
Tak ada pemimpin terlahir dari ombak yang tenang. Dengan segala kepahitan hidup yang selama ini ditelan, Kaisar Alessa bermetamorfosis dari seorang puteri lemah, berubah menjadi kaisar yang sangat kuat dan disegani.
Kepala Yudas yang tergantung di depan pintu gerbang Aegis menjadi buktinya. Seluruh rakyat Aegis bersuka cita merayakan kemenangan. Dalam lindungan Dewa, mereka terbebas dari perampasan dan penindasan bangsa Diocletianus.
Berkat pemimpin Yang Mulia Kaisar Alessa Melaina Aphrodie sang putri mahkota, beberapa bulan kemudian, Aegis kembali menjadi aman dan damai.
Kaisar Alessa mulai menyiapkan lagi upacara pernikahannya yang sempat tertunda. Meskipun sampai saat ini dia tidak tahu bagaimana nasib Raja Fabian, sang mantan kekasihnya itu, tapi hidup harus terus berjalan.
Tanpa kehadiran Fabian, Sang Kaisar bahkan sudah memiliki empat calon selir dengan sifat masing-masing yang saling melengkapi hidupnya.
"Jangan pernah berpikir aku akan hancur tanpa kehadiranmu, Fabian. Undangan itu sebagai bukti bahwa kamu tak sekuat itu. Kamu tak sekuat itu untuk terus bertahan di hati ini." Dengan senyum miring Kaisar Alessa meneguk minumannya. Entah mengapa dia ingin mabuk hari ini.
Raja Fabian telah menceraikan Ratu Anna. Informasi penting itu diterima Kaisar Alessa dari seorang mata-mata yang sangat ia percaya.
"Jika kabar itu benar, maka sekarang Fabian sudah tidak berstatus suami lagi. Jika dia mau, tentu akan sangat mudah baginya untuk segera menemui aku," keluhnya lirih.
Begitulah wanita, tak peduli seorang kaisar pun, jika sudah jatuh cinta, maka dia berubah menjadi bodoh. Pengkhianatan Fabian memang menorehkan luka, tapi sampai sekarang pun dia masih berharap Fabian kembali.
Kaisar Alessa kembali menenggak anggur terbaik yang dipunyai kerajaan Aegis.
"Aku tidak sebodoh dulu, Fabian. Dulu aku lemah dan naif. Dulu duniaku hanya kamu seorang. Sekarang kamu lihat sendiri, hidupku dikelilingi banyak laki-laki."
Satu tenggakan lagi. Entah sudah gelas keberapa yang dituangkan oleh para pelayan yang setia mengelilinginya.
Alessa sengaja tidak mengundang para hareem untuk bergabung dan minum bersama seperti biasanya. Dia hanya ingin menelan sendiri sisa-sisa kebodohan masa lalu yang sampai sekarang masih terasa perih mengiris ulu hatinya.
"Tuang lagi!" pekiknya sambil membanting gelas. Pelayan mengambil gelas baru, lalu mulai menuangkan anggur berumur ratusan tahun. Setelah berpuluh-puluh gelas, tubuhnya kini jatuh lunglai di atas karpet.
***
Para calon selir mengobrol santai usai berkuda di pagi yang cerah. Mereka berempat mengadakan balapan kuda, dan sekarang semua sedang kelelahan. Balapan kuda dadakan itu dimenangkan oleh Pangeran Lucas di posisi pertama.
Di sebuah kolam yang airnya sangat jernih, Pangeran Lucas, Pangeran Evandor, Pangeran Jerome dan Helios asyik membicarakan Kaisar kesayangan mereka.
"Aku yakin Yang Mulia Kaisar akan menghabiskan malam pertama bersamaku." Pangeran Lucas berujar sambil memercikkan air ke muka Pangeran Jerome. "Kalian tahu kenapa? Karena aku yang paling perkasa. Sudah terbukti, balapan kuda, aku pemenangnya."
"Jangan terlalu sombong. Baru juga balapan kuda, itu berarti kudanya yang hebat, bukan kamu," sungut Pangeran Jerome.
"Masalah perkasa, sebaiknya kau melihat ukuran tubuhmu dulu." sambungnya sambil membandingkan tangan kekarnya dengan tangan kecil Pangeran Lucas. Perbedaannya sangat jelas terlihat. Tubuh Pangeran Jerome memang kekar dan padat. Hampir seluruh tubuhnya berotot.
Kedua pria lainnya tertawa mengejek Pangeran Lucas yang dibalas telak oleh Pangeran Jerome "Aku mau malam pertama, ya! bukan mau gulat!" Kali ini Pangeran Lucas menimpali. Pangeran Evandor dan Helios tertawa terbahak-bahak.
Pangeran Lucas yang merasa dipermalukan pun tidak terima. Dia bangkit dari duduknya dan membusungkan dada. Matanya menatap para calon selir sambil menjulurkan telunjuknya. "Baik, jika balap kuda masih kurang meyakinkan kalian jika aku yang pantas menghabiskan malam pertama dengan Kaisar tersayang, aku akan menantang kalian untuk beradu renang. Dari sini kita akan melihat, siapa yang paling kuat!"
