
Hutan
“Tapi, Tuan … “ bantah sang prajurit. Mereka tidak setuju dengan keputusan sang Duke yang akan melepaskan mKaisar Alessa begitu saja.
Penolakan dari prajurit tersebut jelas membuat Kaisar Alessa tidak tinggal diam. Dia menempelkan pedang itu semakin dekat, bahkan sampai menggores lehernya dan mengeluarkan sedikit darah. Duke Tristan pun terhenyak tidak terkecuali para prajurit.
“Aku tidak main-main!” kecam Kaisar Alessa. Duke Tristan menggeleng dengan wajahnya yang pucat pasi, pria itu kembali melihat ke arah prajurit. Matanya melotot sebagai isyarat darinya. Para prajurit akhirnya melangkah mundur dan pergi dari sana secara perlahan. Setelah semua prajurit itu pergi, Kaisar Alessa pun segera melarikan diri.
Duke Tristan diam saja, dia tidak mengejar Kaisar Alessa. Dia akan menyusul Kaisar setelah beberapa lama. Dia tidak berani ambil resko di saat Kaisar Alessa sedang kalut seperti ini. Tindakan gila lainnya mungkin akan terjadi.
Kaisar Alessa terus berlari tanpa menoleh ke belakang. Ia tahu jika tidak mungkin semudah itu lepas dari cengkeraman Duke Tristan. Meski saat ini pria itu terlihat tidak mengejarnya, Kaisar Alessa harus tetap waspada.
Dengan ilmu yang dia pelajari dari Darius, wanita itu berhasil turun dari gunung tanpa tersesat di dalam hutan. Dia membaca situasi dengan baik dan berusaha mengendalikan diri agar tetap tenang. Pertama yang dia lakukan adalah mencari aliran sungai. Setelah menemukan sungai, dia pun menyusuri sisinya hingga berakhir di sebuah pemukiman.
Waktu yang Kaisar Alessa tempuh tentu saja tidak sebentar. Dia sempat bermalam di dalam hutan seorang diri. Beruntung, dia bisa membuat api unggun dan berbekal sebuah pedang di tangannya. Mengisi perut dengan ikan bakar yang dia tangkap dari sungai.
Dari balik semak-semak Kaisar Alessa mengamati pemukiman yang bisa dibilang tidak begitu padat. Ada sekitar 5 rumah yang jaraknya cukup berjauhan. Saat itu langit telah hampir senja. Manik Kaisar terpaku pada beberapa helai pakaian yang tersampir di sebilah kayu yang terpasang sebagai tempat menjemur pakaian.
Dia meniti diri terlebih dahulu, penampilannya sangat mencolok. Meski bajunya terbilang tidak terlalu glamor untuk ukuran pakaian bangsawan. Tapi, bahan surta jelas mudah dikenali. Kaisar Alessa kembali melihat pakaian yang dijemur. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan sekitar.
Saat merasa cukup aman, Kaisar langsung mengambil pakaian tersebut. Menggantinya di balik semak tadi. Bahannya sangat tipis hingga hawa dingin langsung merasuki tiap sendi tulangnya.
“Aku benci di sini, cuacanya terlalu dingin,” keluhnya sambil meniupi tangannya yang hampir membeku. Kaisar Alessa pun membuang pakaiannya di balik semak dan pergi dari pemukiman itu.
***
Sementara itu, Pangeran Jerome dengan dua orang prajurit baru saja sampai Aegis. Namun, kedatangannya sama sekali tidak disambut hangat oleh istana. Malahan ketika dia memasuki istana, para penjaga langsung menangkapnya beserta prajurit yang bersamanya.
“APA-APAAN INI! LEPASKAN AKU! AKU INI CALON SELIR KAISAR KALIAN, APA KALIAN LUPA?” Pangeran Jerome berusaha berontak melepaskan tali yang mengekang tangannya.
Tidak ada yang menjawab, bersamaan dengan itu terdengar suara langkah kaki dari arah belakang. Pangeran Jerome.
“Kaisar yang mana yang kau maksud?”
Seorang pria yang tidak dikenalnya datang dan l berjongkok di hadapan Pangeran Jerome. Wajahnya yang sangat berbeda dengan karakter Aegis membuat Pangeran Jerome mengerutkan kening.
“Siapa kau? Kau bukan orang Aegis!”
“Kau juga bukan,” sahut orang itu cepat.
