Hareem of Queen Alessa

Hareem of Queen Alessa
Jasa tidak ternilai



 Pertemuan Darius dan Kaisar Alessa sungguh mengharu biru. Wanita itu memeluk erat panglima perang yang mengabdi padanya sejak dirinya belum menjadi Kaisar. Waktu bagai terhenti bagi mereka berdua. Darius menyalurkan rasa terpendam saat itu, dengan berani mengusap wajah sang Kaisar. Dia tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang dikabarkan telah mati oleh Kaisar Diocletianus. Sedangkan Kaisar Alessa sendiri membiarkannya. Baginya apa yang dilakukan Darius adalah hal biasa.


“Demi Dewa, Anda masih hidup!” ucap Darius agak bergetar.


“Iya Darius, aku masih hidup! Dan aku senang bisa bertemu denganmu lagi.” Kaisar mengangguk sambil tersenyum. Senyuman yang telah lama tidak Darius lihat.


Darius menggeleng. yang paling bahagia adalah dirinya. “Hamba sangat bersyukur Yang Mulia baik-baik saja. Kekhawatiran hamba langsung raib tidak berbekas.”


“Terima kasih karena telah mengkhawatirkan aku, Darius.” Kembali Kaisar menyunggingkan senyum.


Darius pun terpana dan ingin kembali memeluk Kaisar. Namun, niatnya tertahan oleh suara seseorang di belakang tubuhnya. Darius memejamkan  mata menahan getir.


“Yang Mulia, benarkah itu Anda?”


Kaisar yang dipanggil pun melihat ke arah suara. Pria tampan dengan manik sebiru lautan menatapnya dengan wajah terkejut.


“Pangeran Lucas? Kau ada di sini?” Kaisar Alessa baru menyadari akan keberadaan calon selirnya tersebut. Dia kira pria yang kurang lihai berpedang itu tidak akan mungkin ada di sini.


Pangeran Lucas segera mendekat dengan setengah berlari, tanpa aba-aba langsung memeluk Kaisar Alessa. Darius yang berada di samping Kaisar langsung melangkah mundur. Bertepatan dengan itu Helios pun berjalan menghampiri. Wajah pria itu tidak kalah terkejut. Tapi, kemudian dia tersenyum senang karena do’anya terkabul. Wanita yang akan menjadi istrinya itu ternyata baik-baik saja. Berarti isi surat yang di dapat oleh Raja Fabian adalah sebuah kebohongan.


“Yang Mulia, syukurlah Anda masih hidup. Anda baik-baik saja! Hamba begitu merindukan Anda.”


“Pa-pangeran, tenanglah!” Kaisar Alessa pun melepaskan pelukan itu.


“Hamba sangat sedih saat mendengar kabar jika Yang Mulia telah tiada,” ucap Pangeran Lucas dengan sedih. Mendengar ucapan sang Pangeran sontak membuat Kaisar melebarkan mata.


“Dari mana kau mendengar kabar seperti itu?”


“Dari Raja Fabian. Beliau mendapatkan sebuah surat yang berasal dari Kekaisaran Diocletianus untuk Ratu Anna,” sahut Helios.


“Helios!”


“Panjang umur Yang Mulia Kaisar Alessa,” salamnya sambil menekuk kaki. Pria itu bersimpuh di hadapan Kaisar Alessa.


“Kau juga ada di sini?”


“Iya Yang Mulia, semua selir mencari Anda sejak Anda tidak kunjung kembali dengan Pangeran Evandor.”


“Jadi, kalian semua mencariku?” tanyanya dengan perasaan haru. Begitu banyak yang peduli padanya. Termasuk para pria yang ia ragukan kesetiaannya, “kenapa mencariku? Kalian bisa bersama wanita lain jika kalian tahu aku telah mati.”


“Kami yakin Yang Mulia masih hidup, kalaupun Yang Mulia telah tiada aku tidak akan menikah seumur hidupku. ”Pangeran Lucas tersenyum tipis. Terlihat sekali kerinduan di matanya. Helios sendiri mengangguk menyetujui ucapan Pangeran Lucas. Kaisar pun mengenggam tangan Pangeran Lucas dan Helios.


“Terima kasih telah percaya dan yakin padaku. Terima kasih!” Kaisar Alessa mengecup kedua tangan calon selirnya. Dua pria itu langsung membeku dengan wajah merah padam.


***


Semua orang bersuka cita dengan kembalinya sang Kaisar. Wanita itu menceritakan semua yang telah dialaminya. Termasuk sempat disekap oleh Duke Tristan.


“Pria kurang ajar, aku akan memberinya pelajaran!” Pangeran Lucas mendengus dengan kebencian. Kaisar Alessa terkekeh melihat tingkahnya.


“Kau tidak akan membiarkan kamu melakukannya, Pangeran.”


“Kenapa?”


“Karena kemungkinan kamu yang akan babak belur olehnya.”


“Apa dia sangat kuat?” Helios penasaran dengan sosok yang begitu berani dengan Kaisarnya.


