Hareem of Queen Alessa

Hareem of Queen Alessa
Kota Shire



Kelopak Bunga mawar mengambang di atas air yang mengisi kolam tempat Kaisar Alessa berendam. Wanita itu menyenderkan punggungnya di pinggir kolam, memejamkan mata menikmati segarnya air bearoma bunga tersebut. Tidak jauh dari sana berdiri Darius yang setia menemani sang Kaisar. Di bandingkan dengan para dayang, Kaisar Alessa lebih tenang jika Darius berada di dekatnya.


Di tengah keheningan Kaisar Alessa membuka percakapan. “Darius, Tuan Cicero bilang jika bukan Yudas yang membunuh Ayahku. Bagaimana menurutmu?”


Darius bergeming, dia baru mendengar hal ini dan sedikit terkejut. Kaisar Alessa memutar tubuhnya yang sedang berendam lalu menatap Darius yang sama sekali tidak bersuara.


Pria itu menangkap tatapan Kaisar dan hanya memberikan ekspresi aneh.


“Kamu pasti tidak percaya… Sama! Aku juga begitu.” Kaisar mengedikkan bahu acuh.


“Hamba akan segera mencari tahu, Yang Mulia,” Darius menundukkan kepala karena sang Kaisar bangkit dari kolam. Pria itu pun mengambil kain untuk menutupi tubuh polos wanita nomor satu di Aegis.


“Terima kasih,” ucap Kaisar setelah Darius menutupi tubuhnya. Wangi bunga mawar yang jauh lebih harum menyeruak dari kulit sang Kaisar. Darius menghirup dalam aroma tersebut. Sungguh menenangkan.


***


Keesokan harinya di Aula Istana


Kabar Kaisar Alessa yang ingin mempunyai selir, santer menjadi buah bibir. Terutama di sekitar para Menteri yang baru saja ia bentuk. Mereka mulai menyiapkan putera-putera mereka untuk dicalonkan menjadi selir sang Kaisar.


"Yang Mulia... hamba ingin menanyakan kriteria dari selir yang Anda inginkan seperti apa?" tanya salah satu penasehat di dalam rapat istana.


Kaisar Alessa terdiam dan berpikir sejenak. benar juga, dia belum memberitahukan seperti apa selir yang layak mendampingu dirinya. Darius yang sedang melaporkan perkembangan pasukan pada Kaisar juga menjadi diam. Bahkan wajahnya muram durja.


"Kriteria... yang jelas harus tampan, aku tidak mau yang jelek." sebagian penasehat ada yang sedikit terkejut dan menciut. Masalahnya, putera-putera mereka bisa dibilang memiliki paras standar saja. Berbeda dengan Menteri pertahanan, yaitu Tuan Attala. Kabarnya dia memiliki putera yang parasnya sangat tampan. Bahkan tertampan di dataran Aegis.


"Selain itu, Dia juga harus pintar. Jangan sampai suamiku tidak lebih baik dariku. Jika hanya mengandalkan ketampanan saja. Tapi, otaknya kosong... aku bisa mengambil pria dari tempat pelacuran," sarkas Kaisar. "Sebarkan sayembara ini ke negeri yang bersekutu dengan kita. Minta perwakilan mereka sebagai bentuk kerja sama politik. aku akan mengangkat 4 selir kali ini, salah satunya pria dari tanahku sendiri," pungkas sang Kaisar.


"Empat selir?" para penasehat dan menteri membeo.


"Kenapa? ada yang salah?"


"Kami kira akan lebih banyak, karena hanya satu darah Aegis yang Anda ambil," jawab penasehat yang yakin jika puteranya tidak akan lolos seleksi.


Kaisar Alessa tergelak, dia pikir para menteri dan penasehat merasa dirinya terlalu serakah karena selirnya yang banyak. Tapi, ternyata sang Kaisar salah.


"Tentu aku tidak ingin terjadi perang saudara di dalam kekaisaran ini bila aku mengambil lebih dari satu perwakilan kalian," jelas Kaisar Alessa.


Pupus sudah angan-angan para petinggi yang ingin berbesanan dengan Kaisar karena persaingannya sangat sulit.


"Kalau diperkirakan dari tingkatan darah bangsawan. Yang kemungkinan menjadi suami inti Kaisar adalah putera Tuan Attala. Aku dengar dia seorang filsafat yang ketampanannya mampu menggetarkan hati setiap wanita," bisik salah satu penasehat membuat Tuan Attala tersenyum bangga.


"Aku akan menanyakan pada Helios terlebih dahulu," sahut Tuan Attala.


"Ah... benar juga. Aku dengar Helios memiliki selera tinggi hingga masih melajang sampai sekarang. Akan menjadi suatu kehormatan jika Kaisar memintanya secara langsung," timpal penasehat lain yang sibuk membuat daftar pria yang akan menjadi selir nanti.


Tuan Attala hanya mengangguk lalu menyesap anggur merah. Bukan kehormatan lagi yang akan dia dapatkan jika memang puteranya menjadi pasangan Kaisar. Melainkan kekuasaan. Dia akan membujuk puteranya agar mau menjadi selir Kaisar.


'Helios harus menjadi selir Kaisar, kalau perlu menjadi yang paling disayangi di antara para selir lain. Aku yakin, Kaisar akan menyukai Helios!' batin Attala berambisi.


Rapat Istana pun usai, Kaisar Alessa berjalan kembali menuju kamarnya sebelum berlatih ilmu pedang dengan Darius.


Pria itu tidak bersuara sejak tadi, apalagi saat mendengar niatan kaisar yang akan mengangkat 4 selir sekaligus. Darius menatap punggung Kaisarnya yang agung. Punggung wanita yang mengemban kekuasaan begitu besar.


