Hareem of Queen Alessa

Hareem of Queen Alessa
Kegamangan hati Evandor



Pangeran Evandor dan Jerome langsung kembali ke kamar masing-masing. Keduanya kini langsung diurus oleh pelayan setia mereka.


Namun, di dalam kamar pangeran Evandor terlihat sedikit termenung. Lelaki itu seperti mendapatkan tamparan baru karena perkataan dari Darius.


Kalimat Darius seolah-olah terus melintasi benak Evandor hingga muka pria itu menjadi merah padam. Pria itu menyuruhnya untuk pergi, sikapnya itu sangat mengganggu. Terlihat jelas jika Darius membenci dirinya. Memang salahnya tidak bisa menahan diri. Evandor resah.


"Pangeran hamba tidak ingin banyak ikut campur. Hanya saja hamba ingin mengingatkan pada pangeran agar tidak bertindak gegabah," ucap Steve.


"Bisa kau diam?" bentak Evandor.


Pelayan itu langsung menutup mulutnya dengan rapat. Namun, jemari lentiknya masih bergerak kesana-kemari guna mengobati bekas pukulan yang terdapat di wajah sang pangeran.


"Apa menurutmu aku harus melanjutkan pernikahan ini?" tanya Evandor setelah terdiam beberapa saat.


"Pangeran, Kaisar adalah wanita tercantik di dataran yunani. Meskipun Anda harus berbagi dengan lelaki lain, setidaknya apa yang


Anda harapkan di dunia ini sudah tercapai, kekuasaan dan seorang istri yang sempurna," papar sang pelayan.


"Tapi aku tidak akan bisa bermain-main lagi dengan wanita lain. Kaisar memberikan peringatan agar kami para selir selalu setia


padanya dan negeri Aegis," sahut Evandor sembari menahan nyeri saat tangan sang pelayan menekan luka di bibirnya.


"Sebuah pernikahan memang mengharuskan untuk bisa saling menerima dan setia. Di sini, Yang Mulia adalah seorang kaisar dengan


kekuasaan penuh, Anda sudah dipilih untuk mendampinginya. Jadi, sudah dipastikan Yang Mulia menuntut haknya," ucap sang pelayan mencoba untuk memberikan nasehat pada pangeran.


"Sekarang kau keluar. Aku akan memikirkan ini


semua," perintah Evandor setelah dia mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Steve.


Setelah kepergian pelayan itu, Evandor berjalan ke arah jendela. Ia menatap rembulan yang membulat sempurna. Tanpa diinginkan dan sadari nyatanya, di dalam lingkaran bulan itu justru terbayang wajah sang Kaisar. Kaisar


Alessa memang terkesan dingin dan misterius. Wanita yang harus dia taklukan. Tapi, dengan aksinya yang tertangkap basah oleh Darius. Apa posisinya sekarang aman? Apa jadinya jika Darius mengadukan kejadian malam ini pada Kaisar?


Kini Evandor menyesal telah hampir melakukan hal gila di istana Aegis. Dia hanya bisa berharap Kaisar masih mau menerimanya.


Sementara itu, ketiga pria yang kini tengah berada di kamar masing-masing juga melakukan hal yang sama. Sepertinya sinar rembulan itu memiliki sebuah magnet yang bisa menarik perhatian ketiga pria untuk bisa melihat, menatap, serta mengagumi keindahan yang sudah diciptakan oleh para dewa.


***


Setelah berpikir semalaman akhirnya para pria memutuskan akan tetap menjadi selir Kaisar. Nyatanya, kecantikan itu mampu mengalahkan


segala logika.


Derap langkah beberapa pelayan menjadi pemandangan di pagi hari ini. Para pelayan itu ditugaskan untuk merias para calon selir guna


menghadiri acara pesta minum teh sekaligus memperkenalkan mereka sebagai kandidat selir pada khalayak penghuni istana dan juga rakyat Aegis.


"Bagaimana penampilanku?" tanya Jerome pada para pelayan yang sudah berhasil merias dirinya.


Pelayan setia pangeran Jerome mengacungkan kedua jempolnya memuji ketampanan pangeran tersebut, lebih tepatnya penampilan yang kini terlihat sangat berbeda. Rambutnya diikat dengan rapi dengan pakaian khas seorang pangeran dari kalangan bangsawan, meskipun masih ada beberapa luka yang tercetak di wajahnya. Namun, tidak mengurangi ketampanannya.


"Aku tidak akan mengecewakan negeriku. Karena aku ingin rakyatku memiliki kehidupan yang layak."


Untuk pertama kalinya pangeran Jerome mengungkapkan keinginannya serta belas kasihnya untuk sang rakyat membuat pelayan setia pangeran itu tak kuasa menahan air matanya.


