Hareem of Queen Alessa

Hareem of Queen Alessa
Persembunyian



Kekaisaran Aegis


Setelah menempuh perjalanan panjang, Pangeran Evandor beserta Permaisuri Rhea akhirnya tiba di Aegis. Angin berembus kencang, semakin lama semakin dingin menusuk tulang. Aegis seperti negeri yang berbeda sekarang.


Pangeran Evandor merapatkan jubahnya. Sedangkan Permaisuri Rhea sedari tadi berlindung di balik zirah tebal yang membungkus tubuhnya.


Kereta kuda yang mereka tumpangi telah memasuki wilayah pasar Aegis. Suasana cukup ramai di pasar rakyat yang letaknya ada di pusat kota.


Pangeran Evandor melirik ke arah jalanan tempat orang berlalu lalang. Pedagang dan pembeli berkumpul menjadi satu. Namun, dia sedikit heran saat berpapasan dengan prajurit yang parasnya berbeda. Dengan dagu runcing dan bentuk telinga yang khas, wajah-wajah ini seperti pernah dilihatnya.


"Siapa mereka ini? Para prajurit ini sepertinya berasal dari Eropa timur," gumam Pangeran Evandor.


"Sebaiknya aku berhati-hati. Aku merasa Aegis sedang diserang." Pangeran Evandor melihat ke arah beberapa prajurit yang bersenjata lengkap sedang berjalan ke arah mereka.


Pangeran Evandor terus mengamati suasana di luar. Para prajurit yang awalnya hanya berjalan biasa di bawah komando seorang pemimpin, tiba-tiba mulai berbelok ke arah para pedagang.


"Serahkan kain ini sekarang!" bentak


seorang prajurit berbadan kekar.


"Jangan Tuan, saya bahkan belum menjual satu helai kain pun sejak pagi."


"Bukan urusan saya! Serahkan kain ini, atau mejamu akan aku hancurkan!"


Brak!


Prajurit itu menggebrak meja hingga membuat ciut nyali sang pedagang. Akhirnya kain sutera mahal itu berpindah tangan. Sang pedagang hanya bisa melihat prajurit brutal itu dengan tatapan pasrah.


"Tolong jangan ambil kue-kue ini, Tuan. Ibuku sampai tidak tidur membuatnya. Kami berharap bisa membeli sedikit gandum dan obat untuk Ibu."


Seorang gadis memegangi kue di dalam kerajaan. Tapi prajurit berkumis tebal itu tak kenal ampun. Dia menendang perut gadis penjual kue hingga tubuhnya terpelanting.


Bukan hanya kain sutera berharga mahal, berbagai macam kerajinan tangan, makanan hingga buah-buahan, semua dirampas oleh para prajurit dengan paksa. Mereka berteriak-teriak dan mengancam akan membunuh siapa pun yang berani melawan.


"Ini benar-benar tidak beres."


Pangeran Evandor mengepalkan tangannya. Penyerangan dan penindasan sedang terjadi di wilayah Aegis. Pasti Kaisar Alessa pasti murka jika mengetahui ini.


"Rupanya mereka sengaja menunggu Kaisar Alessa lengah. Bagaimana caranya aku mengirimkan kabar bahwa Aegis sedang diserang?" Pangeran Evandor terus berpikir.


"Ah, biarlah itu aku pikirkan nanti. Sekarang aku harus pikirkan bagaimana caranya kehadiran Permaisuri Rhea tidak diketahui mereka. Ini akan sangat berbahaya."


"Jika sampai Permaisuri Rhea dalam bahaya, aku yakin tidak akan mendapat ampunan dari Yang Mulia."


Prajurit-prajurit itu semakin dekat. Pada saat itulah Pangeran Evandor berbisik ke belakang, di mana Permaisuri Rhea duduk sambil merapatkan selimut yang membungkus tubuhnya.


"Mohon menunduk Yang Mulia."


Permaisuri Rhea segera menunduk, sehingga tidak terlihat oleh para prajurit. Tetapi ada seorang prajurit yang curiga dan melongok ke dalam kereta. Beruntung Permaisuri Rhea menguncinya dari dalam.


"Buka! Siapa kamu? Buka pintu keretanya! Apa yang kamu bawa?"


"Hamba hanya peternak yang membawa kotoran, Tuan. Mohon izinkan hamba lewat," jawab Pangeran Evandor.


Saking tidak percaya prajurit itu membuka paksa pintu kereta. Sontak ia mengibas-ngibaskan tangannya karena mencium aroma yang tidak sedap. Tubuh Permaisuri Rhea tertutup selimut saat berlindung di bawah bangku sehingga tidak nampak dari luar.


"Ayo cepat jalan!" ujarnya sambil mendorong kereta itu pergi.


"Mohon ampun, Yang Mulia. Hanya dengan cara ini mereka akan percaya."


Pangeran Evander membuang bungkusan berisi kotoran kuda.


Sebenarnya kotoran itu sudah sedari tadi hendak ia buang, tetapi saat melihat banyak prajurit asing, dia menundanya.


Permaisuri yang baru menyadari keanehan itu langsung memberondong Pangeran Evandor dengan banyak pertanyaan.


"Maaf, Yang Mulia, sebaiknya Yang Mulia jangan banyak bertanya dulu. Hamba sedang berusaha menyelamatkan Yang Mulia dari para prajurit itu."