"Apa yang sedang kau pikirkan Darius?" tanya Kaisar memecahkan lamunan Darius yang sempat mengembara.


"Hamba... hamba hanya sedang teringat masa-masa kita masih di kota Shire," jawab Darius.


Kota Shire adalah tempat di mana Kaisar Alessa berjuang bertahan hidup bersama Darius setelah menusukan yang dilakukan pangeran Yudas. Kota yang menjadi awal perubahan wanita lugu itu menjadi kuat.


"Kau ingin ke sana?" tawar sang Kaisar.


"Tidak Yang Mulia, Hamba hanya mengingat saja." Darius menggeleng pelan.


"Ayo kita ke sana!" Tiba-tiba, Kaisar Alessa menggenggam tangan Darius dan memberikan tatapan semangat. Apa daya Darius, jika sudah begitu. Dia tidak mungkin bisa menolaknya.


"Baik yang Mulia Kaisar," Darius mengangguk.


***


"Darius, aku tidak pernah merasa sebebas ini setelah menjadi seorang Kaisar," wanita itu membentangkan tangannya saat kereta kuda membawa mereka menuju kota Shire.


"Yang Mulia menyukainya?"


Kereta mereka pun terhenti di sebuah istana kecil milik salah satu tokoh di kota itu. Kota pinggiran yang tidak diketahui semua orang Aegis. Karena nyatanya kota ini terbentuk oleh orang-orang kepercayaan Kaisar terdahulu, sebelum kudeta terjadi.


"Yang Mulia Kaisar Alessa telah tiba!" seru salah satu penduduk kota itu hingga riuh sorak sorai mengelukan sang Kaisar.


"Panjang Umur Kaisar Alessa!"


Kaisar Alessa mengangkat tangan dengan senyum ramah memikat setiap pria di sana. Namun, mereka segera memalingkan pandangan saat Darius dengan mata tajamnya menghunus setiap pria yang menatap sang Kaisar.


"Terima kasih atas sambutannya. Maafkan aku yang baru bisa menengok kalian semua," ucap Kaisar pada tokoh di kota Shire.


"Kaisar tidak perlu sungkan, kami semua adalah milik Yang Mulia... datanglah kapan saja sesuka Yang Mulia...." Tokoh itu bersujud di hadapan sang Kaisar.


"Bangunlah! aku tidak ingin ada jarak antara kita," Kaisar meminta pada sang tokoh agar bangkit dari sujudnya.


Bagaimanapun juga kota ini telah berjasa karena mau menampungnya, bahkan menganggapnya sebagai Kaisar sebelum penobatan berlangsung. Kaisar Alessa merasa begitu berhutang budi.


Kaisar Alessa tersenyum dan mengikuti sang tokoh menuju istananya.


"Apa Yang Mulia ingin menginap di sini? Kamar Yang Mulia masih sama seperti dulu tidak ada yang hamba rubah," ucap tokoh itu.


Kaisar alesha berjalan menuju balkon, mengedarkan pandangan ke padang pasir sepanjang mata memandang.


"Sepertinya akan menyenangkan, siapkan kamar untukku dan juga Tuan Darius," Kaisar Alessa berkata sambil melihat Darius yang sedang melatih pedang di bawah sana.


"Siap laksanakan Yang Mulia Kaisar."


***


"Kau tidak mengajakku berlatih?"


Darius yang sedang mengayunkan pedang terhenti, terkejut dengan kehadiran Kaisar Alessa.


"Maafkan Hamba Yang Mulia, hamba kira Yang Mulia sedang beristirahat," Darius menunduk mengungkapkan kelalaiannya.


"Kau tidak ingat jika aku latihan pedang hari ini?" Kaisar Alessa mendekat dengan sebuah pedang di tangannya.


"Hamba hanya berpikir-"


"Jangan terlalu banyak berpikir, ayo kita mulai sekarang!" Kaisar Alessa bersiap dengan kuda-kudanya memotong ucapan Darius.


Darius pun akhirnya mengangguk dan memulai latihan pedang bersama Kaisar.


Jleb!


Pedang Kaisar tertancap di tanah, sedangkan sang Kaisar tertidur di tanah. Napasnya tersengal-sengal karena kelelahan.


"Yang Mulia Kaisar, Anda baik-baik saja?" tanya Darius khawatir.


Kaisar Alessa memejamkan mata. "Biarkan aku sejenak...."


Mendengar hal itu membuat Darius segera terdiam dan memilih duduk di samping Kaisar yang terbaring di tanah.


"Darius..."


"Ya, Yang Mulia?"


"Maukah kau berjanji padaku!"


"Berjanji apa Yang Mulia?"


"Selalu berada di sisiku, apa pun yang terjadi...."


Sebuah permintaan yang sanggup menarik sudut bibir Darius. Sejak matanya bertemu dengan manik wanita itu, sejak itu lah dia mengabdikan hidupnya untuk Kaisar.


"Tanpa Yang Mulia minta pun, hamba akan selalu ada untuk Yang Mulia hingga mungkin akan membuat Yang Mulia risih. Karena... Yang Mulia... sangat berarti untuk hamba." dengan suara lirih Darius berkata. Jantungnya sampai berdegup kencang. Namun, anehnya tidak ada jawaban apapun dari sang Kaisar. Pria itu segera menoleh dan mendapati Kaisar Alessa tengah tertidur.


Darius tersenyum dan mengusap rambut emas milik sang Kaisar, menghirupnya dalam dan mendekatkan wajahnya secara perlahan.


Tbc.