“Dia setara dengan Darius. Ngomong-ngomong di mana Darius?” Kaisar mencari pria itu. Sejak Kaisar bersama para calon selir. Darius langsung menghilang.


“Entahlah,” sahut Pangeran Lucas dengan malas.


“Aku harus mencarinya.” Kaisar bangkit dari duduknya. “Secepatnya kita harus kembali ke Aegis!”


“Diocletianus akan menyerang Aegis karena kekosongan pemimpin!” ucap Kaisar sebelum pergi mencari Darius. Sedangkan Pangeran Lucas dan Helios saling pandang dengan raut yang sulit diartikan.


***


Darius melemparkan batu-batu kecil ke tengah danau. Batu itu meluncur teratur sebelum akhirnya masuk ke dalam air. Pria itu diam seribu Bahasa dengan berbagai pikira di kepalanya. Ia sempat melihat Kaisar yang begitu perhatian pada para calon selir membuat hatinya berdenyut nyeri. Nyeri yang mengganggu, membuat sesak. Darius telah berusaha menghilangkan sakit itu dengan memukul dadanya sendiri. Namun, sama sekali tidak membuahkan hasil.


“Haaaahhh!” Darius mendesah lelah dan akhirnya duduk dimpinggir danau.


“Kau sedang apa, Darius?” suara Kaisar berhasil membuat Darius tersentak. Pria itu pun menoleh ke belakang. Kaisar mendekatinya dengan senyum yang mulai sering ia tampilkan. Padahal senyuman itu ingin Darius simpan sendiri untuknya.


“Yang Mulia? Ada perlu apa?”


“Apa aku mengganggumu?”


“Sama sekali tidak, Yang Mulia!”


“Kita harus kembali ke Aegis, sekarang juga!” Kaisar langsung memberikan perintah. Darius mengerutkan kening.


“Bukankah kita akan menyerang Diocletianus? Kita tidak bisa membiarkan apa yang telah mereka lakukan pada Yang Mulia!”


Kaisar menggeleng. “Tidak! Aegis dalam bahaya. Orang itu berencana menyerang Aegis disaat aku tidak ada. Dia sengaja menyebarkan rumor kematianku!”


Darius tersentak, dia sama sekali tidak terpikirkan hal semacam itu. dia yakin Aegis akan baik-baik saja dengan Tuan Cicero di sana. Bahkan dia telah mengirimkan Permaisuri Rhea untuk mengambil alih kekuasaan sementara. Tapi, bagaimana jika Aegis ternyata telah diserang sebelum Permaisuri Rhea sampai? Bagaimana nasib Permaisuri Rhea beserta para selir Kaisar?


“Ka-kapan mereka akan menyerang Aegis, Yang Mulia?” tanya Darius dengan panik.


“Entahlah. Yang jelas, aku telah kabur dari serangan pasukan Diocletianus. Ada apa Darius?”


Darius melihat sang Kaisar dengan wajah ketakutan sekaligus bersalah. Dia pun segera menarik tangan Kaisar dan membawanya kembali ke tempat kereta kuda. Darius memberikan arahan untuk bersiap kembali ke Aegis.


“KITA KEMBALI KE AEGIS!” serunya.


Wajah para prajurit setengah bingung. Kaisar pun merasa aneh dengan sikap para prajurit.


“Darius!”


“Maafkan hamba Yang Mulia. Sepertinya hamba telah membahayakan nyawa orang yang sangat berarti bagi Anda.”


“Aku tidak mengerti apa yang sedang kau katakan? Orang yang sangat berharga bagiku?”


“Permaisuri Rhea telah ditemukan, dan hamba mengirimnya kembali ke Aegis bersama Pangeran Evandor dan juga Pangeran Jerome. Hamba memintanya memerintah Aegis selama kami mencari Yang Mulia. Hamba tidak tahu jika Diocletianus akan menyerang Aegis dan hamba tidak tahu bagaimana keadaan Aegis saat ini.”


“A-apa kau bilang? Ibunda ditemukan?”


“Iya Yang Mulia.”


Perasaan Bahagia dan lega jelas dirasakan oleh Kaisar. Namun, itu hanya sementara karena segera tergantikan\ oleh rasa takut yang amat sangat. Kaisar mencengkeram baju Darius yang menunduk karena penyesalan.


“Berani-beraninya kau membahayakan Ibundaku, Darius!”


“Hukum hamba Yang Mulia.”


Kaisar Alessa semakin mengetatkan cengkeraman. “Aku pasti akan menghukummu. Kau tunggu saja. Tapi, sebelum itu kau harus berjanji untuk tetap hidup dan selalu berjuang bersamaku. Darius, kau dengar?”


Darius mengangkat wajahnya. Dilihatnya Kaisar yang menatapnya penuh harap. Meski langkah yang Darius ambil membahayakan Ibunda Kaisar. Tidak membuat wanita itu lupa bahwa jasa-jasa Darius tidak ternilai. Karenanya juga Permaisuri Rhea ditemukan. Kaisar benar-benar merasa berhutang budi pada Darius.


“Hidup dan mati hamba hanya untuk Anda Yang Mulia.”


Tbc.