Jika sudah begini Permaisuri Rhea pun memilih bungkam. Dia percaya calon selir putrinya ini akan mempertaruhkan nyawa untuk melindunginya.


Entah melindungi dari apa, dia sendiri belum paham, tapi sebaiknya memang dia tidak banyak bertanya, karena sang permaisuri merasa kerajaannya sedang dimasuki bala tentara asing.


"Itu di belakang bangunan sana, berhenti di sana, usahakan jangan menimbulkan kecurigaan, jangan membuat kuda ini bersuara."


Permaisuri Rhea segera menyadari situasi. Pengalaman terbunuhnya Kaisar Basil membuatnya bisa mencium gelagat tidak baik dan membahayakan.


Kereta itu mulai berjalan perlahan dan akhirnya berhenti di depan gedung tua.


"Baiklah, sekarang ceritakan, apa yang terjadi sebenarnya." Setelah kereta berhenti, Permaisuri Rhea pun segera menuntaskan rasa penasarannya. Pangeran Evandor mau tidak mau harus jujur agar permaisuri mau bekerja sama.


"Jadi begitulah ceritanya, Yang Mulia. Awalnya kami mengira Yang Mulia Alessa sudah meninggal. Kaisar Diocletianus yang memberikan informasi. Ternyata itu kebohongan belaka."


Pangeran Evandor lega karena sekarang terlihat Permasisuri Rhea lebih tenang mengetahui putrinya selamat, meskipun gurat kesedihan kini memenuhi wajahnya.


"Alessa, kenapa kamu selalu ditimpa kemalangan?" ratapnya sedih. Sejak ayahandanya meninggal dan Alessa harus naik tahta, hidup putrinya seolah tak pernah bisa tenang.


Sebagai permaisuri, tentu saja ia menyadari menduduki tampuk pimpinan tertinggi sebuah negeri, pasti banyak orang jahat merintangi. Tetapi sudut hatinya yang lain tak rela, di usia semuda itu Alessa harus berhadapan dengan orang-orang gila di luar sana.


"Jangan khawatir Yang Mulia. Kaisar Alessa sudah ditemani orang-orang pilihan. Panglima Darius yang perkasa sudah mengerahkan seluruh pasukan. Ada juga Pangeran Lucas dan Tuan Helios yang tentu saja akan ikut melindungi Yang Mulia Kaisar. Mereka semua sangat menyayangi puteri Anda."


Perkataan Pangeran Evandor membuat hati Permaisuri Rhea lega. Seharusnya ia tahu putrinya dikelilingi orang-orang tulus. Meskipun kekhawatiran belum enyah sepenuhnya, tapi Permaisuri menghela napas panjang supaya dadanya terasa lapang.


"Baiklah Evandor, sekarang kau mau membawaku kemana?"


"Ke tempat persembunyian yang aman Yang Mulia. Anda sudah siap?"


Permaisuri Rhea mengangguk.


Pangeran Evandor kembali memecut kudanya, lalu kereta itu pun melaju kencang.


Rupanya Pangeran Evandor membawa Permaisuri Rhea ke tempat rahasia yang sebelumnya telah diberitahukan oleh Darius. Salah satu tempat yang digunakan di saat-saat genting seperti ini. Tanpa di duga dia pun bertemu dengan para petinggi yang sedang bersembunyi.


"Kalian semua berada di sini?" ucap Pangeran Evandor dengan wajah terkejut. Begitu juga mereka yang melihat sosok yang bersama dengan Pangeran Evandor.


"Yang Mulia Permaisuri!" seru para petinggi dan mereka pun langsung berlutut memberi hormat. "Puji dewa, Anda baik-baik saja Yang Mulia. Kami semua sangat senang! Tapi, keadaan Aegis sangat bserbahaya untuk Yang Mulia."


"Ada apa sebenarnya?" tanya Permaisuri Rhea.


"Kaisar Yudas telah kembali, dia bersekutu dengan Eropa Timur. Dia memberitahukan akan kabar Kaisar yang telah gugur sehingga kami hanya bisa pasrah ketika takhta Kaisar Alessa diambil olehnya.Tapi, Pangeran Jerome beserta Tuan Cicero masih bertahan di dalam istana. Mereka berusaha agar bisa mengembalikam keadaan."


Pangeran Evandor mengangguk, dia tau apa yang harus dilakukannya sekarang.


"Saya membawa Permaisuri Rhea kembali ke Aegis atas perintah Panglima Darius. Tapi ternyata prajurit Diocletianus sudah menguasai Aegis. Tolong jaga Yang Mulia Permaisuri Rhea sampai saya kembali."


"Kami akan menjaga Yang Mulia Permaisuri Rhea meskipun nyawa taruhannya. Sekarang Anda hendak kemana Pangeran?"


"Aku masih ada urusan. Ingat, jangan ada yang meninggalkan tempat ini. Saat ini tempat ini adalah tempat paling aman."


"Baik, Tuan. Anda boleh percaya pada kami."


"Yang Mulia, hamba pamit dulu. Yang Mulia Kaisar harus segera tahu bahwa Aegis telah dikuasai musuh."


"Berhati-hatilah Pangeran Evandor. Terimakasih telah menjagaku dengan baik."


Setelah menitipkan Permaisuri Rhea kepada para petinggi, Pangeran Evandor menyusul ke istana untuk membantu pangeran Jerome.