"Rakyat kita tentu akan bangga pada pangeran


Jerome," ungkap sang pelayan yang langsung mendapatkan senyum tipis dari sang pangeran.


Dilain sisi, tepatnya di kamar pangeran Lucas para pelayan dibuat kebingungan dengan tingkah sang pangeran.


"Lihatlah, alisku tidak rapi. Apa kau bisa merias


dengan benar?" Kritik pangeran Lucas pada pelayan istana yang kini tengah merias dirinya.


"Pangeran ada ingin bentuk alis seperti apa?" tanya sang pelayan.


Pangeran Lucas langsung membayangkan alis Helios yang tebal hingga hampir menyatu. Di menit berikutnya pangeran Lucas menjelaskan


keinginannya.


Perias itu kini mendapatkan tantangan baru tentu saja ia akan menjalankan apa yang diinginkan oleh sang pangeran karena ini semua demi


kepala mereka agar tidak lepas dari tempatnya. Beberapa saat berlalu perias itu kini tengah menyelesaikan permintaan sang pangeran meskipun tak sempurna.


Cain yang baru saja tiba melihat penampilan pangerannya kini di buat tercengang.


"Pangeran apa Anda tidak salah berhias?" tanya


Cain.


"Apa maksudmu? Bukankah ini terlihat mempesona?"


Cain langsung menggelengkan kepalanya ia sama sekali tidak suka dengan menampilkan sang pangeran yang ingin terlihat seperti orang lain.


"Apa kau ingin digantung Cain?" ucap pangeran


Lucas saat melihat reaksi dari pelayannya.


"Gantung saja hamba pangeran, diantara dua alis


pangeran itu. Apa Anda tahu sekarang Anda seperti binatang sesembahan yang siap


untuk dikorbankan," cetus Cain.


"Cain kau benar-benar membuat aku marah." Pangeran Lukas langsung menghampiri Cain dengan emosi yang sudah meletup-letup. Ia


seorang pangeran tapi seorang pelayan sangat berani mengatakan ia seperti binatang.


Cain yang tahu pangerannya emosi ia langsung melarikan diri ke samping ranjang sang pangeran.


"Kemari kau, Cain!"


"Tidak pangeran, Anda sedang emosi hamba tidak ingin mendekat," tolak Cain.


"Kau berani sekali!"


Pangeran Lucas langsung mengejar Cain. Namun, Cain terus menghindar dan terjadi saling kejar mengejar antara pangeran dan pelayan itu.


Para perias dibuat terheran-heran dengan tingkah kedua orang dari Eropa Barat itu.


***


Saat semua pangeran tengah bersiap untuk menghadiri perjamuan minum teh. Berbeda dengan Kaisar. Sang penguasa Aegis itu kini sedang mempersiapkan diri untuk mengundang mantan kekasihnya di belahan bumi sana.


Kaisar kini berada di ruang kerjanya. Manik biru miliknya menatap segulung surat undangan.


"Fabian, kamu akan merasakan perasaanku dahulu ketika kau dengan tega mengirimiku surat undangan. Aku hanya membalas semua perbuatan yang pernah kau lakukan padaku," gumam Kaisar.


Darius yang juga berada di ruangan itu kini melihat kaisar menerbitkan senyum iblis khas wanita itu.


"Yang Mulia, biar saya yang membawa undangan itu,” Darius menawarkan untuk dirinya yang mengirimkan surat itu.


"Tidak, Darius. Aku sendiri yang akan mengirimkan surat ini." Kaisar menolak tawaran dari Darius.


Darius terlihat cemas, ia tidak ingin sang Kaisar merasakan sakit hati jika pergi seorang diri. Melihat pria yang sempat dia cintai telah bersama wanita lain.


"Kau tenang saja. Apa yang kau pikirkan tidak akan terjadi," ucap Kaisar seperti bisa menebak apa yang dipikirkan Darius.


"Apa Anda sudah tidak mencintainya lagi?" tanya


Darius.


"Kau pasti sudah tau bagaimana hatiku saat ini. Aku sudah tidak mencintai Pangeran Fabian. Hatiku sudah mati seperti gurun pasir yang kering dan tandus," tegas Kaisar tidak terbantahkan.


Darius sedikit lega juga merasa sedih dengan apa yang dikatakan oleh Kaisar. Dia lega karena Kaisar sudah bisa melupakan masa lalunya yang kelam. Namun, merasa sedih karena hingga kini Kaisar tidak membiarkan hatinya untuk diketuk siapa pun. Hati tanpa cinta jelas hati yang hampa. Darius sama sekali tidak ingin Sang Kaisar merasa seperti itu. Darius ingin Kaisar hidup dengan bahagia.


Tbc.