Aku tidak sedang bermain kata denganmu, lepaskan aku sekarang juga sebelum aku menghukummu dengan berat!”
“HAHAHAHA, tenanglah Pangeran Jerome. Aku sangat mengenalmu. Pangeran Persia yang menjilat Aegis. Negara kecilmu bukan apa-apa di mata negeriku.”
Pangeran Jerome kebingungan. Dia membutuhkan jawaban dari kejanggalan yang ada. Anehnya semua penjaga seolah tunduk pada pria asing itu.
“Kalian semua, apa kalian lupa siapa Kaisar Kalian?” Jerome berkata sambil melihat para penjaga yang terdiam. Mereka memalingkan muka saat matanya bertabrakan dengan sang Pangeran.
Pangeran Jerome terkejut, bagaimana bisa orang itu tahu akan berita itu. Pria itu menggeleng keras.
“Tidak! Kaisar belum mati. Kaisar sedang di tahan di Diocletianus dan aku ke kembali ke sini untuk menjemputnya bersama kalian!”
“Berhenti berkata omong kosong. Aku akan membuka matamu dan menghentikan khayalanmu itu.”
Tidak lama setelah pria itu berkata seruan dari dalam istana terdengar lantang. Pangeran Jerome sampai tidak bisa berkata-kata.
“YANG MULIA KAISAR YUDAS TELAH TIBA!”
Sosok penguasa di masa lalu itu terlihat duduk diatas tandu singasana. Dua lengannya putus seperti yang dikabarkan. Bukankah dia ada di penjara bawah tanah? Bagaimana bisa dia ada di sini dan menjadi Kaisar lagi?
“Tidak mungkin,” ucap Pangeran Jerome lirih.
“Ini kenyataan. Justru kau lah yang selama ini hidup dalam mimpi,” bisik orang itu yang masih tidak dikenali Pangeran Jerome.
***
“Aku harap Kaisar Louis memenuhi janjinya. Pastikan nyawaku aman. Aku belum mau mati,” Yudas meremas kedua tangannya. Entah apa yang membuat hatinya tidak tenang.
“Anda tenang saja, Yang Mulia Kaisar Louis tidak akan pernah lupa akan Anda yang telah berjasa. Memberitahu jalan rahasia ke Aegis. Hingga kita bisa sampai di sini tanpa hambatan. Dan para orang tidak berguna itu tidak sempat bergerak karena kita telah melakukan penyerangan secara mendadak. Nikmatilah jabatan mulia itu sampai Kaisar Louis sampai di sini. Setelah itu kau bisa menjadi seorang Menteri, apa itu cukup?”
Yudas terdiam beberapa saat lalu mengangguk. Sebuah anggukan kaku. “Ya … sudah cukup.”
“Keputusan yang bagus.” Pria itu tersenyum licik.
Sosok itu adalah Gustaf, Kepala pelayan rumah tangga kekaisaran Diocletianus yang ditugaskan mengawal Yudas ke Aegis. Mengambil alih takhta
menggantikan Kaisar Alessa yang dikabarkan telah mati. Kaisar Louis menggunakan Yudas sebagai pion yang nantinya akan ia singkirkan.
Jadi, selama ini Yudas dan Kaisar Louis telahbbersekutu sejak lama. Kaisar Louis pula yang memberikan racun untuk Kaisar Basil. Racun mematikan yang berasal dari Eropa Timur. Yudas menggunakannya untuk menghilangkan jejak dan prasangka sebagai pelaku kejahatan dan dia berhasil mengecoh Tuan Cicero. Bahkan Tuan Cicero telah membeberkan hal itu pada Kaisar Alessa jika bukan dia pelakunya. Itu pula yang membuat Yudas bisa memasuki Istana tanpa curiga.
***
Pangeran Jerome dan para petinggi Aegis kembali masuk penjara bawah tanah. Saat sampai di sana. Tuan Cicero bersujud di hadapan Pangeran Jerome karena telah lalai menjaga Aegis.
“Ampuni hamba Pangeran, semua salah hamba. Andai hamba lebih waspada lagi, semua ini tidak akan terjadi.”
“Tuan Cicero tidak salah, semua terjadi karena kelicikan orang-orang Eropa Timur. Kaisar Yudas pun tidak akan berakhir baik. Saat ini yang terpenting adalah memberitahukan Tuan Darius akan keadaan Aegis. Hanya dia yang
bisa membantu Aegis!”
Tbc.