuan Puteri!” Selir Maria Eve mengiba, berusaha meronta di tengah seretan para pengawal.
Puteri Alessa tidak bodoh. Dia akan tetap mencari meskipun tidak diberitahu di mana ibundanya berada. Dia pikir seorang selir akan memperjuangkan puteranya. Ternyata hingga perintah itu terucap, wanita paruh baya itu masih tidak mau membuka mulut. Jangan salahkan Puteri Alessa bertindak kejam, mereka yang lebih dulu telah menanamkan hal serupa. Apa yang kau tanam maka itu pula yang akan kau tuai.
Pemenggalan pun dimulai. Selir Maria Eve masih berteriak di ujung napasnya.
“Setidaknya kami tidak membunuh Ibumu! Mengapa kau begitu kejam?”
Puteri Alessa terdiam dan berpikir. Apa yang Selir Eve katakan benar. Tapi, Puteri Alessa telah kehilangan Ayahanda. Seharusnya semuanya adil. Jadi, Puteri Alessa memutuskan untuk hanya memenggal Selir Eve, dan membiarkan Pangeran Yudas membusuk di penjara bawah tanah.
“Aku akan memberikan kemurahan hati padamu karena kamu mau mengorbankan diri demi anakmu, Ibunda….”
“Maksudmu?”
Pertanyaan itu tidak terjawab. Karena pedang sudah terlanjur melayang ke leher wanita paruh baya itu.
***
Kerajaan Persia
Kabar jika kekaisaran Aegis telah jatuh ke tangan Puteri Alessa telah tersebar hingga penjuru negeri. Bahkan hingga ke negeri lain yang berdekatan dengan kekaisaran Aegis. Salah satunya Kerajaan Persia. Karena Puteri Alessa pula lah negeri Persia selamat dari kemungkinan kalah dalam perang.
“Jadi, berita itu benar?” tanya sang raja kepada para penasihat di dalam rapat kerajaan.
“Iya yang Mulia, ada keuntungan dari kudeta yang terjadi di sana. Kerajaan kita belum sempat kalah,” jawab penasehat 1.
“Tapi, jika mereka menyerang lagi, aku tidak menjamin keselamatan Kerajaan ini,” sahut para penasehat lain.
“Semoga masa itu tidak pernah terjadi,” ucap sang raja penuh harap. “Aegis terkenal akan pasukannya yang hebat dan kuat. Sebaiknya kita tidak membuat masalah dengan mereka,” tambah sang Raja.
Percakapan Raja Persia dengan para penasehat terdengar oleh pangeran Jerome Istvan, putera mahkota kerajaan Persia. Pria berusia 23 tahun itu tertarik dengan sosok Puteri yang mampu meruntuhkan kekuasaan Yudas yang terkenal kejam yang hanya bertahan selama 5 tahun.
‘Seperti apa rupa, hingga mampu bertarung di medan perang? Pasti sangat sangar seperti para pengawal Aegis yang terkenal menyeramkan,’ gumamnya dalam hati.
Tbc.