"Kau pikir aku takut?" Pangeran Jerome menerima tantangan itu. Ia pun bersiap menuju ke tepi kolam. Lalu kedua pria lainnya menyusul. Helios dan pangeran Evandor pun tidak mau kalah. Apa lagi yang berhubungan dengan Kaisar.
"Jangan ada yang curang, siapa yang paling cepat kembali ke sini, dia pemenangnya." Pengeran Lucas memberi aba-aba.
"Satu, dua!" Pangeran Jerome mulai menghitung.
Byur! Pada hitungan ketiga tubuh mereka hilang ditelan air.
Keempat tubuh perkasa itu mulai terlihat di kolam. Mereka beradu kecepatan. Bagi laki-laki, kompetisi seperti ini terasa menyenangkan, sekaligus mendebarkan.
Pangeran Lucas meliukkan tubuhnya dengan gaya punggung. Tampaknya ia sangat mahir dengan gaya itu, karena posisi hidungnya lebih bebas menghirup udara.
Pangeran Evandor sibuk dengan gaya bebas. Gemercik air kesana kemari tersibak tangannya yang lebar, dia berusaha fokus ke depan, sesekali kepalanya menyembul ke atas permukaan kolam.
Pangeran Jerome lebih menguasai gaya dada. Ternyata ini rahasia perutnya yang sixpack. Otot-otot perutnya menjadi sangat terlatih dengan gaya ini.
"Huah!"
Pangeran Jerome menyembulkan kepalanya pertama kali di batas finish, disusul Pangeran Lucas, Pangeran Evandor di posisi ketiga, lalu terakhir adalah Helios.
"Sudah terbukti siapa yang paling kuat bukan? Jadi kalian harus terima kalau Kaisar memilih menghabiskan malam pertama denganku," ucapnya sambil menyeringai. Ternyata kemampuan berenangnya memang sebagus itu.
"Apakah kalian rela jika Kaisar yang kita cintai hanya sibuk dicium-cium saat malam pertama oleh dia?" tanya Pangeran Lucas yang masih syok dengan kenyataan. Jika dia dikalahkan oleh saingannya yang sangat menyebalkan melebihi Helios. Dia sungguh tidak rela!
"Hei, Ingat perjanjiannya. Yang menang, yang berhak memeluk Kaisar semalaman," ujar Pangeran Jerome sembari tersenyum jenaka. Sangat menyenangkan menggoda Pangeran Lucas.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkannya!" Pengeran Lucas hendak melompat untuk menyerang Pangeran Evandor. Namun Helios berhasil menahan tubuhnya.
"Lepaskan aku, Tuan Helios!"
"Ulang pertandingannya! Aku minta siulang!"
Candaan, cemoohan, dan hinaan mereka berempat memang terdengar kelewatan, tapi justru semakin menguatkan ikatan pertemanan mereka.
***
Sementara itu Kaisar Alessa sedang menikmati waktu senja di taman bersama Darius.
Wanita itu rupanya masih belum puas melepaskan rindu dengan panglima perang yang selalu berada di sisinya. Baik dalam susah maupun senang.
"Kamu tahu apa yang aku pikirkan saat Tristan menyekap aku, Darius?" tanyanya sembari mencium kelopak bunga lily yang aromanya semerbak.
"Anda pasti sangat ketakutan, Yang Mulia."
"Ya, aku ketakutan sampai tanpa sadar memanggil namamu, Darius."
Sekali lagi dalam tempo lebih lama Kaisar Alessa mencium aroma lily sambil memejamkan mata.
Panglima Darius menelan saliva melihat betapa cantiknya Sang Kaisar dalam pose seperti itu. Darius seperti sedang memandang keindahan lukisan hidup. Lukisan itu sungguh nyata sedang bersanding dengannya.
Kelopak mata yang indah, alis melengkung tebal, pipi halus merona, dan lihatlah bibir merah merekah itu. Tanpa sadar degup jantung Darius mulai berpacu lebih cepat.
Saat kaisar Alessa menyebut kata 'namamu' tubuh Darius serasa melayang tinggi ke udara, wajahnya merona seketika.
Darius tak mengira jika wanita cantik itu begitu tergantung kepadanya.
Tetapi hanya sesaat rona bahagia itu singgah, mengingat sebentar lagi Kaisar Alessa akan segera menikah. 'Seandainya aku sedikit lebih berani,' batinnya kesal.
Darius menatap lurus ke depan, perasaannya kini berkecamuk.
Sejak lama dia memendam perasaan ini, bahkan jauh sebelum Puteri Alessa mengenal Pangeran Fabian.
Darius terus memendam rasa, tapi mendengar kata sakti 'namamu' dada Darius seperti mau meledak.
"Apakah Anda bersungguh-sungguh menyebutkan nama hamba, Yang Mulia?"
"Kenapa? Kau tidak percaya? Apakah kau pernah melihatku berbohong?Apakah-"
Ucapan Kaisar Alessa terpotong karena tiba-tiba Darius memeluknya erat. Sangat erat, hingga dirinya susah bernapas.
Tbc.